Mr. Bryan

Mr. Bryan
Pertengkaran Pertama Diana & Bryan



Flashback


Di perjalanan pulang


"Bibi boleh cidak kica mampir ke mall dulu?"


"Nona kecil mau ngapain di sana?" tanya bibi


"Mau beli mainan" jawab Hana


"Mainan nona kan sudah banyak?"


"Bucan uncuk Hana"


"Lalu untuk siapa nona?" tanya bibi


Bukan maksudnya untuk melarang anak majikannya itu tapi bibi hanya penasaran saja karena biasanya jika nona kecilnya itu ingin mainan dia akan minta pada daddy atau oma dan opanya.


"Ceman Hana becok ulang cahun jadi Hana mau beli hadiah uncuk ceman Hana"


"Baiklah nona kita mampir dulu ke mall"


"Yey cerima kacih bibi"


"Sama-sama nona"


"paman cupil kica mampil ke mall dulu ya Hana mau beli hadiah" ucap Hana ramah


"Baik nona kecil" jawab pak supir sambil tersenyum


"Celima kacih paman cupil"


"Sama-sama nona"


Sesampainya di mall mereka menuju tempat mainan, di saat Hana tengah sibuk memilih mainan untuk temannya seseorang menghampiri Hana dan memanggil namanya


"Hana"


Hana yang merasa namanya di panggil menoleh kearah suara yang memanggilnya


"Hai Hana apa kabar?" sapa orang itu


"Baik, aunty ciapa?" tanya Hana pasalnya dia tidak mengenal siapa orang yang menyapanya


"Aunty? Ini mama sayang mama Cika" ucap orang itu


"Mama?" tanya Hana bingung


"Iya ini mama kamu sayang" ucap Cika


Bagaimana Cika bisa tahu Hana? Cika hanya menebak saja, karena Hana sedang bersama dengan kepala pelayan yang dulu ada di rumah mantan mertuanya.


Dulu bibi berada di mansion milik kedua orang tua Bryan, tapi sejak satu tahun lalu Bryan memilih pindak ke rumahnya sendiri bersama Hana, mama Bryan meminta bibi untuk ikut dengan putranya itu.


Dan bagaimana Cika tahu nama anaknya? tentu saja Cika tahu dari ibunya.


Mama Cika yaitu nenek Hana beberapa kali datang ke mansion orang tua Bryan dan memohon pada Bryan agar bisa menemui cucunya itu.


Namun Bryan tidak pernah memberi izin karena itulah Bryan memilih tinggal di rumahnya sendiri agar tidak ada yang mengganggu dirinya dan Hana.


Hanya orang terdekatnya saja yang mengetahui rumahnya itu, mama papanya, kedua temannya dan kedua adiknya, kerabat jauh tidak ada yang tahu rumah yang Bryan tinggali saat ini.


Egois memang tapi rasa sakit hati yang Bryan dan keluarga rasakan sangat besar pada Cika, Bryan hanya memberi tahu nama cucunya saja pada mantan mertuanya itu.


Walau hanya di beri tahu nama cucunya saja nenek Hana sudah sangat senang, dia tahu kesalahan anaknya sangat besar pada keluarga Adams.


Dan dia sangat malu dengan kelakuan putrinya itu tapi rasa ingin bertemu cucunya lebih besar, karena itulah dia tidak akan menyerah sampai bertemu dengan cucunya.


"Nona, apa Nona sudah selesai memilih?" Tanya bibi yang mencoba membawa pergi Hana dari hadapan mantan istri tuanya itu


"Cudah bibi"


"Baiklah kalau begitu ayo kita ke kasir" ucap bibi


"Tunggu dulu bi, aku mau bicara dengan anakku" cegat Cika


"Maaf, tuan melarang anda untuk bertemu atau pun bicara dengan nona Hana" ucap bibi


"Melarang? Yang benar saja bi Hana juga putri ku" ucap Cika mulai terbawa emosi


"Maaf saya hanya menjalankan perintah"


"Sialan kau Bryan" umpat Cika


"Sayang" dari arah belakang seorang pria berjalan menghampiri mereka


"Oh sayang kamu sudah selesai?" tanya Cika


"Iya, ini siapa?"


"Oh ini Putri ku Hana"


"Ohh"


"Hana sayang ayo sapa paman Diki dia pacar mama"


"Pacal?"


"Maaf kami harus segera pergi" hendak membawa Hana namun tangan Hana di cekal Cika


Cika tidak mengindahkan ucapan kepala pelayan itu


"Halo paman"


"Halo Hana kamu cantik sekali"


"Celima kacih paman"


"Ya sudah mama pergi dulu ya sayang sampai jumpa"


"Campai jumpa"


Setelah kepergian dua orang itu bibi melihat ke arah Hana


"Nona, nona masih mau pilih lagi tidak?" tanya bibi pada Hana


"Cidak bi, Hana cudah pilih" jawab Hana


"Baiklah kalau begitu kita ke kasir sekarang"


"Iya bi" jawab Hana


Setelah selesai membayar mereka keluar mall dan pulang ke rumah,sepanjang perjalan Hana terlihat biasa saja setelah bertemu mama nya.


Flashback end


"Kenapa bibi tidak bilang padaku?" tanya Bryan


"Maaf kan wanita tua ini tuan, karena saat itu nona terlihat biasa saja bibi kira nona tidak mengerti apa yang terjadi saat itu karena itulah bibi lupa memberi tahu anda"


"Hah.. baiklah bi, toh semuanya sudah terjadi"


"Sekali lagi maaf kan saya"


"Tidak apa bi" Bryan tidak bisa marah kepada wanita tua itu karena dia sangat menghormati beliau, sejak Bryan masih kecil beliau sudah membantu mamanya membesarkan dirinya dan kedua adiknya .


"Sayang minta Daddy buat nikahin Mommy saja jangan menangis" ucap David


Sebenarnya ia sudah melihat Bryan yang diam dan sedang berbicara dengan kepala pelayan di ujung tangga dari tadi, karena itulah ia mengatakan pada Hana, Diana dan Bryan harus menikah dulu baru bisa tinggal bersama.


"Hentikan David" ucap Bryan geram dia menghampiri temannya yang sedang menghasut Hana


"Apa salahku? aku hanya mengatakan kalian harus menikah dulu baru bisa tinggal" ucap David


"Cukup David" amuk Bryan


"Hana kemari" ucap Bryan


"Cidak mau Hana mau cama Mommy" ucap Hana semakin mengeratkan pelukannya pada Diana


"Hana!!" Bryan membentak pada Hana


"Hentikan Bryan!!! Jangan membentaknya!!!" Amuk Diana pada Bryan sambil menutup kedua telinga Hana


Semua orang yang ada di sana terkejut dengan bentakan Diana pada Bryan, karena selama ini tidak ada yang pernah berani meninggikan suaranya pada Bryan selain papa dan mamanya.


"Jangan mengajariku dia putri ku" ucap Bryan dingin


"Hana kemari" panggil Bryan lagi


"Huu huu cidak mau" Ucap Hana sambil memeluk Diana dengan sangat erat


"Sudah sayang jangan menangis cup cup jangan menangis anak manis" bujuk Diana


"Hiks hiks Mommy jangan cinggalin Hana, hiks Hana cakut cama Daddy hiks"


Mendengar itu Diana menatap Bryan nyalang lalu menggendong Hana


"Cup cup Hana mau sama Mommy?"


Hana mengangguk di sela tangisnya


"Baiklah Mommy akan menemani Hana jadi jangan menangis lagi ya sayang" bujuk Diana


Hana mengangguk kembali dan Diana hendak melangkah namun Bryan mencegatnya.


"Kau mau bawa kemana putri ku?" Tanya Bryan dingin


"Aku akan membawa Hana"


"Tidak bisa dia putri ku!"


"Dia putri ku juga aku Mommy nya!"


"Heh Mommy? sejak kapan kau menjadi Mommy putri ku?" Ejek Bryan


Diana terdiam mendengar ejekan Bryan


"Bukankah Hana ingin aku menjadi Mommy nya?" ucap Diana sinis


"Itu hanya perkataan anak kecil, kau tak perlu menanggapinya" jawab Bryan


"Tapi Hana ingin aku menjadi Mommy nya, Maka kau temui orang tua ku dan minta restu pada mereka untuk menikahi ku" ucap Diana tak kalah dingin


Diana pergi membawa Hana ke kamarnya yang berada di lantai dua berhadapan dengan kamar Bryan.


.


.


.