
"Ya Allah, Bryan sadar Bryan kau sudah bercerai dengan Cika dia selingkuh lalu dia putri mu dan perempuan ini adalah istri mu yang baru kau nikahi 5 bulan lalu!"
.
.
.
"Ma sudah cukup" ucap papa Heru
"Tidak ma tidak ini tidak mungkin akkhhhh!!!" Bryan berteriak kesakitan
"Akhhhh!!! Tidak tidak ini tidak mungkin!! "
"Bryan!!" mama Anna berteriak panik
Papa Heru langsung menekan tombol untuk memanggil dokter
"Mas Bryan... " Gumam Diana sambil menangis
Kepala Bryan sangat sakit, beberapa ingatan berputar di kepalanya membuatnya kesakitan
Dokter dan dua orang suster datang dengan tergesa-gesa
"Tolong bergeser sebentar nyonya" ucap dokter pada mama Anna yang berada di dekat Bryan
"Bryan"
"Seharusnya mama tidak memaksa Bryan" papa Heru menegur sang istri
"Aku hanya tidak ingin prediksi dokter benar pa" ucap mama Anna sambil terisak
"Tapi lihat yang terjadi" ucap papa Heru marah
"Maafkan mama pa"
"Sudahlah, kita berdoa saja agar Bryan baik-baik saja"
"Iya pa"
Beberapa menit kemudian Bryan mulai tertidur karena efek obat yang di suntikkan dokter
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya dokter
Mama Anna menceritakan yang sebenarnya pada dokter
"Seperti prediksi saya tuan nyonya, tuan muda sepertinya mengalami amnesia parsial, dimana penderitanya akan kehilangan memori beberapa tahun sebelum terjadinya Kecelakaan"
"Apakah bisa di sembuhkan dok?" tanya mama Anna
"Seperti yang saya jelaskan, penderita amnesia juga bisa sembuh jika mendapat penanganan dengan baik"
"Saya sarankan untuk tidak memaksa tuan muda untuk mengingat, bicaralah dengan perlahan dan jangan memaksa karena itu akan berdampak buruk pada tuan muda"
"Baik dok"
"Kalau begitu saya permisi"
"Baik dok, terima kasih banyak"
Belum sampai dokter ke pintu, bik Arum berteriak
"Nona!!"
Diana pingsan, beruntung bik Arum dengan sigap menangkap tubuh nona mudanya.
Dokter dan suster yang tadinya akan keluar kembali lagi.
Kedua suster itu membantu bik Arum mengangkat Diana ke atas sofa yang sudah di ubah menjadi ranjang.
"Dok tolong periksa menantu saya" ucap mama Anna
"Baik nyonya"
Dokter mulai memeriksa Diana, beberapa saat kemudian
"Sus panggilkan dokter obgyn" ucap dokter
"Obgyn?" gumam mama
"Dok apa menantu saya hamil? kenapa memanggil dokter obgyn?" tanya mama Anna
"Saya tidak bisa memberitahu pastinya nyonya, tapi sepertinya menantu anda tengah berbadan dua"
Wajah bahagia tercetak jelas di wajah wanita paruh baya itu.
"Pa menantu kita hamil pa" ucap mama Anna girang
"Ma tenang dulu, kita tunggu dokter Obgyn dulu" ucap papa Heru
"Iya pa"
Tok tok
"Permisi"
"Silahkan masuk dok" ucap mama Anna
"Dokter Risa tolong periksa menantu saya" ucap mama Anna
"Baik nyonya"
Dokter Obgyn yang bernama Risa itu mulai memeriksa Diana, sedangkan dokter dan seorang suster yang menangani Bryan keluar bersama papa Heru yang sedang menggendong cucunya.
Setelah serangkaian pemeriksaan selesai, dokter mengatakan kalau saat ini Diana memang tengah hamil
"Bagaimana dok?" tanya mama Anna
"Selamat nyonya, menantu anda tengah hamil"
"Alhamdulillah.."
"Baik dok, terima kasih banyak"
"Dan ini resep obat untuk memantu anda, nyonya"
"Baik dok"
"Kalau begitu saya permisi nyonya"
"Iya, terima kasih banyak dokter Risa"
"Sama-sama nyonya"
"Ini bik nanti setelah ini tolong di tebus" mama menyerahkan resep obat itu ke bibik
"Baik nyonya"
Setelah dokter Risa dan seorang suster yang membantunya keluar, papa Heru masuk ke dalam ruangan bersama Hana yang masih tetap berada di gendongannya.
"Bagaimana ma?" tanya papa Heru
Mama Anna tersenyum lebar "pa sebentar lagi kita akan punya cucu baru"
"Jadi benar Queenza hamil ma?" tanya papa Heru
"Benar pa" ucap mama Anna senang
"Alhamdulillah" ucap papa Heru
Mama Anna sangat senang akan tetapi sesaat kemudian dia kembali murung
"Ada apa ma?" tanya papa Heru
"Mama sedih pa, seharusnya di saat seperti ini menantu kita harusnya bermanja-manja pada suaminya tapi keadaan Bryan saat ini seperti itu"
"Mama jangan sedih ada kita, kita bisa memanjakan menantu kita ma" ucap papa Heru
"Benar pa tapi akan terasa berbeda jika yang memanjakannya adalah suaminya"
"Yang mama katakan benar, tapi mau bagaimana lagi kita hanya bisa berdoa agar Bryan kembali seperti semula"
"Iya pa"
"Nyonya tuan" panggil bik Arum
"Ada apa bik?" tanya mama Anna
"Maaf nyonya, tapi sebenarnya saya sudah mengetahui jika nona muda tengah hamil dari kemarin"
"Lalu kenapa bibik tidak memberi tahu kami?" tanya mama Anna
"Maaf nyonya karena ini permintaan nona muda, nona muda meminta saya untuk tidak mengatakan pada anda dan tuan"
"Kenapa?" tanya papa Heru
"Nona muda khawatir nyonya dan tuan akan kelelahan jika harus mengawasi dua orang, nona muda ingin nyonya dan tuan lebih mengutamakan tuan Bryan terlebih dahulu"
"Ya Allah..., sungguh baik hati sekali menantu ku ini" Mama Anna menitikkan air mata sambil mengusap pucuk kepala menantunya yang tengah terbaring
"Maaf nyonya, tapi saran saya sebaiknya anda dan tuan pura-pura tidak mengetahui hal ini agar nona muda tidak merasa terbebani setidaknya sampai tuan Bryan sudah di perbolehkan pulang ke rumah"
"Yang di katakan bik Arum benar, ma"
"Iya pa, tapi kita harus tetap menjaganya"
"Benar ma"
"Ya sudah saat dia sudah siuman kita pura-pura tidak tahu saja"
Beberapa menit kemudian Diana mulai siuman
"Sayang kamu sudah bangun" ucap mama Anna menghampiri Diana
"Iya ma" jawab Diana masih lemah
"Nyonya ini obatnya" ucap Bik Arum yang baru saja kembali
Bik Arum memberikan obat yang sudah di tebusnya barusan
"Maaf agak lama, antri" ucap bik Arum
"Iya bik tidak apa-apa, terima kasih" ucap mama Anna
"Sama-sama nyonya saya mau ke kantin anda mau di pesankan sarapan?" tanya bik Arum
"Tidak usah bik, papa Heru sudah ke kantin membeli sarapan"
"Baiklah nyonya, kalau begitu saya permisi dulu"
"Iya bik"
"Dimana Hana ma?" tanya Diana setelah bik Arum pergi
"Hana ikut opanya ke kantin beli sarapan untuk kita, pasti kamu belum sarapan kan? Karena itulah kamu pingsan"
"Iya ma, aku belum sarapan mas Bryan tadi siuman pagi-pagi sekali jadi lupa untuk sarapan"
"Kami juga belum sarapan sayang, setelah Shalat subuh kami juga buru-buru ke sini karena Hana sudah merengek minta ketemu Daddynya"
"Maaf ma jadi ngerepotin"
"Tidak masalah sayang, Hana kan cucu mama dan papa jadi tidak merepotkan sama sekali" ucap mama Anna sambil tersenyum
.
.
.