
Ku menangis...
Membayangkan, betapa kejamnya dirimu atas diriku..
Kau duakan cinta ini..
Potongan syair lagu yang dipopulerkan oleh Teh Rossa itu memenuhi kepala Alia. Aneh sekali, seolah adanya kabel koneksi antara audio music di mobil Jimmy dengan hati kecil Alia. Biasanya laki-laki berparas tampan itu selalu memutar album-album slow rock dari Alan Walker yang melodinya keren Abis sampai bikin Authornya geleng-geleng.
Mobil mewah milik Jimmy terparkir sempurna di halaman sekolah. Tanpa mengatakan sepatah katapun, Alia menyembul keluar dan berjalan meninggalkan Jimmy setelah menutup kembali pintu mobilnya.
"Za..." Belum sempurna ejaan nama wanita berkerudung cokelat itu di bibir Jimmy, namun Alia sudah melangkah jauh menuju ruang guru.
"What's wrong with her?" Gumam Jimmy. Ia keluar dari mobilnya dan bersandar pada pinggang mobil sambil berkacak pinggang.
"Boss, gua udah anterin Alia ke sekolah. Keknya ada yang enggak beres deh ama bini elu." Tutur Jimmy kepada Aufar di balik telepon.
"What do you mean? Tadi pas gua tinggal di rumah dia baik-baik aja kok. Elu apain bini gua wooi?" Cerca Aufar semaunya.
"Eeeh gua berspekulasi, elu malah nyalahin gua. gimana sih lu?" Sungut Jimmy sedikit mentowel hidung mancungnya.
"Ya udah, ntar gua cari tau masalahnya, yang penting sekarang, elu harus tetep di situ buat pastiin keselamatan dia. Gua kagak mau kalo Fana sampai berbuat nekat. Kemarin aja ngirim foto-foto enggak jelas buat kado pernikahan gua. Untung aja gua berhasil nyembunyiinnya di bawah tempat tidur." Tutur Aufar panjang kali lebar.
"Wait! Wait! Wait! apa kata lu barusan? Elu nyimpan foto-foto itu di bawah kasur? Peak lu..! Gua yakin banget kalo bini lu udah ngeliat foto-foto tersebut, mangkanya bentuk dia kek begitu tadi. Kek ubur-ubur." Terka Jimmy yang mempunyai feeling dan telepati yang lebih tajam.
"Hem..." Sepertinya Aufar sedang berfikir.
"Bener juga kata elu, Jim." Tutur Aufar yang mulai menyadari kecerobohannya.
"Ah, kelamaan loading sih lu." Seloroh Jimmy semaunya.
"Ya udah, ntar gua urus. Elu pastiin semuanya aman terkendali!" Perintah Aufar bak seorang komandan.
"Siap komandan," nah baru diomongin, eh beneran jadi komandan. Jimmy is the the best bisa baca kata hati Authornya.
Setelah berbicara dengan Aufar, laki-laki bermata tajam itu, melangkah tegap memasuki gedung sekolah. Mengamati setiap gerak-gerik mencurigakan untuk memastikan keamanan di sekitar.
"Good Morning students.." Sapa Alia ketika sudah berada di dalam kelas."
"Good Morning.." Jawab siswa kelas XI A Jurusan Bahasa.
"First, I wanna introduce myself. My name is Zalia. I'm your new teacher for English subject." Tutur Alia sambil tersenyum hangat dan menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan.
"Madam.." Salah satu dari siswa itu mengacungkan jarinya.
"Yes, please.." Alia mempersilakan siswa itu berbicara.
"You looks like a singer. I mean dangdut singer in televition." Ucap anak itu dengan polosnya.
"Huuuuuuuu...." Sorakan kompak menggelegar meributkan seisi ruangan.
"Easy guys, it's okay. But I'm not a singer darling. I'm your teacher." Ucap Alia menenangkan siswa yang lain, sekaligus merespon pernyataan siswa tadi.
"But seriously Madam, you looks like Lesti Kejora." Lagi-lagi siswa itu berpendapat. Ngotot! Dan Authornya juga tidak mau kalah. Lebih ngotot lagi!
"Aha..but I'm not kidding that I'm not Lesti. My name is Zalia Aliyanti. You guys can call me Alia." Alia ikut-ikutan ngotot kayak Authornya. Dasar Author! Anak SMA aja diajak debat.
Akhirnya dengan beberapa kali penjelasan siswa itu bisa menerima kenyataan bahwa sang guru bukanlah seorang penyanyi dangdut terkenal, melainkan wanita biasa yang sekarang berprofesi menjadi gurunya.
***
Aufar kembali ke apartemen ketika Alia sedang menyiapkan hidangan makan malam special untuk menyambut kedatangannya. Wajah wanita itu tampak biasa saja seperti tidak terjadi sesuatu.
Dengan langkah tegapnya, Aufar menghampiri sang istri dan melingkarkan lengannya posesif di pinggang Alia. Kedua tangannya tersimpul sempurna dan dagunya yang terlihat terbelah itu mendarat manja di pundak kiri sang istri. Sesekali ia mengecup dalam leher jenjang Alia, membuat wanita itu merasakan geli yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Masak apa, Sayang?"
"............"
"Sayang...."
"............."
"Eh Sayangku..."
"....…......."
Setelah tiga kali tidak mendapatkan respon sama sekali, Aufar mulai membatin. "Bener kata Jimmy," ia melepaskan pelukannya dan membalik tubuh Alia yang sejak tadi setia menghadap kompor sehingga berhadapan dengannya.
"Sayang ada apa? Kenapa kamu mendiamkanku? Apa aku ada salah?" Desak Aufar dengan pertanyaan beruntun. Kedua tangannya merangkum wajah ayu sang istri yang saat ini terlihat sedang tak berselera untuk berbicara padanya. "Apa dia enggak nyadar diri?" Batin Alia sambil memutar singkat kedua bola matanya.
Ucapan Sang Mama Mertua tadi pagi, terngiang-ngiang di benak Alia. Sebentar lagi mereka akan melaksanakan resepsi pernikahan. Bagaimana bisa mereka melewati moment itu dalam kondisi baku hantam? "Kenapa hatimu terlalu suci Alia?" Tanya si Author.
"Dasar Author tidak tahu diri, pake nanya lagi. Kau lah yang membuatku menjadi seperti ini!" Jawab Alia dengan kedua mata melotot ke samping. Melihat sikap Alia, Aufar bergidik keheranan.
"Kamu bicara sama siapa sih, Sayang? Sudahlah jangan kamu hiraukan Author yang satu ini. Dia hanya kurang tidur saja, makanya kamu dibuatnya seperti ini. Sebaiknya kita kembali memperjelas apa sebenarnya yang sedang terjadi sama kamu? Kenapa kamu mendiamkanku?" Kembali ke pembahasan awal.
"Oh iya, tadi Mama sama Papa mengirimkan undangan resepsi pernikahan kita melalui email, kamu mau lihat?" Aufar menggiring tubuh Alia agar duduk pada kursi yang bersusun rapi di meja makan. Ia membuka ponselnya dan membuka email yang dimaksud.
Taraaaaaa....

"Loh, kenapa dipercepat? Katanya dua minggu lagi." Berhasil. Taktik jitu Aufar bisa membuat lidah kelu Alia menjadi lemas dan bersuara.
Sebelah telapak tangan menutupi bibirnya yang tidak sengaja mengeluarkan pernyataan protes. "Duh, kenapa aku bicara sih?" Gumam Alia dalam hati.
Aufar yang sedang duduk di sampingnya, tersenyum simpul melihat tingkah menggemaskan dari sang istri. "Finally," batin Aufar.
"Aku sengaja mempercepatnya karena dua minggu lagi bukankah hari pernikahan Isni, sahabatmu?" Merangkul pundak Alia dari samping.
"Dia mengingatnya," batin Alia.
"Iya sih.." Jawab Alia singkat.
"Jadi bagaimana menurutmu? Jika kamunya okay, maka undangan ini akan segera disebar hari ini juga." Tanya Aufar memastikan pendapat istrinya.
"Aku...aku..." Alia mulai terbata, matanya terlihat berkaca-kaca menahan tangis.
Melihat hal itu, Aufar melepaskan rangkulannya dan duduk sedikit menunduk menghadap Alia. Kedua tangannya menggenggam erat tangan mungil sang istri.
"Sebenarnya ada apa, Sayang? Jika ada sesuatu yang mengganjal di hatimu maka tanyakanlah. Siapa tahu aku memiliki jawabannya." Aufar menatap intens netra hitam pekat milik Alia.
"Bentar, matiin kompor dulu." Alia bangkit dari duduknya dan mematikan api yang memanggang beberapa nasi bakar buatannya.
"Aku enggak pengen berburuk sangka, Mas. Tapi aku butuh penjelasanmu atas foto-foto ini." Alia mengambil lembaran foto yang sengaja ia selipkan di bawah toples yang terletak di dekat meja kompor agar bisa menanyakannya langsung ketika Aufar pulang kerja.
"Nih..." Alia melempar kasar beberapa foto itu di hadapan Aufar. Menyadari sikap kasar sang istri, sontak Aufar memperhatikan kembali foto yang berhamburan di atas meja makan.
"Sebelum aku menjawab masalah resepsi itu, kamu harus ngejelasin foto-foto itu dulu!" Tegas Alia dengan kedua tangan terlipat di depan dadanya.
Aufar meraih salah satu foto yang memperlihatkan adegan pelukan sepihak yang dilakukan Fana ketika ia keluar dari lift rumah sakit tempo hari. Saat itu, Aufar tidak menyadari bahwa ada rencana busuk yang sedang dijalankan oleh wanita ular itu.
"Jika aku menjawabnya dengan jujur apa kamu akan percaya padaku?" Tanya Aufar tanpa mengalihkan pandangannya dari foto itu.
"We'll see.." Alia memalingkan wajahnya. Tampak sedang mengedip-ngedipkan kedua kelopak mata bulat itu, menahan cairan luka agar tidak tumpah melewati batas.
"Dia Ghifana Aurora, my Ex..."
DEG
Baru potongan kalimat singkat saja, jantung Alia sudah berdebar kencang.
"Dia juga bekerja di rumah sakit yang sama denganku." Lanjut Aufar.
DEG
"Apa? Berarti mereka sering bertemu?" Pekik Alia dalam hati. Pandangannya masih tak teralihkan.
"Sebelum aku menikahimu, dia menyatakan bahwa ia ingin kembali padaku. Tapi aku menolaknya. Hingga akhirnya, waktu itu ketika aku keluar dari lift aku tidak sengaja bertemu dengannya. Ia menghambur memeluk aku paksa dan aku tidak menyadari bahwa ada yang mengambil gambar kami berdua dari tempat lain." Jelas Aufar panjang kali lebar. Lalu ia bangkit mendekati Alia, dan memegang kedua pundaknya.
"Sayang, percayalah..aku tidak pernah berkhianat padamu, bahkan dalam benakku sekalipun. Tidak ada yang bisa menggantikan mu di dalam sini." Aufar menggiring telapak tangan Alia menyentuh dadanya.
"Jika kamu punya belati, belah lah dada ini. Dan lihat, nama siapa yang terukir di dalam sana."
"Dudududududu..." Ngetik part ini, Authornya mesem-mesem dewe🤭.
Air mata yang tadinya membingkai kedua bola mata Alia, kini terjun bebas membasahi kedua pipinya. Terharu atau tidak percaya?
Alia mendongakkan kepalanya menatap netra hitam kecoklatan milik Aufar. Mencoba menemukan titik kebohongan ataupun sekedar gombalan. Namun nihil. Ia hanya menemukan titik kejujuran tanpa paksaan untuk mempercayainya.
Kedua ibu jari Aufar sangat lihai menghapus jejak air terjun di pipi sang istri. Membuat Alia kembali menundukkan wajahnya, mencoba mengondisikan sikap dan keputusan berikutnya.
"Let's go to Surabaya, Mas." Lolos. Kalimat itu berhasil menarik kedua sudut bibir Aufar sehingga membentuk senyuman indah. Alia mendongakkan kembali pandangannya.
"I trust to you.."
Bersambung...