I Love You Till Jannah

I Love You Till Jannah
S2 Cemburu



Ketika jari jemari kedua anak Adam saling bertaut, lebih-lebih telah terikat dalam ikatan suci pernikahan, sudah barang tentu pahala yang didapatkan. Bahagianya..


Raut ceria ketiga krucil yang sejak tadi duduk anteng di kursi belakang pun sudah semakin naik ke permukaan wajah mereka, ketika mobil yang dikendarai si Om dokter terparkir sempurna di pelataran tempat rekreasi yang berasa taman bermain untuk anak-anak itu.


Alan dengan sigap membuka pintu mobil dan menurunkan kedua senjata andalan yang sangat ampuh baginya itu. Tentunya Bulan dan Bintang terlihat lebih antusias di banding dirinya. Secara, karakter sok cool nya lebih menang, padahal hatinya sedang berjingkrak ria.


Alia dan Aufar yang melihat tingkah menggemaskan kedua buah hati sang Kakak itu, ikut tersenyum bahagia. Mereka menggandeng tangan masing-masing keponakannya menuju pintu masuk.


Setelah membeli tiket, hal pertama yang mereka tuju adalah aquarium raksasa. Mungkin barang itu tidak asing lagi bagi Bulan dan Bintang, karena sudah beberapa kali kedua orang tuanya membawa mereka mengunjungi tempat itu. Namun berbanding terbalik dengan Alan. Tentunya, ini adalah kunjungan pertamanya. Semburat kekaguman terpampang nyata di wajah tampan remaja SMA itu. Kesempatan ini tidak ingin ia sia-siakan. Ia mengabadikan momen-momen berharganya kali ini di dalam bingkai digital miliknya.


"Kak..tolong fotoin dong." Alan menyerahkan ponselnya kepada Alia. Tanpa banyak komentar, Alia meraih barang pipih itu dan menjepret beberapa pose aneh sang adik.


"Kenapa gayanya harus begitu sih, Dek?" Alia terkekeh kecil. Rahasia yang Alan sampaikan kepada Aufar tidak lagi mengganggu pikirannya. Hanya saja ia masih merasa malu karena adiknya itu terlalu loyal. Padahal seingatnya, Alan baru dua kali bertemu Aufar, tetapi mereka sudah terlihat sangat akrab. Bahkan Alan tidak segan-segan menempel layaknya sebuah perangko kepada Aufar.


"Sayang...kamu enggak mau difoto juga?" Aufar menghampiri kedua kakak beradik yang sedang asyik tertawa bersama itu. Tadinya ia sempat membuntuti Bulan dan Bintang mengejar ikan pari raksasa yang berenang menjauhi istri dan adik ipar kesayangannya itu.


"Oh...enggak usah, Mas. Aku udah punya kok koleksi foto di tempat ini." Mendengar jawaban Alia, tentu saja Aufar mengernyit penuh pertanyaan.


"Benarkah? Kapan kamu kesini? Bersama siapa?" Bombardir pertanyaan seperti ini sudah biasa terlontar dari bibir dokter muda itu.


"Bersama Jimmy, Mas." Alia menjawab dengan santai sambil menyerahkan ponsel Alan kembali.


Namun berbeda dengan Aufar, mendengar nama Jimmy keluar dari bibir manis istrinya, ia merasa seolah sebuah duri besar menancap kokoh di relung hatinya. Mengapa lagi-lagi dia kalah telak dengan pemuda yang sudah dua tahun menjadi asisten pribadinya itu? Perasaan resah, gelisah, dan galau menjadi satu kesatuan yang sangat romantis. Cemburu? sudah pasti, itulah kesimpulannya.


Alia perlahan menyadari perubahan mimik suaminya, ia menyentuh lembut pundak Aufar yang terlihat termenung dengan tatapan tanpa tujuan.


"Mas..."


Aufar terperanjat. Kaget? Pasti, karena baru saja keluar secara paksa dari dimensi lainnya.


"I-iya, Sayang...kenapa?"


"Kamu kenapa sih? Apa ada yang salah dengan kata-kataku tadi?" Alia merangkum rahang sang suami ke dalam genggamannya. Hal itu berhasil membuat senyuman bak diberi soda kue terukir di bibir Aufar.


"Enggak papa, Sayang..yuk kita ajak mereka ke wahana permainan aja." Sebelum Alia mencium aroma kecemburuannya, Aufar sesegera mungkin mengalihkan topik pembicaraan.


"Wahana? Yey..." Mendengar hal itu, Bulan dan Bintang bersorak serentak tak terkecuali Alan. Mereka bertiga berjalan mendahului seolah melupakan kedua orang dewasa yang sudah membawa mereka ke tempat ini.


Di perjalanan menuju wahana, Aufar hanya berdiam diri. Sepertinya, ia masih berada dalam dimensi lainnya. Alia yang menyadari hal itu, tidak ingin bertanya banyak. Namun ia mulai merasakan keanehan pada suaminya itu, sejak ia menyebut nama Jimmy tadi.


"Jimmy? Apa mungkin Aufar cemburu? Bukannya Jimmy itu asisten pribadi sekaligus sahabat Aufar? Kenapa juga Aufar harus cemburu?" Membatin sendiri tanpa mendapatkan jawaban sebagai konfirmasi atas pergelutan pikirannya.


"Mas, aku ke toilet dulu ya..kebelet." Suara Alia lantas tak membuat Aufar bergeming. Sehingga ia harus mengatakannya lagi.


"Mas..." Alia menyentuh lengan kekar itu, yang pikiran pemiliknya entah melanglang buana kemana.


"Iya, Sayang.." Buyar, lagi-lagi lamunan Aufar terbuyarkan.


"Kamu kenapa sih, Mas? Aku perhatikan dari tadi kamu diam aja. Kamu ngelamun ya?" Sudah tahu suami melamun tapi masih ditanya lagi. Kamu gimana sih Alia?


"Enggak kok, Sayang..kemana ketiga krucil itu?" Aufar baru menyadari bahwa mereka berdua telah tertinggal jauh dari langkah adik ipar dan kedua ponakannya itu.


"Itu di depan...kamu duluan aja ya susul mereka..aku mau ke toilet dulu." Alia mengarahkan jari telunjuknya kepada tiga krucil yang posisinya belum terlalu jauh di depan mereka. Eh, entang-mentang sudah menjadi kekasih halal, ke toilet saja harus izin. Tentu saja dokter muda itu mengizinkannya tanpa harus mengeluarkan surat resmi. 😁


"Iya, Sayang...kamu hati-hati ya. Jangan lama-lama!" Tutur Aufar sambil membelai lembut kerudung istrinya.


"Aku cuma pergi ke toilet mas, bukan pergi ke medan perang." Cebik Alia sambil memutar bola matanya. Ia berlalu menuju toilet terdekat di area itu.


Lama-lama kebucinan sang suami bisa-bisa membuatnya jengah. Namun hal itu tetap saja membuat hatinya menari balet karena dengan begitu, Aufar sudah menunjukkan bahwa ia benar-benar takut kehilangan.


Melihat gelak tawa Alan, Bulan dan Bintang, Aufar ikut merasakan kebahagiaan yang terpancar dari wajah polos mereka. Ia menopang dagu di sebuah pagar yang melingkar di arena permainan yang sedang dinaiki ketiga anak itu. Namun perlahan senyuman itu memudar ketika kembali mengingat betapa ia selalu kalah telak dengan Jimmy. Jimmy? Kenapa Jimmy lagi? Iyalah, kan bab ini judulnya cemburu. 🤭


Padahal sosok Jimmy adalah hasil dari rencananya sendiri. Ia sendiri yang menghadirkan sosok Jimmy agar selalu standby dua puluh empat jam bersama Alia sebelum ia menikahinya. Lantas kenapa sekarang ia merasa terancam dengan keberadaan laki-laki tampan yang jelas-jelas bukan rivalnya itu. Konyol, itulah sekarang yang ada di pikiran dokter muda berdarah jawa itu. Bagaimana bisa ia berpikiran bahwa Jimmy bisa merebut Alia darinya?


"Kak...Kak Aufar.." Alan bersama Bulan dan Bintang menghampirinya.


"Iya, kenapa Dek? Sudah selesai mainnya?" Tanya Aufar kurang yakin.


"Belum dong, Kak..kita pengen naik Bianglala, iya kan adik-adik?" Alan mengonfirmasi kepada dua pasukannya.


"Iya, Om dokter. Boleh ya, ya, ya..." Lagi-lagi wajah gembul Bulan memohon penuh harap.


"Iya iya..boleh, ayo..!" Aufar meraih tangan Bintang. Sedangkan Alan menggandeng tangan Bulan menuju Bianglala yang ingin mereka naiki.


"Om dokter, Tante Alia kemana?" Bintang mengedar pandangannya yang tidak bisa menemukan keberadaan Alia.


"Oh, Tante Alia sedang di toilet, Sayang. Palingan bentar lagi juga balik." Jawab Aufar sambil tersenyum hangat kepada si krucil.


"Ooh..." Mulut Bintang membulat tanda mengerti. Kemudian mereka bertiga bermain kembali dengan wahana Bianglala.


Beberapa saat kemudian, Aufar merasakan keanehan. Sudah hampir satu jam berlalu, bahkan Alan, Bulan, dan Bintang sudah berkali-kali pindah wahana permainan. Namun istri mungilnya itu belum juga kembali. Kemana kah perginya wanita yang tadinya telah mendapat izin tidak resmi darinya itu?


Aufar dirundung kegelisahan. Ia mulai panik. Galau? Pastinya. Tidak mungkin ia meninggalkan ketiga krucil itu dan pergi menyusul Alia ke toilet. Bisa-bisa itu akan menambah masalah.


"Sayang...kamu kemana sih?" Aufar mencoba menghubungi ponsel Alia, namun di luar jangkauan. Berkali-kali ia memencet tombol hijau itu untuk membuat panggilan yang sama, namun hasilnya nihil. Ponsel Alia tetap tidak bisa dihubungi. Ia berdecak kesal. Beberapa kali kursi besi yang ia duduki menjadi sasaran kekesalannya.


"Aku harus bagaimana ini? Kayaknya ada yang enggak beres nih." Ia memijat keningnya, isi kepalanya sudah mulai tegang. "Jimmy?" Ah, bagaimana bisa nama Jimmy selalu muncul dibenaknya disaat genting seperti ini? Apa mungkin sosok Jimmy sudah menjadi candu untuknya? Ia segera menepis pikiran buntunya itu. Mulai saat ini, ia tidak ingin menggantungkan masalah yang berkaitan dengan sang istri kepada asisten pribadinya lagi. Serius Aufar?


Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya sosok yang ia tunggu-tunggu muncul juga. Aufar tersenyum lega, ternyata kecurigaannya salah. Alia baik-baik saja. Namun, sejurus dahinya terlihat berkerut ketika melihat sosok lain yang berjalan di belakang Alia.


"Jimmy.." Nama itu lolos begitu saja dari bibirnya hampir tak terdengar.


"Ada apa ini? Kenapa ada Jimmy disini? dan Kenapa mata Alia terlihat sembab?" Pertanyaan beruntun itu tentu saja ditujukannya kepada dirinya sendiri.


Ketika Alia sudah mencapai titik terdekatnya, wanita itu menghambur memeluk Aufar diikuti isak tangisnya. Sudah barang tentu, laki-laki itu merasakan kebingungan yang teramat sangat. Ia membalas pelukan sang istri dan menanyakan pertanyaan yang tadi hanya terlintas di benaknya.


"Nona Zalia terkunci di dalam toilet, Boss." Jimmy mengambil alih jawaban yang tidak sanggup Alia ungkapkan.


"What?? Bagaimana bisa, Jim?" Emosi Aufar sudah naik ke ubun-ubun.


"Sepertinya ada yang sengaja melakukannya, Boss." Jawab Jimmy dengan penuh keyakinan.


Jangan ditanya seperti apa raut wajah Aufar, yang jelas saat ini ada yang mulai panas, tapi bukan api.


Bersambung