I Love You Till Jannah

I Love You Till Jannah
S2 Ratu Tiktok



Jimmy masih mematung melihat pemandangan adegan suami dan istri itu. Ia tidak berani untuk ikut campur atas masalah yang di hadapi oleh mereka berdua. Walaupun tidak ada informasi yang ia dapatkan dari Alia mengenai tangisannya tadi, namun Jimmy sudah bisa menarik kesimpulan bahwa ada yang tidak beres dengan rumah tangga boss-nya itu.


Jika menuruti kata hatinya, ingin rasanya ia menghalau tangan Aufar agar terlepas dari pergelangan tangan wanita yang ia sayangi tersebut. Namun Jimmy tidak ingin memperburuk keadaan. Ia lebih memilih untuk bungkam dan membiarkan mereka menyelesaikan masalahnya berdua.


Dengan langkah tegap, Aufar terus saja menarik tubuh mungil istrinya. Telapak tangannya memborgol pergelangan tangan Alia dengan posesif. Tatapan tajamnya tertuju lurus ke depan. Urat-urat di sekitar keningnya membesar dan wajahnya terlihat merah padam. Mengingat canda dan tawa antara asisten pribadinya dengan sang istri tadi, membuat darah Aufar mendidih hingga ke ubun-ubun.


Sang dokter terus berjalan melewati trotoar yang ia lalui sebelumnya. Alia yang penurut hanya bisa patuh dan mengekori langkah Aufar yang lebih lebar dua kali lipat dari langkahnya. Walaupun merasa kesulitan, namun ia berusaha untuk mengimbangi suaminya. Tidak ada kata maupun tindakan protes yang ia luapkan. Ia terus berjalan dan menundukkan pandangannya, menghindari beberapa mata yang menatap kepo ke arah mereka.


Ketika sampai di halaman parkir swalayan, Aufar menarik lembut tubuh Alia sehingga menabrak tubuh tegapnya dan menempel sempurna.


Belum ada sepatah katapun yang keluar dari bibir penuh dokter tampan itu. Tatapan tajamnya berubah menjadi sendu dan penuh penyesalan. Kedua tangannya melingkar posesif pada pinggang ramping Alia. Untuk sejenak tatapan mereka bertemu, hingga akhirnya Alia menundukkan pandangannya terlebih dahulu. Wanita bermata bulat itu malah merasa bersalah karena ia telah meninggalkan suaminya dan bersantai ria dengan laki-laki lain di sebuah cafe.


Aufar yang mengerti dengan sikap sang istri, lantas mengangkat dagu runcingnya sembari berkata, "maafkan aku, Sayang." Kalimat itu berhasil lolos begitu saja dari bibir Aufar tanpa harus melewati proses review terlebih dahulu. Tatapan dokter tampan itu semakin sendu dan insecure. Tatapan penuh penyesalan dan permohonan maaf. Agaknya ia sedikit ragu, bahwa Alia akan menerima permintaan maaf darinya atau malah bersikap sebaliknya.


Entah terbuat dari apa hati wanita yang berada di hadapannya itu? Dengan wajah penuh senyuman yang terlihat sangat ikhlas, sebelah tangannya membelai lembut pipi Aufar. Wajahnya tampak sangat tenang tanpa adanya beban sama sekali. Padahal ia baru saja menyaksikan adegan kotor yang sengaja diprovokasikan oleh Fana. Bahkan tidak ada sepatah katapun yang menunjukkan bahwa ia ingin mengetahui lebih tentang wanita ular tadi. "Apakah ia tidak cemburu sama sekali?" Batin Aufar.


Melihat sikap sang istri, sontak Aufar menatap kedua netra hitam pekat di hadapannya secara bergantian. Mencoba mencerna dan memaknai respon yang tidak terbaca oleh akal pikirannya.


Sebenarnya ia sudah mempersiapkan diri jika Alia datang, menampar, dan memakinya habis-habisan. Baginya tindakan buruk yang akan Alia lakukan untuk menghakiminya saat ini, akan ia terima dengan lapang dada, asalkan wanita itu tidak pergi untuk meninggalkannya.


"Just forget it! Let's go home. I'm hungry" Tutur Alia sambil mengelus-elus perutnya yang datar.


Menanggapi hal itu, Aufar tersenyum gemas dan mentowel sayang kedua pipi chubby milik sang istri. Istri yang ia anggap sangat luar biasa. Untuk ke sekian kalinya, Aufar merasa beruntung karena Tuhan telah mengirimkan pendamping hidup yang benar-benar bisa menjadi pelipur di setiap laranya.


"My wife.." Hanya kata itu yang mampu keluar dari bibirnya yang hampir kelu. Tidak menyangka sekaligus bersyukur karena semudah itu Alia memaafkan kejadian tadi.


Perlahan tapi pasti Aufar melepaskan tangannya dari pinggang Alia. Ia berjalan menghampiri belanjaan yang tergeletak di lantai tepatnya di depan pintu masuk dan menyimpannya di jok mobil bagian belakang. Sepertinya sudah tiba saatnya untuk pasta time.


Aufar membukakan pintu mobil untuk Alia. Setelah memastikan sabuk pengaman sang istri terpasang dengan sempurna, ia mengitari mobilnya dan duduk di kursi kemudi. Ia menghadiahkan senyuman indah kepada Alia, lalu melajukan kendaraannya menuju apartemen.


***


Pagi ini terasa masih sama dengan hari sebelumnya. Aufar kembali menyempatkan diri untuk mengantar Alia ke kampus. Walaupun hari ini jadwalnya di rumah sakit terbilang sangat padat, setidaknya memastikan sendiri kalau Alia sampai di kampus dengan selamat tanpa kurang satu apapun, akan lebih baik jika harus membiarkannya berangkat bersama Jimmy.


Ya, sejak kejadian yang terekam oleh lensanya kemarin, hati Aufar belum bisa mengizinkan Alia untuk bertemu dengan asisten pribadinya itu. Walaupun ia tidak menyatakannya langsung kepada sang istri.


"Mas, hati-hati ya. Makasih udah nyempetin ngantar aku." Alia mengambil beberapa novel karya penulis tersohor luar negeri yang terletak di atas dashboard dan menimangnya dengan sebelah tangan.


Ketika Alia akan membuka pintu mobil, Aufar menahan pergelangan tangannya. Sontak membuat Alia menoleh dengan tatapan bingung.


"Ada yang ketinggalan, Sayang." Ucap Aufar membuat Alia menaikkan sebelah alisnya. Ia memeriksa barang bawaannya, namun semua sudah berada di dalam genggaman. Lalu apa lagi yang ketinggalan?


"Gak ada, Mas." Tuturnya polos.


"Ada.."


"Gak ada loh"


"Ada, Sayang.."


"Eh, gak ada Mas.."


"Gak peka banget."


"Lah?"


"Sudahlah."


"Sana deh masuk kelas!"


Aufar melepaskan borgolan tangannya, dan menatap lurus ke depan kemudi. Bibir tipis penuh miliknya terlihat mengerucut dan sangat menggemaskan bagi Alia.


Sontak wanita itu menangkap makna dari perdebatan kecil tadi. Ia tersenyum simpul melihat tingkah manja sang suami. Tak disangka-sangka Alia mendekatkan wajahnya ke arah Aufar. Lalu dalam hitungan, 1...2...3...


CUP..


Kecupan dalam menempel sempurna di pipi Aufar. Beberapa detik bibir Alia masih betah pada peraduannya. Tentu saja, inisiatif dari sang istri berhasil membentuk lengkungan tipis di bibir penuh Aufar. Ketika sang istri ingin menarik wajahnya, Aufar menoleh kepada Alia dan menarik tengkuk wanita itu agar tidak menjauh darinya.


Sekiranya hanya tersisa jarak dua centimeter di antara keduanya. Deru nafas aroma mint dari permen blaster yang diemut oleh keduanya, menyeruak masuk ke rongga hidung masing-masing.


Pelan-pelan Aufar menyatukan kening mereka dan perlahan mengecup bibir manis nan kenyal milik Alia. Untuk sesaat Alia mematung dan membuka kedua bola matanya sempurna. Ia masih kikuk merespon serangan mendadak dari sang suami. "Kenapa jadi begini?" Batinnya.


Perlahan kedua kelopak mata Alia terkatup dan terpancing dengan permainan bibir Aufar. Kecupan demi kecupan berubah menjadi kecapan dan pagutan yang membuat keduanya terbuai. Sesaat permainan bibir itu membuat keduanya melupakan dimana mereka berada saat ini.


Aufar memang mahir dalam hal yang satu ini. Walaupun terbilang mendadak, namun momen itu selalu ia lakukan dengan ritme lambat dan lembut. Memberikan ci***n terbaiknya yang membuat Alia semakin mabuk kepayang.


Hembusan nafas yang semakin berat perlahan berubah menjadi normal ketika keduanya memutuskan untuk mengakhiri olahraga bibir mereka pagi ini. Dua bibir yang tadinya saling mem***t dan meng***p satu sama lain, kini harus terlepas dengan pertemuan kedua kening mereka.


"Aku akan menjemputmu nanti."


Alia tersenyum simpul, karena lagi-lagi Aufar mencuri ciuman singkat di akhir perpisahan mereka.


Wanita itu terlihat sangat bersemangat berjalan menuju kelasnya. Tampak Delfia dan Husna telah berada di sana. Posisi mereka yang membelakangi pintu masuk, membuat keduanya tidak menyadari kedatangan Alia.


Terbesit akal-akalan usil di benak Alia. Ia berjalan mengendap-ngendap tanpa memberi tanda ataupun suara telapak sepatunya. Mendekat dan terus mendekat. Lalu dalam hitungan, 1..2..3...


DUAAAARRRRR...(Suara Alia menggelegar)


Delfia dan Husna sontak berhamburan karena terkejut parah. Entah apa yang sedang dilakukan oleh kedua sahabat kocaknya itu, sampai-sampai tidak menyadari kedatangannya.


"Eh kaget..!" Ucap Husna. Telapak tangannya mendarat mulus di dadanya.


"Sek to Al...meneng to Al...aku iki loh..kaget!" Seloroh Delfia sambil melakukan hal yang sama seperti Husna.


"Iiiih dasar ratu tiktok..latah aja bawa-bawa tiktok." Alia mentowel lembut pipi Delfia. Membuat gadis itu tersenyum simpul dan menampakkan kedua lesung pipinya.


"Lah, elu kenapa, Al? Iri....? Bilang Boss...hahay..papale papale papale papale pale..." Delfia mengeluarkan jurus tiktok lainnya.


"Aaaah, udah-udah..si Fia kaga usah didengerin, Al. Elu bawa kan novel-novelnya?" Potong Husna disela wajah bahagianya Delfia.


"Nah Una kenapa sewot? haha..sorry bang jago, ampun bang jagooo...!" Lanjut Delfia sambil tertawa lepas.


Alia hanya terkekeh kecil mendengar syair demi syair khas tiktok yang dikeluarkan oleh sahabatnya itu.


"Ini..."


Alia meletakkan beberapa novel yang tadinya ia timang dan duduk bergabung dengan kedua sahabatnya sambil menunggu kedatangan dosen mereka.


Mahasiswa-mahasiswi lainnya yang menyaksikan kekonyolan tiga sahabat itu hanya bisa menggelengkan kepala sambil tertawa karena terbawa suasana.


Bersambung...