I Love You Till Jannah

I Love You Till Jannah
BONUS CHAPTER 5



(POV Sosok Misterius)


Tanpa ragu, kami berdua melangkahkan kaki menuju meja yang sudah Urai siapkan. Beberapa cemilan khas kota tersebut sudah tersusun rapi di atas meja bundar yang beralaskan kain putih itu.


Dengan wajah ramahnya Urai mempersilakan kami duduk. Ia mempersilakan kami untuk menyicipi beraneka ragam cemilan itu. Lagi-lagi sikapnya ini membuat aku dan Andri saling melempar mata. "Semoga Urai tidak sedang menjalankan misi terselubungnya," batinku.


Ku lihat Andri hanya terdiam, ia belum berani mengutarakan satu patah katapun. Sedangkan aku masih saja setia mendengarkan celotehan Urai mengenai cafe ini.


Benar saja terkaan ku tadi, tempat ini memang lah miliknya. Pantas saja semua orang yang memakai seragam pelayan di sana terlihat menundukkan kepala ketika melihatnya.


Tak lama kemudian, terlihat seorang gadis yang tidak asing lagi di indera penglihatan ku. Gadis itu mengenakan mini dress berwarna pink baby dilapisi rompi rajut menutupi lengannya yang mungkin sedikit terbuka. Gadis itu tersenyum manis padaku.


"Isni.." Lirihku. Benar saja. Gadis tu adalah Isni, sahabatnya Alia.


Isni terlihat tersenyum ramah sambil meletakkan nampan yang berisi tiga cangkir kopi tubruk yang mungkin hasil karyanya. Kemudian ia duduk di sebelah Urai tanpa rasa canggung.


"Apa kabar Kak Aufar? Lama tidak berjumpa." Sapanya ramah.


If I'm not mistaken, Isni tidak pernah mengetahui apapun yang terjadi di antara Alia dan aku. Termasuk juga kisah singkat di antara Urai dan Alia.


"Alhamdulillah kabarku baik Is, kamu kok bisa berada disini? Apa kalian ini saudara?"


Aku bertanya agak ragu. Isni hanya tersenyum simpul mendengar pertanyaan polos ku. Jika diperhatikan tidak ada kemiripan wajah di antara keduanya. Jadi bagaimana mungkin mereka itu bersaudara?


"Kalian sudah saling kenal ya?" Tanya Urai basa-basi. Aku hanya menganggukkan. kepala.


Sedangkan Andri, ia masih setia memantau gerak-gerik Urai. Sepertinya dokter yang satu ini masih belum bisa percaya sepenuhnya kepada Urai. Apalagi setelah melihat perubahan sikapnya yang terbilang drastis.


"Akan aku perkenalkan kembali pada kalian. Ini Isni, tunangan ku. Sebentar lagi kami akan menikah." Tutur Urai tanpa ragu.


Aku tersentak mendengar kabar itu, begitu juga dengan Andri. Bukannya aku tidak terima, tetapi aku merasa ada yang mengganggal di sini.


Apakah benar Urai secepat itu berpindah hati? Atau perasaannya selama ini yang dia agung-agungkan terhadap Alia hanya sekedar topeng belaka? Entahlah, aku rasa ini bukan hal yang harus aku pikirkan.


"Lu enggak main2 kan le?" Andri tiba-tiba nyeletuk meragukan.


"Ya enggak lah le, masa' aku mau main-main sama pernikahan." Ia tersenyum sambil menggenggam sebelah tangan Isni dan mengecupnya dalam.


"Pokoknya kalian berdua harus datang pada pernikahan kami nanti!" Lanjutnya yang kembali mendaratkan tangan Isni di atas pahanya. Isni terlihat senyum-senyum malu dibuatnya.


"Kalo diundang kami pasti dateng lah, ya enggak Far?" Tanya Andri kepadaku yang mulai bengong.


"Eh, iya iya.." Aku tersenyum kikuk karena kepergok sedang melamun.


Sebenarnya apa yang sedang aku pikirkan? Aku juga tidak tahu. Yang jelas aku merasa ada permainan di balik senyuman dan sikap mesra yang urai pertontonkan secara gratis kepada kami berdua. Jika dugaan ku ini benar, maka aku juga tidak bisa melakukan apa-apa. Aku tidak berhak mencampuri urusan mereka. Namun bagaimana jika Alia tahu kalau sahabatnya hanya dijadikan pelarian oleh Urai? Ah, sudahlah aku mulai pusing dengan pergulatan pikiran ini.


"Far, aku mau minta maaf atas kesalahan yang pernah aku lakukan dengan sengaja pada dirimu dan Alia. Gara-gara perasaanku yang bercampur obsesi itu, kalian berdua harus terpisah. Aku benar-benar menyesal."


Perfect. Tiba-tiba saja kalimat berbau penyesalan itu melayang memasuki indera pendengaran ku, dan menyusup lurus ke dada ini. Ternyata benar adanya, Urai telah menyesali perbuatannya. Pantas saja sikapnya berubah 180 derajat. Sekarang aku yang berdosa telah berpikiran buruk tentangnya.


"Sebelum lu minta maaf juga gua udah maafin elu kok." Aku dengan tulus mengutarakan penerimaan kata maaf darinya. Semoga setelah ini tidak ada lagi rasa yang mengganjal di hati masing-masing. Mengenai Isni, aku memilih no coment.


"le, aku juga minta maaf ya. Aku udah ngecewain kamu." Tutur Urai selanjutnya pada Andri. Tentu saja dokter tampan sahabatku itu menerima permintaan maaf dari Urai. Secara mereka memanglah sahabat lama yang sangat akrab.


Setelah lama berbincang tentang berbagai hal, aku hampir saja lupa mengabari Urai tentang pernikahanku dengan Alia. Bukan untuk membuatnya cemburu, hanya saja aku ingin memohon do'a restu darinya. Walau bagaimana pun ia merupakan salah satu orang yang berjasa untuk Alia.


Awalnya laki-laki yang usianya lebih tua dariku itu terlihat terkejut, tapi aku bisa melihat masih ada kecemburuan yang terselip di balik senyuman getir yang ia tunjukkan padaku. Namun apalah daya, takdir sudah tertulis. Kita berjalan pada porosnya masing-masing. Tak semua yang kita inginkan itu adalah yang terbaik menurut Tuhan. Rencana tinggal lah rencana. Namun Jika Tuhan berkata tidak, sebagai hamba-Nya kita hanya bisa pasrah dan berusaha mengikuti alur dari skenario-Nya.


Itulah yang sekarang harus diterima oleh Urai. Dengan memilih Isni sebagai pengganti Alia, aku rasa itu adalah keputusan yang tepat baginya. Walaupun ia harus terus belajar menerima keberadaan gadis itu. Masalah cinta, aku rasa akan tumbuh kemudian seiring berjalannya waktu. Semoga kalian berdua berbahagia..


Aku melirik jam tanganku. Waktu menunjukkan pukul 16.00 WIB. Sudah waktunya kami undur diri. Sebenarnya Urai sangat menyayangkan kunjungan singkat kami ini. Namun apa mau dikata. Ada banyak kewajiban yang kami tinggalkan dan harus segera dipenuhi.


Ada juga banyak hikmah yang bisa aku petik dari pertemuanku dengan Urai. Aku bisa menemukan jawaban dari teka-tekiku tentang keluarga Alia yang mengetahui identitasku tanpa aku beri tahu. Secara tidak langsung, ternyata Urai telah mengenalkan sosok ghaib ku kepada mereka. Walaupun awalnya mereka sempat menentang hubunganku dengan Alia. Urai menceritakan semuanya tanpa meninggalkan detail sekecil apapun.


Oh, my poor Alia..


Maafkan aku yang tidak mengetahui sebesar itu dirimu memperjuangkan aku yang pengecut ini, sebelum akhirnya kamu menyerah dengan keadaan.


Maafkan aku yang tidak ada di sisimu di saat kamu membutuhkan bantuan ku. Seharusnya kamu mengatakan yang sejujurnya padaku jika orang tuamu tidak menerima kondisiku saat itu. Bukan malah menutupinya dariku dengan dalih bahwa kamu kecewa akan kebohongan yang aku ciptakan.


Maafkan aku juga yang membuat dirimu terancam akan dihapus dari daftar anggota keluarga oleh Ayahmu.


Maafkan aku yang hanya berselimut di balik keputusasaan dan kerinduan. Seharusnya aku datang menemui dan memperjuangkan mu lebih cepat dari sekarang.


Maafkan aku, gadis polos ku..


Di sepanjang perjalanan menuju bandara, pikiranku melanglang buana entah kemana. Rasa insecure itu datang dengan sendirinya tanpa diundang. Menghujam kokoh bak tongkat nenek lampir yang tertancap. Sesak, dadaku terasa sempit.


Kali ini kami tidak sedang menaiki taxi bandara, karena Urai memaksa untuk mengantar kami sampai di pintu masuk.


"Take care, bro..salam untuk Alia." Ucapnya sebelum akhirnya ia berlalu meninggalkan halaman bandar udara itu.


Aku dan Andri langsung masuk ke ruang check in. Tanpa harus menunggu lama, panggilan boarding pun tiba.


Rasa syukur tak henti-hentinya terucap dari bibir ini. Aku kembali dengan mengantongi restu dan ridho dari keluarga Alia. Kedua mataku menyapu keadaan di sekitar lapangan terbang itu sebelum akhirnya masuk ke dalam pesawat.


"See you next week kota kesayangan.."


Bersambung...