
Sang surya sebentar lagi siap menduduki singgasananya. Pancaran sinar lembutnya mulai menerangi gelapnya langit subuh bumi khatulistiwa.
Kak Urai baru saja selesai melakukan ritual keagamaannya, melaksanakan kewajiban sebagai laki-laki muslim. Mungkin mata yang susah terlelap tadi malam membuatnya terlambat pergi ke masjid untuk shalat berjama'ah.
Ia meletakkan peci di atas meja, dan melipat sajadah kecil yang digunakannya sebagai jembatan bertemu dengan Sang Khalik. Diraihnya ponsel yang diberi wallpaper wajah Alia itu dan mengusap pelan layarnya.
"Maafkan aku Al...mungkin kamu terluka saat ini. Tapi aku harus melakukannya. Aku tidak ingin kamu dibohongi apalagi disakiti oleh orang lain. Tunggulah sayang..bersabarlah, perlahan aku akan menyembuhkan luka itu."
Kak Urai meletakkan kembali ponsel itu di atas meja. Kemudian ia meraih tas ranselnya dan memasukkan beberapa lembar dokumen dan pakaian yang akan ia bawa pulang.
"Hemmmm, beres..."
Ia meraih kembali ponsel yang tergeletak di atas meja tadi. Kemudian menghubungi seseorang sebelum akhirnya check out dari hotel.
Tut..tut..tut..
"Siap, Pak. Ad yang bisa saya bantu?" Jawab seorang laki-laki dibalik telepon.
"Bill, tolong urus mobilku! Nanti aku naik taxi saja ke bandara." Perintah Kak Urai kepada asistennya.
"Baik, Pak." Sambut antusias dari asistennya.
Setelah memastikan mobilnya aman, Kak Urai masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya.
Guyuran air dingin dengan aroma sabun dan shampo yang memanjakan indera penciuman, memberikan kesegaran yang amat sangat bagi laki-laki tampan yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Kak Urai sudah terlihat rapi dengan celana jeans berwarna hitam dan kemeja abu-abu tua dengan lengan yang sedikit dilinting ke atas.
Ia melirik jam tangannya, waktu masih menunjukkan pukul 06.30 WIB. Sedangkan penerbangannya kembali ke kampung halaman pukul 08.30 WIB.
"Masih ada waktu untuk sarapan," gumamnya.
Diraihnya tas ransel yang berada di atas tempat tidur, lalu keluar kamar dan masuk ke dalam lift untuk turun ke lantai dasar.
Ketika pintu lift sudah terbuka, Kak Urai langsung menuju restoran hotel yang terletak di bagian sudut kanan lantai dasar. Ia menarik satu kursi untuk ia duduki dan satu kursi lagi untuk meletakkan ranselnya.
Beberapa saat kemudian, datang seorang pelayan wanita mengantarkan satu cangkir latte ke meja Kak Urai.
"Silakan, Pak..." Ucap sang pelayan.
"Terima kasih.." Jawab Kak Urai sambil tersenyum. Pelayan itu membalas dengan senyuman yang tak kalah hangatnya kemudian berlalu.
"Bukankah ini kopi kesukaan Alia?" Melirik cangkir yang terletak di atas meja.
Kak Urai terlihat berpikir sejenak dan merogoh ponsel yang berada di dalam saku celananya.
"Assalamu'alaik, Kak..ada apa menelpon pagi-pagi begini?" Ada desiran darah yang mengalir deras di dada Kak Urai ketika mendengar suara seorang gadis dari balik ponsel.
"Wa'alaiksalam, Al..kalau kamu nggak sibuk, bisa ke hotel sebentar. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan."
"Bukannya Kakak mau pulang ya?"
"Iya, tapi masih ada waktu sebentar. Will you?
"Ok, I'll be right there. Wait a moment, please."
"Good. Aku tunggu kamu di restoran hotel."
Kak Urai mengakhiri panggilan suaranya. Ia bangkit menuju meja menu dan mengambil dua mangkok cream soup dan beberapa risoles (sejenis gorengan yang terbuat dari kulit lumpia berisi kentang halus dan wortel ditambah dengan potongan seledri yang menambah cita rasanya). Tak lupa pula ia meminta satu cangkir latte lagi kepada pelayan restoran untuk sang terkasih.
Tak butuh waktu lama, Alia sudah bergabung bersama Kak Urai dalam satu meja bundar. Hotel yang menjadi langganan Kak Urai itu terletak tepat di depan gang rumah kontrakan Alia. Jadi, hanya perlu waktu kurang dari lima menit Alia sudah tiba di sana.
Alia menarik satu kursi dan mendudukkan tubuhnya persis di hadapan Kak Urai. Wajah ayu Alia yang tidak terpoles make up itu menampakkan kecantikan natural yang terpancar, membuat Kak Urai semakin cintaaaah🤭.
"Hal penting apa yang ingin Kakak bicarakan?" Alia membuyarkan lamunan Kak Urai. Ia terlihat sangat tidak sabar mendengarkan kabar apalagi pagi ini yang disiapkan untuknya.
"Ehm, serius amat. Nih, sarapan dulu.." Kak Urai menyodorkan satu cangkir latte dan semangkok cream soup kepada Alia.
"Aku kesini bukan untuk sarapan, Kak.." Wajah Alia terlihat kesal karena ia sudah menyadari bahwa Kak Urai hanya mengakalinya saja.
"Aku hanya ingin memastikan kalau kamu makan hari ini." Kak Urai tersenyum simpul sambil menyesap nikmatnya secangkir latte.
"Ngejek ya? Aku baik-baik aja, Kak. Lagian nanti siang juga ada mata kuliah. Jadi, mana mungkin aku bisa ke kampus kalau nggak ada energi." Cebik Alia yang mulai mengerti arah pembicaraan Kak Urai.
"Good girl..Cepat habiskan sarapanmu!"
"Iiiiiish...dasar tukang perintah." Alia melengus kecil dan meraih mangkok yang ada di hadapannya.
Setelah selesai sarapan, Kak Urai mengajak Alia keluar hotel menghampiri taxi yang sudah disiapkan pihak hotel untuknya, pastinya setelah melakukan check out di meja resepsionis.
"Al...aku pamit ya, kamu jaga diri baik-baik. Maaf aku tidak bisa mengantarmu sampai rumah." Ucap Kak Urai yang sudah membuka pintu mobil.
"It's ok, Kak. Kakak hati-hati ya..sampaikan salam hangatku untuk Kak Selvia dan Tante Rana."
Alia tersenyum dan melambaikan tangannya saat taxi yang dinaiki Kak Urai menjauhinya. Kemudian ia meraih motor matic nya dan berlalu meninggalkan halaman hotel.
***
Taxi yang ditumpangi Kak Urai sudah tiba di lobby Bandara Nasional Supadio Pontianak (sekarang sudah menjadi Bandara Internasional).
Kak Urai keluar dari mobil setelah menyerahkan tiga lembar uang lima puluh ribu kepada sopir taxi. Ia berjalan kearah pintu masuk dan menuju meja petugas check in.
Setelah melakukan check in, Kak Urai berjalan menuju ruang tunggu dengan langkah tegapnya. Disaat akan memasuki ruang tunggu, Kak Urai dikejutkan oleh tepukan bahu dari seseorang.
"Tunggu bro.." Kak Urai menoleh ke arah sumber suara dengan ekspresi terkejutnya.
"Ka-kau..." Kak Urai berbalik sehingga membuat tubuhnya berhadapan dengan sosok yang tak asing baginya.
"Sorry, jika aku mengagetkanmu." Ucap Aufar yang masih bisa mengontrol emosinya disaat pertama kali melihat Kak Urai di meja check in yang terletak tidak jauh darinya.
"Apa maumu?" Kak Urai tak kalah geramnya melihat sosok yang ia anggap sudah menipu gadis yang ia cintai itu.
"Seharusnya aku yang bertanya, apa maumu? Kenapa kau terniat sekali agar Alia membenciku?" Aufar melayangkan tatapan tajam ke arah Kak Urai.
"Heh, kau pasti sudah tahu jawabannya." Jawaban enteng dari Kak Urai, membuat Aufar tergelak.
"Hahaha...Tapi caramu itu sungguh tidak gentle bro. Oh ya, aku lupa kau ini seorang pelaku bisnis kan? Pastinya sudah sering melakukan hal licik seperti ini. Berbeda denganku yang berprofesi sebagai dokter. Tugas kami membantu dan menyembuhkan, bukan malah merusak dan menyakiti." Sarkas Aufar.
Mendengar kata-kata Aufar, Kak Urai menggertakkan gigi serta mengepalkan tangan yang sudah siap meluncurkan tinjunya. Namun tidak mungkin baginya untuk membuat keributan di tempat umum seperti ini.
"How dare you..." Kak Urai hanya menodongkan telunjuknya ke wajah Aufar.
Aufar mendekat dan berbisik di telinga Kak Urai, "Kau boleh menang dalam permainan kali ini, tapi perlu kau ketahui hanya aku yang menjadi pemenang di hati Alia, SE-LA-MA-NYA."
Aufar tersenyum sinis dan berlalu meninggalkan Kak Urai dengan kondisi tubuh yang masih mematung menahan amarah.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
jejakmu semangatku gengs😍