I Love You Till Jannah

I Love You Till Jannah
Menikah???



Roda pesawat sudah menjejaki tanah kelahiran Aufar. Beruntung penerbangan kali ini tidak mengalami penundaan, berhubung cuaca langit di bumi khatulistiwa yang kurang bersahabat.


Bersama dengan penumpang yang lainnya, Aufar keluar dari pesawat dan berjalan menuju ruang kedatangan domestik. Ketika sampai di pintu keluar, terlihat seorang laki-laki dewasa bertubuh kekar dan berdiri tegap sambil tersenyum hangat menyambut kedatangan tuan mudanya.


"Selamat datang kembali di Kota Surabaya, Tuan Muda.." Ucap sopir keluarganya yang biasa disebut Paman Ben itu. Nama lengkapnya Bento, tetapi seluruh anggota keluarga Anggara menyingkatnya menjadi Ben agar terkesan lebih simple dan akrab.


"Terima kasih, Paman Ben." Jawab Aufar yang melebarkan senyumannya.


"Silakan masuk, Tuan.." Paman Ben dengan sigap membukakan pintu mobil belakang untuk Aufar. Aufar mengangguk dan bergegas masuk ke dalam mobil.


Paman Ben melajukan mobil itu dengan kecepatan sedang, seakan memberi chance kepada Aufar agar bisa melepaskan kerinduannya dengan pemandangan di sepanjang jalan yang sudah lama tidak ditapakinya.


Inilah Kota Surabaya. Ibu Kota Provinsi Jawa Timur yang merupakan kota terbesar nomor dua di Indonesia setelah Jakarta. Surabaya juga sekaligus merupakan kota metropolitan di Provinsi Jawa Timur.


Kota yang dijuluki sebagai kota Pahlawan itu memiliki beragam keunikan budaya, tempat hiburan dan juga beberapa perguruan tinggi ternama tentunya.


Beberapa perguruan tinggi tersebut diantaranya Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, ITS, Universitas Islam Negeri, dan masih banyak lagi yang lainnya.


Walaupun pernah melanjutkan pendidikan profesinya di Ibu Kota Negara, namun Aufar sempat menyelesaikan pendidikan S1 nya di perguruan tinggi paling populer di kota ini, yaitu Universitas Airlangga. Kebetulan saat ini, mobil yang dikemudikan oleh Paman Ben melewati kawasan kampus tercintanya.


"Apakah Tuan Muda ingin mampir?"


Paman Ben melirik Aufar dari kaca spion di hadapannya. Aufar masih melihat kearah luar jendela seakan menunjukkan kerinduan yang terpendam.


"Tidak perlu, Paman. Langsung pulang saja. Aku sudah tidak sabar bertemu mereka."


Senyuman tipis melengkung di bibir Paman Ben. Pasalnya, terakhir bertemu dengan Aufar kala itu, ia mengantarkan Aufar ke Bandara Juanda dengan emosi Aufar yang meluap-luap pasca perdebatan kecil masalah penerus perusahaan Papanya. Namun sekarang, Tuan Mudanya itu kembali membawa sekoper kerinduan untuk keluarganya.


"Sepertinya ada masalah," gumam Paman Ben di dalam hati.


Kini mobil yang dikendarai oleh Paman Ben telah memasuki kawasan perumahan elit, Citraland Cluster Diamond Hill. Cukup panjang untuk nama sebuah residence.


Sesuai dengan namanya komplek perumahan ini tertata dengan sangat rapi dan kesan mewah. Nampak dari bangunan-bangunan rumah yang berdiri kokoh bak istana raja. Ada yang diperluas dengan penambahan fasilitas pribadi di sekitar rumah, namun ada juga penghuni yang masih setia dengan model awal bangunan rumahnya. Fasilitas di komplek perumahan ini juga lengkap, mulai dari jogging track sampai taman bermain anak pun tersedia di sana.


Aufar tiba di rumah utama tepat pada jam makan siang. Itu artinya Mama Yani pasti sudah menyiapkan hidangan terlezatnya demi memanjakan lidah anak bungsunya. Hal ini yang selalu Aufar rindukan jika berjauhan dari sang Mama.


Pintu terbuka lebar ketika mobil yang dinaiki Aufar memasuki halaman rumah. Di depan pintu sudah terlihat Pak Fahri, Ibu Yani, Kak Fira, Kak Farun dan tidak ketinggalan kedua ponakan lucunya, Bulan dan Bintang. Mereka berdiri berjajar bak makmum yang sudah siap melaksanakan shalat berjamaah bersama imamnya.


Aku sempat bertanya-tanya kenapa Kak Fira memilih nama-nama itu untuk anak-anaknya? Jawabannya, mungkin karena Kak Fira sangat menyukai segala hal yang berbau langit, membuatnya memberikan kedua nama itu kepada penerusnya.


Ibu Yani yang paling bersemangat menyambut kedatangan Aufar menghambur memeluk kesayangannya itu, sesaat setelah Aufar keluar dari mobil. Ia menitikkan air mata bahagia dan kerinduan yang berguguran menjadi satu. Aufar tak kalah hangatnya mendekap wanita paruh baya yang sudah memperjuangkan nyawanya demi melahirkannya itu.


"Mama sangat merindukanmu, sayang..my baby..." Ibu Yani melepaskan pelukannya dan merangkum wajah Aufar dalam genggamannya.


Sudah lama Aufar tidak memandang wajah teduh penuh cinta dan kasih itu. Tak dapat dia pungkiri kerinduan pun juga menggunung di dalam dadanya. Ia mencium punggung tangan Mamanya, kemudian beralih kepada Papa, Kakak, dan Kakak iparnya. Setelah momen haru itu, mereka masuk ke dalam rumah. Namun langkah mereka terhenti karena suara mungil yang sedang protes dengan kompaknya.


"Uncle dokter enggak peluk kita?" Cebik kedua keponakannya.


"Uuuuh..cup cup cup..keponakan uncle dokter tersayang, maaf ya..sini uncle peluk." Aufar berjongkok agar menjangkau kedua tubuh mungil menggemaskan itu dan memeluk mereka dalam sekali dekapan. Aufar juga menghujani wajah keduanya dengan kecupan sayang. Hal itu membuat haru hati siapapun yang melihatnya. Kemudian mereka masuk bersama-sama dan menuju meja makan.


Setelah makan siang, mereka berkumpul di ruang tengah tepatnya ruang keluarga untuk bercengkrama melepaskan kerinduan. Pak Fahri membuka pembicaraan.


"Far, ada yang ingin Papa bicarakan."


"Bicara soal apa, Pa?" Sambil menyeruput teh hijau yang sudah disiapkan oleh ART (Asisten Rumah Tangga).


"Papa rasa sudah waktunya kamu menikah."


Uhuk..uhuk..uhuk...


"Pelan-pelan minumnya, nak." Sambung Ibu Yani sambil menyerahkan tissue kepada anaknya.


"Menikah??" Tanya Aufar yang masih tidak percaya dengan pernyataan Sang Papa sambil membersihkan teh yang sempat keluar membasahi dagu runcingnya.


"Tapi, Papa..aku..." Suara Aufar tercekat, pikirannya kembali mengingat Alia. Seandainya tidak ada masalah diantara mereka berdua pasti Aufar akan langsung mengindahkan saran Papanya.


"Tapi apa, Far? Kamu belum mempunyai calon? Tenang saja, Papa sudah ada kandidatnya." Pak Fahri tersenyum santai sambil menyesap teh hijau miliknya.


Kak Fira yang mengerti dengan kebungkaman sang adik ikut menimpali, "Atau kamu sudah mempunyai kandidat pilihanmu sendiri, dik? Jika iya, maka katakanlah agar tidak terjadi kesalahfahaman." Aufar tersenyum kepada sang kakak seolah sedang mengucapkan kata 'terima kasih atas pengertiannya'.


"Pa, Ma, Kakak..aku juga ingin menikah tetapi tidak sekarang. Aku masih menunggu seseorang." Jawab Aufar sambil tertunduk lemas.


"Seseorang?" Tanya Mamanya.


"Iya, Ma. Someone special." Aufar tanpa ragu-ragu mengatakannya.


"Iya, tapi mau sampai kapan, nak?" Timpal Pak Fahri.


"Sampai ia selesai kuliah, Pa. Please, give me more times. Aku pasti akan menikah."


"How long?"


"Two years, Pa."


"What?? Itu terlalu lama, Far. Papa tidak punya waktu sebanyak itu." Pak Fahri keceplosan.


"Maksud Papa?" Aufar mengernyit penuh selidik. Ia merasa ada sesuatu yang dirahasiakan darinya.


"Papa..." Pak Fahri menggaruk tengkuknya bimbang.


"Maksud Papa..kamu harus sesegera mungkin memberikan cucu kepada Papa dan Mama, Far. Tentunya sebagai penerus perusahaan Papa nanti." Kak Farun menimpali.


"Ooh..." Aufar bernafas lega. Pikirannya sudah melayang kemana-mana. Namun masih ada Satu hal yang membuatnya khawatir, ALIA.


Akankah gadis itu mau menerimanya kembali? Akankah ia bisa membuktikan kepada keluarganya bahwa ia bisa membawa Alia pulang sebagai seorang istri? Akankah Tuhan menyatukan tali asmara mereka kembali sebagai sepasang kekasih halal? Semoga saja.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Siapa yang setuju Alia kembali sama Aufar? Jempolin dong๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜‰