
"Sayang, kamu kenapa?"
Kak Farun ikut bangkit dan mengejar Kak Fira yang berlari tergopoh-gopoh menuju toilet. Semua mata tertuju pada pasangan yang telah memiliki dua buah hati itu.
"Wah, bakalan dapat keponakan baru nih," harap Aufar sambil tersenyum receh.
"Yah, kamunya kapan mau kasi Mama cucu?" Mama Yani menjewer manja telinga putra bungsunya. Sementara Papa Fahri hanya tersenyum seraya menggeleng pelan
"Tenang aja, Ma. Palingan bentar lagi jagoan kita ini mencetak cucu kembar untuk kita," kelakar lelaki setengah baya itu.
Alia yang melihat tingkah kedua mertuanya itu, lantas terkekeh manja. Lucu sekali rasanya melihat pemandangan yang jarang sekali tertangkap lensa bulat miliknya.
Tentu saja Jimmy dan Ibu Anisa juga ikut terhibur dengan suasana yang malah menyudutkan bagi Aufar.
Dokter tampan itu tampak menggaruk-garuk kepalanya yang tidak terasa gatal sama sekali. Melirik ke arah Alia dengan senyuman simpul penuh makna.
Alia yang menangkap makna dari senyuman itu, lantas membekap mulutnya dan mendadak bungkam.
"Ups, habislah aku setelah ini," gumamnya di dalam hati.
***
Malam semakin menjamah waktu. Setelah semuanya jelas. Jimmy dan Ibu Anisa pamit undur diri. Jimmy berjanji akan membantu Papa Fahri memperbaiki kondisi buruk perusahaannya. Ia juga akan mengembalikan semua relasi PT. Anggara Export yang dengan sengaja di rebut oleh Jammy.
"Mas..."
Alia sudah berselonjor kaki di atas tempat tidur sambil menonton televisi, ketika Aufar memasuki kamar. Anggota keluarga yang lainpun telah memasuki kamar masing-masing, karena besok pagi harus kembali ke Surabaya.
"Mama dan Papa udah tidur?" Tanya Alia ketika Aufar beringsut menyusulnya.
"Udah, Sayang.."
CUP
Satu kecupan mendarat di pipi kaman Alia. Tentu saja hal itu membuatnya menyimpul senyuman malu tanda salah tingkah. Sebelah tangannya refleks menyentuh pipi, tempat labuhan bibir sang suami.
"Kenapa?" Aufar keheranan ketika melihat Alia tertunduk sambil mesem-mesem.
"Gak papa, Mas.." Alia merespon sekenanya.
"Atau kamu mau yang lebih dari itu?" Aufar menaik-turunkan kedua alisnya seraya tersenyum mengejek.
"Apaan sih.." Alia mentowel pundak Aufar, sehingga membuat keduanya tertawa serentak.
Namun pada detik berikutnya Aufar menghentikan tawanya dan pura-pura terkejut.
"Loh, apa itu?" Aufar menunjuk sebuah amplop putih yang berada di pangkuan Alia.
"Loh, ini datangnya dari mana? Bukannya tadi gak ada apa-apa ya, di sini?" Alia kebingungan, lalu memandang Aufar penuh selidik.
"Coba deh buka," instruksi Aufar tanpa menggubris pandangan istrinya. Ia sengaja melakukan hal itu untuk mengalihkan perhatian pujaan hatinya itu.
Tanpa basa dan basi, Alia membuka amplop itu, lalu menarik isinya. Dan ...
Benar saja, kedua mata Alia membulat sempurna setelah membaca isi dari dua carik kertas yang telah ia rogoh dari perut amplop tersebut.
"Ini serius?" Alia tersenyum lebar sembari menagih konfirmasi dari Aufar.
Lelaki itupun langsung menyambar pertanyaan Alia dengan anggukan tegas.
"Kado tiket honeymoon dari Kak Fafa waktu itu keburu kadaluarsa. Jadi aku pesen tiket baru." Aufar meraih remot televisi dan mematikannya.
"Tadinya aku mau pesen tiket ke Turki, tapi berhubung kamu pingin banget berburu Aurora, jadi aku pesen tiket ke Australia, gimana?" Aufar menggenggam tangan Alia sembari menjelaskan perubahan planning-nya.
Tentu saja hal itu sama sekali tidak mengurangi kebahagiaan di hati Alia. Ia langsung menghambur memeluk Aufar dengan riang. Sampai-sampi tempat tidur mereka berguncang akibat pergerakan tubuh Alia yang tampak agresif.
"Makasih ya, Sayang.."
"Kamu bilang apa barusan?" Aufar memegangi kedua pundak istrinya. Ia hampir tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Makasih, kenapa, Mas?" Alia yang kebingungan hanya bisa menatap Aufar penuh tanda tanya. Adakah yang salah dari ucapannya tadi?
"Bukan yang itu, Sayang..."
"Terus yang mana..?"
"Kamu panggil aku apa tadi?"
"Mas..."
"Bukan itu, yang tadi."
"Sayang.."
Alia terlihat ragu dan kikuk mengucapkannya. Membuat Aufar tersenyum puas penuh kebahagiaan.
"Yup, itu dia. Mulai sekarang panggil aku ... 'Sayang', okay!" Pintanya tak ingin ditolak.
Alia hanya tersenyum menanggapi permintaan suaminya itu. Bisa-bisa jika menolak keinginan dokter tampan ini, hanya akan menimbulkan perdebatan di antara mereka. Sedangkan Alia, sangat tidak menyukai perdebatan.
"Diam tanpa setuju kan, Sayang?"
"Kok gitu?"
"Senyuman kamu aja udah mewakili.." Aufar menarik kesimpulan.
"Terus gak ada hadiah nih, buat ..."
"Buat apa?"
"Buat tiketnya.."
Sontak Alia tertawa renyah mendengar penuturan Aufar. Ternyata ada udang di balik bakwan.
"Jadi tiketnya gak gratis nih?" Penuturan Alia membuat Aufar terkekeh kecil.
"Ya ... Kan kamu bayarnya gak perlu pake uang." Seloroh Aufar secepat kilat, sembari mencubit manja ujung hidung istrinya.
"Terus pake apa?" Alia berwajah sok polos, pura-pura tidak mengerti.
Sungguh hal itu membuat Aufar mendengus pelan dan membuang pandangannya ke sembarang arah. Alia yang mengerti dengan tingkah sang suami, lalu merangkum kedua pipi Aufar ke dalam genggamannya.
"Just joking, baby.."
Tanpa menunggu aba-aba lagi, ketika melihat Alia terkekeh menanggapi tingkahnya itu, Aufar langsung membaringkan tubuh wanita itu dan menindihnya.
Tentu saja Alia terkejut parah. Serangan mendadak seperti ini membuat organ pemompa darahnya berdegup lebih kencang. Hampir saja melompat dari peraduannya.
Alia perlahan memejamkan matanya. Ia kembali mengingat kejadian dimana Jammy menindih tubuhnya persis seperti yang Aufar lakukan saat ini.
Melihat air mata yang berlinang di setiap sudut mata sang istri, Aufar langsung menyekanya dengan ibu jari.
"It's okay, Sayang. Perlahan trauma itu akan hilang. Seiring berjalannya waktu, insyaAllah."
Mengecup dalam kening bening Alia dengan bibir bergetar menahan air matanya agar tidak tumpah. Ia bisa merasakan betapa takutnya sang istri saat ini.
"Setelah ini, aku pastikan tidak akan ada lagi yang bisa menyentuh dirimu selain aku, suamimu."
Alia perlahan membuka kedua matanya seraya tersenyum haru. Kata-kata Aufar berhasil menenangkan jiwanya yang gusar. Berada di dekat lelaki itu selalu sukses membuatnya tenang. Bagi Alia, raga Aufar adalah pelindung baginya, sedangkan ucapannya merupakan pelipur lara yang selalu berhasil menghapus duka.
Bersambung..