
Sang Raja Cahaya menyongsong bendang kuning muda bercampur putih menyinari bumi borneo. Anak ayam mulai mengekori induknya mematuk apapun yang bisa mereka pungut untuk mengisi tembolok masing-masing. Mengais rezeki.
Berbeda halnya dengan calon mempelai wanita yang sedari subuh telah di-make over oleh emak pengantin (tukang rias). Mereka biasa memanggilnya Mak Fikha.
Mak Fikha merupakan perias pengantin legendaris di kota mereka. Sudah banyak sepak terjangnya yang membuat nama emak-emak satu ini melejit hingga dipanggil ke kediaman pemimpin daerah bahkan wilayah. Namun ada yang membuat kesal emak satu ini.
Sedari tadi drama pemasangan softlens menjadi masalah yang tak kunjung menemukan titik terang. Isni yang baru pertama kali memakai benda kenyal berbentuk lingkaran yang dijejalkan menyatu dengan pupilnya itu, hanya bisa pasrah karena tidak berhasil terpasang. Apalagi cairan bening yang berasal dari kedua bola matanya tak berhenti mengalir bak keran wastafel. Tentunya hal itu membuat Mak Fikha semakin susah untuk merias wajahnya.
Perih, pastinya. Namun Mak Fikha tak patah arang. Ia berkali-kali mencoba dan terus mencoba. Mulai dari menggunakan tongkat softlens, hingga menggunakan jari telunjuknya sendiri. Namun bola mata sebelah kiri milik si Isni sepertinya tidak bisa diajak kompromi.
"Aw..sakit, Mak. Uuuh.." Memekik sambil mengucek mata kirinya.
"Kalo kamu gak beraniin diri, ntar gak bisa foto-foto loh. Calon suami kamu kan ganteng banget tuh kayak bintang pelem, apa kamu rela ntar suaminya malah foto-fotoan sama cewek lain?" Ancam Mak Fikha yang sepertinya sudah merasa jengah dengan keluhan Isni.
"Iiiih, emak kok ngomongnya gitu sih. Iya iya, ya udah coba lagi deh ya.." Isni mengerjap berkali-kali memasang posisi siap. Satu, dua, tiga.
"Nah...alhamdulillah terpasang sempurna, ternyata kamu harus diancam dulu ya yu..." Ucap Mak Fikha dengan perasaan lega campur kesal.
(Ayu adalah panggilan manja untuk anak perempuan dalam bahasa melayu daerah mereka)
Tanpa membuang waktu lagi, wanita yang berusia sekitar tiga puluh tahunan itu melancarkan aksinya dengan keahliannya menyulap wajah Isni yang memang sudah cantik menjadi lebih cantik dan memesona.
Di ujung aksinya, Mak Fikha tidak lupa melakukan ritual yang menurut Isni adalah sesuatu yang aneh. Namun gadis bermata tajam dan berlesung pipi kecil itu tak berani berkicau untuk membantah. Ia khawatir nantinya malah akan membuat Mak Fikha berang jika ia banyak mulut.
Mak Fikha menyalakan sepuntung cigarette. Lalu mulutnya terlihat komat-kamit, namun Isni tidak bisa mendengar kalimat apa yang sedang dibaca oleh emak pengantinnya itu. Isni sedikit meringis dan bergidik ngeri. Apakah ada aura mistis di sini? Apakah Mak Fikha sedang mengusir roh jahat atau sejenisnya? Bulu kuduk wanita itu mulai meremang. Ia memeluk tubuhnya sendiri. Kedua tangannya tampak menyilang naik turun mengusap kedua lengannya.
Perlahan tapi pasti Mak Fikha menyesap asap kematian itu, lalu meniupkannya ke wajah Isni hingga mengitari seluruh kepalanya.
"Oh God, what is this mean?" Tentu saja calon pengantin Urai Abdillah itu hanya bisa mengumpat di dalam hati.
Setelah dirasa selesai dengan ritual tiup meniupkan asap kematian itu, Mak Fikha meminta Isni untuk tidak menatap kaca hingga acara ijab qabul berlangsung.
"Aturan apalagi ini?" Pekiknya, lagi-lagi hanya di dalam hati.
Walaupun hal-hal yang dikatakan dan dilakukan oleh Mak Fikha hanya ia yakini sebagai bagian dari mitos, namun Isni tetap mematuhinya demi menjaga kode etik kesopanan. Ia duduk di atas kasur sambil mengibaskan kipas lipat ke arah wajahnya. Sedangkan Mak Fikha dan satu asistennya terlihat sedang merapikan peralatan perang mereka.
Beberapa saat setelah itu, tampak seorang yang amat tidak asing di mata Isni menyibak daun pintu dan terdorong ke dalam kamar.
"Alia..." Pekik Isni dengan ekspresi wajah yang berbinar-binar. Ia tidak bisa menahan emosinya. Gadis yang sudah berbalut busana pengantin itu, dengan susah payah beranjak dari duduknya dan menghambur memeluk sahabat karibnya itu.
"I miss you..." Ucapnya lirih dengan suara yang sedikit bergetar.
"Sssst..." Alia menarik kedua sudut bibirnya dan mengusap lembut punggung sang kepompong. Air kerinduan pun tak luput membasahi kedua pipi chubby-nya.
Untuk sejenak, keduanya sama-sama terlena dalam posisi saling berpelukan. Mak Fikha dan asistennya yang melihat aksi keduanya, ikut menitikkan buliran keharuan yang diciptakan oleh dua wanita berparas manis dan luar biasa ini.
Lama mereka saling diam, meluapkan kerinduan yang telah memuncak setinggi gunung tapi bukan gunung Himalaya. Sesekali terdengar isakan yang membumbui pertemuan pertama mereka setelah sekian bulan terpisah. Hari ini, di hari bahagia Isni, Alia telah berhasil memberikan kejutan terindah yang mengalahkan kado pernikahan termahal sekalipun baginya.
"Seharusnya kamu enggak boleh nangis Is, nih kan jadi luntur make-up-mu." Mengusap lembut pipi sahabatnya.
Isni tersenyum dalam tangis. "Kok kamu enggak ada kabar sih, Al? Tiba-tiba nongol aja.." Memanyunkan bibirnya, namun kedua tangannya masih menggenggam posesif tangan Alia.
"Kalo ngasi tau, itu artinya bukan kejutan dong. Gimana sih kamu?" Keduanya terkekeh, walaupun sesekali masih terdengar terisak.
"Maaf ya, aku dan Kak Urai enggak bisa hadir dalam resepsi pernikahan kalian. Waktunya sudah mepet dan kami tidak diizinkan untuk bepergian jauh. Kamu pasti ngertilah kan budaya kita kayak gimana?" Tutur Isni dengan penuh penyesalan.
"It's okay, Is. I completely understand." Tersenyum hangat, lalu meraih tubuh sang sahabat ke dalam dekapannya.
"Selamat ya untuk pernikahanmu, aku do'ain semoga kamu bisa kuat menghadapi Kak Urai malam ini." Bisik Alia di telinga Isni, yang membuat kedua bola mata Isni terbuka sempurna dan memekik tertahan.
Pukul 08.00 WIB
Semua tamu undangan telah memenuhi halaman kediaman keluarga Isni. Acara ijab dan qobul ini dilaksanakan dengan tema outdoor. Sesuai keinginan si empunya acara. Pak penghulu, dua saksi dan wali Isni yaitu Pak Ibnu, telah menempati posisi masing-masing. Tak tertinggal juga si bintang momen sakral ini, Kak Urai dengan kemeja putih yang dibalut setelan jas berwarna hitam dan peci di puncak tubuhnya, telah duduk anteng di kursi panas.
Acara itu hanya dihadiri oleh segelintir orang, termasuk keluarga besar kedua belah mempelai, karena acara puncak pernikahan ini akan digelar nanti sore di sebuah gedung serba guna yang cukup terkenal di kota mereka.
Di sebuah kursi yang terletak tepat di belakang Kak Urai, tampak seorang lelaki tampan yang sempat menjadi rivalnya. Aufar, siapa lagi? Tidak mungkin dokter tampan itu membiarkan istrinya menghadiri acara ini seorang diri. Ia masih memantau ketat barangkali Urai bertingkah konyol, membatalkan pernikahan ini dan membawa kabur pujaan hatinya.
Oh, no...
Kadang Aufar memang suka berlebihan.
Ketika Pak Ibnu mengulurkan tangan kanannya, Kak Urai pun menyambutnya dengan mantap. Ada sebulir keringat sebesar biji kedelai yang mengalir di pelipisnya. Merasa gerogi? Pastinya. Ini merupakan momen sakral yang akan membuatnya berjanji untuk menanggung semua sisi kehidupan seorang wanita. Wanita yang akan menjadi tanggung jawabnya di dunia hingga akhirat nanti.
Kalimat yang paling romantis dari yang romantis itu berhasil Kak Urai ucapkan dalam satu tarikan nafas. Sehingga membuat kedua saksi berkata, "SAH."
Senyuman berbalut air mata mengiringi tepukan angan dari setiap insan yang hadir di sana, tak terkecuali Ibu Sia, Ibu Rana, Kak Verni dan Selvia. Drama emak-emak memang lebih heboh dibanding bapak-bapak.
Aufar yang duduk anteng dibelakang Kak Urai, akhirnya beranjak dari duduknya dan menyentuh pundak Kak Urai, lalu berbisik, "mantap jiwa congrats, bro."
Kak Urai menyentuh punggung tangan Aufar dan menoleh sedikit, "masa' aku kalah sama Dokter Aufar dong." Keduanya terdengar tertawa renyah, lalu kembali ke posisinya masing-masing ketika melihat mempelai wanita keluar menuju meja penghulu.
Ada dua angles yang tertangkap lensa bulat Kak Urai. Satu, sosok yang memang telah sah menjadi istrinya dan satunya lagi sosok yang telah gagal ia persunting untuk menjadi pendamping hidupnya. Aufar yang juga terpana melihat wanitanya berjalan berdampingan menemani mempelai wanita itu, hanya bisa tersenyum kagum karena kecantikan Alia tetap tidak terkalahkan di matanya.
Setelah mendudukkan Isni di samping Kak Urai, Alia melempar senyuman tipis ke arah suami sahabatnya itu, lalu berbalik arah menghampiri Aufar.
Aufar yang mengerti dengan kecanggungan yang dialami sang istri, lantas merengkuh tubuh mungil itu dari samping dengan senyuman lebar.
Kak Urai dan Isni yang sudah tidak sabar lagi langsung mengambil posisi untuk berfoto ria.
Apa ada hati yang terpotek melihat pasangan ini?
Bersambung..