
"Yey..udah nyampe," girang Alia sembari turun dari bebek beroda dua kesayangannya.
Mereka baru saja pulang dari bandar udara mengantar kepulangan Papa Fahri dan Mama Yani yang tidak bisa terlalu lama menghabiskan waktu di kampung halamannya. Sementara Alia dan Aufar masih ingin menghabiskan waktu cuti mereka di kota kecil ini.
Waktu semakin bergulir membawa keduanya ke sebuah taman yang terletak di kawasan Keraton Panembahan. Keraton itu adalah sebuah icon bersejarah yang masih eksis di kecamatan tempat tinggal Alia. Bangunan bernuansa kuning kunyit pekat dengan model bangunan khas zaman kerajaan itu, berukuran tinggi menjulang ke atas, melebar ke samping dan memanjang ke belakang. Posisi keraton yang berhadapan langsung dengan sungai terpanjang di kota ini, menambah nilai kedamaian bagi siapapun yang mengunjunginya.
Dua buah meriam hitam besar yang duduk anteng di lahan pertamanan menghadap tegap dan gagah ke arah sungai, juga menjadi spot yang paling diminati bagi para instagramer dan facebooker yang hobi berfoto ria tanpa malu-malu.
Terdapat sebuah pendopo yang di-designed berbentuk lingkaran dengan pagar yang mengitarinya berwarna hijau daun pisang berdiri tegak di atas sungai dengan gertak panjang yang menyisir tepian. Hal itu bertujuan untuk menyediakan tempat bagi para pemancing makhluk kecil dan besar bersirip yang berenang hilir mudik di alam bawah permukaan air.
Nah, di sinilah mereka berdua. Duduk berdampingan di tepian gertak dengan kaki berjuntai ke bawah. Sebelah tangan saling berkaitan satu sama lain sembari menatap perahu motor yang datang dan pergi silih berganti.
"Sayang.."
"Iyaa.."
"Kenapa kemarin sore kamu enggak ngelabrak wanita yang bersama Ayah?"
Alia menyimpul senyuman ketika mendengar pertanyaan polos sang suami. Pasti lelaki yang duduk di sampingnya itu, telah bertanya-tanya di benaknya sendiri sedari kemarin.
"Kamu pingin aku bersikap begitu?" Bukannya menjawab pertanyaan Aufar, wanita bermata bulat itu malah mengajukan pertanyaan balik.
"Enggak gitu juga sih, I'm just curious. Why?" Tutur Aufar sembari menggaruk-garuk tengkuknya yang memang terasa gatal karena gigitan hewan penghisap darah.
TAP..
Seekor hewan bersayap itu berhasil dibuat gepeng di dalam tangkupan telapak tangannya.
"Sadis amat," celetuk Alia sambil terkekeh kecil melihat jenazah nyamuk yang sudah tak berbentuk lagi seperti pasca dimutilasi.
"Abisnya suka gigit-gigit tanpa izin," bela Aufar sembari menggugurkan jenazah si nyamuk ke permukaan air.
Alia kembali tersenyum ketika melihat ekspresi kesal di wajah sang suami. Sungguh wajah tampannya terlihat amat sangat konyol sehingga membuat Alia ingin mencubiti kedua pipinya tanpa ampun, namun niat itu ia urungkan.
"Ibu bilang, umur nyamuk itu tidak panjang, Mas. Jadi biarin aja dia gigitin kamu." Alia memulai pembahasan.
"Maksud kamu?" Aufar mengernyit keheranan. Sebenarnya pesan apa yang ingin disampaikan oleh sang istri.
"Maksudnya, nyamuk itu kalo udah kenyang pasti mati loh, Mas. Dia mati karena kekenyangan. So, bersedekahlah walaupun hanya pada seekor hewan seperti nyamuk ataupun semut." Jelas Alia tidak terlalu panjang.
Aufar mencoba meresapi makna dari untaian kalimat sang istri yang membuat ia semakin penasaran. Dokter tampan itu menarik kakinya yang berjuntai, lalu duduk menghadap Alia dengan melipat kedua kakinya.
"Jangan bilang kalo kamu dan Ibu sudah ikhlas membagi kasih sayang Ayah dengan wanita lain? Termasuk pada gadis kecil yang bersama mereka kemarin sore." Aufar mengutarakan kesimpulan dari ungkapan hati sang istri yang menurutnya hanya sebuah kiasan.
Mendengar hal itu, Alia lantas mengarahkan pandangannya lurus ke depan. Ia menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan, semakin pelan.
"Aku bahkan sudah menyiapkan jiwa dan ragaku, Mas.." Alia menarik nafasnya kembali lalu menghembuskannya. "Jika suatu saat nanti, aku harus membagi kasih sayangmu dengan wanita lain." Lanjutnya tanpa berpaling wajah.
PYAAAAR
Bagaikan tertampar raket nyamuk yang berenergi listrik, tubuh Aufar mematung dan menegang tanpa bahasa lisan sebagai tanggapan. Berulang kali ia menelan salivanya dengan susah payah, karena setengah percaya dengan apa yang baru saja ia dengar dari bibir manis wanita yang berada di sampingnya itu.
"How could she?" Pekiknya di dalam sana.
"Ba-bagaimana kamu bisa berpikiran seperti itu, Sayang?" Menggenggam telapak tangan Alia semakin erat. Ditatapnya lekat wajah polos nan teduh itu dari samping dengan penuh rasa iba.
Oh...
Aliaku sayang, Aliaku malang..
"Dosa itu balasannya di akhirat, Mas. Sedangkan karma? Karma itu balasannya di dunia, bukankah begitu?" Tersenyum lepas memandang manik mata sang suami yang sudah mulai berkaca-kaca. Sekali lagi Aufar menelan salivanya dengan berat. Tak bisa menjawab.
"Jika mungkin Ayah pernah menyakiti batin dan pikiran Ibu dengan menikahi perempuan lain, bisa jadi suatu saat nanti karmanya akan jatuh padaku, putri satu-satunya."
DEG
Sesesak inikah rasanya?
Menyembunyikan suatu rahasia yang telah terbaca di pikiran seseorang yang dicintai bahkan jauh sebelum hal itu terjadi padanya.
Di sebuah cafe
Seorang gadis berlilitkan pasmina berwarna biru telor bebek di kepalanya, sedang serius memandangi layar laptop yang duduk di atas meja tepat di hadapannya. Sesekali keningnya berkerut dalam, dan alisnya tampak bertuatan seperti sedang berpikir amat keras. Namun lesung pipi itu, selalu terbentuk manis ketika garis wajahnya tampak puas.
"Ehem.."
Seorang lelaki dengan rambut khas kuningnya yang hampir sebahu, tiba-tiba saja mendudukkan tubuhnya pada kursi yang berhadapan langsung dengan gadis itu. Si gadis sontak mendongakkan wajahnya dan menatap kikuk ke arah sang idola.
"Eyoo, Fia.." Sapa lelaki itu dengan smirk khas miliknya.
"Ha-hai, Sir.." Respon Delfia setengah terbata. Entah kenapa? Ratu tiktok yang satu ini selalu diselimuti kecanggungan jika berhadapan langsung dengan sang dosen pujaan hati.
Ini adalah pertemuan pertama mereka setelah tragedi kaburnya Delfia dari hadapan Mr. Berry dan Husna di parkiran kampus tempo hari. Sejak waktu itu, Delfia seperti menjaga jarak bahkan sangat membatasi diri dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan Mr. Berry. Bahkan di kelas saja, ia tak berani untuk menatap langsung lelaki yang sedang memandanginya lekat saat ini.
Merasa diperhatikan, Delfia menjadi salah tingkah. Ia lekas menutup laptopnya bahkan tanpa mematikan barang pipih berukuran dua belas inci itu. Kemudian dimasukkan ke dalam ranselnya, lalu beranjak dari duduknya dan hampir saja berlalu. Namun sebelah lengannya tertarik balik ketika Mr. Berry beranjak dan menggenggam erat pergelangan tangannya.
"Not anymore, Fia. Sampai kapan kamu terus menerus menghindar dariku?
Suara bariton sang idola menghentikan gerak Delfia yang baru saja setengah langkah.
"Sir, please." Delfia menggoyang-goyangkan pergelangan tangan tanpa memalingkan wajahnya.
Jika Mr. Berry tak lekas melepaskan jeratannya, mungkin gadis itu akan menangis di sana. Beruntung, lelaki bergaris wajah khas chinese itu segera meregangkan genggamannya sehingga Delfia dengan kilat menarik lengannya dan raib di telan daun pintu cafe tersebut.
Beberapa saat kemudian di parkiran, tampak Husna dan Jimmy baru saja menyembul dari pintu kendaraan roda empat milik asisten pribadi Aufar itu.
Pandangan Husna terkunci pada sosok sahabatnya yang sedang berlari terburu-buru dengan wajah yang sudah bersimbah air mata. Jimmy dan Husna sontak bertukar pandang, saling mengedikan pundak masing-masing.
Husna yang tak ingin membuang waktu lagi, lantas menutup pintu mobil dan berjalan setengah berlari menghampiri Delfia yang telah berdiri di samping eco-nya dengan menyembunyikan wajah dibalik kedua telapak tangannya.
"Fi.." Menyentuh pundak Delfia dan membalikkan tubuhnya.
Delfia yang mengenal si empunya suara, lantas menarik kedua telapak tangannya dan menghambur dalam pelukan Husna.
"Elu kenape, Fi?" Bertanya dengan raut wajah penuh kekhawatiran. "Ada yang nyakitin elu?" Menarik tubuh Delfia dari tubuhnya. Ditatapnya lekat wajah sang sahabat dengan penuh tanya.
Si gadis tomboi itu tidak akan membiarkan begitu saja siapapun yang telah menyakiti sahabatnya. Terlepas itu seorang mafia kelas internasional sekalipun. Ketika melihat Delfia yang menangis semakin tersedu tanpa menjawab pertanyaannya, rahang Husna tampak semakin mengetat. Ia sudah tidak sabar lagi.
"Ayo ikut gue..!" Husna menarik tangan Delfia berjalan menuju ke arah pintu masuk cafe.
"Una, elu mau bawa gue kemana?" Berjalan mengekori Husna sambil menatap punggungnya.
"Nemuin biang kerok yang udah bikin elu mewek segitunya begini." Tanpa menatap Delfia, Husna terus saja menarik tangan sahabatnya itu.
Sementara Jimmy hanya bisa menatap dua gadis itu dengan menggelengkan kepalanya. Ia masih berdiri anteng bersandar pada body mobilnya sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Sungguh sebuah tontonan yang menarik baginya.
Sesekali ia tersenyum tipis melihat tingkah Husna yang kerap kali mengedepankan emosi. Melihat hal itu, membuatnya mengenang kilas balik pertemuan pertamanya dengan si gadis tomboi yang sekarang telah menjadi temannya itu.
"Dasar tomboi cap doraemon," gumam Jimmy sembari tersenyum.
"Husna, stop..!" Delfia menarik paksa tangannya sehingga membuat Husna menghentikan langkahnya dan berbalik arah menatap Delfia penuh selidik.
"Apa elu barusan ketemu Mr. Berry ama cewek itu lagi?" Delfia hanya tertunduk dan menggelengkan kepalanya.
"Gue cuma ketemu ama Mr. Berry aja. Dan dia cuma sendirian." Jawab Delfia dengan isakan yang masih terdengar. Sesekali ia menarik cairan liquid yang mengalir tanpa permisi pada dua lorong hidungnya.
"Terus kenape elu nangis, Fi?" Sesal si tomboi. Agaknya ia mulai amnesia bahwa Delfia belum mengetahui rahasia Mr. Berry yang telah ia ketahui dari Jimmy.
"Gue enggak bisa terus menerus ngarepin lakinya orang kan, Na? Cuman kenapa sih sikap Mr. Berry seolah-olah masih aja ngasi harapan ke gue? Hiks..hiks...sakiiit, Na." Deraian air mata Delfia berhasil membuat Husna tersadar akan kenyataan palsu yang selama ini selalu menjadi tema pergunjingan di antara mereka.
"Fi.." Husna mendekat dan meraih kedua pundak Delfia.
"Cewek itu sebenarnya....." Husna menggantungkan kalimatnya. Ia memandang sejenak ke arah Jimmy seolah meminta izin, lalu lelaki itu mengangguk pelan tanda menyetujui.
"Cewek itu sebenarnya siapa, Na?
Bersambung..