I Love You Till Jannah

I Love You Till Jannah
S2 Senja Terindah



Hari ini bertepatan dengan keberangkatan Aufar dan Alia ke pulau Bali, Mr. Berry, Delfia dan Husna juga bertolak ke Jakarta. Sementara Pak Harry, Ibu Nana, dan Alan bertolak ke kampung halamannya.


Perpisahan memang menyedihkan, namun mereka semua meyakini bahwa dibalik sebuah perpisahan pasti akan ada pertemuan kembali di kemudian hari.


Ketika tiba di Bandara International Soekarno Hatta, Delfia dan Husna berpamitan kepada Mr. Berry dan berpisah di pintu kedatangan domestik.


"Na, menurut elu gimana sih Mr. Berry?" Delfia memulai percakapannya ketika mereka berada di dalam taxi yang berjalan menuju kediaman bersama. Namun tidak ada jawaban sedikitpun dari Husna yang membuat Delfia menoleh ke arahnya.


"Na, gue na....yaelaaah...malah molor nih bocah. Diajak ngobrol juga." Delfia bersungut kesal ketika melihat Husna sudah tertidur nyenyak di sampingnya dengan posisi tubuh bersandar ria di muka kursi.


"Ini kita mau kemana, Neng?" Tanya si sopir taxi, yang merasa kebingungan tentang arah tujuannya.


"Eh iya lupa, perumahan pondok indah nomor 10A ya, Pak." Jawab Delfia dengan memberikan senyuman penuh kesantunan dari balik kaca spion.


Setelah melaju sekitar tiga puluh menit, taxi yang mereka tumpangi memasuki kawasan perumahan mewah yang hanya terdapat rumah-rumah berlantai lebih dari satu di sana. Bangunan kokoh, pilar besar, dan design exterior yang bersifat modern menambah kesan elegan pada setiap bangunan itu.


Si sopir taxi menghentikan kendaraannya di sebuah rumah bercat tembok berwarna putih polos, dengan pagar rumah yang tinggi menjulang. Tertera angka 10A di salah satu pilar di sisi kiri gerbang.


"Kita udah nyampe, Neng." Pak sopir menginformasikan ketibaannya kepada Delfia yang masih tak bergeming dari pandangannya ke luar jendela mobil.


Gadis yang mengenakan pasmina berwarna peach itu melihat seorang lelaki tampan yang sangat ia kenal keluar dari sebuah mobil bersama seorang wanita yang seumuran, lalu berjalan bergandengan memasuki salah satu rumah yang tidak jauh dari miliknya dan Husna.


"Ehem..ehem..Neng..punten.." Tegur si pak sopir sekali lagi yang berhasil membuyarkan tatapan tajam Delfia ke arah laki-laki itu. Terlihat semburat kekecewaan di wajah manis dengan sentuhan lesung pipinya.


"Eh, iya, Pak. Maaf saya enggak denger tadi." Delfia mengerjap beberapa kali, lalu membangunkan Husna yang memang belum sadarkan diri.


"Na, udah nyampe nih.."


Husna seketika itu juga mengerjapkan kedua matanya, meraup kasar wajahnya yang masih terlihat linglung, lalu mengikuti Delfia keluar dari taxi. Namun gadis yang biasa dijulukinya cokelat batangan itu, terus saja berjalan memasuki gerbang dan sama sekali tak menoleh ke belakang. Bahkan Delfia tak menghiraukan Husna ketika ia beberapa kali memanggil nama gadis itu.


"Kenape tu anak?" Husna menggaruk kepalanya, membayar tagihan taxi, lalu masuk ke dalam rumah dengan membawa koper miliknya dan juga Delfia.


***


Langit jingga memesona di ufuk senja Pulau Cinta ternyata nampak lebih indah dibandingkan senja di belahan bumi manapun. Burung-burung terbang berkoloni hilir mudik berdasarka/n spesies kembali ke alamat tinggalnya masing-masing.


Berbeda halnya dengan dua insan yang sedang dimabuk cinta. Sepasang kekasih halal yang sedang memadu kasih jauh dari hiruk pikuk kesibukan kehidupan di kota dan gangguan dari manusia manapun yang selalu mengusik kebahagiaan mereka.


Alia yang awalnya merasa keberatan untuk pergi berbulan madu bersama sang suami, kini telah terbawa suasana indahnya panorama di sekitar. Adegan romantis di ujung senja yang dilakukan oleh Aufar, berhasil membuat hatinya berjingkrak-jingkrak ria dan terkesima. Oh Alia..


"Finally, aku bisa menggenggam kedua tangan ini dan memandang wajah cantik ini di tengah indahnya langit jingga di penghujung senja."


"Sayang mau berenang?" Tanya Aufar tiba-tiba.


"Eh...mak..maksudnya berenang di lautan ini?" Alia terlihat semakin gerogi dan mulai terbata-bata. Efek karena takut Aufar akan melahapnya habis-habisan di dalam air, begitulah sepertinya.


Mendengar pertanyaan polos dari sang istri, Aufar sontak terkekeh kecil dan mengacak-ngacak puncak kepala wanitanya. "Ya, enggaklah Ratuku, ada kolam khusus di dalam villa. Yuk.." Aufar menggandeng tangan Alia, lalu masuk ke villa yang di bagian belakangnya terdapat small oval swimming pool, but sangat pas untuk berenang berdua.


Aufar menyibak baju kaos yang ia kenakan dan membuka resleting celana pendeknya tanpa rasa ragu maupun malu. Ketika melihat hal itu, sontak Alia memekik dan menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Sementara Aufar, hanya tergelak puas karena sudah berhasil mengecoh sang istri.


"Aku masih pake boxer kali, Sayang." Ujarnya di sela-sela tawa. Ia menurunkan celana pendek itu dan melepaskannya sempurna.


Mendengar hal itu, lantas Alia sedikit demi sedikit meregangkan jari jemarinya, dengan niat mengintip terlebih dahulu. Ia bernafas lega karena memang benar adanya, sang suami masih mengenakan celana boxer.


Aufar berjalan mendekati sang istri, melepas satu persatu kain yang menutupi tubuh istrinya. Mulai dari penutup kepala, sweater, hingga...Ah, tangan Alia berhasil menahan telapak tangan sang suami yang hendak melepaskan baju kaos yang ia kenakan.


"Give me more times, please. Aku bisa melepasnya sendiri. Tapi Mas tunggu dulu di sini ya." Alia berbalik arah menuju kamar tidur, mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi.


Sungguh saat ini debaran jantungnya sudah tidak bisa dikondisikan. Tangannya terlihat gemetar. Suhu tubuhnya terasa panas dingin. Nafasnya mulai pendek-pendek karena mendadak kekurangan oksigen. Gerogi! Ya, apalagi? Siapa sih yang tidak merasakan kepanikan di saat akan menunaikan kewajiban pertama bagi seorang istri terhadap suaminya? Siapa juga yang tidak merasa berdebar-debar di saat momen intim yang selama ini selalu diinginkan oleh setiap pasangan halal bertaut pada satu titik temu?


Disinilah Alia, tidak bisa beralasan bahkan melarikan diri dari kewajiban yang memang seharusnya sudah sejak lama ia lakukan. "Habislah kau Alia!" Senyuman puas tampak nyata dibibir sang Author.


Satu persatu alia melepas pakaian yang ia kenakan sehingga tersisalah pakaian dalamnya saja. Kemudian ia menggantinya dengan sehelai handuk yang dililitkan menutupi bagian tubuhnya sampai dada. Persis seperti kebanyakan wanita disaat selesai melakukan ritual pembersihan tubuh.


Alia semakin tambah panik ketika melihat pantulan tubuhnya di cermin. Beberapa kali ia membasuh wajahnya dan menggosok giginya terlebih dahulu. Ia tidak ingin Aufar menciumnya dalam kondisi mulut yang tidak segar.


Setelah dirasa selesai, ia keluar dari kamar dan berjalan perlahan mendekati kolam renang yang di dalamnya telah terisi oleh seorang pangeran tampan pujaan hatinya.


Melihat aufar di dalam air dengan kondisi tubuh setengah basah, membuat hawa panas menggerogoti kedua pipi alia. merona!


Sedangkan aufar nampak terpana dengan pemandangan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. terpesona!


Perlahan tapi ragu alia melepas handuk yang melilit di tubuhnya dan berjalan memasuki area pertempuran yang pertama. kedua mata aufar tak berkedip sedikitpun. menatap nanar tubuh indah sang istri.


Tungkai kaki alia terasa berat dan kaku, namun ia tetap berusaha untuk terus dan terus maju. sementara aufar telah menengadahkan sebelah tangannya untuk menyambut persembahan sang permaisuri.


Alia menyambut tangan aufar ketika tubuhnya telah sempurna masuk ke dalam air dan menempel lekat di tubuh kekar sang dokter tampan. oh, sumpah demi apapun, tidak ada jarak yang tersisa di antara keduanya.


Kedua tangan Aufar menyentuh pinggang ramping sang istri dengan sentuhan sensual yang pada tahap awal telah berhasil membuat Alia merasakan gelenyar aneh merayapi sekujur tubuhnya. Ditambah lagi sensasi dingin yang berasal dari air kolam membuat sentuhan itu semakin menggairahkan, sehingga terjadilah momen indah mereka berdua di dalam sana.


Bersambung...