
Ketika hati terluka, percayalah dirimu tak akan bisa mengobatinya sendirian. Merintih, meraung penuh luka bak tersayat belati tajam penghujam jiwa dan perasaan. Di saat itulah, dirimu butuh seseorang untuk membalut lukamu dengan penuh perhatian dan ketulusan. Beruntunglah bagi engkau yang masih mempunyai sosok terkasih yang akan selalu ada untukmu baik di dalam cerah maupun mendungmu. Best friend forever!
Persahabatan adalah ikatan yang tak akan pernah putus sampai di penghujung asamu. Ikatan yang akan selalu tersimpul kokoh bahkan disaat ikatan-ikatan yang lain memaksakan diri untuk lepas darimu. Ikatan yang selalu menahanmu agar tak terjatuh ke dalam jurang kesalahan dan ikatan yang tak akan pernah lekang walaupun terpisah oleh jarak dan waktu.
💚Damai selamanya, sahabat sejati💚
Husna kembali mendudukkan tubuhnya di atas kursi bersebelahan dengan gadis berlesung pipi itu. Tak ada satu katapun yang terlontar dari bibir ranumnya selain air kepiluan yang terus menerus membasahi kedua pipinya.
Sepasang sahabat yang biasa terlihat kocak dan selalu meributkan hal-hal sepele itu tak lagi terlihat saat ini. Husna menggenggam telapak tangan Delfia yang terasa amat sangat dingin, mencoba mentransfer energi positif agar sahabatnya itu merasakan bahwa dirinya tak sendirian.
Delfia pun tak tinggal diam, ia bangkit dari duduknya, merangkul tubuh Husna dan menangis sejadi-jadinya. Husna tak menginterupsi sama sekali. Ia sengaja membiarkan Delfia meluapkan segala kesedihan dan kegundahan hatinya diatas pundaknya.
Dalam hal apapun, Husna memang sosok yang lebih tegar ketimbang Delfia. Secara, perbedaan kepribadian keduanya sangat mencolok. Husna terlihat lebih tangguh, sedangkan Delfia lebih lembut dan manja. Namun Delfia merupakan pribadi yang introvert. Tak mudah baginya untuk membagi setiap masalah dalam hidupnya, termasuk kepada kedua orang tuanya. Kecuali dia benar-benar tidak sanggup lagi untuk menanggungnya sendirian.
Husna dan Delfia merupakan sahabat sejak mereka duduk di bangku SMA. Kedua orang tua mereka terlibat dalam kerja sama bisnis hingga membuat hubungan dua keluarga itu menjadi erat bak keluarga.
Setelah lulus SMA, keduanya memutuskan untuk merantau dan meneruskan pendidikannya di Ibu Kota Negara. Pendidikan Strata satu, mereka selesaikan bersamaan dalam jangka waktu tiga tahun enam bulan. Setelah itu mereka kompak meneruskan pendidikannya ke jenjang master di Universitas Indonesia.
Di kampus itulah mereka berdua bertemu dengan Alia. Wanita yang sudah bersuami namun terlihat seperti gadis yang masih sweet seventeen. Namun walaupun terbilang baru mengenal Alia, mereka bisa saling mengisi dan menyesuaikan karakter masing-masing. Apalagi sifat Alia yang humble, membuat mereka mudah akrab dengan sekejap mata.
Sebenarnya Ayah Husna telah membeli satu unit rumah mewah di komplek itu jauh sebelum mereka memutuskan untuk kuliah di kota tersebut. Jadi, Delfia diminta untuk tinggal satu atap dengan Husna agar anak semata wayang mereka tidak tinggal sendirian.
Sekarang, di sinilah mereka berada. Di balkon lantai dua yang mengarah langsung ke jalan komplek. Menampakkan pemandangan menyeluruh dari jejeran rumah yang berada di lingkungan mereka tinggal.
Husna mengelus lembut punggung Delfia yang masih bergetar. Tidak ada lagi suara erangan dari bibir gadis itu, namun isakan tangis masih mengalun merdu di telinga Husna. Setelah dirasa Delfia sudah cukup tenang, Husna menarik tubuhnya memberi jarak di antara mereka. Ia menatap manik mata Delfia yang tampak sangat sembab dan memerah.
Delfia melorotkan tubuhnya ke lantai dan memiringkan kepalanya di atas pangkuan Husna. Hal itu sontak membuat Husna terperanjat.
"Fia..." Hanya kata itu yang lolos dari bibir Husna.
"Gue kecewa, Na. Gue kecewa." Lagi-lagi air luka Delfia terjun bebas dan berhasil membasahi celana yang Husna kenakan.
"Coba elu ceritain semuanya, gue siap ngedengerin kok." Husna membelai pucuk kepala sahabatnya yang masih menggunakan penutup kepala.
"Mr. Berry..hiks.."
"Kenape ama Mr. Berry? Bukannya waktu pisah di Bandara tadi, elu bedua baek-baek aje?"
"Gue...huhuhu..." Tangisan Delfia kembali memburu seiring dengan hembusan nafasnya yang tersengal-sengal.
"Bener kata elu, Na. Mr. Berry udah punya bini..." Delfia mencengkeram betis Husna sekuat tenaga, menahan perih dan sesak di dadanya.
"Kenape dia tega ngasi harapan ke gue kalo dia udah punya bini, Na? Huhuhu...sakit kan gue di-PHP-in kek gini." Kembali terisak pilu.
Sebenarnya sudah beberapa kali Husna mengingatkan Delfia masalah Mr. Berry yang telah memiliki pasangan, namun gadis itu sepertinya tidak mau ambil serius perkataan si gadis tomboi. Akhirnya, jadilah seperti ini, merasa terpukul ketika tersibaknya tirai takdir.
"Fia..laki-laki di dunia ini bukan cuman Mr. Berry tau. Elu itu cantik, sholeha lagi. Laki-laki manapun bahkan yang lebih tampan dan lebih smart dari dosen kite ntuh, bisa jadi bucin kalo kenal elu. Elunye aje nyang milih-milih." Nasihat Husna di sela-sela tangisan Delfia.
"Elu kaga pernah jatuh cinta kan Na? Gimana bisa elu nyepelein perasaan gue yang beneran tulus ama dia? Huhuhu...Hati gue cuma satu Na, dan cuma bisa mencintai sekali aje..hiks..hiks..sakit Na, sakiiiiit." Delfia menepuk-nepuk dadanya seolah ingin menunjukkan kepada Husna bahwa dirinya benar-benar hancur.
DEG...
Jantung Husna seperti berhenti berdetak sejenak seiring dengan pertanyaan yang terlontar dari bibir kepompongnya itu. Benar kata Fia, selama berteman, Husna tidak pernah menunjukkan ketertarikannya sama sekali kepada sosok makhluk yang bernama laki-laki. Ia bahkan bisa dijuluki sebagai wanita yang anti dengan makhluk yang satu itu.
Husna memang tak pernah mengetahui takdir cintanya sendiri, namun melihat Delfia sehancur ini, ia semakin tidak berselera untuk menyimpan perasaan sedikit pun di dalam hatinya untuk seorang lelaki.
"Elu bener Fia, gue kaga pernah ngerasain jatuh cinta kek cewek-cewek pada umumnya, termasuk elu. Jadi, gue emang kaga bisa ngertiin sesakit apa perasaan lu saat ini. Tapi yang gue minta, elu kaga boleh terus-terusan meratapi laki-laki yang udah menjadi hak milik orang laen. Apalagi ampe nekat ngerebut Mr. Berry dari bininye. Pelakor itu dikutuk banyak nyawa loh, Fia."
Husna memberi wangsit kepada sahabatnya itu dengan nada menggoda. Hal itu tentu berhasil membuat Delfia mengangkat kepalanya dan menatap Husna dengan mengerucutkan kedua bibir tipisnya.
"Elu tu yee..bisa-bisanya nyumpahin gue kek begitu." Delfia bersungut manja.
"Lah, siape juga nyang nyumpahin elu?"
"Nah, tadi elu bilang gue pelakor."
"Ih, ngegas. Gue kaga bilang gitu, Fia, please deh ah.."
"Elu seneng kan gue kek gini, jadi elu bisa ngetawain gue sepuasnya."
"Duh, susah ngomong ama orang PMS akut."
"Iiiiiih, Una..." Delfia memukul pelan tubuh sahabatnya.
"Ampun..bang jagooo.." Husna menutupi wajahnya agar terhindar dari tonjokan Delfia.
"Gue bukan Abang Jago ah..gue kan cewek tulen kaga kek elu, cewek setengah cowok, weeee.."
Delfia bangkit dan menjauh dari Husna. Ia sempat menjulurkan singkat lidahnya mengejek sang sahabat. Si tomboi pun tak tinggal diam. Ia mengejar Delfia, berlari-larian seperti anak kecil yang sedang bermain bersama.
Melihat Delfia tertawa lepas, Husna merasa sangat lega. Akhirnya sahabatnya itu, bisa melupakan lukanya sejenak. Semoga saja seterusnya. Semoga saja.
Bersambung..