
Setelan jas yang terpasang sempurna di tubuh sang calon suami, menaikkan level ketampanannya hingga kesekian persen, membuat Isni terpana bahkan terpesona.
Terpesona..
Aku terpesona..
Memandang, memandang wajahmu..
Aaaah...
Gadis bermata tajam itu menggelengkan kepalanya berkali-kali, menyadarkan dirinya sendiri dari keterpesonaan yang merangkengnya. Ia kembali menangkap raut yang berbeda dari ekspresi wajah Kak Urai.
Perlahan Isni mendekatinya dan meraih sebelah tangan Kak Urai ke dalam genggamannya. Hal itu sontak membuat sang calon suami membuka kedua matanya sempurna. Kak Urai tersenyum, walaupun agak terkesan dipaksakan.
"Apa kamu mulai merasa ragu dengan pernikahan ini, Kak?" Menatap kedua manik mata Kak Urai dengan penuh tanya.
DEG
"Bagaimana dia bisa merasakannya?" Batin Kak Urai.
"A...aku..." Suara Kak Urai mulai terbata-bata. Bingung pastinya. Ia lantas membuang pandangannya ke sembarang arah, meminimalisir kecanggungan.
Isni semakin mengerutkan keningnya, sesekali mengerjapkan kedua kelopak matanya menahan air mata yang telah sempurna membingkai kedua bola matanya. Agaknya ia benar-benar mulai merasakan keraguan dalam hati Kak Urai.
Lelaki itu mulai peka dan menatap Isni dalam diam. Ia menggeleng pelan dan mengusap lembut pipi gembul sang calon istri dengan tatapan sendu.
"Pernikahan sudah di depan mata, Is. Tak akan ada yang bisa mengubah takdir kita berdua, bahkan Bu Author sekali pun." Tutur Kak Urai dengan mantap jiwa.
Kedua sudut bibir Isni tertarik sempurna berbentuk bulan sabit. Ada kelegaan di dalam hatinya. Cairan bening yang sedari tadi berdemo di pelupuk matanya pun tak mampu lagi ia bendung.
Bagaimana tidak, hati wanita mana yang tidak akan berjingkrak ria jika mendengar kalimat ampuh berlebel romantis seperti yang telah terucap dari bibir si pujaan hati? Hati wanita mana yang tidak merasa bahagia, jika sosok yang selama ini ia idamkan, sebentar lagi akan mengucap janji suci atas nama pernikahan?
Ah, air mata ini terlalu berharga untuk diumbar pada momen ini. Masih ada lagi level momen yang lebih tinggi rating-nya, yaitu hari dimana ribuan malaikat akan mendo'akan mereka agar senantiasa bersama menjunjung tinggi nilai pernikahan dalam rangka menyempurnakan separuh agama.
***
Satu Minggu Kemudian
"Al..lu serius belum ngampus hari ini?" Menempelkan benda pipih di telinga kanan dan hanya dijepit oleh sebelah bahunya. Sementara kedua tangannya masih sibuk membolak-balik halaman novel yang ia baca.
"Apa iya lu masih bisa konsentrasi baca?" Celetuk Jimmy yang duduk di samping Husna, lalu menyedot dalam minuman dingin yang berada di hadapannya, namun sedikit melirik ke arah Husna dengan senyuman mengejek.
Husna menghunuskan hidungnya ke arah Jimmy, lalu kembali berkonsentrasi dengan sambungan teleponnya.
"Al..gue kaga bisa denger lu ngomong apaan barusan." Menutup novel yang tadinya masih ia baca, lalu kembali melirik Jimmy yang terlihat sedang terkekeh kecil.
"Aku lagi di kampung, Na. Menghadiri pernikahan sahabatku. Kemungkinan minggu depan baru ngampus." Jelas Alia dibalik telepon.
Husna sesekali berkata tidak jelas yang membuat Alia sepertinya mencurigai sesuatu.
"Kamu lagi sama siapa, Na? Kok aku kayak denger suara cowok ya," Alia memancing.
Husna terlihat kelimpungan dan gelagapan mendengar pertanyaan dari sahabatnya itu. "Gu..gue, gue lagi ame temen, Al." Husna tertawa cengengesan sambil menggaruk-garuk topi yang ia pakai.
"Temen? Tumben kamu mau ngumpul bareng cowok?" Pertanyaan Alia kembali memojokkan Husna.
"Yang jelas dong, Na..kamu lagi sama pacar atau masih gebetan?" Alia terdengar terkekeh.
"Anu Al..gue tutup dulu teleponnya ya, ada yang manggil gue tuh.." Kelakar si Husna.
"Eeh..eeh..aku belum selesai bicara, Na. Eh Husna Jawab dulu perta...."
Tut..tut...tut...
Lenyaplah sudah suara Alia yang kali ini terdengar cerewet di telinga Husna. Berkali-kali ia memukuli pundak Jimmy yang berada di sampingnya. Sikap usil Jimmy hampir saja membuat ia keceplosan.
"Kenapa lu gak bilang aja sih kalo lagi ama gua?" Tutur Jimmy santai.
"Aah...buat apa juga, kaga penting, Jim." Kembali membuka novel yang sempat ia tutup tadi. Jimmy mendekatkan tubuhnya ke arah Husna dan mengintip sedikit wajah novel yang sedang dibaca oleh si tomboi.
"The Lord of the Ring,," Husna memutar kepalanya sedikit mendengar celetukan lelaki itu.
"Elu suka novel Fantasi juga?" Tanya si tomboi.
"Hem..." Jawabnya singkat. Husna menutup kembali novelnya, lalu melipat kedua kakinya menghadap lelaki berhidung mancung itu.
"Pasti elu punya banyak koleksian, gue pinjem yak," Memasang wajah penuh binar.
"Enggak banyak sih, cuman ada beberapa. Tapi kalo lu mau gua bisa pinjemin ama si Berry. Dia si kutu buku. Koleksian bacaannya lebih kaya daripada gua." Menyedot tarikan terakhir minumannya yang menimbulkan suara berisik luar biasa.
"Berry? Maksud lu Mr. Berry?" Menyatukan kedua alisnya, semakin menatap Jimmy dengan tatapan penagih jawaban.
"Yup, dia dosennya elu kan?" Sedikit melirik ke arah Husna. Gadis itu hanya menjawab dengan anggukan kepala.
"Gimana elu bisa kenal ama Mr. Berry, Jim?" Husna melancarkan misinya. Misi mengungkit sebuah kebenaran dibalik kebenaran.
"Dia sahabat gua dari SMA." Mendorong gelas kaca yang sudah kosong melompong.
Ada angin segar yang Husna rasakan ketika mendengar kalimat terakhir dari Jimmy. Ada kemungkinan besar Jimmy bisa memberikan informasi yang ia butuhkan selama ini.
Beberapa hari belakangan ini, Jimmy dan Husna memang sering terlihat bersama. Oleh karena tragedi kehabisan bensin tempo hari membuat hubungan keduanya semakin membaik seiring berjalannya waktu. Berhubung Jimmy yang masih terlibat seminar bisnis di kampusnya, jadi membuat keduanya sering bertemu walau hanya untuk mengobrol receh di kantin kampus seperti ini.
***
Senja di tanah borneo membayar kerinduan yang sudah lama terpendam di hati Alia. Tugu khas yang menjadi icon kota kelahirannya, selalu terngiang-ngiang di pelupuk matanya selama ini, akhirnya bisa ia pandang dengan mata telanjang.
Pelukan erat dihadiahkan pada tubuh gempal sang Ibunda tersayang. Sesi sungkem menyungkem telah dilakukan Alia dan Aufar ketika mereka tiba di depan pintu rumah Pak Harry. Senyuman haru penuh penghormatan dilontarkan kedua insan yang melahirkan dan membesarkan Alia itu kepada kedua besannya. Lalu semuanya masuk ke dalam rumah, bercengkerama ria saling melepas rindu.
Papa Fahri, Mama Yani, Aufar dan Alia telah menjejakkan kaki mereka di tanah kelahiran gadis borneo itu beberapa jam yang lalu. Alia sendiri tidak merasa keberatan jika mertuanya memutuskan untuk menginap di hotel ketimbang di kediaman kedua orang tuanya, karena memang kondisi rumah Ayah dan Ibunya yang tidak memungkinkan untuk menampung mereka semua. Begitu juga dengan Pak Harry dan Ibu Nana, mereka bisa memaklumi tanpa merasa tersinggung sama sekali.
Kali ini keluarga Kak Fira tidak bisa ikut serta karena Kak Farun memiliki pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Mengenang ada masalah baru yang harus segera ia tangani berkenaan dengan beberapa kantor cabang di beberapa daerah di Jawa Barat. Lagi pula, akan lebih baik jika Kak Farun tetap berada di perusahaan ketika Papa Fahri keluar kota seperti sekarang ini.
Papa Fahri juga merupakan salah satu kolega dari Kak Urai. Sebelum Aufar mengatakan bahwa mereka berdua akan menghadiri momen bahagia sahabat istrinya ini, Papa Fahri telah memberitahunya bahwa beliau juga mendapatkan undangan yang sama. Akhirnya mereka memutuskan untuk berangkat bersama-sama.
Lelaki setengah baya itu, terlihat sedikit terkejut ketika mendengar Aufar menceritakan kronologi perkenalannya dengan Kak Urai. Beliau tidak menyangka, jika putranya dan pengusaha muda bernama Urai yang ia kenal itu memiliki kisah tersendiri yang kurang mengenakkan. Namun di sisi lain, Papa Fahri menanggapinya positif. Toh, sekarang keduanya telah menyelesaikan masalah mereka dengan cara gentle.
Besok adalah hari pernikahan Kak Urai dan Isni. Mama Yani telah menyiapkan dress code untuk mereka berempat dengan design dan harga yang tidak kaleng-kaleng pastinya. Agaknya akan ada ajang kembar-kembaran busana. Sebagai menantu yang baik, Alia hanya bisa patuh walaupun sebenarnya ia merupakan tipe wanita yang menginginkan segala sesuatunya terlihat sederhana. Namun ia juga harus menghargai dan menghormati keinginan Mama mertuanya yang memang merupakan ratu dari seorang sultan.
Bersambung..