
Aufar tiba di Bandara Juanda Surabaya tepat pada pukul 15.00 waktu setempat. Seperti biasa Paman Ben dengan sigap menunggunya di terminal kedatangan.
"Selamat datang kembali di Surabaya, Tuan Muda." Paman Ben membungkukkan badannya memberi hormat dan dibalas dengan anggukan oleh Aufar. Kali ini wajah tampannya terlihat datar dan serius.
"Tolong langsung ke rumah sakit Paman," perintah Aufar ketika sudah memasuki mobil yang menjemputnya.
"Baik, Tuan."
Paman Ben memacu mobil dengan kecepatan yang lebih tinggi dari sebelumnya. Ia sangat mengerti bahwa Tuan Mudanya itu sedang diselimuti kabut kekhawatiran terhadap boss besarnya.
Saking khawatirnya di sepanjang perjalanan Aufar merasa kecepatan mobil yang memang terbilang tinggi itu terasa sangat lamban seperti liliput. Paman Ben mengemudikannya dengan cepat namun tetap berhati-hati.
Aufar mengetak-ngetakkan kaki sambil menggigit jari-jari kekarnya layaknya seorang yang sedang dilanda rasa nervous yang berlebihan. Ia sudah tidak sabar lagi ingin segera tiba di rumah sakit tempat Papanya di rawat.
"Paman, apa tidak bisa lebih cepat lagi?" Aufar menyentuh pundak Paman Ben yang berada di kursi kemudi di hadapannya.
"Siap, Tuan Muda."
Beberapa saat kemudian, mobil yang dikemudikan oleh Paman Ben tiba di halaman parkir salah satu rumah sakit besar di kota itu, Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soetomo.
Aufar segera keluar dari mobil dan berjalan dengan langkah kilat menuju tempat dimana Papanya di rawat. Ia diikuti oleh Paman Ben di belakangnya. Dokter muda itu berhasil melewati beberapa lorong untuk sampai ke ruangan yang ia cari.
"Apa benar ini arahnya, Paman?" Aufar memastikan arah tujuan mereka kepada Paman Ben yang masih setia mengekorinya.
"Iya, benar Tuan Muda."
Dari jarak sekitar sepuluh meter Aufar melihat Kak Fira dan Kak Farun duduk di kursi besi di depan sebuah ruangan.
"Diiiiikkk..." Kak Fira menangis dan menghambur memeluk adiknya yang baru saja tiba di sana.
"Kakak..." Aufar membalas pelukan Kak Fira sambil mengelus lembut punggung kakaknya.
"Sudah, Kak...jangan menangis lagi. Papa pasti akan baik-baik saja."
Aufar mencoba mensugesti sang Kakak dengan penuh kelembutan, padahal ia sendiri juga sangat khawatir dengan keadaan sang Papa. Namun ia berusaha sebisa mungkin untuk bersikap tenang di hadapan keluarganya.
"Far, sebaiknya kamu segera masuk ke dalam. Papa sudah menunggumu," Ujar Kak Farun.
"Baik, Kak."
Aufar melepaskan pelukannya dari Kak Fira dan masuk ke dalam ruangan dimana Pak Fahri dirawat.
Ceklek...(pintu terbuka)
Terlihat Ibu Yani duduk di samping ranjang pasien. Pandangan Aufar terkunci pada sosok yang masih terbaring lemas di atas tempat tidur. Ada beberapa selang kecil yang dihubungkan ke tubuh pasien itu untuk mengontrol detak jantungnya dan juga selang ventilator yang menempel dengan kokoh pada hidung mancung Presiden Utama dari PT. Anggara Export itu.
Mendengar pintu ruangan terbuka, Ibu Yani sontak mengarahkan pandangannya kepada sosok lelaki tampan yang merupakan putra satu-satunya itu. Ia bangkit dari duduknya dan menghampiri Aufar dengan isak tangis yang membuat Aufar tidak tega mendengarnya.
"Aufar....hiks...hiks...hiks.." Ibu Yani jatuh ke dalam pelukan anaknya.
"Mama...Papa akan baik-baik saja, Percayalah. Kita berdo'a sama-sama untuk kesembuhan, Papa." Ucap Aufar mencoba menenangkan sang Mama.
Mendengar suara Aufar, tiba-tiba Pak Fahri mengerjapkan perlahan kedua kelopak matanya.
"A-a-aufar..."
Suaranya lirih namun masih bisa tersampaikan dengan baik di indera pendengaran Aufar. Aufar melepaskan pelukannya dari sang Mama dan menghampiri Papanya. Ia berdiri disamping ranjang pasien sambil memegang tangan sang Papa yang telihat pucat dan semakin keriput ditelan usia.
"Papa..aku datang. Papa harus sembuh jadi Papa harus tetap kuat dan semangat."
Aufar mencoba memberikan sugesti kepada Pak Fahri sambil mengecup punggung tangan sang Papa. Ia berusaha tegar walaupun kedua bola matanya sudah terbingkai oleh cairan bening kesedihan, melihat kondisi Papanya yang menurutnya sangat mengkhawatirkan.
Berselang beberapa waktu, seorang dokter laki-laki ditemani oleh seorang perawat wanita masuk ke ruangan itu untuk melakukan check-up berkala mengenai kondisi Pak Fahri.
"Aufar, itukah kamu?" Dokter muda itu terkejut dengan kehadiran Aufar.
"Billar..." Aufar kembali menyapa sang Dokter.
"Tidak ku sangka Presiden Direktur dari perusahaan eksport terbesar di kota ini adalah Ayah dari Dokter Aufar Dwi Anggara." Billar menepuk pundak Aufar.
"Haha..Santai, broh. Beginikah caramu menyapa teman lama? Kamu tenang saja. Kami akan melakukan yang terbaik untuk kesembuhan Pak Fahri." Billar melanjutkan aktifitasnya memeriksa tekanan darah dan detak jantung Pak Fahri.
"Detak jantungnya masih normal namun tekanan darahnya masih tinggi, sebaiknya Bapak tetap beristirahat dan meminum obat dari resep yang telah kami berikan! Satu lagi, jus semangkanya tetap diminum ya agar tekanan darahnya segera kembali normal." Instruksi Billar kepada Pak Fahri yang hanya dijawab dengan isyarat mata oleh laki-laki paruh baya itu.
"Far, kamu ikut ke ruangan ku!" Aufar mengekori Billar menuju ruangan kerjanya. Sedangkan Ibu Yani masih setia menemani suaminya.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Papaku, Bill? Kenapa ini bisa terjadi? Setahuku Papa tidak memiliki riwayat penyakit kronis atau sejenisnya." Aufar menodongkan pertanyaan beruntun kepada Billar ketika mereka sudah berada di ruangan kerja Billar. Hal itu membuat Billar menghela nafas panjang.
"Apa keluargamu tidak pernah menceritakan apapun tentang penyakit yang diderita oleh Papamu selama ini?" Billar menekuk kedua tangannya di atas meja membentuk siku-siku.
"Tidak!" Aufar menggeleng pelan. Lagi-lagi jawaban Aufar membuat Billar menghela nafas namun kali ini tidak terlalu panjang.
"Far, sebenarnya Papamu menderita Ensefalitis."
"Apaaaaa??"
Spontan sekujur tubuh Aufar terasa kelu. Aliran darahnya bagaikan terhenti sejenak terhambat pernyataan yang diberikan oleh Billar kepadanya. Rasa sakit akibat suntikan jarum infus di punggung tangan tidak sebanding dengan rasa sakit di dada Aufar yang mulai terasa sempit. Kandungan oksigen di dalam ruangan itu seketika menghilang begitu saja bagaikan ditelan kabar menyedihkan itu.
"Beruntung tadi keluargamu segera membawa Pak Fahri ke rumah sakit ini. Jika telat sedikit saja mungkin nasib Pak Fahri akan berakhir di ranjang pasien karena koma." Lanjut Billar.
Aufar mulai tidak fokus dengan apa yang disampaikan oleh Billar. Sebagai dokter ahli saraf ia sangat faham apa itu yang dimaksud dengan Ensefalitis.
Ensefalitis atau yang sering disebut dengan radang otak adalah peradangan yang terjadi pada jaringan otak yang dapat menyebabkan gejala gangguan saraf. Gejala gangguan saraf yang ditimbulkan dapat berupa penurunan kesadaran, kejang, atau gangguan dalam bergerak (stroke/lumpuh).
Penyakit ini sering menyerang anak-anak dan lansia karena sistem kekebalan tubuh mereka cenderung lebih lemah. Meski jarang terjadi, namun radang otak berpotensi menjadi serius dan mengancam nyawa.
"Sudah berapa lama Papa menderita penyakit ini?" Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya Aufar mulai berbicara kembali.
"Sudah sekitar dua tahun belakangan ini, Far."
Jawaban Billar membuat Aufar tersentak. Memorinya memutar kembali pada peristiwa dimana sang Papa memintanya untuk menikah. Jika waktu itu ia mengetahui bahwa kondisi Papanya sedang tidak baik-baik saja mungkin ia akan langsung mengindahkan keinginan Papanya.
"Tolong lakukan yang terbaik untuk Papaku, Bill. Dan satu lagi izinkan aku terlibat dalam proses penyembuhan beliau. Aku tidak ingin kemungkinan buruk terjadi padanya." Pinta Aufar dengan mata yang sudah memerah.
"Baiklah, Far. Kami akan mengurus semuanya."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hemmm kasian babang Aufar. Bantu kasi semangat dong gengs dengan like, komen, rate 5 dan poin jika berkenan😍
Happy reading, my love💞