
Matahari sudah mengendap di peraduan, menggelapkan seluruh langit kota metropolitan. Namun tidak menghentikan arus kendaraan yang hilir mudik menembus kemacetan jalanan ibu kota.
Aufar baru saja tiba di apartemennya. Setelah membersihkan diri dan menikmati makan malamnya, ia menerima panggilan suara yang ternyata dari Papa Fahri.
"Assalamu'alaik, Pa.." Jawab Aufar dengan antusias, karena ia tahu betul seperti apa Papanya. Beliau tidak akan menelpon putranya itu jika bukan karena ada misi penting.
"Wa'alaiksalam, sudah pulang Far?"
"Sudah Pa, Papa gimana kabarnya?"
"Alhamdulillah sudah baikan, sesekali Papa berkunjung ke kantor walaupun hanya untuk audit. Far, ada yang ingin Papa bicarakan sama kamu."
"Sudah ku duga," batin Aufar.
"I'm listening, Pa.." Aufar membenahi posisi duduknya mencoba merekam setiap gelombang suara yang ia terima.
"Kamu sekarang sudah tahu kondisi Papa sebenarnya, kapanpun malaikat israil bisa saja menarik roh Papa entah dari posisi tertinggi atau terendah dari tubuh renta ini..." Pak Fahri memberi jeda kalimatnya untuk bernafas. "Apa kamu belum juga ingin menikah, nak?"
DEG
Perasaan apa ini? Kenapa hati Aufar begitu sakit setelah mendengar penuturan sang Papa? Selama ini Papa Fahri selalu memberikan kelonggaran dan kebebasan untuk Aufar dalam mencapai semua keinginannya walaupun hal tersebut tidak sesuai cita-cita dan harapan sang Papa.
Perasaan bersalah dan tak berdaya menguasai jiwa Aufar saat ini. Tidak ada lagi alasan baginya untuk menolak keinginan Papa Fahri karena semua perkataan beliau adalah benar adanya. Bukankah maut bisa datang kapan saja tanpa permisi?
"Pa...aku akan menikah. Papa tidak usah khawatir ya. Tolong jaga kesehatan Papa. Aku akan kabari setelah aku selesai mengurus semua administrasinya."
Tanpa berpikir panjang Aufar dengan mantap mengatakan kalimat yang ia sendiri tidak tahu apakah pernikahan itu bisa terjadi atau tidak tanpa adanya Alia di sisinya. Untuk saat ini, kebahagiaan Papanya adalah yang utama. Sosok yang sangat berharga baginya setelah sang Mama.
"Benarkah begitu, nak? Papa sangat bahagia mendengarnya. Papa akan menyampaikan kabar bahagia ini pada Mama. Ya sudah, Papa tutup teleponnya, Assalamu'alaik.."
"Wa'alaiksalam, Pa.."
Aufar tak pernah menyangka bahwa kalimat yang sangat sederhana itu bisa mengembangkan senyuman Papa Fahri. Mengisi tong hatinya dengan air indah penuh kebahagiaan. Ia juga sudah bisa memprediksi metamorfosis wajah sang Mama setelah mendengar kabar ini.
Sebagai putra satu-satunya dalam keluarga Anggara, Aufar merasa sudah saatnya memenuhi kewajiban yang selalu ia pandang sebelah mata. Aufar sadar bahwa selama ini ia terlalu fokus pada karir dan perasaannya sendiri tanpa memikirkan keinginan dan perasaan kedua orang tuanya. Mantap sudah keinginannya untuk menikah dengan atau pun tanpa Alia.
"Sedang apakah dirimu gadis polosku..? Apakah dirimu masih sepolos dan selugu saat perjumpaan pertama kita? Ingin rasanya raga ini terbang menemui mu dan menghalalkan mu saat ini juga. Namun apalah dayaku? Semua yang telah terjadi diantara kita berdua cukup rumit dan tidak mungkin dengan mudahnya kamu menerimaku kembali apalagi sebagai sosok seorang suami."
Aufar mengusap lembut layar ponselnya. Ada sebuah senyuman tersimpul di bibir sensual itu saat menatap wajah ranum seorang pujaan hati. Hobi lamanya ini selalu berhasil membuatnya terlelap ke alam mimpi.
***
Alia sudah siap dengan baju batik corak dayak khas kalimantan dan celana kain berwarna hitam. Tak lupa kain lembut kebanggaannya selalu dililitkan pada mahkotanya.
Hari ini adalah hari pertamanya masuk kuliah. Menjalani hari-hari seperti halnya seorang mahasiswi. Mengenal orang baru, kebiasaan baru dan menyesuaikan diri di tempat yang baru. Sebagai mahasiswi magister baru, ini bukanlah hal yang sulit bagi Alia, karena ia sudah pernah mengalami hal ini sebelumnya.
Alia meraih tas ransel favoritnya, menimang beberapa modul yang ia dapat dari situs online kemudian keluar apartemen menemui Jimmy yang sudah menunggunya di halaman parkir.
Kehidupan baru ini sungguh membuat Alia bagaikan seorang putri raja. Kemana pun ia pergi diantar oleh seorang sopir yang ia sendiri tidak tahu dari negeri mana asalnya. Ditambah lagi penjagaan 24 jam full untuk menjamin keselamatannya, yang menurut Alia sangatlah berlebihan. Namun sejak saat itu juga Alia menyadari bahwa donatur misterius itu bukanlah orang sembarangan.
Alia masuk ke dalam mobil, tak lupa mengenakan sabuk pengamannya sebelum Jimmy membunyikan alarm peringatan.
"Jim, setelah mengantarku ke kampus, kamu mau kemana lagi?" Tanya Alia sambil menatap wajah Jimmy dari pantulan kaca spion.
"Saya tidak akan kemana-mana sampai Nona Zalia menyelesaikan mata kuliah hari ini." Jawab Jimmy sambil tersenyum ke arah Alia dalam pantulan kaca.
"Tapi pertemuan hari ini cukup panjang, Jim. Bisa-bisa sampai sore. Kasian kalau kamu menungguku selama itu." Sebenarnya Alia hanya sedikit risih dengan pandangan warga kampus jika tahu dirinya dikawal oleh seorang bodyguard.
"No problem, Nona Zalia. Itu sudah menjadi tugas saya. Jika saya tidak melaksanakannya dengan baik maka Nona tahu sendiri resiko apa yang akan saya terima."
Mendengar jawaban Jimmy, akhirnya Alia hanya bisa terdiam mangut-mangut. Ia tidak ingin egois dan menyebabkan Jimmy kehilangan pekerjaannya.
"Jim, boss-mu itu selain baik ternyata menyeramkan juga ya," celetuk Alia.
"Haha...kenapa Nona bisa berpikiran seperti itu?" Jimmy tidak bisa menahan tawanya mendengar ucapan Alia.
"Iya, karena dia selalu mengancam dan ingin memecatmu." Jawab Alia polos.
"Tidak seburuk itu, Nona. Kami sudah seperti sahabat dan itu adalah guyonan biasa. Sebenarnya boss adalah sosok yang sangat baik dan penyayang." Tutur Jimmy memberi pembelaan.
"Boss-mu itu laki-laki atau perempuan sih, Jim?" Alia mulai menginterogasi.
"Laki-laki, Nona.." Jawab Jimmy singkat.
"Single, Nona." Lagi-lagi singkat.
"Apa ia sudah memiliki seorang kekasih?" Lanjut ke pertanyaan yang lebih spesifik.
"Kenapa memangnya, Nona?" Jimmy mengernyitkan dahi mendengar pertanyaan itu.
"Jawab, Jim..!" Alih-alih menjawab pertanyaan Jimmy, Alia malah mengacuhkannya.
"Setahu saya, boss tidak pernah memiliki seorang kekasih, Nona. Tapi...." Jimmy menggantungkan kalimatnya.
"Kenapa Nona Alia begitu ingin tahu tentang boss saya?" Lanjutnya.
"Baiklah, aku akan mengatakan alasannya. Tapi kamu harus berjanji bahwa kamu akan menyampaikan hal ini padanya."
Alia menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Kemacetan jalanan ibu kota membuat perjalanan yang mereka tempuh menjadi lebih lama dari biasanya. Untung saja Jimmy sudah bisa memprediksi keadaan sehingga mereka berangkat dua jam lebih awal.
"Aku punya nadzar, Jim.." Alia memulai prolognya.
"Maksud Nona, Nadzar KDI?" Tanya Jimmy polos.
"Astaghfirullah...kok kamu mikirnya kesitu sih?" Alia terlihat kesal.
"Maaf Nona, maaf aku hanya bercanda,hehe..lanjutkan." Sepertinya Jimmy tidak siap mendengarkan kalimat Alia selanjutnya.
"Aku berjanji pada diriku sendiri dan Tuhan bahwa aku akan menjadi istri donatur beasiswaku jika memang ia masih single."
DEG
Jantung Jimmy berhenti berdetak seketika mendengar ucapan Alia. Ada sedikit ketidak setujuan di hatinya. Namun apalah daya, ia sendiri sudah sangat mengetahui bahwa Alia memanglah sosok yang diimpikan oleh atasannya. Ia hanya tidak menyangka Tuhan membalas kebaikan boss-nya semudah ini. Alia bersedia menyerahkan sisa hidupnya untuk sosok yang sudah sangat berjasa baginya.
"Te-terus Nona, ma-maunya saya bi-bilang apa sama boss?" Jimmy mulai terbata-bata ia tidak bisa mengimbangi irama jantungnya.
"Katakan padanya jika ia berkenan menjadikanku pendamping hidup maka aku akan sangat berterima kasih. Karena tidak ada lagi yang bisa aku lakukan untuk membalas semua budi baiknya. Tolong ya Jim..hanya kamulah perantara diantara kami." Tutur Alia dengan penuh permohonan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Author juga akan sangat berterima kasih kalau kalian kasi jempol, komen, dan poin gengs😁😁😁 Terima kasih🤗
Happy reading, my love💞