I Love You Till Jannah

I Love You Till Jannah
S2 Rencana



Apa?


Semudah itu kah Alia mempercayai perkataan Aufar? Apakah tidak ada adegan baku hantam di antara keduanya seperti yang diharapkan para netizen? Sebenarnya apa maunya si Author ini? Apakah ingin membuat Alia terlihat tolol di mata para pembaca? Oh, tidak! Jangan pernah berburuk sangka, Sayang. Karena berburuk sangka itu tidak baik untuk kesehatan hati para pembaca yang budiman.


Sebenarnya apa yang kalian harapkan? Pertengkaran sengit di antara suami dan istri? Atau mungkin mengharapkan terjadinya perang dunia ketiga di dalam novel ini? Oh, tidak bisa!


Bukankah dalam suatu hubungan yang bernaung di bawah ikatan pernikahan harus berlandaskan kepercayaan dan keterbukaan? Azas kepercayaan adalah yang paling utama dalam menjalani bahtera rumah tangga. Sedangkan keterbukaan, juga merupakan poin penting yang harus selalu diterapkan oleh setiap pasangan.


Para penumpang dalam sebuah kapal selalu mempercayakan perjalanannya kepada sang nahkoda. Begitu juga dengan rumah tangga. Di saat dirimu mulai mendapati keganjalan atas perilaku pasanganmu, maka bicarakanlah. Diskusi itu perlu. Bicarakan dengan kepala dingin tanpa batu es. Usahakan semuanya tidak ada yang disembunyikan. Jika pun ada, maka beritahukan lah kepada pasanganmu di waktu yang tepat. Jangan sampai ia mengetahuinya terlebih dahulu dari orang lain, karena itu akan membuat kondisi menjadi semakin kacau balau.


Lalu bagaimana dengan cinta? Tidak usah terlalu ribet apalagi ruwet. Jalani saja alur cerita hidupmu dengan cinta dan kebahagiaan. Di saat dirimu merasa jauh tersesat, maka cinta akan datang untuk merangkul mu kembali dalam satu titik temu, yaitu surga!


Aufar tak henti-hentinya menghujani wajah Alia dengan kecupan sayang. Rasa syukur bercampur haru menjadi satu kesatuan yang amat romantis, di saat kemelut keresahan dan keraguan telah redam diremuk kekuatan cinta dan kepercayaan.


Dokter muda itu tidak henti-hentinya mengucapkan kalimat syukur di atas puncak kepala sang istri sambil merangkulnya dalam dekapan posesif.


"Kamu masak apa, Sayang?" Tanya Aufar ketika ia telah melepaskan dekapannya.


"Nasi bakar, Mas. Mau makan sekarang? Biar aku tata dulu." Seru Alia sambil berjalan mendekati kompor dan menata bungkusan nasi bakar yang telah mengeluarkan aroma wangi khas daun pisang yang membungkusnya.


"Enaknya sih mandi dulu, Sayang. Terus melaksanakan panggilan surga. Lalu baru deh makan menu special ini." Aufar mencubit manja pipi chubby sang istri.


"Loh yang mau Mas makan tuh nasi bakar ini atau pipinya aku sih?" Alia mengusap sebelah pipinya yang hampir merona merah.


"Emang udah boleh makan kamu?" Aufar menaik-naikkan kedua alisnya.


"Apaan sih? Absurb deh! Ya udah sana Mas mandi dulu." Alia mendorong manja tubuh sang suami agar segera bergegas menuju kamar mandi.


Setelah menghabiskan waktu setengah jam untuk membersihkan diri dan melaksanakan panggilan surganya, Alia dan Aufar kembali ke meja makan untuk menyantap menu makan malam mereka.


"It's so delicious, kamu dapat resepnya dari mana, Sayang?" Sambil memasukkan satu suap nasi bakar ke dalam mulutnya.


"Dari Bu Author, Mas. Ini gambarnya juga hasil karyanya sendiri." Mengunyah potongan wortel dan pete bergantian.


"Emang Bu Author bisa masak?" Terkekeh kecil.


"Eeeh..jangan salah loh, Mas. Bu Author tu udah kayak Buku Resep Masakan. Buktinya setiap masakin kamu, aku nanyain resepnya ama dia kok." Bicara serius sambil mangut-mangut.


"Hem...ya udah deh aku percaya, daripada nanti aku gak dibolehin makan kamu." Menyendok nasi dan ayam kemudian disodorkan ke mulut Alia.


"Aaaaa...buka mulut dong." Masih menunggu.


"Emm...so sweet amat sih. Mentang-mentang udah baikan ama Bu Author." Mangap setengah lebar.


"Harus dong, biar acara resepsi kita dibuat secara meriah dan yang paling penting no kendala. Jangan sampai deh kayak pemberkatannya si Aisha dan Nizar zaman dahulu." Memasukkan kembali satu sendok nasi bakar.


"Eh iya, apa mereka juga diundang, Mas?" Tanya Alia antusias.


"Mereka enggak bisa datang, Sayang." Memasang wajah kecewa.


"Loh kenapa, Mas?" Menaikkan sebelah alisnya.


"Kamu mau diceburin ke laut kayak si Aisha sama Penulis Keparat itu?" Aufar balik bertanya.


"Ih, serem amat tuh penulis. Enggak lah Mas, aku enggak mau." Tolak Alia mentah-mentah. "Tapi temen-temen yang lainnya gimana?" Tanyanya lagi.


"Tenang aja, putra kedua dari Rekan Bisnis Papa dari London akan datang ke acara kita sekalian menjadi tamu exclusive. Kamu tahukan Penyanyi Maxim Larry dari Grup Band The Princess? Dia bakalan jadi bintang tamu. Dan si Bule Japan yang katanya unakhlak itu juga akan hadir bersama istrinya." Tutur Aufar setelah melenggak beberapa teguk air putih.


"Maksud Mas si Archie dan Anya?" Koreksi Alia.


"Iya, benar. Aku sih pernah beberapa kali bertemu dia. Tapi belum pernah bicara langsung. Menurut Papa sih dia sutradara handal. Mana tahu acara kita bisa diliput dalam salah satu programnya dia." Aufar tersenyum kecut. Tidak yakin dengan apa yang dia ucapkan. Mengenang karakter si Archie yang unakhlak persis seperti Penulisnya.


"Terus siapa lagi kira-kira tokoh novel lain yang akan hadir?" Alia kembali bertanya.


"Ada tiga novel lagi, dari Mantan Terindah by Violla, Just Kill Me by Seul Ye, dan My Vampire Ceo by Affandi. Aku belum bisa memastikan sih tokoh mana yang akan datang. Tapi aku berharap semoga saja tokoh utamanya bisa hadir." Jelas Aufar ketika suapan terakhirnya mendarat ke dalam rongga mulutnya.


"Semoga saja ya, Mas. Pasti bakalan seru deh bisa kenalan ama mereka semua." Tutur Alia sambil tersenyum.


"Terus gimana dengan Nilam dan Gavin? Apa mereka juga hadir?" Masih bertanya sambil mengunyah makanan.


"Gak bisa, Sayang.." Wajah Aufar tampak tidak yakin.


"Nilam diculik, Sayang."


"Apa? Kasian sekali Nilam selalu disirami derita sama Authornya."


"Iya, Authornya emang rada sensi gitu sama si Nilam, tapi kamu tenang aja, Gavin dan Kenzie masih mengusut kasusnya."


"Semoga Nilam lekas ketemu, Ya Allah.." Menghentikan kunyahannya dan mendongak ke atas dengan kedua tangan terangkat di depan dada seperti seseorang yang sedang berdo'a.


"Aamiin." Aufar mengaminkan.


"Oh iya Mas, aku undang si Delfia dan Husna boleh enggak?" Tangan Alia bergelayut manja di lengan kekar Aufar.


"Makhluk apa itu, Sayang? Apa sejenis doraemon dan cokelat batangan?" Aufar bertanya balik, keningnya tampak berkerut karena baru kali ini mendengar nama kedua makhluk kasat mata itu.


"Iiiiiiih kok gitu, mereka sahabatku di kampus, Mas. Sekalian aku undang dosenku juga ya,,,hehe." Jelas Alia sekaligus memohon.


"Ooh, undang aja semua, Sayang. Yang menurutmu sosok yang memang harus hadir dalam acara kita, maka aku juga enggak akan keberatan." Aufar menyentuh singkat dagu runcing sang istri. Sikap manja Alia yang sangat langka ini, membuat Aufar semakin gemas kepadanya.


"Bagaimana dengan Jimmy?" Tanya Alia dengan perasaan ragu.


"Entahlah, Sayang. Aku tidak yakin dia akan datang." Jawab Aufar sekenanya.


***


Setelah mengurus cuti dari pekerjaan yang baru ia jalani, Alia merasa sedikit lega walaupun awalnya Mr. Bima merasa keberatan karena Alia terbilang guru baru di sekolah itu. Namun karena ini berkaitan dengan masalah pernikahan maka Mr. Bima tidak bisa berkata banyak. Sementara Aufar, dokter tampan itu dengan mudah mendapatkan cutinya karena memang selama ini, dia jarang sekali mengajukan cuti.


Undangan sudah disebar luaskan ke tingkat national bahkan international. Keluarga, rekan kerja, rekan bisnis, teman, sahabat, dan semua umat yang berkaitan dengan Papa Fahri pun tak luput dari jangkauan mereka.


Hari ini Aufar membawa Alia bertolak ke kota kelahirannya. Kota yang dijuluki sebagai kota pahlawan, Surabaya.


Ketika tiba di bandara Juanda, seperti biasa Paman Ben sudah siap dengan kereta roda empatnya untuk menjemput Tuan Muda dan Nyonya Mudanya.


Di sepanjang perjalanan menuju rumah, Aufar tampak menjelaskan tentang beberapa tempat yang mereka lewati kepada sang istri layaknya seorang tour guide.


"Sayang, Ayah, Ibu, dan Alan gimana? Apa sudah berangkat?" Tanya Aufar dalam posisi masih merangkul pundak sang istri.


"Mereka udah di Pontianak kok, Mas. Palingan satu jam lagi pesawatnya berangkat." Jawab Alia sambil melingkarkan kedua tangannya pada pinggang sang suami sebagai bentuk balasan.


Paman Ben yang melihat pemandangan hangat dari balik kaca spion hanya bisa tersenyum lebar sambil menggeleng pelan. "Manten Anyar," batinnya.


Setelah beberapa saat, mobil yang kendarai oleh Paman Ben memasuki pelataran rumah mewah bak istana milik keluarga Anggara. Alia yang menyakini bahwa ini kediaman mertuanya, hanya bisa menelan ludahnya dengan susah payah.


Di depan pintu terlihat Mama Yani, Kak Fira, Papa Fahri, Kak Farun serta kedua buah hatinya yang dengan antusias menyambut kedatangan calon raja dan ratu sehari itu.


"Finally, kamu tiba juga di rumah ini, Sayang." Mama Yani memeluk Alia dengan hangat. Mengelus lembut punggung menantunya itu dan menciumi pipinya berkali-kali."


"Ehm..ehm..mentang-mentang udah punya menantu, anak sendiri dilupain nih." Tutur Aufar dengan nada humor. Hal itu berhasil menarik perhatian Mamanya.


"Sama istri sendiri aja kok cemburu sih." Bela Mama Yani.


Kemudian Alia menghampiri Ayah mertuanya, Kak Fira dan Kak Farun untuk mencium punggung tangan mereka bergantian. Tidak lupa dua krucil yang menggemaskan itu, Bulan dan Bintang yang selalu berhasil membuat Alia tertawa bahagia.


Setelah puas dengan ritual penyambutan itu, mereka masuk ke dalam rumah utama dan mulai membicarakan persiapan acara resepsi pernikahan Aufar dan Alia yang sudah mencapai 80%.


Acara itu akan di laksanakan di salah satu hotel bintang lima termewah di kota Surabaya. Untuk urusan WO dan konsumsi, merupakan tanggung jawab penuh yang dipegang oleh Kak Fira. Sedangkan khusus masalah souvenir pernikahan, Mama Yani langsung turun tangan. Kali ini dia benar-benar ingin memberikan souvenir kepada para tamu dengan sesuatu yang tidak kaleng-kaleng. Emas batangan!


"Mama serius?" Tanya Aufar ketika Mama Yani mengemukakan pendapatnya masalah souvenir pernikahan yang akan diberikan kepada tamu yang hadir.


"Serius dong, Sayang. I'm not joking." Tegas Mama Yani tanpa merasa ragu. "Semuanya sudah siap. Ada 10.000 emas batangan yang telah Mama pesan. Sore ini diantar." Lanjutnya.


Lagi-lagi perkataan Mama Yani membuat Alia menelan salivanya dengan berat. Hampir tidak percaya jika souvenir pernikahan mereka adalah Emas Batangan. Padahal Alia hanya mengharapkan cokelat batangan seharga Silver Queen atau Cadbury Dairy Milk dari Delfi, tidak lebih.


"Pasti si Husna sama Delfia terlihat paling heboh kalo tahu tentang hal ini." Gumam Alia di dalam hati.


"Ya udah terserah Mama saja." Respon Aufar pasrah dengan rencana Sang Ibu Ratu di istana Anggara tersebut.


Bersambung...