I Love You Till Jannah

I Love You Till Jannah
S2 Kenyataan Pahit



Waktu telah menunjukkan pukul 24.00. Aufar masih belum bisa menemukan jejak langkah sang istri. Berkali-kali lingkaran setir itu menjadi sasaran amarahnya. Gelisah bercampur khawatir. Kota ini sangatlah besar dan padat, bagaimana mungkin ia bisa menemukan sosok mungil itu jika bukan karena kehendak Tuhan?


Saking bingungnya, Aufar hampir melupakan bahwa ada satu Dzat yang selalu bersamanya kemana pun ia melangkah. Memantau hari-hari hingga setiap detik dalam kehidupannya. Bahkan dalam setiap hembusan nafasnya pun tak luput dari kuasa Dzat itu. Dzat yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, yaitu Tuhan seluruh alam.


"Astaghfirullah.."


Aufar menepikan mobil dan menghentikannya sejenak. Lelaki itu tampak semakin kacau. Perlahan ia memejamkan kedua mata, serta menghela nafas ketika kepalanya mendongak dan bersandar pada kursi kemudi. Kedua tangannya masih berpegangan erat pada lingkaran setir. Rasa nyeri di kepalanya semakin menjadi-jadi. Ia pasrah. Memasrahkan semuanya pada yang Maha Kuasa. Di saat itu juga perasaan kerdil mulai menguasai hatinya. Namun ia masih tetap menengadahkan tangan. Berharap bahwa Tuhan akan mempertemukannya kembali pada sosok sang istri. Tentunya dalam kondisi yang baik-baik saja.


Ketika sudah merasa sedikit lebih tenang, Aufar hendak melanjutkan pencariannya kembali. Namun deringan ponsel mengurungkan niatnya. Dirogohnya saku depan celana, dimana ponselnya berada. Menampakkan sebuah panggilan dari Kak Fira. Kening lelaki itu sedikit berkerut. Ia merasa sedikit aneh, ada masalah apa sehingga sang kakak menelponnya larut malam begini?


"Iya, Kak. Ada apa?" Jawab Aufar to the point.


"Far, Papa dan Mama, Huhuhuuuu..." Tangisan Kak Fira lantas pecah disela-sela pembicaraan.


"Papa dan Mama kenapa, Kak? Kak..halo.." Aufar sontak panik ketika mendengar suara tangisan Kak Fira.


"Papa dan Mama diculik, Far. Hiks..hiks.." Jawab Kak Fira dengan isakan tangisnya.


"Apa? Gimana ceritanya?" Aufar menegakkan tubuhnya dan mengusap wajahnya kasar. Serasa tidak percaya dengan berita yang baru saja ia dengar.


"Tadi siang Kakak gantian sama Mama jagain Papa di rumah sakit. Terus selesai sholat isya' tadi, Kakak balik lagi ke rumah sakit untuk bawain makan malam buat Mama. Tapi setelah sampai di sana, hiks..." Kak Fira menjeda ceritanya. Ia menghela nafas sejenak, kemudian melanjutkan penjelasannya kembali. "Pas Kakak tiba di sana, ruangan Papa udah kosong, Far. Mama juga gak ada dimana-mana Huhuhuuuu..." Tangisan Kak Fira kembali pecah sehingga membuat Kak Farun mengambil alih ponselnya.


"Far, ini Kak Farun.." Sambung lelaki berdarah Indo-Hindustan itu.


"Iya, Kak. Gimana dengan pertanggungjawaban dari pihak rumah sakit? Ini kelalaian. Kita bisa tuntut mereka jika hal yang tidak diinginkan menimpa Papa dan Mama." Aufar tampak naik pitam. Ia merasa kecewa dengan kinerja keamanan rumah sakit sehingga kasus penculikan ini bisa terjadi.


"Pihak rumah sakit seratus persen akan bertanggung jawab dan membantu kita menemukan jejak pelakunya, Far. Mereka sudah memeriksa seluruh rekaman CCTV. Tapi..." Kak Farun menarik nafas lalu menghembuskannya kembali.


"Tapi apa, Kak?" Sela Aufar tidak sabar. Wajahnya terlihat semakin gusar. Belum juga bisa menemukan sosok sang terkasih yang raib entah kemana. Masalah baru malah datang menghantam beriringan.


"Tapi tidak ada jejak yang mencurigakan, Far. Kita tidak bisa berdiam diri. Kakak yakin pelakunya adalah orang yang sangat profesional dalam hal ini. Dan sepertinya kasus ini berkaitan erat dengan sosok yang menghubungi Kakak tempo hari." Jelas Kak Farun, yang membuat Aufar memicingkan sebelah matanya.


"Maksud, Kakak?" Aufar memasang wajah bingung dengan kedua alis yang saling bertautan.


"Tempo hari Direktur Perusahaan yang menjadi penyebab anjloknya grafik konsumen perusahaan Papa, menghubungi Kakak. Dan ia bilang siapapun yang berhubungan dengan Papa akan merasakan kehancuran."


DEG


Jantung Aufar seolah berhenti berdegup. Seketika itu juga pikirannya semakin berkecamuk. Apa mungkin insiden menghilangnya Alia di rumah sakit itu ada kaitannya dengan kasus penculikan Papa Fahri? Ah, tidak mungkin. Tetapi, bagaimana bisa terjadi secara bersamaan?


Pertanyaan-pertanyaan itu mulai memenuhi kepala si dokter tampan. Ia mengetatkan rahangnya. Suara barisan gigi yang bersentuhan itu sungguh terdengar mengerikan. Kepalan tangannya pun telah mendarat berkali-kali pada setir mobil miliknya.


"Aaarrrrrrgh.."


Teriak Aufar sekuat mungkin. Kenyataan ini sungguh pahit rasanya. Ujian yang datang bertubi dalam waktu yang bersamaan. Membuat siapapun akan merasa sangat terpukul. Kak Farun yang mendengarnya dari balik telepon hanya bisa merunduk dan menekan pelipisnya. Ia sangat memaklumi hal itu tanpa mengetahui kenyataan sebenarnya bahwa sang adik ipar juga memiliki masalah lain selain berita yang baru saja ia dan istrinya sampaikan.


"Far..." Sapa Kak Farun ketika tak mendengar kata apapun dari balik sambungan. Hanya ada isakan tangis yang terdengar samar-samar.


"Aku enggak akan ngelepasin siapapun yang udah terlibat dalam kasus hilangnya Papa, Mama, dan juga...Alia." Suara Aufar terdengar berat ketika menyebut nama wanita pujaan hatinya yang kini belum juga ia temukan.


"Alia? Alia kenapa, Far?" Tanya Kak Farun dengan volume suara agak naik. Sepertinya ia mendadak panik.


"Alia juga menghilang, Kak." Respon Aufar.


"Menghilang? Bagaimana bisa?" Kembali menagih penjelasan.


"Baiklah, kamu hati-hati, Far. Semoga Alia segera ditemukan."


"Okay, Kak. Thanks a lot."


***


Di sebuah rumah yang berlokasi di daerah pegunungan, seorang laki-laki berpostur tubuh atletis tengah duduk di atas kursi yang berhadapan dengan dua sejoli yang telah berhasil ia culik melalui tangan orang kepercayaannya.


Seorang lelaki dan seorang wanita setengah baya dengan tangan dan kaki terikat di atas kursi, masih tertidur pulas akibat obat bius yang dibekapkan ke hidung mereka ketika peristiwa penculikan tadi.


"Apa perlu kita membangunkan mereka dengan cara kasar, Boss?" Tanya seorang preman dengan lukisan tato yang memenuhi kedua lengannya. Rambut panjangnya sengaja dikuncir satu. Otot-otot lengannya mengembang ria bak diberi suntikan soda kue. Kalung rantai besar menjuntai di lehernya. Menyeramkan sekali.


Lelaki yang dipanggil dengan sebutan boss tadi, mengangkat sebelah telapak tangannya dengan maksud menolak saran dari kacungnya itu. Ia beranjak dari duduknya, lalu berjalan mendekati lelaki dan perempuan setengah baya yang masih belum sadarkan diri tadi.


"Haruskah gua ngabisin nyawa lu untuk membalas semua penderitaan nyokap gua selama ini?" Tutur lelaki itu sambil membungkukkan sedikit badannya dan memegang rahang lelaki paruh baya itu.


"Boss, ada yang datang." Ucap seorang preman lainnya yang baru saja memasuki ruang utama rumah yang mereka sebut markas itu. Hal tersebut membuat lelaki itu menegakkan tubuhnya tanpa berbalik arah.


"Siapa?"


"Wanita yang waktu itu, yang biasa berbicara dengan Boss. Tetapi kali ini dia datang bersama wanita lain. Dan....seorang laki-laki, sepertinya seorang preman juga."


"Oh, suruh saja mereka masuk."


"Baik, Boss."


Preman tadi undur diri dan keluar dari ruangan. Lelaki itu kembali duduk di kursi kebanggaannya, didampingi oleh seorang preman bertato tadi.


"Sekarang apa lagi?" Ucap preman itu.


"Makanan hidup.." Respon lelaki itu singkat.


"Tetapi...."


Preman itu sontak menghentikan kalimatnya ketika si boss meliriknya dengan tatapan tajam. Dia pikir lebih baik bungkam sebelum amarah si boss bertambah.


"Long time no see.." Suara seorang wanita menggema di seluruh ruangan ketika ia memasuki markas tersebut.


"Dokter Ghifana Aurora.." Lelaki itu bangkit dari posisinya. Baru kali ini menyambut kedatangan rekannya itu dengan antusias.


Rekan? Ya, rekan dalam kasus ini. Penculikan massal.


"Nih, gua bawain sasaran empuk." Seru Fana menunjuk seorang wanita yang tangannya diikat tali. Kedua matanya juga ditutupi kain hitam. Ada seorang preman yang memegang tubuhnya agar tidak bisa melarikan diri.


"Elu emang bisa diandalin. Good.." Lelaki itu berjalan mendekati sasaran empuk yang Fana maksud. Disentuhnya dagu runcing wanita itu dengan kasar.


"Welcome to party, baby.." Wanita itu menggerak-gerakkan kepalanya agar bisa terlepas dari cengkeraman si laki-laki. Namun tidak bisa. Kekuatan lelaki itu lebih besar dari dirinya yang masih terlihat sangat lemas.


"Let me go..!" Tutur wanita itu di sela-sela tangisan ketidakberdayaannya. "Siapa kalian? Hiks..hiks.." Air mata wanita itu mulai menggenangi kedua pipinya dan membasahi kain hitam yang menutupi pandangannya dari lingkungan sekitar.


Lelaki itu menyeringai puas, lalu memerintahkan seorang preman untuk menyeret wanita itu dan memasukkannya ke dalam sebuah kamar khusus.


Bersambung..