
"Welcome to the party, baby.." Wanita itu menggerak-gerakkan kepalanya agar bisa terlepas dari cengkeraman si laki-laki. Namun tidak bisa. Kekuatan lelaki itu lebih besar dari dirinya yang masih terlihat sangat lemas.
"Let me go..!" Tutur wanita itu di sela-sela tangisan ketidakberdayaannya. "Siapa kalian? Hiks..hiks.." Air mata wanita itu mulai menggenangi kedua pipinya dan membasahi kain hitam yang menutupi pandangannya dari lingkungan sekitar.
Lelaki itu menyeringai puas, lalu memerintahkan seorang preman untuk menyeret wanita itu dan memasukkannya ke dalam sebuah kamar khusus.
"Lepas..! Lepaskan aku..!" Erang wanita itu, ketika si preman menyeret paksa tubuhnya dan berlalu dari ruang utama.
"Kenapa lu mandangin mereka segitunya? Elu kasian ama mereka?" Tanya lelaki bertubuh tinggi itu kepada Fana. Wanita itu tampak iba melihat nasib kedua suami istri yang telah gagal menjadi mertuanya itu.
"Ah, enggak lah..sebenarnya mereka itu orang-orang baik menurut gue. Tapi sayang, nasibnya berada di dalam genggaman elu sekarang." Fana menghela nafasnya.
"Kalo mau jadi jahat jangan tanggung lu." Sarkas lelaki itu.
"Siapa juga yang mau nanggung-nanggung." Cebik Fana dengan wajah tidak terima. "Eh, gimana nasib adik tampan lu?" Fana tiba-tiba teringat sosok lain yang telah lama tidak ia temui.
"Ada di lantai dua. Elu kangen ama adik gua?" Memicingkan sebelah matanya. Menatap Fana penuh curiga.
"Enak aja, gue cuma kangen ama Aufar enggak bakalan pernah tergantikan." Masih saja ngotot membela diri. "Gue kan cuma nanya aja. Elu kasi makan enggak tu anak?" Sekali lagi wanita itu nyeletuk semaunya.
"Ikut gua.."
Mereka berdua menapaki satu persatu anak tangga menuju sebuah kamar di lantai dua tempat lelaki itu menyekap adik kandungnya.
"Gue gak abis pikir, elu bisa nyekap adik lu sendiri."
"Apa boleh buat. Kalo gua biarin dia berkeliaran, bisa-bisa gagal semua rencana gua. Elu tau kan dia berada di pihak siapa?"
"Ya, taulah. Adik lu cinta mati gitu keknya ama Alia. Apalagi gue liat dia emang setia banget ama Aufar."
"Itu di luar pantauan gua. Gua udah sering ngingetin dia. Tapi tetep aja dia keras kepala."
Lelaki itu tampak menghela nafas ketika mereka berdua telah berdiri di depan pintu sebuah kamar. Diputarnya knop pintu berwarna hitam biji selasih itu, kemudian menyibak sempurna daun pintunya.
Wajah Fana mendadak bergidik ngeri setelah melihat kondisi memprihatinkan dari seorang lelaki yang wajahnya sangat mirip dengan laki-laki yang berdiri di sampingnya. Kedua kakinya dipasung di atas tempat tidur. Mulutnya dibekap dengan kain hitam dan kedua tangannya diikat dengan tambang yang berukuran sebesar jari telunjuk orang dewasa.
"OMG....."
Fana menutup mulut dengan kedua telapak tangannya. "Elu benar-benar penjahat kelas kakap deh. Adik sendiri aja elu buat begini." Tutur Fana setengah tak percaya.
"Gua gak pernah maen-maen dengan tujuan gua." Ujar lelaki itu dengan smirk khasnya.
Fana hanya menggeleng-gelengkan kepalanya tidak habis pikir. "Sejak kapan elu sekap dia di sini?" Pandangan Fana sontak menoleh ke arah lelaki yang masih berdiri anteng di sampingnya.
"Setelah kepulangannya dari Surabaya waktu itu." Respon lelaki itu tanpa mengalihkan pandangannya dari sang adik. "Sebenarnya gua hadir juga pada malam resepsi pernikahan Aufar dan istrinya. Tadinya gua mau nyamar jadi adik gua, eh ternyata dia juga hadir di sana di akhir acara." Lelaki itu menunjuk ke arah sang adik yang masih tak sadarkan diri.
"Gue udah ngerasa begitu sih, soalnya pas gue ngubungin dia waktu itu, gaya bicaranya cukup berbeda. Gue emang ngerasa kalo itu elu bukan dia." Tutur Fana, mengungkapkan kejanggalan yang ia rasa selama ini.
"Tapi peran gua udah mirip kayak adik gua kan?" Kalimat itu diacungi dua jempol oleh Fana.
Lelaki itu lantas menampakkan seringai tipis, ada raut kebanggaan di balik senyuman misterius itu. Berarti penyamarannya selama ini sungguh meyakinkan.
Tetapi tanpa mereka sadari ada dua pasang mata di balik jendela kaca lantai dua itu, yang sedang mengintai gerak-gerik mereka sejak tadi.
"Jadi kapan elu bakal ngadain perhitungan dengan Aufar?" Selidik Fana.
"Besok.." Jawab lelaki itu singkat.
"Ingat lu, jangan sampe lelaki pujaan gue itu lecet sedikitpun!" Ancam Fana dengan ekspresi wajah serius. Justru hal itu membuat lelaki tersebut tertawa terbahak-bahak.
"Udah gua bilang, siapapun yang berhubungan dengan lelaki tua bangka itu bakalan gua hancurin hidupnya." Ujar lelaki itu dengan tegas.
"Elu..." Fana menodongkan jari telunjuknya ke depan wajah lelaki itu. "Benar-benar enggak berperasaan." Cerca Fana begitu saja.
"Kalo gua enggak berperasaan, terus elu apa, hah? Masih berlagak sok suci lu?" Tudingan balik tertuju pada Fana.
"Ingat..! Jangan salahkan gua kalo gua nikung lu dari belakang kalo lu enggak menepati janji." Ancaman Fana mulai bermunculan ke permukaan.
***
Setelah memutus sambungan teleponnya dengan Kak Farun, Aufar mendapat notifikasi sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal. Karena merasa penasaran, ia segera membuka pesan itu, dan ternyata pesan itu berisi tentang sebuah denah lokasi.
Aufar tidak begitu meyakini, namun ia menganggap itu merupakan sebuah petunjuk. Petunjuk akan keberadaan istrinya. Ia lantas menghubungi Jimmy, namun nomor ponselnya di luar jangkauan.
"Gua harus samperin tempat itu sekarang juga."
Setelah itu, Aufar langsung melajukan kendaraannya menuju lokasi yang ia dapat dari nomor yang tidak dikenal tadi.
Satu jam setengah kemudian, mobilnya memasuki kawasan sunyi yang hanya terlihat sebuah rumah besar di ujung jalan. Aufar menghentikan mobilnya agak jauh dari rumah itu. Dia khawatir kalau-kalau kehadirannya tercium oleh si empunya rumah.
Aufar merilekskan tubuhnya pada sandaran kursi sembari menyapukan pandangannya pada rumah besar tersebut. Ia melirik penunjuk waktu di pergelangan tangannya, waktu menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Kemudian ia teringat sesuatu. Diraihnya ponsel yang tergeletak di atas dashboard mobil, lalu menghubungi nomor yang tidak dikenal tadi, dan...terhubung.
Namun tidak ada jawaban. Ia mencobanya sekali lagi. Tetapi lagi-lagi tidak ada jawaban. Aufar mencoba mengirim pesan ke nomor itu. Namun, ketika hendak mengetik sebuah pesan, ia mendapatkan satu notifikasi pesan masuk dari nomor tersebut.
"Kaga bisa ngomong, chat aja. Sekarang dimana posisi lu, Far?"
Aufar mengerutkan keningnya ketika membaca pesan itu. Kemudian membalas pesan tadi sesegera mungkin.
"Elu siapa?"
"Gue Husna, elaaah. Buruan ke sini."
"Gua udah di depan."
"Tinggalin mobil lu, naik dan lompati pagar samping kanan, gua ada di balkon lantai dua."
Benar-benar. Gadis tomboi itu ternyata yang menghubungi Aufar. Dua pasang mata di balik jendela tadi ternyata Husna. Tetapi siapa lagi sosok yang bersamanya? Apa mungkin Delfia?
Ah, tanpa berlama-lama lagi, Aufar keluar dari mobilnya dan mengendap-ngendap memanjat pagar samping. Ketika kakinya telah menjejaki pekarangan rumah itu, lalu dengan hati-hati Aufar berjalan menuju tempat dimana Husna berada.
"Ssst.." Kode Aufar ketika menemukan keberadaan Husna. Gadis itu menundukkan pandangannya, lalu meletakkan jari telunjuk di depan sepasang bibirnya.
Aufar yang mengerti dengan bahasa isyarat itu, lalu menutup mulutnya, kemudian memanjat pipa besar yang ada di hadapannya.
"Gua ngerasa jadi agen FBI tau," tutur Aufar ketika ia telah berada di balkon lantai dua bersama Husna dan seorang laki-laki bertubuh tinggi sekitar seratus tujuh puluh centimeter. Dari perawakannya sudah dipastikan bahwa lelaki itu adalah salah satu dari anggota kepolisian.
"Sssst...." Husna kembali meletakkan jari telunjukknya di depan bibir, agar Aufar berhenti mengoceh.
Walaupun ia sangat penasaran dengan sosok lelaki asing yang berada di samping Husna itu, namun Aufar mengurungkan niatnya untuk berkenalan. Ia khawatir setelah ini Husna bisa mengeluarkan jurus kanuragan yang gadis itu miliki, jika ia lanjut mewawancarai lelaki tersebut.
"Jadi kenapa elu nyuruh gua kemari?" Tanya Aufar kepada Husna setengah berbisik.
"Elu kaga liat itu..?" Husna menunjuk sosok lelaki yang terbaring tak berdaya di atas kasur dari balik jendela kaca yang tidak tertutup rapat.
"Astaghfirullah..itu kan Jimmy. Pantesan pas gua hubungin nomornya di luar jangkauan." Aufar shock melihat pemandangan di depannya.
"Jangan kaget dulu, ntar elu pasti jantungan kalo tau siapa aja korban lainnya yang mereka culik." Tutur Husna yang membuat Aufar memicingkan sebelah matanya.
"Maksud lu?" Aufar semakin penasaran.
"Kedua orang tua lu ada di lantai dasar. Dan bini lu.....Bini lu ada di salah satu kamar di rumah ini." Jelas lelaki bertubuh tinggi yang berjongkok di samping Husna.
"Apa? Papa sama Mama ada di sini?" Aufar reflek berdiri dan ingin segera masuk ke dalam rumah itu untuk menyelamatkan kedua orang tuanya.
"Sssst..elu jangan gegabah gitu, Bro. Kita tunggu bantuan datang. Setelah itu baru kita bisa bertindak. Gua udah ngubungin anggota Polsek setempat." Lelaki itu menarik lengan Aufar, sehingga membuat ia terduduk kembali. Aufar manggut-manggut menyetujui saran dari lelaki itu.
"Dan yang lebih parah lagi, selama ini, elu udah ketipu, Far. Dan gue juga udah ketipu." Sambung Husna dengan ekspresi wajah kecewa.
"Apa lagi ini?" Aufar kembali dibuat bingung oleh kata-kata sahabat istrinya itu.
"Yang selama ini bersama kita itu ternyata bukan Jimmy. Melainkan............sodara kembarnya."
Bersambung...