I Love You Till Jannah

I Love You Till Jannah
Galau Tingkat Dewa



*SUDAH DIREVISI YA*


Malam semakin larut, udaranya pun semakin mencekam. Dinginnya angin malam itu menyusup menembus pori-pori kulit Aufar yang sedang berdiri di teras kapal.


Kali ini kapal berlayar kembali ke kota khatulistiwa. Sudah sering ia melalui perjalanan laut, namun entah mengapa kali ini ia merasa sangat berbeda. Ia terlihat lebih murung dari biasanya. Mungkinkah ia mengalami mabuk perjalanan? Tidak, pasalnya ia sedang mengalami galau tingkat dewa.


Aufar berdiri sambil bersandar ke dinding kapal. Tangannya bersedekap mencoba memberikan kehangatan pada tubuhnya. Matanya masih fokus menatap ribuan bintang gemintang yang bersinar terang di langit yang tinggi. Suara angin laut terdengar sangat beralun lembut di telinganya. Ia tersenyum merasakan belaian angin malam yang semakin dingin itu.


"Aku merindukanmu Zalia Aliyanti ku." Ucapnya sendu. Terlihat gurat kesedihan dan kerinduan di wajahnya.


"Tapi bagaimana jika kamu mengetahui kebenarannya? Apa kamu akan tetap bersamaku? Atau malah berpaling dariku? Haruskah aku mengatakannya saat pertemuan kita nanti?" Ucapnya lirih. Aufar mengusap kasar wajahnya. Ia benar-benar terlihat sangat gelisah.


"Kenapa pihak rumah sakit harus memutus MOU nya sih?" Gerutu Aufar sambil berkacak pinggang. Tiba-tiba terdengar suara yang mengejutkannya.


"Ngomong sendiri aja? Lagi latihan drama bro?" Rizky menepuk bahu Aufar dan memainkan kedua alisnya ke atas dan ke bawah.


"Entahlah ki...gua bingung.." Rizky menaikkan salah satu alisnya. Ia tidak mengerti kenapa sahabatnya itu terlihat sangat kesal dan khawatir.


"Ada apa, Far? nggak biasanya lu kayak gini?" Tanya Rizky menunjukkan wajah prihatinnya.


"Pihak rumah sakit memutus MOU dengan pelayaran ki.." Aufar berkata lirih. Ia tertunduk dan kedua tangannya bersandar ke pagar pembatas teras kapal untuk menopang tubuh atletisnya.


Rizky yang sudah mengerti masalah sahabatnya itu mendengus pelan. Ia langsung mendekati Aufar dan menepuk pundaknya.


"Terus lu udah jujur sama Alia?"


Aufar terdiam sejenak, sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Rizky. "Itulah masalahnya ki, gua sama sekali belum ngomong ama dia." Aufar melepaskan tangannya dari pagar.


"Haruskah gua jujur sekarang ki? Padahal..." Suara Aufar tercekat, kemudian ia melanjutkan kembali kalimatnya.


"Padahal gua udah berencana bakalan ngungkap identitas gua di hari wisudanya nanti, disaat gua ketemu ama keluarganya. Gua cuma takut kalo dia nggak bisa nerima kebenaran ini ki.." Ucap Aufar dengan wajah sendu. Kali ini kedua tangannya menopang hidungnya yang kokoh.


"Far..kita sebagai manusia cuma bisa berencana. Tuhanlah penentu segalanya. Lu yang sabar ya, semua pasti ada hikmahnya. Saran gua, mending lu cepetan deh ngomong ama si Alia. Ntar tu anak keburu tau dari orang lain, tamat lu." Ucapan Rizky semakin menambah tingkat kegalauan Aufar.


"Ah elu...malah semakin nambah kekhawatiran gua aja." Aufar semakin takut. Pasalnya ia sudah mengerti dan bahkan faham dengan sifat Alia.


Selama ini ia sangat bersyukur bisa bertemu gadis berhati mulia seperti Alia. Gadis yang sangat berbeda dengan gadis-gadis di kota besar yang sering ia temui. Ia benar-benar gadis polos dan juga tulus. Alia tidak pernah mempermasalahkan statusnya. Gadis itu selalu tersenyum dan bersemangat jika bertemu dengannya. Sudah sangat jelas kalau Alia bisa menerima Aufar apa adanya.


Namun takdir berkata lain. Serapat apapun ia menutupi suatu kebenaran, lama-lama kebenaran itu akan terkuak juga. Aufar semakin gusar. Ia khawatir Alianya akan marah jika mengetahui bahwa ia sudah menyembunyikan identitas diri yang sebenarnya.


***


Kak Urai dan Alia sedang berada di dalam mobil. Mereka menuju arah pulang. Acara resepsi pernikahan itu memang masih berlangsung, tapi Kak Urai pamit terlebih dahulu setelah memberikan ucapan selamat kepada rekan bisnisnya yang baru saja menikah.


"Al..kok ngelamun? Mikirin apa?" Tanya Kak Urai yang masih fokus menyetir. Sesekali ekor matanya melihat Alia yang terlihat diam.


"Nggak papa kok, Kak. Aku cuma capek aja." Bantah Alia. Padahal ia sedang memikirkan Aufar yang tiba-tiba menari di benaknya. Alia menggenggam ponselnya yang tak kunjung memberikan notif pesan ataupun panggilan suara dari pangerannya itu.


"Yakin?" Kak Urai melirik kedua tangan Alia yang memutar-mutar ponselnya.


"Yakin, Kak." Jawab Alia tegas.


"Baiklah, apa kamu perlu sesuatu? Maksudku jika kamu ingin makan lagi, kita bisa membelinya terlebih dahulu." Pertanyaan Kak Urai ini membuat Alia teringat akan Alan yang ingin dibawakan oleh-oleh.


Namun Alia merasa tidak enak hati jika mengatakannya kepada Kak Urai. Bisa-bisa nanti Kak Urai yang akan membayar semuanya. Alia berencana setelah sampai di rumah nanti, ia akan mengajak Alan keluar menggunakan sepeda motornya untuk membeli apapun yang Alan inginkan.


"Mmmm...Ng-nggak ada, Kak..." Alia menggeleng pelan sambil tersenyum menatap Kak Urai yang masih fokus pada kemudinya.


Kak Urai menepikan mobilnya yang kebetulan melintasi Alun-alun kota. Ia mengajak Alia keluar dan membeli oleh-oleh untuk keluarga Alia di rumah.


Ketika sedang memilih-milih makanan apa yang akan mereka bungkus, Alia dikejutkan oleh tepukan bahu dari seseorang.


"Alia...." Suaranya tidak asing bagi Alia. Lantas ia menoleh dan membalikkan badannya.


"Isni..." Alia tersenyum lebar dan menghambur memeluk sahabatnya itu.


"Kamu sama siapa disini? Kak Verni?" Alia melepaskan pelukannya dan celingukan mencari keberadaan Kak Verni.


"Nggak Al, aku kesini sama Papa. Biasa malam-malam panggilan alam suka menuntut untuk dipenuhi." Isni mengelus perutnya yang sudah sangat lapar. Kemudian ia mengalihkan pandangannya ke arah Kak Urai dan tersenyum.


"Al...kenapa Kakak tampan ini bisa disini bersamamu?" Tanya Isni yang semakin penasaran melihat dress code Alia dan Kak Urai yang terlihat sama.


"Bahkan kalian terlihat seperti couple." Bisik Isni pelan di telinga Alia. Alia menyikut perut Isni dan membuat ia meringis kesakitan.


"Huuuussssh...ngaco ya kamu. Papa mu mana Is?" Alia mengalihkan topik pembicaraan Isni.


"Itu di sebelah sana. Masih menunggu orderan martabak telur favoritku." Isni tersenyum membayangkan kenikmatan martabak telor yang nanti akan ia santap.


"Dasar gadis martabak." Alia mengelus lembut puncak kepala Isni. Membuat mereka berdua tertawa bersama.


Tingkah kedua gadis itu membuat Kak Urai tersenyum sendiri dan menggeleng pelan. Sisi kocak Alia ini jarang sekali ia temukan jika sedang bersamanya.


Baginya Alia bagaikan power ranger yang akan berubah sesuai dengan kondisi. Kak Urai memaklumi itu semua. Mungkin Alia merasa canggung karena ia mengetahui fakta bahwa Kak Urai memiliki perasaan terhadapnya. Namun ia tidak mempermasalahkan hal itu, yang terpenting adalah Alia selalu bersamanya dan akan menjadi miliknya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Jempol digoyang terus ya gengsπŸ™πŸ˜ Terima kasiiiiih buanyaaaak πŸ’žπŸ˜