
Rombongan Kongres perwakilan Kalbar saat itu menginap selama dua hari di sebuah lokasi yang biasa digunakan untuk kegiatan jambore di daerah Cibubur sebelum mereka melanjutkan perjalanan ke Palembang.
Hal itu diputuskan oleh ketua rombongan agar semua anggota bisa sambil mengeksplore tempat di sekitar sambil sejenak melepas penat setelah perjalanan laut mereka.
Terlebih lagi karena bisa jadi dari tiga puluh orang dalam rombongan itu, mungkin banyak yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta dan sekitarnya, termasuk Alia.
Setelah sampai di penginapan/mess, mereka membagi kamar sesuai kota cabang. Alia sekamar dengan Kak Selvia karena mereka memang berasal dari Cabang yang sama.
Dalam hal ini, Kak Selvia lebih senior dari Alia karena Alia terbilang baru dan mendadak menggantikan sekretaris Cabang Kota asalnya. Kak Selvia adalah ketua Cabang.
"Al..ini ada beberapa buku tentang profil Organisasi kita dan beberapa informasi yang perlu kamu ketahui sebelum kita mengikuti kongres nanti, kamu pelajari dulu ya. Jika ada yang ingin kamu tanyakan silakan." Kak Selvia menyerahkan buku panduan Organisasi Pelajar NU itu kepada Alia sambil tersenyum dan mengusap lembut kepala Alia yang masih terbungkus kerudung.
"Baiklah Kak, nanti akan aku pelajari. Untuk saat ini aku ingin istirahat dulu ya Kak, hehe" Alia tertawa kecil membuat Kak Selvia ikut terkekeh.
"Iya nggak papa, kakak mau cari makan dulu kamu mau titip apa?
"Terserah Kakak aja deh, yang penting jangan olahan Mie ya."
"Baiklah tunggu disini ya jangan kemana-mana selama giat ini kamu adalah tanggung jawabku. Aku tidak ingin disemprot Kak Urai jika terjadi sesuatu sama kamu,,Ups" Kak Selvia yang keceplosan langsung menutup mulutnya.
"Hah? Maksudnya Kak?" Alia menyipitkan matanya.
"Ti-tidak apa-apa. Kakak keluar dulu ya"
"Oke, hati-hati ya Kak."
***
Sepeninggalan Kak Selvia, Alia merebahkan tubuhnya diatas kasur persegi panjang yang ukurannya hanya cukup untuk satu orang saja. Di dalam kamar itu ada dua tempat tidur yang berukuran sama. Satu untuk Alia dan satunya untuk Kak Selvia.
Di dalamnya juga terdapat lemari dua pintu untuk menyimpan pakaian dan barang-barang perlengkapan mereka.
Alia merasa kantuk menyerangnya, ia hampir memejamkan mata ketika ponselnya bergetar.
Drrrt...
Alia melihat ada pesan dari nomor tidak dikenal. Awalnya Alia ingin mengabaikannya dan meletakkan ponsel tersebut kembali di atas meja di samping tempat tidur.
Tetapi Alia kembali meraih ponsel tersebut ketika ia mendengar getaran kedua.
Drrrt...
Alia membuka pesan tersebut, tak terasa seutas senyuman mengembang di bibir ranumnya.
"Al..lagi ngapain?" Pesan pertama
"Al...ini aku Aufar."
Hati Alia seolah-olah menari seperti penari balet membaca nama Aufar. Ada apa dengan hatinya? Bukankah ia hanya menganggap Aufar sebagai teman? Bukankah ia sendiri yang mengatakannya? Mengapa hanya dengan membaca namanya saja seperti membawanya terbang ke awang-awang?
Ah, sepertinya dia sedang hanyut dalam belaian hatinya. Untuk saat ini pikirannya dikalahkan oleh hatinya. Tetapi beberapa menit kemudian kesadarannya kembali. Sepertinya terbangnya kali ini tidak begitu tinggi, hehe.
"Kenapa hatiku seheboh ini, hanya pesan singkat juga,,hehe" Dia mencoba menangkis perasaan itu. Kemudian mulai membalas pesan singkat Aufar.
"Aku sedang beristirahat mas. Rombongan kami baru sampai di cibubur, Mas sendiri lagi ngapain? tandasnya.
Tak lama kemudian balasan dari Aufar masuk ponsel Alia kembali bergetar. Alia membuka pesan itu dengan penasaran. Entah mengapa dia menjadi seantusias ini.
"Aku sedang bersiap-siap melakukan rute perjalanan balik ke Pontianak ni, kamu baik-baik ya Al, hati-hati. Kemungkinkan aku tidak akan mendapatkan signal untuk dua hari kedepan selama perjalanan. Begitu dapat signal aku akan menghubungimu kembali. Save my number Please."
Alia tertegun, Aufar bisa bahasa inggris? keren. Ah tapi bukankah itu sudah biasa. Ia bekerja dalam bidang transportasi, pasti dia sudah banyak belajar untuk mengimbangi penumpangnya. Dengan senyum yang semakin melebar Alia membalas pesan Aufar.
"*My pleasure, safe trip mas"
"Thank you, see you soon Al*" lanjut Aufar dan mereka mengakhiri pesan singkatnya.
Alia beranggapan dengan kemampuan Bahasa Inggris Aufar dia bisa mengajak Aufar berkomunikasi sambil memperlancar kemampuan Speaking nya.
Setalah bertukar pesan singkat dengan Aufar, Alia terlihat sumringah dan bersemangat. Pancaran semangat itu memenuhi paras manisnya. Meraup habis pipi cubinya. Tanpa ia sadari ada yang masuk ke kamar.
"Awwww...sakit Kak, kok nggak bilang salam sih masuk kamar?" Alia meringis kesakitan sambil memegang pipinya yang berubah memerah bekas cubitan Kak Selvia, sepertinya memang sakit sampai berubah warna gitu.
"Siapa yang nggak ngasi salam, kamu nya aja yang lagi bengong senyum-senyum sendiri nggak jawab salam kakak. Seneng banget, dapat jackpot ya?" ledek Kak Selvia.
"Apaan sih Kak..ini jackpotnya," Alia menunjuk pipinya yang merah.
"Hehe..maaf maaf, soalnya pipimu itu lucu banget sih apalagi pas lagi senyum-senyum tadi. Untung aja nggak kakak gigit sekalian." Ucap Kak Selvia sambil terkekeh.
"Yakin nggak mau bagi-bagi cerita nih?" lanjut Kak Selvia.
"Iya, nggak ada yang mau dibagi-bagi kak," Alia mengelak sambil menggaruk-garuk kepalanya menandakan bahwa ia sedang gugup.
Alia malu menceritakannya. Bagaimanapun Kak Alia adalah adiknya Kak Urai. Pasti ia tidak senang jika Alia terlihat dekat dengan laki-laki lain. Buktinya selama di kapal, Kak Selvia seperti sangat memantau gerak gerik Alia walaupun dengan keterbatasan kondisinya saat itu. Alia memaklumi semua itu.
Seandainya ada Friska, gadis itu tidak akan membiarkan Alia lolos sebelum menceritakan semuanya. Alia jadi merindukan sahabat kampusnya itu. Selama kuliah, Alia lebih banyak menghabiskan waktu dengan Friska ketimbang Isni. Itu sebabnya jika ada sesuatu yang ingin diceritakan, otomatis sosok Friska yang muncul dibenaknya. Ditambah lagi mengingat kekocakan gadis berumur 20 jalan-jalan itu membuat Alia semakin rindu.
"Al..Ini makananmu, ayo kita makan sama-sama kamu mau pakai sendok atau tidak?" tanya Kak Selvia sambil menyerahkan kotak berisi seporsi nasi Padang.
"Kalo makan nasi Padang enaknya ikutin sunnah Rosul Kak," Alia tersenyum.
"Dari tadi senyum-senyum terus jadi kepo nih," Kak Selvia mengerlingkan matanya melirik ponsel Alia. Sepertinya ia sudah bisa membaca, Alia tadi senyum-senyum sendiri sambil memandang ponselnya.
"Ah, Kakak dilarang kepo, ya sudah ayo kita makan." Alia berusaha mengalihkan perhatian Kak Selvia.
"Oke, ayo..eeh kamu cuci tangan dulu Al," sarannya. Dibenak Alia sepertinya Kak Alia benar-benar jadi miniaturnya Kak Urai dalam bentuk perempuan. Membayangkannya membuat Alia terkekeh.
Alia mencuci tangannya sesuai saran Kak Selvia dan sore itu mereka makan bersama.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.