
Kak Urai memarkir mobilnya di halaman hotel, kemudian ia menaiki lift menuju lantai tiga. Sedari tadi ia tersenyum licik membayangkan bagaimana nasib Aufar setelah bertemu dengan Alia.
Setelah sampai di depan kamar yang ia sewa, Kak Urai membuka pintu dan langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur setelah melepas sepatunya.
Pandangannya menerawang ke langit-langit kamar. Ia sedikit mengutuk dirinya karena telah melakukan cara licik ini untuk mendapatkan Alia kembali. Ia menarik nafas berat dan menghembuskannya secara perlahan.
"Maafkan aku Al..sungguh aku tidak berniat buruk terhadapmu. Semua ini aku lakukan agar kamu terbebas dari pembohong seperti Aufar. Dia bukanlah Pria yang baik untukmu." Gumam Kak Urai dalam hati.
Kak Urai merogoh ponsel dalam sakunya. Ia mencari kontak seseorang. Setelah menemukannya, ia menelpon nomor tersebut.
"Halo, bro..ada apa menelponku malam-malam begini?" Terdengar suara seorang laki-laki diseberang sana.
"Iya, maaf bro jika aku mengganggu waktu istirahatmu. Aku hanya ingin berterima kasih atas bantuanmu tempo hari. Hal itu sungguh sangat membantu menyelesaikan masalahku."
"Santai bro, tapi maaf bantuan mana yang kau maksud?"
"Waktu itu, aku meminta bantuanmu untuk mencari informasi detail tentang seorang laki-laki yang bernama Aufar."
"Oh, iya...aku ingat. Bagaimana? Apakah kalian jadi bekerja sama?"
"Maaf bro, aku sedikit berbohong tentang hal itu. Sebenarnya aku memerlukan informasi tentangnya bukan untuk urusan bisnis, melainkan untuk urusan pribadiku."
DEG
Andri tertegun. Ia merasa melakukan sebuah dosa besar. Apakah yang dimaksud Aufar laki-laki yang membawa Alia pergi adalah Urai? Sahabatnya sendiri. Sahabat yang ia kenal dalam satu organisasi.
"Tunggu,,tunggu. A-apa ma-maksudmu bro?"
"Iya, bukannya aku pernah bercerita kepadamu masalah kisah cintaku yang tak bersambut itu? Sekarang aku sedang memperjuangkannya bro. Aku sudah menyerahkan berkas itu kepada gadis 18 tahunku, agar ia sadar bahwa selama ini ia telah dibohongi oleh Pria yang bersamanya saat ini," jelas Kak Urai.
PLAAAK
Andri merasa tertampar. Bagaimana ini? Apa yang akan terjadi kepada Aufar setelah ini? Bagaimana nasib percintaannya yang tidak sengaja ia rusak? Andri dan Aufar berada dalam satu organisasi juga. Mereka memang sudah bersahabat sejak tujuh tahun silam.
Tak terbayangkan oleh Andri seperti apa wajah murka Aufar jika tahu bahwa yang membuka rahasianya kepada Urai adalah dirinya. Pasalnya Andri tidak menyadarinya dari awal. Tidak ada sedikit kecurigaan pun dihatinya kepada Urai karena ia kenal betul siapa Urai. Andri tidak menyangka Urai akan melakukan hal selicik ini kepada sahabatnya sendiri.
***
Di rumah kontrakan Alia
"Ma..maafkan aku, sayang.." Aufar melepaskan genggamannya dari tangan Alia. Alia masih terisak tertunduk sedih diselimuti rasa takut. Kali ini Aufar berhasil menguak sisi lain dari dirinya.
"Pergilah, Mas...biarkan aku sendiri sementara waktu," ucap Alia lirih.
Whaaaaaat??? Aufar memandang Alia yang masih saja tertunduk menyembunyikan wajah sedihnya. Pasalnya ia sangat syok dengan semua yang telah terjadi malam ini.
"Sayang, please..kasi aku waktu untuk menjelaskan🙏 kamu berhak mengetahui kebenarannya." Alia mendongakkan wajahnya. Ia menatap Aufar dengan tatapan tajam.
"Jadi benar selama ini kamu telah menyembunyikan sesuatu dariku, Mas?" Alia to the point. Ia tak ingin berbasa-basi lagi. Awalnya ia tidak mau membahas hal ini sekarang. Namun kata-kata Aufar bagaikan umpan untuknya. Ia ingin mendengarnya langsung dari bibir Aufar.
Aufar menelan salivanya dengan berat. Sekali lagi ia masih mempertimbangkan hal itu. Lidahnya kelu seperti tersuntik obat bius. Jantungnya berdetak semakin kencang seakan hampir keluar dari sarangnya. Kenapa susah sekali untuk mengatakannya? Bukannya tadi dia sudah sangat mantap untuk mengatakan semuanya kepada Alia? Mengapa kembali ragu?
"Sayang, aku...." Suaranya tercekat setelah melihat tangan Alia berdiri di depan wajahnya. 'Talk to my hand', hehe just kidding baby. Serius amat bacanya🤭🤭🤭.
Alia menghentikan kalimat Aufar dan menyambungnya, "kamu adalah seorang dokter, iya kan???" Kalimat itu lolos begitu saja di bibir manis Alia yang bergetar. Aufar mematung, hampir tidak percaya dengan penuturan Alia. Fix, Aufar lagi-lagi kalah cepat.
"Sayang....bagaimana kamu bisa tahu tentang hal itu?" Selidik Aufar sambil memegang kedua pundak Alia.
"Jangan sentuh aku, Mas! Lepaskan!" Alia menepis kedua tangan Aufar. Sumpah demi apa rasanya Aufar ingin menangis mendengar penolakan dari Alia. Ia lebih memilih ditampar berkali-kali oleh Alia daripada harus mendengar kalimat penolakan yang sudah sekian kali Alia ucapkan kepadanya.
"Sayang..." ucapnya lirih. Alia semakin terisak. Gadis itu sudah tahu jawabannya. Tidak ada bantahan sedikitpun dari Aufar terhadap sanggahannya.
Alia menyerang Aufar dengan pertanyaan yang beruntun. Ia tidak memberikan celah sedikitpun bagi Aufar untuk menyanggah.
Aufar hanya bisa terdiam. Bagaimana cara menjelaskan kepada sang kekasih bahwa semua yang ia lakukan tidak seperti yang Alia pikirkan? Alia sedang dikuasai kabut emosi, sangat tidak bijak saat ini untuk membela diri. Aufar memutuskan untuk pasrah. Menerima semua analisa salah yang Alia tujukan padanya.
"Sayang...tenang ya, aku akan menjelaskan semuanya asalkan kamu mau berjanji kepadaku kalau kamu akan percaya padaku." Aufar merangkum wajah Alia kedalam genggamannya.
Namun lagi-lagi Alia menepis kedua tangan Aufar. "Apa? Percaya kamu bilang? Selama ini aku sudah begitu bodoh dan naif mempercayai pembohong besar sepertimu, Maaaas." Tangis Alia pecah. Hal tersebut menambah hati Aufar semakin sakit.
Padahal ia sudah berjanji kepada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan pernah membiarkan Alia meneteskan air mata. Lalu apa yang sudah ia lakukan saat ini? Bukan hanya meneteskan air mata Alia, tapi ia sudah menumpahkannya.
Hari ini, adalah hari yang selalu ditakutkan oleh Aufar. Akhirnya ia datang menghampirinya tanpa permisi. Entah mimpi apa ia tadi malam, sehingga harus melalui hari berat bagaikan kiamat ini. Aufar pesimis. Sepertinya Alia tidak akan bisa memaafkan kesalahan yang sudah menjadi bom waktu baginya.
"Sayang...please...dengarkan dulu penjelasanku.." Aufar memohon dengan segenap hatinya, berharap Alia akan memberikan toleransi.
"Cukup, Mas! Aku tidak ingin lagi masuk ke dalam skenario busukmu itu. Sudah cukup kamu membohongiku selama ini. Entah rahasia sebanyak apalagi yang masih kamu simpan. Jangan-jangan kamu juga suami orang, iya??" Alia melotot kepada Aufar. Sungguh Alia mengikuti kemanapun analisanya pergi. Terkaan demi terkaan lolos begitu saja dari bibirnya yang masih terus bergetar.
"Sayang...istighfar...istighfar..." Aufar mencoba menenangkan Alia. Ia merangkul tubuh mungil yang sedang rapuh itu. Tubuh mungil yang sudah meluluhkan hatinya dengan kesederhanaan dan ketulusan.
"Sekarang tolong pergi dan tinggalkan aku, Mas..Aku mohon...tinggalkan aku..Jangan pernah lagi menghubungiku..pergi mas, pergi..." Alia masih menangis histeris di pelukan Aufar.
Aufar tidak ingin melepaskan pelukannya. Ia membiarkan Alia memukul-mukul dada bidangnya. Sakit fisik yang ia rasakan tidak sebanding dengan luka batin yang sedang Alia alami.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sudah seribu lebih gengs...next chapter aja yah🤭
jempolku meronta dan dadaku sesak..semoga kalian tidak merasakannya,,hihihi😁
terus dukung aku yah jika kalian suka ceritanya🙏