I Love You Till Jannah

I Love You Till Jannah
S2 Oh, Jimmy ....



Lima belas menit setelah kepergian Aufar, Alia mendengar suara bel yang menggelegar dan mengusik ritual asik setiap wanita. Ia menghentikan aktifitasnya yang memang sudah hampir selesai, lalu bangkit untuk membuka pintu.


Setelah pintu terbuka lebar..


Jreeeeeng....siapakah dia?


Jimmy??? Atau....????


"Ka...kau..." Ucap Alia lirih namun masih bisa didengar oleh orang yang berdiri tepat di hadapannya.


Alia tercengang, bibirnya kelu. Tidak disangka ia akan dipertemukan kembali dengan sosok yang pernah menemuinya di lobby hotel tempo hari. Sosok yang membuatnya pergi tanpa sepengetahuan suaminya dan juga sosok yang menjadi penyebab tragedi pelecehan yang hampir saja menimpa dirinya.


Poor Alia...


"Mau apa kau kemari?" Tanya Alia dengan sorotan mata tajam. Sesungguhnya sifat asli wanita bermata bulat ini, tidaklah seperti itu. Namun ia tahu lawan bicaranya saat ini bukanlah sosok yang cocok untuk diajak beramah tamah. Dasar Nenek Lampir!!!


"Aku? Tentu saja ingin menyapa tetanggaku." Jawab Fana sambil melipat sebelah lengannya ke atas, terlihat seperti sedang berbicara dengan kuku-kuku jentiknya. Nampaknya kuku-kukunya yang berwarna merah menyala itu lebih menarik dibandingkan wajah rivalnya.


"Good morning, Mrs. Anggara. Nice to meet you again." Sapanya sambil menatap lurus ke arah Alia dengan senyuman remeh khas Fanalisasi.


"I don't feel nice to see you at all! Bahkan aku tidak bisa mengingat dengan benar siapa namamu. Maaf nona, sepertinya kau salah alamat." Alia hampir saja menutup daun pintu itu, namun dengan sigap Fana menahannya agar tetap terbuka.


"Listen to me Mrs. Anggara!!! Jika kau tertarik untuk mengetahui siapa sebenarnya suamimu itu, maka pintu apartemenku selalu ready untuk menerima kehadiranmu, Nona Alia yang terhormat."


Jari lentik Fana mengarah pada pintu unit yang bertepatan di depan unit milik Aufar. Hal itu tentu saja membuat pikiran Alia semakin kacau balau tak terhalaukan. Itulah sebenarnya yang diinginkan oleh wanita ular ini.


"Sebenarnya apa maumu? Kenapa kau selalu mengusikku, hah? Apa salahku padamu?" Bombardir pertanyaan dari Alia. Rahangnya mulai mengeras dan kegeraman benar-benar terpancar dari sorot mata istri dokter tampan incaran Fana itu.


"Kenapa masih bertanya? Kau ini sok polos atau b*go sih? Tapi sepertinya dua kata itu mempunyai makna yang beda-beda tipis ya. Heh, dengarkan aku wanita kampung! Just for your information, sebentar lagi Aufar akan menikahi ku. Dan aku akan resmi menjadi ma-du-mu, got it?"


Mulut bunga bangkai memang berbau busuk!


DEG


Kenapa ini? Kenapa Alia merasa bumi yang ia pijaki seolah berhenti berputar? Apa berita yang baru saja ia dengar dari wanita barbar ini benar adanya? Jika memang iya, kenapa Aufar terlihat seperti tidak menyimpan rahasia apapun darinya? Tidak ada yang berubah dari sikap atau pun tutur bicaranya. What's going on? Pertanda apakah ini? Apakah ini karma untuk Alia? Karma dari perbuatan Ayahnya yang dengan sadar mempoligami ibu kandungnya? Apakah seperti ini sakitnya perasaan sang ibu ketika mendengar suami yang selama ini dicintainya telah berkhianat dan membagi perasaannya dengan wanita lain?


"Oh Tuhaaan, cobaan apalagi ini?" Batin Alia.


Alia terlihat termenung, sampai akhirnya ia tersentak oleh suara bariton Jimmy.


"Nona Zalia...are you okay?" Tanya Jimmy dengan wajah khawatirnya. Ia sedikit menyentuh pundak Alia agar bisa menyadarkan wanita itu dari pergulatan pikiran yang menerjangnya.


"Eh, I-iya, I'm okay." Jawab Alia gelagapan.


"Lalu kenapa Anda menangis, Nona?" Tanyanya lagi penasaran.


"Eh, enggak kok, Jim. Ini..ini aku kelilipan tadi. Mataku kemasukan binatang kayaknya."


Alia menyeka air mata yang tanpa ia sadari membanjiri pipinya. Ia mengedar pandangannya, mencari sosok wanita ular yang berbicara dengannya tadi. Namun nihil. Keberadaannya lenyap layaknya jin wanita yang bisa menghilang dalam sekali tepukan.


"Oh, baiklah. Apa kita bisa berangkat sekarang?"


Jimmy mencoba menilik kebohongan yang Alia sampaikan. Bukan Jimmy namanya jika ia tidak akan mencari tahu kebenarannya. Namun untuk saat ini, ia memilih untuk tidak memperpanjang interogasinya, karena ia merasa sepertinya Alia tidak ingin membahas hal itu.


"Okay, sebentar ya aku ambil tas dan dokumenku dulu.." Alia melenggang menuju kamar utama.


Beberapa menit kemudian, ia kembali dengan memikul tas selempang kecil di bahu kirinya, dan lengan kanannya ia gunakan untuk menimang surat lamaran yang akan serahkan kepada salah satu sekolah bilingual yang telah ia temukan infomasinya melalui Jimmy. Alia tersenyum hangat kepada Jimmy, kemudian setelah mengunci pintu apartemennya, mereka berjalan beriringan meninggalkan gedung itu.


"Ehm..ehm.." Batuk palsu yang Jimmy buat berhasil menarik perhatian istri dari boss-nya itu.


"Kamu sakit, Jim?" Seperti biasa Alia bertanya penuh perhatian.


"Saya baik-baik aja kok, Nona. Namun sejak tadi saya perhatikan, sepertinya Nona sendiri yang sedang berada dalam masalah." Jimmy berharap umpan yang ia lempar akan disambut baik oleh Alia.


"I'm okay, Jim." Kembali menatap lurus ke luar jendela. Telak. Alia kembali menolak untuk bercerita. Hal itu membuat Jimmy menghela nafas panjang dan memilih untuk bungkam.


Tiga puluh menit kemudian mobil yang Jimmy kendarai, terparkir sempurna di pelataran sebuah sekolah berstandar internasional dengan basis bilingual. Alia menatap kagum gedung sekolah yang menurutnya berukuran raksasa itu dari jendela mobil. Amazing.


Mengajar di salah satu sekolah yang berbasis bilingual adalah salah satu keinginan besar Alia. Ia merasa, selain untuk mengabdikan diri pada negeri ini, sekolah yang berbasis bilingual juga lebih berpotensi untuk menjadi ladang pengembangan diri baginya.


Seperti biasa Alia membuka pintu mobil itu sendiri mendahului Jimmy yang terkadang masih memperlakukan dirinya layaknya seorang putri. Alia tetap saja masih merasa risih dengan sikap yang dianggapnya berlebihan itu. Walaupun ia tahu betul bahwa Jimmy melakukan semua itu karena tugas yang Aufar amanah kan kepadanya.


"Mari Nona.." Jimmy memberi kode dengan jempolnya, meminta Alia untuk berjalan mendahuluinya.


Karena ini masih dalam jam belajar, Alia tidak menemukan satu pelajar pun yang berkeliaran di sepanjang perjalan melewati lorong yang menuju ke arah ruang guru dan ruang kepala sekolah.


Irama hentakan sepatu yang berasal dari kaki Alia dan Jimmy, sontak menarik perhatian beberapa guru yang sedang berkumpul di dalam ruangan itu.


"Good morning everyone.." Sapa Alia ramah kepada mereka sambil tersenyum. Tentu saja mendapat sapaan balasan serentak dari mereka.


"Is Mr. Bima in his office? My name's Zalia. I've an appointment to do an interview."


(Apakah Mr.Bima ada di ruangan? Nama saya Zalia. Saya dipanggil untuk melaksanakan interview)


Benar saja. Alia sudah mengirimkan surat lamaran elektroniknya melalui website sekolah tersebut. Nasib baik, sekolah tersebut memang sedang membutuhkan tenaga pengajar tambahan untuk menggantikan salah satu guru mereka yang telah mengundurkan diri. Jadi, hari ini Alia diminta untuk membawa print out surat lamaran yang telah ia kirim, sekaligus melaksanakan interview dengan kepala sekolahnya.


Mengenai pendidikan masternya, Alia masih tetap menjalaninya berbarengan dengan rutinitas barunya ini. Jadwal perkuliahan yang hanya terjadi dalam dua minggu sekali setiap hari sabtu dan minggu itu, tentu saja tidak akan terbengkalai oleh aktifitas mengajarnya nanti.


Kembali ke sekolah keren ya.


Perfect. Sesuai rencana, salah satu guru mengantarnya menuju ruangan kepala sekolah yang terletak berseberangan dengan ruangan itu.


Tok...Tok...Tok...


"Yes, come in, please." Terdengar suara bariton dari dalam ruangan itu. Ramah namun tegas.


Alia masuk bersama Jimmy ditemani oleh guru yang mengantarnya tadi. Lalu guru yang berjenis kelamin wanita itu, pamit undur diri dengan ramahnya setelah mempersilakan Alia dan Jimmy duduk di kursi yang berhadapan dengan Mr.Bima.


Setelah menyerahkan print out surat lamaran bersama antek-antek yang menjadi dokumen pendukungnya, Mr. Bima melakukan sedikit interview dengan menanyakan beberapa pertanyaan yang menurutnya penting ia ketahui dari Alia. Hingga tiba pada pertanyaan terakhir yang membuat Alia dan Jimmy tersentak.


"So, how long you've been married with this guy?" (Sudah berapa lama kalian menikah?)


Oh, no...ada yang bergetar, tapi bukan handphone gengs, melainkan hati Jimmy. Namun berbanding terbaik dengan Alia. Ia merespon kalimat pertanyaan dari Mr. Bima itu dengan kekehan kecil.


"You're misunderstood Sir, he's not my husband."


DEG


Apa ini? Kenapa rasanya sakit sekali di hati Jimmy ketika mendengar kalimat itu terlontar dari bibir manis Alia? Walaupun ia menyadari bahwa itulah kenyataan yang sebenarnya. Mengapa takdir begitu kejam padanya? Membuatnya menautkan rasa indah ini kepada sosok yang sudah jelas milik legal orang lain. Bahkan sosok itu adalah milik boss sekaligus sahabatnya sendiri. Walaupun ia sudah berusaha untuk mengikhlaskan, namun tetap saja gagal. Semakin ia berusaha untuk melupakan, maka perasaan itu semakin tumbuh subur dan menyakitkan..


Oh, Jimmy...


Bersambung