
Siapa yang tidak ingin menyaksikan langsung pemandangan yang menyejukkan seperti ini?
Berhubung Alia mempunyai hobi yang terbilang unik, Aufar memutuskan untuk mengajaknya lunch di sebuah restoran yang terletak tepat di tepi sungai.
"Adabeyi Balik Restaurant..." Alia melirik ke arah suaminya saat mengutarakan nama restoran yang menurutnya aneh.
"Kenapa?" Aufar malah bertanya.
"Gak papa, kalo dipelesetin dikit jadi AdeBayi ya 'kan?" Alia terkekeh sembari menutup mulutnya dengan punggung tangan.
"Ntar malem kita bikin AdeBayi," bisik Aufar samar-samar di telinga Alia, namun wanita itu masih bisa menangkap retorika yang bermakna dalam tersebut. Membuat Alia merasa menyesal karena telah mengutarakan lelucon yang malah menjadi serangan balik baginya.
Tanpa menunggu perintah lagi, kedua pipi wanita borneo itu mendadak bersemu merah seperti buah tamang.
Walaupun status mereka terbilang bukan pengantin baru lagi, namun tetap saja pembicaraan yang seperti ini selalu membuat Alia malu-malu kucing.
"MasyaAllah..." Alia berjalan mendahului Aufar. "Pemandangan yang bagus banget ini." Mengalihkan topik pembicaraan dengan bersandar tangan pada pagar pembatas, tepat di depan meja yang telah direservasi untuk mereka.
Hal itu berhasil membuat Aufar menyimpul senyuman tipis. Ia sangat faham bahwa Alia sedang menutupi rasa malunya. Lalu menambah langkah menghampiri sang istri dan memeluk tubuh mungil kesayangannya itu dari belakang, serta melingkarkan kedua lengan kekarnya pada pinggang ramping Alia dengan posesif.
Bisa Aufar rasakan aroma segar rambut Alia dari balik kerudung putih yang ia kenakan, ketika kedua lubang hidungnya mendarat pada pucuk kepala istrinya. Bagaikan adegan romantis pasangan sejati seperti di dalam film-film ternama, keduanya tampak sangat serasi berbalut OOTD yang serba putih.
"Aku tau kamu sangat mencintai pemandangan seperti ini, makanya aku pilih restoran AdeBayi ini." Kecupan hangat mendarat di pipi Alia dengan senyuman penuh makna.
Spontan tangan mulusnya menyentuh dagu Aufar, sedangkan tangan yang lainnya menyentuh kedua tangan yang melingkar posesif di pinggangnya.
"Dari dulu, kamu itu memang yang paling mengerti aku, Sayang." Menatap burung-burung putih yang beterbangan hilir-mudik. "Aku sangat bersyukur kepada Tuhan, karena telah menakdirkan kamu sebagai jodohku." Memutar lehernya setengah rotasi ke wajah Aufar dengan senyuman hangat.
Dengan tatapan yang juga penuh syukur Aufar tersenyum balik. "Aku juga sangat bersyukur karena Tuhan telah mempertemukan aku dengan tulang rusukku yang sempat terpental jauh ini." Mentowel manja ujung hidung Alia karena merasa gemas.
Ada rasa yang hampir tidak bisa diukirkan dengan kata-kata dalam hati Alia. Mempunyai sosok suami yang amat sangat membuatnya nyaman dalam setiap situasi, merupakan nikmat yang tiada tara.
Baginya, Aufar bukan hanya sosok seorang suami, namun juga seorang guru sekaligus sahabat yang selalu bisa menjadi tempat untuk mencurahkan semua isi hatinya. Baik tentang suka maupun duka.
Begitu juga bagi Aufar, Alia adalah labuhan terakhirnya yang tidak akan pernah tergantikan. Pun ketika maut memisahkan. Alia akan selalu di hatinya, dan menempati singgasana tertinggi, dan akan selalu begitu.
"Lunch dulu, yuk. Setelah itu..."
Suara Aufar terdengar agak berat saat mendekati cuping Alia yang masih tertutup rapat oleh kain suci. Bisa Alia rasakan rengkuhan suaminya itu lebih ketat dari sebelumnya.
Desiran darah mengalir deras di dalam dada Alia. Ia mengerti dengan kode itu. Namun Alia berusaha sebisa mungkin untuk bersikap santai. Begitupun Aufar. Berulang kali ia menghela nafas kasar. Mengendalikan sisi kelaki-lakiannya yang menyerang tidak pada tempatnya.
Alia berbalik badan menghadap sang pujaan hati, lalu meletakkan kedua telapak tangannya di atas dada bidang milik suaminya. Benar saja, dentuman organ pemompa darah itu terasa begitu agresif, mengalahkan permainan drum seorang drummer band metal yang sedang melangsungkan konser.
Kemudian Alia tersenyum sembari mendongak, membuat tatapan mereka beradu lekat.
Kini, keduanya tampak tertawa renyah sembari menikmati hidangan yang telah tertata apik di atas meja.
***
Panorama kota Izmir di malam hari sungguh sangat memanjakan mata. Dari balkon kamar hotel yang mereka sewa, Alia menikmati penampakan sempurna kota tersebut yang selama ini hanya ia lihat di dalam mimpi.
Tak terasa kedua sudut matanya sedikit basah. Bukan karena sedih, melainkan karena teramat gembira.
Setelah dari Adabeyi Balik Restaurant tadi, mereka memutuskan untuk kembali ke hotel. Ada misi ranjang yang harus mereka selesaikan. Hasrat yang sudah dipendam terlalu lama, tidak baik untuk ditunda lagi. Apalagi melakukannya merupakan sebuah ibadah terindah bagi pasangan yang sudah berlabel halal seperti mereka.
Kini, penutup kepala pun tak lagi melilit di kepalanya. Lingerie berwarna hitam dengan lengan you can see, membalut tubuh idealnya yang terlihat sangat sepadan.
Sesekali ia menyeka air kebahagiaan yang tanpa segan menjamah pipi chubby-nya.
"Sayang..."
Sontak ia membalik pandangannya, saat tubuh kekar Aufar yang bertelanjang dada menempel sempurna di punggungnya. Kedua tangan lelaki itu dengan sigap meraih pinggang ramping Alia dan memutarnya.
Seketika itu juga, bibir mereka beradu. Kecupan dalam berlangsung beberapa detik tanpa pergerakan.
Lalu Alia spontan meredupkan kedua matanya ketika lidah sang suami menari-nari dengan lembut di atas bibirnya.
Perlahan Alia membuka mulutnya memberi ruang bagi Aufar untuk beraksi lebih. Aufar pun tak tinggal diam. Diraihnya kesempatan emas itu untuk meng-eksplore rongga mulut hangat milik kekasihnya.
Begitupun Alia, entah bagaimana ceritanya kedua tangan yang putih mulus itu kini telah melingkar pada tengkuk Aufar. Sesekali cekalan mesra Alia meremasi rambut bagian belakang milik dokter tampan itu. Sebagai tanda bahwa ia menikmati perlakuan Aufar.
Namun, seketika Alia menarik wajahnya mengukir jarak.
"Bukannya tadi udah, Sayang?"
"Emmm... Sekali lagi ya..."
"Hah?"
Alia memutar kedua bola matanya malas, yang membuat Aufar semakin tidak tahan lagi untuk menjarah kembali tubuh seksi yang berada di hadapan.
Mungkin karena Alia sering berpakaian tertutup, sehingga Aufar cepat tergoda, di saat menatap wanita itu dengan pakaian yang sedikit terbuka.
Bak sedang menemukan harta karun, pandangan Aufar semakin berkabut ria. Ia kembali mendekatkan wajahnya pada Alia. Sekali lagi permainan bibir mereka berlangsung sengit.
Tanpa memerlukan izin tertulis, Alia telah berada di dalam gendongannya dalam sekali hentakan. Dengan lihai, perlahan Aufar berjalan menuju meja rias yang terdapat di dalam kamar hotel tersebut. Dan ... keduanya pun menggapai surga yang selalu mereka rindukan.
Bersambung..