
Air langit yang bertabrakan saling sikut-sikutan terjun bebas membasahi bumi, itu merupakan hal yang lumrah bahkan sudah menjadi hukum alam. Namun, berbeda halnya dengan hati Jimmy yang semakin terlihat mendung dirundung awan gelap pekat bahkan sampai menciut akibat kata-kata Alia.
Selama di perjalanan menuju apartemen tidak ada satu katapun yang terucap dari bibir Jimmy. Ia hanya fokus dengan kemudi yang sudah menjadi tanggung jawabnya. Alunan musik slow rock dari Alan Walker selalu setia menjadi sountrack di setiap perjalanannya.
Sedangkan Alia sibuk memandangi layar ponselnya, sesekali ia tersenyum simpul karena membaca chat pribadi dari suami bucinnya.
"Aku udah enggak sabar menunggu jam pulang buat simulasi.."
Begitulah kalimat yang dikirim Aufar melalui aplikasi bulat hijaunya, yang membuat Alia terkekeh manja. Tanpa ia sadari ada sepasang mata yang sedari tadi memperhatikan tingkah lakunya dari kaca spion di hadapannya.
"Nyonya Zalia.." Sapa Jimmy yang tiba-tiba menghentikan mobilnya di halaman sebuah minimarket.
"Nyonya?" Alia membatin sendiri. Ia memicingkan matanya, keheranan kenapa Jimmy tiba-tiba memanggilnya dengan sebutan itu.
"Apa aku setua itu, Jim?" Tanyanya sambil cemberut.
"Haha..tidak juga sih, bukannya sudah sepatutnya saya memanggil Anda Nyonya Anggara setelah Anda menikah dengan boss saya?" Jimmy sedikit menoleh ke belakang agar bisa memandang raut wajah Alia yang menurutnya sangat konyol.
"Sudahlah, Jim. Bisa robek gendang telingaku karena panggilan itu. Pokoknya mulai sekarang kamu wajib manggil aku dengan namaku saja, titik, no negotiation." Alia memandang datar ke arah Jimmy, sepertinya wanita itu sangat serius dengan ucapannya.
"Baiklah, Z-a-l-i-a.." Jimmy tersenyum usil sembari mengeja setiap huruf yang membentuk nama wanita idamannya itu.
"Good, it sounds better. Ngomong-ngomong, kenapa kita berhenti di sini, Jim?" Tanya Alia yang mulai memandang ke lingkungan sekitar dari kaca jendela mobil.
"Aku ingin membeli minuman, sebentar saja. Tenggorokanku benar-benar terasa kering. Kamu mau ikut?" Tanya Jimmy yang sudah membuka sedikit pintu mobilnya.
"Enggak usah, Jim. Aku tunggu di sini saja." Alia mendaratkan punggungnya di sandaran kursi. Menempatkan posisi tubuhnya agar lebih relax dari sebelumnya.
"Baiklah.." Jimmy keluar dari mobil kemudian berjalan menuju pintu masuk minimarket itu.
Setelah masuk ke dalam minimarket, hal yang pertama ia tuju adalah lemari pendingin yang berisi ratusan botol maupun kotak dari berbagai jenis minuman siap konsumsi. Jimmy menyusuri delapan pintu itu mencari sosok minuman favoritnya.
Tap..
Tatapannya terkunci pada satu botol minuman yang bergambar bintang pada body yang berbentuk seperti gitar spanyol. Ketika ia ingin membuka pintu lemari pendingin itu, tiba-tiba ada satu tangan lain yang mendarat bersamaan. Punggung tangan mereka secara tidak sengaja bersentuhan. Jimmy yang menyadari hal itu, sontak menoleh ke arah kanan dan melihat sosok yang tidak asing lagi baginya.
"Medina.." Sapanya pada wanita itu.
"Tuan Jimmy.." Wanita itu tersenyum ketika menyadari sosok pria yang sangat ia kenal berada di samping kirinya.
"Kamu ngapain di sini? Mama mana?" Kepala Jimmy terlihat celingak-celinguk bagaikan seekor angsa.
"Nyonya berada di mobil, Tuan. Saya hanya ingin membeli minuman penghilang dahaga setelah pulang dari rumah sakit."
"Oh, baiklah. Tolong bilang pada Mama, setelah urusanku sudah selesai maka aku akan pulang untuk memastikan keadaannya." Jimmy berkata sambil membuka lebar pintu lemari pendingin itu. Medina hanya menganggukkan kepala sebagai respon atas ucapan Jimmy.
"Ladies first!" Jimmy memberi kode kepada Medina untuk mengambil minuman yang ia inginkan terlebih dahulu.
"Terima kasih, Tuan. Kalau begitu saya permisi dulu." Wanita itu tersenyum dan berlalu setelah mendapat anggukan kepala dari Jimmy.
Pria tampan itu melanjutkan niatnya yang tertunda tadi melangkah menuju meja kasir untuk membayar beberapa botol minuman yang ingin ia beli.
Tidak lama setelah itu, Jimmy sudah bergabung dengan Alia di dalam mobilnya. Ia menyerahkan satu botol minuman kepada istri boss-nya itu.
Alia terlihat sangat senang karena minuman yang disodorkan oleh Jimmy merupakan minuman favoritnya. Bagaimana Jimmy bisa tahu kalau ini adalah minuman kesukaanku?" Alia membatin sendiri.
Dengan antusias ia meraih botol minuman itu dan meneguknya secara perlahan, menikmati sari-sari buah yang terkandung di dalamnya dengan penuh kenikmatan. Seketika itu juga rasa haus yang menyerang tenggorokan Alia, tergantikan oleh rasa dingin yang dibawa oleh cairan putih rasa strawberry itu.
Sesaat kemudian, Jimmy kembali memacu kendaraannya. Membelah jalan padat ibu kota siang itu menuju apartemen Aufar.
"Dokter, maaf Dokter Aufar tidak bisa ditemui untuk saat ini." Syifa menarik lengan seorang dokter wanita yang memaksa masuk ke dalam ruang praktek Aufar.
"Memangnya siapa kamu berani melarang saya masuk?" Dokter wanita itu menatap tajam ke arah Syifa.
"Maaf Dokter, saya tidak bermaksud seperti itu. Tapi Dokter Aufar sendiri yang berpesan kalau beliau tidak ingin diganggu." Ucap Syifa perlahan melepaskan cekalannya pada lengan wanita itu.
"Aku tidak peduli, pokoknya akan masuk sekarang juga." Wanita itu berbalik memunggungi Syifa dan membuka handle pintu ruangan Aufar.
Mendengar suara pintu terbuka tanpa ketukan, Aufar memandang ke arah muka pintu itu, menampakkan dua sosok wanita yang saling tarik menarik layaknya besi berani.
Ia bangkit dari duduknya, dan berjalan menghampiri dua wanita itu. Syifa yang menyadari hal itu lebih dulu melepaskan cekalan yang sekian kalinya ia lakukan untuk menahan wanita itu agar tidak masuk ke dalam ruangan.
"Maaf Dokter, saya sudah melarang Dokter Fana untuk masuk, tetapi beliau memaksa." Syifa tertunduk malu karena tidak berhasil melaksanakan tugas tambahan dari Aufar.
Ya, sejak pertemuan terakhirnya dengan Fana di depan pintu apartemen tempo hari, Aufar berpesan kepada Syifa untuk tidak mengizinkan Fana menemuinya di rumah sakit ini, apapun alasannya.
"It's okay, Syifa. Kamu sudah berusaha sebaik mungkin. Sekarang kamu lanjutkan saja pekerjaanmu!" Aufar tersenyum kepada Syifa, kemudian berjalan kembali memasuki ruangannya tanpa memperdulikan keberadaan Fana.
Wanita yang tidak tahu malu itu, berdecak kesal. Ia menghentak-hentakkan kakinya, lalu berjalan mengekori Aufar.
Aufar masih berdiri memunggungi Fana di depan meja kerjanya tanpa mengatakan sepatah katapun. Pria itu terlihat sedang berkacak pinggang memikirkan solusi untuk menghadapi kekeras kepalaan Fana.
Melihat Aufar yang tidak bergeming dari posisinya, Fana memberanikan diri untuk melingkarkan kedua lengannya di pinggang Aufar. Ia mendaratkan pipi halusnya pada punggung kekar milik Aufar. Merasakan kembali kehangatan tubuh laki-laki yang pernah menjadi kekasihnya itu. Pelukan sepihak tersebut terjadi tidak lebih dari satu menit karena Aufar keburu menyadari tingkah barbar mantan kekasihnya itu.
Ia melepaskan simpulan tangan Fana dari pinggangnya dan berbalik arah menatap wanita itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Perasaan kesal, benci dan muak berkumpul menjadi satu kesatuan yang harmonis di pelupuk matanya.
"Harus dengan cara apa aku bisa membuatmu mengerti kalau tidak ada lagi yang tersisa antara aku dan kau, Fana?" Aufar mengecilkan volume bicaranya karena khawatir Syifa akan mendengar percakapan mereka. Apalagi saat itu, pintu ruangan masih terbuka lebar.
Dokter tampan suami Alia itu, mencengkram pergelangan tangan Fana diiringi dengan gertakan giginya yang mengerat. Rahangnya mulai mengeras menahan amarah. Telapak tangannya yang lain sudah mengepal tinju sempurna. Seandainya yang berada di hadapannya itu adalah seorang laki-laki, maka tanpa ragu Aufar akan mendaratkan tonjokan jitu ke wajah lawan bicaranya tersebut.
Namun pada kenyataannya, yang berada di hadapannya saat itu adalah seorang wanita, maka Aufar hanya bisa mencengkeram erat pergelangan tangannya.
"Aw..sakit, Beb..A..aku, aku hanya merindukanmu saja, apakah itu melanggar hukum?" Fana meringis kesakitan akibat perbuatan Aufar, sehingga membuat pria itu tak tega dan perlahan melepaskan cengkeramannya.
Aufar semakin berdecak kesal mendengar pertanyaan konyol yang terlontar dari bibir wanita yang juga berprofesi sebagai salah satu dokter di rumah sakit itu.
"Fana, listen to me! Aku ini sudah menikah. Artinya, statusku adalah suami orang. Walaupun tidak ada hukum di negara ini yang melarang mu untuk merindukan suami orang, tapi tetap saja itu tidak dibenarkan dalam kehidupan sosial."
Aufar berteriak kecil sambil membuang mukanya ke sembarang arah. Ia mulai tidak sabar dengan sikap Fana yang cenderung memaksakan kehendaknya.
"Maka jadikanlah aku istri keduamu, Beb.." Kalimat itu sontak membuat Aufar membelalakkan kedua bola matanya. Kaget bercampur rasa tidak percaya mendengar kalimat Fana yang menurutnya melewati ambang batas.
"Aku rela di madu, asalkan aku bisa memilikimu kembali. Kita akan mengulang kenangan manis yang pernah kita lalui bersama. Bukankah kamu masih mengingatnya?"
Fana berjalan mendekat ke arah Aufar dan mendaratkan jari telunjuknya ke dada bidang dokter tampan itu. Ia mulai menggerakkan jarinya naik turun dan melukis lingkaran tak kasat mata di sana.
Tap..
Aufar menghentikan Aksi Fana yang berusaha menggodanya, dan menepis tangan wanita barbar itu hingga ia berdecak kesal.
"Kenangan itu cukup diingat saja Fana, bukan untuk diulangi!"
Aufar meraih jas dokternya yang melingkar di sandaran kursi, mengambil kontak mobil dan ponselnya, kemudian berlalu meninggalkan Fana yang masih mematung karena mendengar kalimat sarkas darinya.
"D*mn it!"
Bersambung..