I Love You Till Jannah

I Love You Till Jannah
BONUS CHAPTER 2



(POV Sosok Misterius)


Setelah kepergian taxi bandara, aku mengekori lingkungan di sekitar. Nampak beberapa ibu-ibu netizen yang sedang berkumpul di sebuah warung yang terletak tepat di depan rumah keluarga gadis polos ku itu.


Sebenarnya aku tidak begitu faham, keberadaan mereka di tempat itu sekedar ingin berbelanja atau mungkin sedang menggelar ritual bisik-bisik tetangga? Entahlah.


Yang jelas kedatangan dua orang laki-laki tampan dan gagah ini sudah pasti sangat menarik perhatian mereka. Pandangan mereka terkunci pada kami berdua. Seolah-olah bertanya, "siapakah dua pangeran kodok ini?"


Untuk menjaga norma kesopanan tentunya aku dan Andri melempar senyuman dan sedikit membungkukkan badan ke arah mereka. Tentu saja perilaku itu mendapat sambutan yang hangat. Ibu-ibu netizen berseragam kompak ala daster itu membalas dengan senyuman yang tak kalah hangatnya.


Kemudian aku dan Andri berjalan perlahan menuju pintu rumah Pak Harry. Suasana di dalam rumah terlihat sepi. Dengan keyakinan penuh, aku mengetuk daun pintu yang memang sudah terbuka lebar itu.


Tok..Tok..Tok...


"Assalamu'alaikum.." Tidak ada jawaban. Aku dan Andri saling melempar mata. Andri mengangkat kedua bahunya tak mengerti.


"Biar aku coba," usul Andri.


"Assalamu'alaikum.."


Kali ini suara bariton Andri terdengar menggelegar sempurna di indera pendengaranku. Namun tetap saja tidak ada jawaban dari si empunya rumah. Lagi-lagi Andri menggeleng pelan.


Melihat kebingungan di antara kami berdua. Salah satu dari Ibu-ibu netizen berdaster itu menghampiri kami.


"Maaf, Mas berdua ini nyariin siapa ya?" Senyuman si Ibu yang kemungkinan berusia 30 tahunan ini terlihat lebih merekah karena berhasil memandang kami dengan jarak yang cukup dekat. Niatnya cuci mata kali ya?🤭


"Oh iya, Bu..apa benar ini rumahnya Pak Harry?" Tanyaku memastikan kembali.


"Iya benar, ini rumah beliau. Tapi biasanya kalau siang begini mereka ngumpul di belakang sana, Mas. Kebetulan tadi juga kayaknya ada tamu."


Jelas si Ibu panjang lebar sambil mengarahkan jari telunjuknya pada sebuah bangunan menara persegi. Menara itu berwarna biru tua yang tingginya sekitar lima sampai enam meter, terletak di tengah-tengah sawah yang berada di belakang rumah Pak Harry.


"Baik, terima kasih atas infonya ya, Bu.." Aku tersenyum membalas kebaikan yang ia berikan dengan suka rela tanpa aku minta. Lalu mengajak Andri menuju ke arah menara itu.


Setelah menyisakan jarak sekitar satu meter dari bangunan itu, sayup-sayup ku dengar suara canda diiringi gelak tawa orang-orang yang berada di dalam bangunan itu. Tiba-tiba saja desiran darah mengalir deras di dalam dada ini. Aku semakin gugup.


Namun di sela-sela kebisingan yang mereka ciptakan, ada satu suara yang tidak asing lagi di telinga ini. Suara seorang laki-laki muda yang secara tidak langsung menyatakan dirinya sebagai rivalku. Sontak aku menoleh ke arah Andri karena Andri juga pasti sangat mengenali suara itu.


"Urai..." Nama itu lolos begitu saja dengan kompak dari bibir kami berdua.


"Apakah Urai sedekat ini dengan keluarga Alia?" Batinku.


Apa kalian tahu? Mendengar hal itu, semakin kerdil nyaliku dibuatnya. Namun sudah kepalang tanggung, sekarang aku sudah berada disini. Alia juga sudah berada di dalam genggamanku. Aku harus optimis. Apalagi yang harus aku takutkan? Aku harus melanjutkan misi penggapaian restu ini.


Andri yang mengerti akan kegugupan yang melanda wajah laki-laki pengecut ini, tiba-tiba memberikan suntikan semangatnya di pundak ku.


"You can do it! Alia's by your side. Don't be hesitate."


Ada lima orang di ruangan itu, semuanya menjawab salam hangat dari kami. Kaget? Tidak, sudah pasti mereka hanya kebingungan karena tidak mengenali dua sosok asing ini.


Namun tidak dengan Urai. Tentu saja, ia tidak mungkin melupakan wajah ini. Wajah yang pernah mematahkan semangatnya di bandara dan wajah yang telah mengambil hati pujaan hatinya. Eh, ralat! Bukan mengambil, tetapi Alia sendiri dengan senang hati menjatuhkan hatinya padaku.


Terlebih lagi wajah Andri. Urai tidak akan melupakan wajah sahabatnya sendiri bukan? Sahabat yang sudah ia rusak kepercayaannya. Sahabat yang pernah ia tipu untuk menikung aku demi mendapatkan hati Alia. Sahabat yang sudah ia buat menanggung rasa bersalah yang berkepanjangan akibat ulah liciknya. Apakah ia merasa bersalah kepada Andri? I don't have any idea.


Namun sudah lah lupakan saja, itu masa lalu. Aku tidak ingin lagi ada dendam ataupun kebencian di sini, karena Alia sendiri telah mengambil keputusan untuk menghabiskan sisa hidupnya bersamaku bukan bersamanya.


Suasana di sana menjadi kikuk seperti waktu yang berputar sejenak berhenti secara paksa. Entah itu hanya perasaanku saja atau memang benar adanya. Sampai aku mendengar suara lembut dan halus mempersilakan kami untuk masuk.


"Silakan masuk Mas.."


Pinta seorang wanita paruh baya yang aku yakini adalah Ibunya Alia. Dengan wajah ramahnya ia tersenyum dan mempersilakan kami masuk tanpa menanyakan identitas kami sebelumnya. Sangat sopan.


Kami menuruti keinginan Ibunya Alia dan bergabung bersama mereka duduk lesehan di dalam ruangan yang ada di lantai dasar menara itu. Urai dan Pak Harry saling melempar mata. Tiba-tiba Urai menganggukkan kepalanya seperti telah menangkap makna isyarat yang diberikan oleh Pak Harry.


"Pak..saya permisi dulu ya, ada pekerjaan lain yang harus saya selesaikan."


Sumpah demi apapun, laki-laki itu tidak menyapa aku ataupun Andri sama sekali. Ia berlalu begitu saja bersama temannya meninggalkan bangunan itu.


"Alan, tolong antar Kak Urai sampai di depan!" Perintah Pak Harry. Suaranya terdengar sangat tegas dan berwibawa, berbeda dengan pada saat canda tawa tadi. Aku menelan saliva ku dengan susah payah. Seperti seorang terdakwa yang akan disidang oleh seorang hakim agung.


"Diminum dulu, Mas.."


Suara lembut Ibunya Alia berhasil mendinginkan tubuhku yang mulai panas terbakar api nervous. Ia menyodorkan dua gelas berisi es kopi yang telah ia buat di meja yang terletak di pojokan bangunan itu. Bangunan ini sangat kokoh dan baru, berbeda dengan rumah mereka yang terkesan reot dan renta.


Aku dan Andri meminum es kopi yang diberikan oleh Ibunya Alia sebelum menyatakan tujuan ku datang ke tempat ini. Namun sebelum aku memulai kata sambutan, Ayah Alia sudah mendahuluiku.


"Alia tidak ada di sini." Ucapnya sambil menyesap asap pembunuh yang kapanpun bisa saja merenggut nyawanya. Kalimat itu ia katakan tanpa menatap wajah kikuk kami berdua. Aku terperenjat.


"Bagaimana bisa beliau tahu jika aku ada hubungannya dengan Alia? Apakah Bapak ini bisa membaca pikiran seseorang seperti Edward Cullen?" Gumam ku di dalam hati.


"Iya..saya tahu, Pak. Kedatangan saya kesini ingin bertemu dengan Bapak dan Ibu." Jawabku mantap.


Walaupun sebenarnya aku sudah mulai gemetaran memandang wajah oriental laki-laki paruh baya itu. Sedangkan istrinya hanya bisa tersenyum ramah membalas tatapan mataku yang seolah mewakili perasaan bingungku saat ini.


"Baiklah, jika kedatangan mu kesini hanya untuk meminta restuku, maka jawabannya tidak!" Ucapnya tegas tanpa mengalihkan pandangannya sama sekali.


DEG


Bagaikan disambar petir di siang bolong. Seluruh tubuhku, menegang dan kaku. Lidahku kelu tak bisa lagi bersilat. Nafasku mulai pendek-pendek bagaikan kehabisan stock oksigen. Sesakit inikah rasanya? Hatiku terpotek sebelum diperjuangkan. Belum juga aku menyampaikan niatku, beliau sudah menolak ku mentah-mentah. Ternyata selama ini aku sudah ter-blacklist di dalam kamus Ayah Alia, malah jauh sebelum ragaku sampai di tempat ini.


Bagaimana bisa? Apa yang beliau ketahui tentang diriku? Sebenarnya apa yang disembunyikan Alia selama ini? Apakah ini ada kaitannya dengan hubungan backstreet yang dulu pernah terjalin? Mungkinkah ini alasan dimana Alia tidak ingin mengekspose hubungan itu? Entahlah, hanya Alia lah kunci jawaban dari semua pertanyaan ku ini.


Bersambung...