
Setelah mengetahui kebenaran tersebut, aku semakin membenci lelaki yang bernama Fahri itu. Bukannya tanpa alasan, penderitaan yang selama ini aku alami bersama Mama sungguh tidak bisa aku lupakan begitu saja.
Pertanyaan-pertanyaan lama yang telah aku kubur mati-matian, kini mulai menari-nari kembali dibenakku. Sebagai seorang anak, aku sangat membutuhkan jawabannya. Jawaban dari pertanyaanku selama ini. Sebenarnya apa alasan dia meninggalkan kami? Dan ... Mengapa dia tidak pernah kembali? Bahkan ia tidak pernah mencari kami.
Mau tidak mau, aku kembali memikirkan hal itu. Aku kembali haus akan jawabannya. Namun siapa yang akan memberikan jawaban atas pertanyaanku? Aufar? Ah, tidak mungkin. Aku malah berkeyakinan bahwa Aufar juga tidak mengetahui hal ini.
Setelah aku pikir-pikir lagi, Fahri pasti mempunyai alasan tersendiri dalam hal ini. Alasan yang tidak bisa difahami oleh pemikiran seorang bocah. Aku tidak bisa menghakiminya begitu saja tanpa mengetahui kebenarannya. Ditambah lagi, setelah bertemu dengan Aufar, aku merasa tidak perlu lagi menemukan jawaban dari pertanyaanku. Bahkan aku telah bertekad untuk melupakan semua ini. Sudahlah, cukup sampai di sini.
Tuhan telah memberikan jalan kehidupan yang lebih baik bagiku dan Mama. Aku merasa bahwa aku harus mensyukurinya. Cukup sudah. Inilah jalan hidupku. Jalan hidup yang sudah ditakdirkan untuk aku dan Mama. Walaupun tanpa sosok seorang ayah, Tuhan tetap mengulurkan TanganNya kepada kami. Jadi, nikmat Tuhan yang manakah yang harus kami dustakan?
***
Hari itu, aku sengaja tidak hadir pada pernikahan Aufar karena, selain aku tidak sanggup melihat wanita yang aku cintai menikah dengannya, aku juga tidak ingin bertemu dengan Fahri. Aku berusaha perlahan menghilang. Menghilang dari lingkungan mereka.
Namun ulah Fana memaksaku untuk menunjukkan eksistensiku kembali. Aku sudah lama mengenal wanita itu, karena dia sering bertemu dengan Jammy. Sudah sering juga ia tertangkap kameraku karena melakukan hal yang selalu mengganggu hidup wanita yang aku cintai.
Sejak saat itulah aku tahu bahwa Jammy juga telah lama memata-matai kehidupan Aufar. Sampai-sampai ia berkonspirasi bersama Fana demi menghancurkan rumah tangga atasan baruku itu.
Aku pribadi memang membenci lelaki yang bernama Fahri, tetapi aku tidak bisa membenci Aufar. Aku yakin dia tidak tahu menahu tentang masalah ini. Terlebih lagi, aku telah mengenal dokter muda itu dengan baik.
Kepribadian Aufar aku rasa sangat pantas untuk diacungi jempol. Terlebih lagi ia mau menerimaku sebagai asisten pribadinya, tanpa mengenal asal-muasalku terlebih dahulu.
Jadi, aku bisa menyimpulkan bahwa Aufar memanglah pribadi yang sangat terpuji. Bahkan ia telah menganggapku sebagai sahabatnya sendiri. Maka dari itu, aku sangat menentang perbuatan kotor Jammy dan Fana. Sudah sering rencana mereka gagal karena ulahku.
Bisa aku fahami, Jammy melakukan hal itu karena ingin menghancurkan kehidupan siapapun yang berkaitan dengan Fahri. Sementara Fana, ia memiliki misi tersendiri di dalam hal ini.
Ada rasa kecewa di dalam hatiku, kenapa Jammy bisa tumbuh menjadi makhluk jahat seperti itu? Untuk apa? Apakah balas dendam merupakan solusi dari sebuah masalah? Tidak. Aku sangat tidak sependapat.
Dalam hal ini aku dan Mama yang lebih banyak menderita. Bukan Jammy. Seharusnya ia lebih bisa menyelesaikan masalah ini dengan cara yang sehat. Bukan malah dengan menjadikan hal ini sebagai ajang balas dendam.
Aku semakin khawatir. Khawatir akan kegilaan apalagi yang akan dilakukan oleh Jammy kedepannya. Berulang kali aku menasihatinya, namun ia tetap kekeuh dengan pendiriannya. Aku yakin, jika Mama mengetahui hal ini, beliau juga tidak akan membiarkan Jammy terlalu dalam terjun dalam jurang kesesatan.
Bukan hanya itu Jammy juga telah merebut lebih dari lima puluh persen relasi dari PT. Anggara Export. Ia berhasil membuat perusahaan itu pincang dan mengalami penurunan drastis.
Ya, yang kalian pikirkan itu memang benar. AJ Export merupakan perusahaan yang telah lama Jammy dirikan dengan tujuan untuk menyaingi PT. Anggara Export. Dengan begitu, Jammy berpikir bahwa pembalasan dendam ini akan menjadi lebih menarik jika dilakukan secara perlahan. Perlahan tapi mematikan.
Namun, hal itu sama sekali tidak sesuai dengan isi hatiku. Ketika aku berusaha ingin memberitahukan kepada Kak Farun tentang masalah ini, Jammy bergerak lebih cepat. Ia memerintahkan antek-anteknya untuk menculikku, adiknya sendiri.
Tentu saja hal itu sangat berpengaruh besar. Ketika perusahaan milik Fahri hampir saja ia lumpuhkan, penyekapan ini pun ia jalankan sesuai rencana. Sungguh planning yang sangat rapih.
Sayang seribu sayang, malang tak dapat ku dihindari. Sejak hari itu Jammy mengurungku di sini, dan mulai menyamar sebagai Aku. Aku tidak tahu bagaimana ia bisa mengecoh semua orang dengan hanya bermodal tampang? Mungkinkan selama ini ia juga menguntitku? Melakukan survey tentang keseharianku? Ah, aku kalah telak. Untuk saat ini ambisi Jammy bisa menang. Ia mulai menjalankan semua rencananya tanpa khawatir aku akan menggagalkannya lagi.
***
Setelah pertemuannya dengan Fana sore itu, Jammy menyadari bahwa Husna, sahabatnya Alia mencurigai dan membuntuti pergerakannya. Aku mengetahui hal ini, karena setiap hari Jammy menemuiku dan menceritakan semuanya padaku.
Awalnya Jammy berencana untuk mencelakai Husna, karena ia merasa bahwa Husna adalah sebuah ancaman baginya. Namun aku memohon dengan sangat bahwa jangan sampai melibatkan orang lain dalam hal ini. Itu sungguh tidak adil. Husna adalah sahabat Alia, terang saja ia akan melakukan apapun untuk menyelamatkan sahabatnya dari kehancuran.
Walaupun baru sekali bertemu dengan gadis itu, namun aku bisa membaca bahwa ia benar-benar tidak suka jika kehidupan sahabatnya terusik.
"Just let her go.." Ujarku setengah memohon pada saudara kembarku yang kejam itu.
Puji syukur, berkat permohonanku, akhirnya Jammy mau berkompromi dan mencoret Husna dari daftar nama sanderanya.
Sebenarnya, hal ini cukup lucu bagiku. Bagaimana Jammy bisa dengan mudah menerima permohonanku? Apakah ia mulai tertarik pada gadis tomboi itu? Ancaman untuk mencelakai Husna itu, mungkin saja hanya akal-akalannya untuk memancing responku.
Ah, itu diluar kuasaku. Terlepas Jammy memiliki perasaan khusus kepada Husna, aku tidak ingin ikut campur di dalamnya. Karena aku juga tidak mengetahui apa sebenarnya yang telah terjadi diantara mereka selama aku berada di sini.
Bersambung..