I Love You Till Jannah

I Love You Till Jannah
Makan Siang Untukmu



Kak Urai beranjak dari kursi kerjanya. Menatap lurus ke arah pintu. Tatapan penuh rencana. Ia tersenyum sinis. Kemudian mendekati pintu dan membukanya.


Ia melihat ke arah meja Yuna yang berada di samping muka pintu. Wanita itu terlihat sedang menatap layar laptop. Entah apa yang sedang ia lakukan.


"Yun, tolong suruh salah satu pelayan merapikan ruanganku." Kak Urai berkata penuh wibawa dan berlalu dari sana tanpa menunggu jawaban dari Yuna.


"Hmmm, dasar boss tampan, masih aja beku." gerutu Yuna dalam hati.


Kak Urai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Setelah lima belas menit berkendara, Kak Urai menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah.


Ia membuka sabuk pengaman, mengambil sebuah amplop yang ia simpan tadi diatas kemudi. Tidak lupa ia juga mengambil ponselnya dan keluar dari mobil.


Kak Urai mengamati sekitar rumah tersebut. Tidak ada yang berubah sejak terakhir kali ia berkunjung. Ia membuka kacamata hitam yang bersandar kokoh pada hidup mancungnya.


Menarik nafas dalam-dalam dan melepaskannya perlahan. Ia memantapkan niatnya. Ia ingin menemui Pak Harry, ayah Alia.


Ia berjalan penuh keyakinan lurus menuju pintu rumah yang sudah terbuka lebar namun tak terlihat satu orangpun di dalam sana.


Tok..Tok..Tok..


"Assalamu'alaikum.."


Kak Urai mengetuk daun pintu sambil mengucap salam. Sejurus suara seorang wanita menjawab salamnya.


"Wa'alaikumsalam.."


Ibu Nana mematikan kompor. Saat itu ia sedang memasak. Mengelap tangannya yang ia rasa lengket bekas minyak makan.


Ia keluar dari dapur menuju pintu tengah sambil menelengkan kepalanya ingin memastikan siapa yang datang.


"Eeeh nak Urai..ayo masuk." Ibu Nana mempersilakan Kak Urai masuk dan duduk.


"Ehm terima kasih bu..Ibu gimana kabarnya?" Tanya Kak Urai yang sudah mendudukkan tubuhnya di sebuah sofa yang terlihat sudah lusuh dan sobek-sobek itu.


"Alhamdulillah baik nak, nak Urai kemana saja? Kok baru main? Biasanya kan sering sekali kesini ketemu bapak." Tanya Ibu Nana sambil tersenyum.


"Hehe..iya bu belakangan ini saya sibuk dengan pekerjaan. Oh iya bu, apa bapak ada?" Sepertinya Kak Urai sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Pak Harry.


"Oh iya Ibu sampai lupa. Tunggu sebentar ya nak. Ibu panggilkan bapak. Beliau sedang berbicara dengan tetangga di sebelah."


Ibu Nana lantas beranjak meninggalkan Kak Urai. Sepeninggalan Ibu Nana, Kak Urai meletakkan amplop yang ia bawa di atas meja. Tak lama setelah itu, terlihat Pak Harry memasuki ruang tamu.


"Assalamu'alaik big boss." Sapa Pak Harry dengan sapaan khasnya.


"Wa'alaiksalam Camer (calon mertua)." Kak Urai tak kalah khasnya menyapa Ayah dari gadis pujaan hatinya itu sambil menjabat tangan Pak Harry dan mencium punggung tangannya.


"Haha..sudah tidak sabar menjadi menantu Bapak ya? Alia masih kuliah boss, tahan dulu." Ejek Pak Harry, membuat Kak Urai menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"I-iya Pak.."


Mereka mengobrol ngalur ngidul membicarakan berbagai topik. Memang terbilang sudah lama Kak Urai tidak berkunjung kesana. Membuat Pak Harry benar-benar tidak ingin menyia-nyiakan kebersamaan mereka.


Setelah kurang lebih dua jam menghabiskan waktu dengan Pak Harry, ia pamit untuk kembali ke cafe miliknya.


Pak Harry sebenarnya masih menahannya untuk makan siang bersama. Namun Kak Urai Menolak karena masih ada urusan yang harus diselesaikan.


***


Di Kota Seberang Alia sedang berada di dapur. Ia memasukkan makanan ke dalam kotak makan.


Kotak makan itu terdiri dari empat bagian. Bagian pertama yang ukurannya lebih luas ia isi dengan nasi putih penuh.


Kemudian bagian kedua ia memasukkan 2 potong ayam kecap. Bagian ketiga diisi dengan sayur sop yang sudah dibungkus plastik kecil. lalu bagian terakhir yang paling kecil ia isi dengan sambal terasi khas Alia.


Wajahnya tersenyum merekah setelah melihat satu paket makan siang itu sudah siap. Ia bergegas mandi kemudian shalat dzuhur.


Setelah melaksanakan shalat dzuhur, Alia bersiap-siap untuk menemui Aufar yang kapalnya sudah sandar di pelabuhan satu jam yang lalu.


Ia ingin memberikan kejutan kecil kepada Aufar dengan membawakan makan siang buatannya.


Alia menggunakan kaos putih panjang dengan rompi berwarna putih tulang. Celananya berwarna abu-abu muda dengan kerudung warna putih motif hijau. Jurus memikat level satu🤭. Kira-kira Aufar tambah kesemsem nggak ya?


Setelah selesai bersiap-siap, Alia pamit kepada Isni untuk menemui Aufar. Awalnya Isni merengek ingin ikut, tetapi Alia berhasil membujuknya dan ia tetap di rumah menunggu Alia pulang dengan membawa martabak kesukaannya. Isni...Isni...gampang banget jinakinnya. Cukup dikasi martabak telor😅.


Alia melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Di perjalanan tak henti-hentinya ia menatap kotak makan yang ia cantolkan di bawah kemudinya.


Tidak perlu waktu lama Alia telah sampai di Pelabuhan Dwikora karena memang jarak dari rumah kontrakannya ke tempat itu tidak jauh. Ia memarkirkan motor dan melepas helmnya


Tak lupa ia mengambil kotak makan dan melihat wajahnya di kaca spion. "Duh, kok makin dekat makin deg-degan ya?" Batinnya sambil merapikan kerudungnya yang sedikit berubah bentuk karena tekanan helm.


Ia berjalan mendekat dan memandangi kapal yang menjadi saksi pertemuan pertamanya dengan kekasih hatinya itu.


Sampai saat ini Alia masih belum percaya bahwa Aufar telah menjadikan ia bagian terpenting dalam hidupnya.


Cara Aufar yang memperlakukannya sangat baik membuat ia semakin jatuh ke dasar hatinya. Setiap tutur kata Aufar bak mengandung sihir yang membuat Alia semakin terpaut padanya.


Alia mengambil ponsel dalam tasnya dan mencari kontak yang ingin ia hubungi. "Nah, dapat," batinnya.


"Assalamu'alaik sayang..sudah di pelabuhan ya?"


"Aku sudah melihatmu sayang, coba lihat ke puncak kapal!" Aufar melambaikan tangannya kepada Alia. Ketika itu juga Alia juga membalas lambaian tangan Aufar.


"Kamu kesini ya, aku tunggu di pintu masuk." Tanpa menunggu jawaban dari Alia, Aufar memutus teleponnya dan menuruni anak tangga.


Alia berjalan mendekati kapal dan berhenti di pintu masuk. Aufar menyambut kedatangan kekasih hatinya itu dengan wajah sumringah dan penuh semangat.


"Yuk, aku ajak jalan-jalan di kapal." Aufar menarik pelan lengan Alia. Tanpa penolakan Alia mengekori Aufar.


"Mas, penumpangnya udah pada keluar ya?" Alia celingukan memandang kesana kemari melihat tidak ada satu penumpang pun di setiap dek (lantai kapal). Hanya terlihat beberapa ABK yang mulai menyapa Aufar dan Alia satu persatu.


"Iya sayang, kan sandarnya sudah satu jam yang lalu." Jawab Aufar yang masih berjalan mendahului Alia.


"Kita mau kemana Mas?" Tanya Alia penasaran. Saat ini mereka berada di dek empat (lantai empat).


"Sssst...kejutan sayang." Aufar membalikkan wajahnya memandang Alia sambil menempelkan jari telunjuk di bibirnya.


Lagi-lagi Alia masih setia mengekori Pria tampannya itu. Sejurus kemudian Aufar berhenti di depan pintu. Sepertinya pintu sebuah kamar.


Alia kaget, wajahnya memucat. Apa yang akan Aufar lakukan padanya? Mengapa ia membawa Alia ke sebuah kamar? Apakah Aufar ingin...?


Alia jadi gelapan ketika Aufar membuka pintu kamar itu dengan kunci yang diambil dari sakunya.


"Ayo sayang masuk." Aufar dengan santainya menarik tangan Alia yang masih mematung di depan pintu.


"Ma-mas ini kamar si-apa? Ke-napa Mas me-mengajakku ke-kesini?" Alia mulai terbata-bata. Ia mulai memikirkan hal-hal aneh. Dadanya kembang kempis nafasnya mulai pendek-pendek karena takut.


"Haha..kamu kenapa sayang? Tenang saja aku tidak akan aneh-aneh. Ini kamarku." Aufar menjawab sambil tergelak melihat ekspresi wajah Alia.


"Ma-mas janji ya nggak aneh-aneh. Kalau tidak aku pergi nih." Ancam Alia yang ketika itu mulai berbalik arah. Sejurus Aufar menarik pergelangan tangannya. Membuat Alia terhenti dan menoleh ke belakang.


"Sayang..kamu nggak percaya padaku?" Tatapan mereka bertemu. Alia mencoba mencari kebohongan di manik mata hitam kecoklatan itu. Namun ia tak menemukannya.


Ia berusaha mempercayai Aufar dan kemudian ikut masuk ke dalam kamar. Aufar menutup kembali pintu kamar tersebut tanpa menguncinya.


"Sayang...kamu bawa apa?" Aufar mengalihkan pandangannya ke tangan kiri Alia. Sejurus Alia tergelak karena melupakan niat awalnya menemui Aufar.


"Eh iya lupa, ini aku bawakan makan siang untukmu Mas..." Sambil menyodorkan kotak makan yang terbungkus paper bag itu kepada Aufar.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Kira-kira habis ini mereka mau ngapain hayooo? Penasaran? Stay tune ya gengs🙏