
Alia masih mematung di hadapan Kak Urai. Tatapan hangat Kak Urai terlihat masih menunggu jawaban dari Alia. Namun bukan itu yang ia harapkan. Alia mau memberikan respon seperti apapun itu sudah tidak penting untuknya. Bisa menatap Alia sedekat ini saja sudah cukup baginya. Melepaskan kerinduan yang sudah tak terbendung.
Lama mereka di posisi itu dan akhirnya Alia memutus kontak matanya terlebih dahulu. Alia kembali menatap jauh ke tengah lautan. Ia bingung, apa yang harus ia katakan kepada Kak Urai? Haruskah ia jujur mengenai hubungannya dengan Aufar? Haruskah ia jujur tentang perasaannya? Apakah laki-laki ini bisa melepaskannya begitu saja?
Ia sangat tahu keluarga Kak Urai mempunyai pengaruh besar di kotanya. Ia juga sangat tahu dimana posisi keluarganya. Akankah keluarga Kak Urai rela Putra Tertua di keluarga mereka bersanding dengan gadis biasa dari keluarga bawahan sepertinya? Ah...memikirkannya saja sudah menyiksa jiwa apalagi menjalani kenyataannya nanti.
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu menari-nari di kepala Alia. Sepertinya dilema level dua hinggap di hatinya. Lagi-lagi jiwa labilnya keluar. Berada diantara dua pilihan. Membuatnya bingung tingkat dewi. Baru saja ia mengambil keputusan tadi malam. Eh, pagi ini ia harus dihadapkan dengan Kak Urai. Laki-laki yang sudah terang-terangan sudah mendapat restu dari Ayahnya.
"Ya Tuhaaan, andaikan hati ini tak pernah ada bagaimana aku bisa mencinta.?Jika cinta itu tidak ada, bagaimana aku bisa merasakan betapa indahnya? Setelah cinta itu hadir, mengapa aku harus memilih antara cinta dan persahabatan? Mengapa harus ada pilihan dalam kisah cintaku? Betapa jelas aku sangat mencintai Aufar. Namun Ayah tak memberikan restunya kepada kami. Tadi malam mimpiku bertemu Aufar seperti nyata, tetapi mengapa yang menyatakan cintanya pagi ini malah Kak Urai? Aku harus bagaimana Tuhan?" Batin Alia.
"Al..."
Suara Kak Urai membuyarkan lamunan Alia. Ia terperanjat. Hampir melupakan bahwa Kak Urai masih berada di sampingnya.
"I-iya Kak, maaf..aku..."
"Jika kamu belum siap, kamu tidak perlu menjawabnya Al.." Lagi-lagi Kak Urai tidak ingin mendengar penolakan Alia.
Ia sebenarnya menyadari ada sosok pria lain di dalam hati gadis 18 tahunnya itu. Namun ia tidak akan berhenti begitu saja. Ia harus memiliki Alia. Ia harus menghapus nama laki-laki itu dari hatinya. Ia harus secepat mungkin bertindak sebelum semuanya terlambat. Tidak ada kata kalah dalam kamus Kak Urai. "Dalam hal mencinta tidak ada yang tidak mungkin, hanya butuh waktu," batinnya.
Setelah sang fajar menampakkan cahayanya, Kak Urai mengajak Alia pulang bersamanya. Ia mengantarkan Alia sampai depan pintu rumah. Setelah memastikan gadis kesayangannya itu masuk, ia langsung melajukan mobilnya meninggalkan rumah Alia.
"Itu nak Urai? Kenapa tidak diajak masuk Al? Tanya Ibu Nana yang sedang memotong sayur di dapur.
"Katanya buru-buru, Bu. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan." Jawab Alia sambil mendudukkan tubuhnya di samping sang Ibu. "Biar Alia bantu ya, Bu." Alia mengambil alih pekerjaan Ibu Nana.
"Nak Urai itu sudah baik, sholeh, tampan, mapan lagi, iya kan Al?" Alia menaikkan salah satu alisnya mendengar pujian sang Ibu terhadap laki-laki yang sudah melamarnya itu.
"Maksud Ibu?"
"Iya, maksud Ibu cocok sekali dijadikan calon imam masa depan." Ibu Nana sengaja menggoda Alia.
"Jadi Ibu sudah berpindah haluan ya? Katanya bakal dukung apapun yang bikin Alia bahagia?" mencebikkan bibirnya.
"Tidak seperti itu, nak..Ibu hanya becanda kok. Jangan cemberut gitu dong. Nanti cantiknya hilang lho.." Ibu Nana merangkul pundak Alia dengan memberikan senyuman hangatnya.
"Alia jadi bingung, Bu."
"Bingung bagaimana? Coba ceritakan sama Ibu." Sepertinya jurus memancing Ibu Nana sudah termakan oleh Alia. Ia sengaja menggoda Alia agar ia mau menceritakan isi hatinya.
"Ibu pasti sudah tahu kan kalau Kak Urai sudah melamar Alia kepada Ayah?" Tanya Alia dengan tatapan sendunya.
"Iya, lantas kenapa kamu bingung?"
"Alia tidak mau menikah dengan Kak Urai, Bu. Alia mencintai Aufar." Air mata yang telah ia bendung sekuat mungkin sudah menembus dinding pertahanannya. Mengalir deras begitu saja tanpa hambatan.
"Alia sayang...yang memaksa kamu menikah dengan nak Urai siapa? Memang benar nak Urai sudah melamarmu, tapi Ayahmu tidak semerta-merta menerima lamarannya tanpa persetujuanmu, nak." Jelas Ibu Nana.
Dari dulu Alia memang tidak suka membagi masalahnya dengan orang lain. Ia lebih nyaman mencurahkan semua isi hatinya kepada sang Ibu. Sifat Ibu Nana yang bisa menjadi sahabat untuk kedua anaknya ini. Membuat anak-anaknya tidak sungkan untuk bercerita dengan terbuka layaknya seorang teman.
"Ibu rasa, Ayahmu punya alasan tersendiri, nak. Yang perlu kamu ketahui. Ayahmu sangat menyayangimu. Ia pasti ingin hidupmu kelak jauh lebih baik dan lebih bahagia dari yang kamu dapatkan dari kami saat ini. Tidak ada orang tua yang ingin anaknya melarat. Ayahmu hanya realistis, sayang. Hidup ini lebih kejam dari yang kamu bayangkan."
Penjelasan Ibu Nana seperti memberikan pencerahan tersendiri untuk Alia. Ia sendiri bingung mengapa kata-kata Ibunya lebih mengena dihatinya daripada kata-kata sang Ayah? Ia berpikir sejenak, lalu tersadar bahwa kali ini ia telah salah menilai Ayahnya.
"Ibu tidak akan memaksa kamu meninggalkan dan melupakan perasaanmu kepada Aufar. Hanya saja pesan Ibu, kamu harus tetap menjadi anak yang berbakti baik kepada Ibu ataupun Ayahmu. Pilihan ada ditanganmu, nak." Lanjut Ibu Nana sambil mengusap lembut kepala anak gadisnya yang masih terbungkus kerudung lebar.
"Iya, Bu." Alia menyerahkan sayur yang telah selesai ia potong.
"Ya sudah, kamu bantu Ibu siapkan sarapan ya. Sebentar lagi Ayahmu berangkat bekerja." Ibu Nana beranjak dari tempat duduknya menuju meja kompor untuk memulai aksinya.
"Apa Alan sudah berangkat ke sekolah, Bu?" Alia celingak celinguk mencari sosok sang adik kesayangannya.
"Iya, tadi jam 6.30 WIB ia sudah berangkat. Katanya tidak ingin terlambat lagi." Jawab Ibu Nana yang tidak mengubah posisi tubuhnya.
"Memangnya Alan sering terlambat ke sekolah, Bu?"
"Biasalah adikmu itu, susah sekali dibangunkan pagi-pagi. Kadang Ibu sampai emosi jiwa, haha." Ibu Nana tergelak mengingat bahwa ia pernah membawa sapu untuk membangunkan Alan.
Alia ikut tertawa mendengar cerita Ibunya. Sejenak ia bisa melupakan masalah hati yang membuatnya sedih tadi.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Terima kasih untuk jempolnya ya🙏
Kritik dan saran terbuka lebar💞