I Love You Till Jannah

I Love You Till Jannah
POV Aufar Dwi Anggara Part 1



Namaku Aufar Dwi Anggara. Putra kedua dari Fahri Anggara, Presiden Direktur Perusahaan Ekspor dan Impor terbesar di Kota Surabaya, PT. Anggara Export. Namun darah pebisnis tidak mengalir didalam tubuhku karena aku adalah seorang dokter. Disini aku akan bercerita sedikit tentang keluargaku.


Perusahaan Papa bergerak dalam bidang jasa ekspor dan impor segala jenis barang baik di dalam ataupun luar negeri. Tentunya barang legal ya guys☺️. Mulai dari makanan, minuman, obat-obatan, kosmetik, bahkan perhiasan dan barang-barang berharga lainnya.


Selain itu, Papa juga mengepakkan sayap bisnisnya dalam bidang kuliner dan pariwisata. Beliau membangun beberapa restoran India dan resort di beberapa Daerah yang notabennya memiliki tempat wisata yang gemar dikunjungi oleh turis dari dalam maupun luar negeri.


Dalam beberapa tahun setelah memulai bisnis barunya, usaha kuliner dan pariwisata Papa berkembang sangat pesat bahkan semakin bertambah cabang.


Namun ada beberapa yang dibuat atas namaku. Mungkin karena aku tidak ingin melibatkan diri dalam hal ini, Papa membujukku dengan cara halus. Papa sangat bijaksana dan adil, untuk semua aset dari bisnis kuliner dan pariwisatanya ia bagi menjadi dua kepemilikan, yaitu aku dan kakakku.


Jadi secara otomatis setiap bulannya pemasukan dari bisnis-bisnis itu terkredit secara otomatis ke rekening pribadiku. Awalnya aku menolak, karena aku tidak turut andil dalam semua ini, namun lagi-lagi Papa tidak ingin ditolak.


Aku mengalah. Toh, uang itu tidak pernah aku gunakan untuk keperluan pribadiku. Biarkanlah itu menjadi tabungan ghaib yang tidak pernah ku anggap ada. Mungkin suatu saat nanti aku akan membutuhkannya.


Yang perlu kalian ketahui lagi, di samping kesuksesan seorang Fahri Anggara terdapat sosok wanita yang sangat sabar dan berdedikasi tinggi. Ya, Mamaku tersayang, Dayani Anggara.


Sejak menikah dengan Papa julukan sebagai Ny. Anggara sudah tidak bisa lagi ditolak oleh Mama. Padahal Mama lebih suka jika orang lain menyapa dengan nama aslinya.


Mamaku adalah wanita yang sangat luar biasa dan penyayang. Mama adalah wanita yang kuat dan sabar. Mama selalu ada untuk Ayah, aku, dan kakak. Keluarga kami adalah keluarga yang sangat harmonis. Jauh sekali dari kata-kata dan perilaku kasar. Semuanya dibangun dengan cinta dan kasih sayang.


Untuk kakakku, Aufira Eka Anggara, kami hanya dua bersaudara. Kakak sudah menikah dengan seorang laki-laki blasteran Indonesia-India, Farun Malhotra. Mereka dikaruniai dua orang anak, laki-laki dan perempuan.


Kak Farun saat ini menjabat sebagai Wakil Direktur di Perusahaan Papa. Kak Farun juga membantu Papa dalam bisnis Kulinernya. Restoran India itu dibangun atas ide cemerlang Kak Farun. Sedangkan Kak Fira, setelah melahirkan anak pertamanya, ia memilih untuk fokus menjaga dan mendidik anak-anak mereka di rumah.


***


Sebenarnya posisi Kak Farun sudah disiapkan oleh Papa untukku, karena sebagai anak laki-laki satu-satunya, Papa sangat menginginkanku menjadi penerus perusahaan yang beliau rintis dari nol itu.


Namun sebagai seorang dokter, tidak mungkin aku menerimanya. Apalagi aku sangat tidak tertarik dalam dunia bisnis. Tekadku sudah bulat, aku ingin menjadi seorang dokter sepenuhnya, titik. Toh, sudah ada Kakak iparku yang membantu jalannya perusahaan dan bisnis Papa.


Entah apa yang membuatku sangat tertarik dengan profesi ini, yang jelas aku selalu tidak tega jika melihat orang menderita karena kesakitan. Jiwa superhero ku selalu meronta-ronta ketika aku berhadapan dengan hal itu. Aku hanya ingin membantu orang-orang yang menderita karena penyakit. Bukankah hal itu berpahala besar?


Awalnya keluargaku menentang keinginanku untuk melanjutkan pendidikan dalam ilmu kedokteran, tapi lagi-lagi aku bersikukuh dengan pendirianku. Setelah melewati diskusi dan perdebatan kecil, akhirnya kedua orang tuaku mengalah. Mereka hanya bisa pasrah. Namun dengan satu syarat, aku harus menyelesaikan pendidikanku di kota ini.


Setelah aku menyelesaikan jenjang S1 dan lulus dengan predikat terbaik, banyak sekali rumah sakit yang menawarkan pekerjaan dan malah ingin menarikku langsung untuk bekerja dengan mereka.


Tentunya dengan tawaran gaji yang sangat menggiurkan. Namun aku menyadari, jika aku bekerja di kota kelahiranku ini maka sewaktu-waktu Papa akan tetap menarikku ke perusahaan di luar jam kerjaku.


Maka dari itu, aku memutuskan untuk mengambil pendidikan spesialis di Ibu Kota Negara. Setelah menyelesaikannya aku langsung mendapatkan kontrak kerja di sebuah rumah sakit ternama disana. Tentunya aku tidak melalui semua ini sendirian, melainkan dengan sosok seorang yang sangat berharga bagiku.


Andri, sahabatku. Bagiku sahabat adalah segalanya. Ia adalah satu-satunya sosok yang selalu ada bersamaku dikala suka maupun duka. Andri juga adalah seorang dokter. Kami menempuh pendidikan di Universitas yang sama sejak dari awal perkuliahan.


Hanya saja, setelah menyelesaikan pendidikan profesinya, Andri memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya, yaitu pulau borneo. Sejak saat itu, aku dan Andri terpisah jarak. Kami hanya bisa menyambung tali silaturrahmi via telepon maupun sosial media.


Bahkan sesekali kami bertemu ketika Rakor (Rapat Koordinasi) IDI (Ikatan Dokter Indonesia). Sebenarnya hal itu bukan hanya sekedar rakor, namun juga menjadi ajang reuni dan pelepasan rindu kepada semua rekan-rekan dokter di seluruh Indonesia. Tak terkecuali bagiku dan Andri.


Entah ini sebuah keberuntungan atau memang sudah takdirku. Aku sangat bersyukur ketika aku bertemu Andri pada rakor awal tahun 2010. Ia menginformasikan kepadaku bahwa ada MOU baru antara pihak rumah sakit dan pelayaran.


Akhirnya aku yang memiliki jiwa petualangan tinggi ini, tidak ingin melepaskan kesempatan emas itu begitu saja. Aku mengambil kontrak tersebut. Papa dan Mama sudah pasrah dengan keputusanku. Toh, walaupun aku bekerja di Jakarta, mereka juga tidak bisa selalu bertemu denganku.


Sejak pertengahan tahun 2010 aku mulai bekerja di kapal ini, Kapal Marissa Nusantara. Aku sangat enjoy bekerja disini. Suasana dan tempat baru membuatku betah dan menyatu dengan orang-orang baru disini.


Kekompakan semua awak kapal dan para ABKnya membentuk satu jalinan keluarga. Apalagi aku menemukan sosok yang aku rasa sangat tepat untuk dijadikan sahabat. Ya, dialah Rizky.


Rizky merupakan salah satu ABK di kapal ini. Keakraban kami sudah terjalin sejak awal pertemuan. Apalagi usia kami yang tidak terpaut jauh. Rizky lebih muda satu tahun dariku.


Sifat Rizky yang cenderung humoris membuatku merasa nyaman. Hingga akhirnya aku memutuskan satu kamar dengan Rizky karena fasilitas kamar dokter yang disediakan untukku terkesan menyendiri membuatku kurang bersemangat.


Jadi, membaur dengan para ABK sudah menjadi hal yang biasa bagiku. Sungguh mengasyikkan. Bahkan semua awak kapal sudah menjulukiku sebagai ABK Eksclusive. It's okay, aku sama sekali tidak keberatan, bagiku tidak ada bedanya antara aku dan mereka.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Sambung next chapter ya gengs, terlalu banyak untuk digabung dalam satu bab😁


Itu minta tolong bintang lima dipincit yah, like dan komen jgn lupaaaa 😍🙏



Nih, aku kasi foto babang Aufar abis disumpah. Bukan sumpah serapah ya gengs😁 tapi sumpah profesi,,wkwkwk