I Love You Till Jannah

I Love You Till Jannah
Pulang Kampung



Sudah dua hari terhitung dari tragedi terbawa kapal itu, Alia belum juga dapat kabar dari Aufar. Ia yakin malam ini Aufar akan menghubunginya.


Ia akan memberitahu Aufar bahwa besok dirinya akan pulang kampung terlebih dahulu menghabiskan waktu libur semester. Menggunakannya sebaik mungkin untuk melepas rindu dengan keluarganya.


Setelah menyelesaikan shalat isya', Alia mengajak Isni untuk makan bersama. Ketika sedang makan malam, ponsel Alia berdering.


Drrrrt...


Dengan semangat empat lima, ia berlari ke kamar untuk mengambil ponselnya yang ia letakkan di atas meja. Namun sejurus raut wajahnya berubah Kecewa setelah melihat panggilan tersebut bukan dari Aufar melainkan dari Kak Urai.


"Assalamu'alaik Kak..."


"Wa'alaiksalam..Al..jadi pulang besok?"


"InsyaAllah jadi Kak.."


"Mau aku pesankan tiket penerbangan? Setidaknya perjalananmu akan lebih singkat dan cepat."


"Hmmmm tidak perlu Kak, terima kasih. Aku pulang naik motor aja bersama teman-temanku."


"Yakin Al?"


"Iya yakin Kak.."


"Baiklah, jika itu memang maumu. Hati-hati di jalan ya."


"I-iya Kak."


"Emm...Al...."


"Iya Kak..?"


"Nggak jadi deh...ntar aja kalo kamu udah disini. Aku tutup teleponnya ya, Assalamu'alaik


"Wa'alaiksalam.."


Kemudian Alia kembali ke dapur untuk melanjutkan makan malamnya bersama Isni. Melihat raut wajah Alia yang ditekuk, membuat Isni tersenyum usil.


"Bukan Kak Aufar ya Al?"


"Kok Tahu Is?"


"Nah, itu wajahmu di tekuk gitu. Ada apa?"


"Aku bingung Is, padahal udah waktunya kapalnya sandar tetapi kenapa belum ada juga kabar darinya."


"Mungkin ada keterlambatan, positive thinking aja Al.."


"Iya juga ya Is. Tapi aku bahkan belum memberitahunya kalau kita akan pulang kampung besok." Sambil memegang sendok mengacak-ngacak nasi goreng dalam piringnya.


"Kenapa tidak kau kirimkan pesan singkat aja padanya. Setidaknya ia bisa membacanya dan cepat menghubungimu jika sudah tiba disana." Saran bijak Isni sambil mengunyah santai satu suap besar nasgor buatan Kak Verni.


"Eh, iya ya kenapa aku tidak berpikiran seperti itu. Sebentar ya Is.." Ia kembali ke kamar dan meraih ponselnya kembali. Mengetik pesan singkat untuk Aufar.


Setelah itu ia kembali menemui Isni dengan wajah yang nampak lebih baik dari sebelumnya. Mereka melanjutkan makan malamnya bersama.


***


"Kenapa Alia tidak menghubungi juga?" Gumam Ibu Nana yang sedang mondar mandir dalam kamar sambil menggenggam ponselnya.


"Ibu kenapa sih? Udah kayak seterikaan aja kesana kemari." Tanya Pak Harry sambil menyerngitkan dahi.


"Ibu nungguin telepon dari Alia Pak." Masih pada posisi sebelumnya.


"Loh, kenapa nggak Ibu aja yang menghubungi Alia duluan?" Saran kecil dari Pak Harry.


"Eh, iya ya Pak. Kok nggak kepikiran dari tadi, hehe." Ibu Nana terkekeh dan mulai mencari kontak Alia di ponselnya. Ibu dan anak kok sama ya?🤭


Tuuuuut...tuuuuuuut.....


"Assalamu'alaik Bu..."


"Wa'alaiksalam..kamu dimana nak? Jadi pulang hari ini?"


"Iya jadi Bu, ini bentar lagi kami berangkat."


"Baiklah, kabari Ibu jika sudah sampai pelabuhan ya."


"Iya Bu.."


"Ya udah Ibu tutup dulu, Assalamu'alaik.."


"Wa'alaiksalam Bu."


Alia menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas dan melajukan motornya berboncengan dengan Isni. Mereka pulang bertiga bersama Kak Verni. Mengulang perjalanan yang setiap semester mereka lalui.


***


Keesokan harinya pagi-pagi sekali mereka sudah berada di rumah masing-masing. Sebelum pulang ke rumah Alia mengantar Isni terlebih dahulu.


Ketika sampai di halaman rumahnya, Alia memperhatikan secara detail. Tidak ada yang berubah dari bangunan rapuh yang menjadi tempat berteduh keluarganya saat ini.


Membuatnya merasa prihatin dan menghembuskan nafas berat. "Aku harus merubah perekonomian keluarga ini." Gumamnya penuh keyakinan.


Ibu Nana yang sudah mendengar suara motor Alia berlari dari dapur. Ia benar-benar sudah tidak sabar ingin bertemu dengan anak sulungnya itu.


Ketika sampai di muka pintu, terlihat wajah lelah anaknya setelah perjalanan jauh namun tidak mengurangi kecantikannya. Ibu Nana menghambur memeluk Alia yang masih berdiri di samping motornya.


"Sayang...Ibu kangen sekali sama kamu." Ibu Nana mengeratkan pelukannya dan sayup terdengar isakan kecil di telinga Alia.


"Alia juga kangen Bu.." Kedua anak dan Ibu itu sama-sama melepas kerinduannya sejenak. Kemudian Alia melepaskan pelukannya. Meraih tangan kanan Ibunya dan mencium punggung tangannya.


Alia beralih memeluk Ayah kesayangannya itu. Mencium aroma khas tubuh laki-laki paruh baya yang membesarkannya itu. Pak Harry menghujani puncak kepala Alia yang tertutup kerudung itu dengan banyak kecupan.


"Alia merindukan Ayah juga." Suara Alia terdengar parau namun masih terdengar oleh Pak Harry.


"Ayah juga sangat merindukanmu nak. Ayo masuk." Pak Harry melepaskan pelukannya namun tetap merangkul tubuh Alia dari samping dan membawa Alia masuk ke dalam rumah. Disusul oleh Ibu Nana dengan membawakan tas ransel milik Alia.


Ibu Nana sudah menyiapkan makanan kesukaan Alia. Sudah menjadi kebiasaannya, selalu memasak makanan favorit anak gadisnya itu ketika anaknya pulang kampung. Ia menyuruh Alia membersihkan diri kemudian sarapan bersama.


Ketika sedang sarapan bersama, Alia menghentikan aktivitas makannya. Ia teringat sesuatu. Seperti ada yang kurang dari family member yang ada di meja makan itu.


"Bu, Alan kemana?"


"Nggak usah ditanya nak, hari libur begini pasti adikmu itu masih berjalan di alam mimpinya, nak. Wong tidurnya aja setelah shalat subuh kok." Jawab Ibu Nana yang sedang mengambilkan makanan untuk Pak Harry dan Alia secara bergantian.


"Oh iya ya ini hari minggu. Emmmm...Sudah Bu cukup, makasih ya." Alia tersenyum.


"Bagaimana kuliahmu Al?" Pak Harry membuka percakapan serius.


"So far so good yah, hanya saja untuk nilai ujiannya belum keluar. Masih menunggu." Sambil mengunyah makanan nikmat buatan Ibunya.


"Emmmm...masakan Ibu emang the best lah. Ini yang bikin Alia selalu kangen rumah. Tambah lagi Bu ikannya." Menyodorkan piringnya meminta tambahan makanan.


Ibu Nana memasak menu ikan gabus asam pedas dicampur potongan nanas dan tidak melupakan tahu dan tempe gorengnya. Menu ini selalu ia hidangkan untuk menyambut kepulangan anak gadisnya dari perantauan.


Ibu Nana yang tersenyum bahagia, memasukkan sepotong ikan gabus dan beberapa potongan nanas ke dalam piring Alia. Ia dengan antusias menikmati makanan yang sudah lama tidak menggoyang lidahnya itu.


Ketika sedang asyik bercerita, ponsel Alia berdering. Ia mengambil ponsel di dalam tas kecil yang tergeletak di lantai dan melihat sebuah panggilan masuk dari Aufar. Alia mengalihkan pandangannya ke arah sang Ayah kemudian masuk ke kamar untuk menerima telepon.


"Assalamu'alaik Mas.." Suara Alia terdengar lirih.


"Wa'alaiksalam..sayang maaf aku baru menghubungimu. Kapal 2 hari terombang ambing di laut karena ada masalah dengan mesinnya jadi kami baru sampai di Jakarta tadi subuh. Kamu dimana? Jadi pulang kampung?"


Aufar berkata penuh penyesalan. Sepertinya ia sudah membaca pesan singkat yang Alia kirimkan beberapa hari yang lalu.


"Iya Mas nggak papa. Makasih sudah menghubungiku. Ini aku sudah di rumah baru nyampe tadi jam enam." Jawab Alia yang masih mengecilkan volume bicaranya. Khawatir terdengar oleh Ayah dan Ibunya.


Aufar yang mengertikan, tidak mempermasalahkan hal itu. Ia juga menyadari bukan waktu yang tepat untuk mengenalkan sosoknya kepada keluarga Alian. HaI itu sudah pernah mereka bahas sebelumnya.


"Oh, ya udah sayang kamu lanjut istirahat ya. Aku udah tenang bisa dengar suara kamu. Membuat semangat kerjaku yang tadinya pada menjadi membara."


Alia terkekeh mendengar kalimat itu. Namun tetap saja membuat pipinya merona seperti udang rebus.


"Aaaah Mas ini pinter aja disuruh gombal." Berkata malu-malu tetapi sebenarnya hatinya jingkrak-jingkrak.


"Tapi kamu seneng kan sayang? Setahuku wanita itu sangat bahagia walaupun hanya mendengar gombalan kecil."


Aufar kembali menggoda Alia. Membuat Alia hanya tertawa kecil dibuatnya. Jauh darinya saja membuat Alia sebahagia ini apalagi dekat dengannya. Pria itu benar-benar penguasa hati.


"Nah...profesor cinta mulai berteori. Ya udah mas juga istirahat ya sebelum melanjutkan perjalanan berikutnya."


"Haha...Oke sayangku, nanti aku telepon lagi ya kalau kamu ada waktu luang. Miss you sayang. Assalamu'alaik.."


"Iya Mas, miss you too, wa'alaiksalam.."


Alia menyimpan ponselnya diatas tempat tidur dan kembali ke dapur menemui Ayah dan Ibunya yang sudah selesai sarapan.


Sebenarnya Ibu Nana ingin bertanya langsung siapa yang menelpon Alia tadi. Ia yakin ada hubungannya dengan foto yang ia lihat tempo hari. Namun ia urungkan mengenang ada suaminya disana. Ia akan membicarakan hal itu dengan Alia empat mata saja dari hati ke hati.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Siapa yang kangen masakan Ibu terus pulang kampung?


Tetap like dan vote ya temaaan. Terima kasih🙏🙏