
BRUUKK...
Tubuh Kak Urai ambruk di lantai tak sadarkan diri. Tentu saja hal itu membuat Isni dan beberapa orang yang berada di sana tersentak dan memekik kecil dalam kabut kepanikan.
"Kak...Kak Urai...Kak..bangun, Kak.." Wajah Isni yang memang terlihat merah karena prosesi tangas tadi, malah tambah merah karena raut resah, kalut, dan khawatir bersatu padu menggerogoti jiwanya.
Secara, orang yang paling ia sayangi dan masih bersenda gurau di dalam gulungan tikar tadi, tiba-tiba terkulai tak sadarkan diri di lantai. Isni sudah tak bisa menahan cairan bening yang sejak tadi membingkai kedua bola matanya. Air kekhawatiran akan sang kekasih mencelos begitu saja menggenangi kedua pipinya.
Beberapa orang di sana, langsung membopong berjama'ah tubuh kekar Kak Urai dan membaringkannya di atas sofa di ruang tamu kediaman keluarga Isni.
Ya, prosesi tersebut dilakukan di rumah orang tua Isni yang terletak bersebelahan dengan desa Alia.
Tak lama kemudian, tiba-tiba dari pintu masuk, Selvia dan Mamanya berjalan tergesa-gesa menghampiri Isni yang masih berusaha membuat Kak Urai sadar dengan menggosok-gosok telapak kakinya.
"Kak Isni, Kak Urai kenapa?" Tanya Selvia sambil mendudukkan tubuhnya di lantai menghadap sang kakak.
"Aku juga enggak tau, Sel. Tadi baik-baik aja kok pas prosesi tangasnya berlangsung, malah sempat bercanda juga. Pas prosesinya selesai, Kak Urai langsung ambruk." Isni menjelaskan kronologi kejadiannya kepada Selvia.
Gadis itu mangut-mangut, lalu meraih telapak tangan kakaknya dan mengambil minyak kayu putih yang berdiri tegap di atas meja. Dituangkannya sedikit cairan dari botol yang beraroma eucalyptus itu pada selembar handuk kecil yang sudah dilipat, lalu memposisikannya di depan hidung Kak Urai.
"Ma, apa perlu kita membawa Kak Urai ke rumah sakit?" Tanya Selvia pada Mamanya.
"Tidak perlu, Sayang. Kakakmu cuma kekurangan oksigen aja." Jawab sang Mama dengan wajah tenang. Ia duduk di samping tubuh putranya yang terbaring tak sadarkan diri sambil memijat-mijat betisnya.
"Benar kata Mamamu Selvia, sebentar lagi Kakakmu pasti akan sadar." Sahut Ibu Sia, mamanya Isni.
Ibu Sia menghampiri calon besannya, memberikan pelukan dan cipika cipiki hangat ala emak-emak sosialita. Lalu ia meminta Isni membersihkan tubuhnya terlebih dahulu dan dijawab dengan anggukan kepala oleh sang putri. Sementara Selvia masih berusaha melakukan pertolongan pertama agar Kak Urai segera sadar.
Isni pamit kepada calon mertua dan adik iparnya, lalu berjalan dengan langkah gontai menuju kamarnya. Sumpah demi apapun, Isni masih tidak tenang. Walaupun Bundanya mengatakan bahwa Kak Urai akan baik-baik saja, namun hati Isni masih terus mengkhawatirkan kemungkinan buruk yang akan menimpa sang calon suami.
Bagi Isni, Kak Urai adalah sosok yang tangguh dan kuat. Tidak mungkin prosesi seperti itu saja bisa membuatnya tak sadarkan diri. Ia masih gamang. Apakah ada faktor lain? Penyakit yang tidak ia ketahui, misalnya. Isni bergelut sendiri dengan pikirannya. Sesekali ia menyeka air matanya yang terus mengalir membasahi pipi.
Dari awal mengenal Kak Urai, gadis itu sudah jatuh cinta pada pandangan pertama. Namun laki-laki yang dikaguminya itu tak pernah menaruh sedikit perhatian ataupun ketertarikan padanya.
Kala itu, ia berpikir bahwa Kak Urai memiliki hubungan special dengan sahabatnya, Alia. Karena setiap melihat Kak Urai datang ke kontrakan mereka, pasti hanya untuk menjemput Alia. Jarang sekali Kak Urai mau berlama-lama berbicara dengannya. Sorot mata laki-laki itupun sangat mewakili perasaan yang waktu itu memang berharap lebih pada wanita yang sekarang telah menjadi istri dari Dokter Aufar Dwi Anggara itu.
"Huffft..." Isni menarik nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan ketika memorinya menyibak kembali kenangan dimana pertama kali ia bertemu Kak Urai.
"Kenapa pikiranku sekotor ini? Sudah jelas-jelas Alia itu sama Kak Aufar. Dasar payaaaah." Isni bergumam sambil mengutuk dirinya sendiri. Ia menepuk singkat keningnya, lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk melaksanakan konser bersama shower kesayangannya.
***
"Una...buruan, iiiih." Delfia dengan suara khasnya berteriak memanggil Husna dari garasi mobil.
"Iye, iye bentar napa.." Pekik Husna tak kalah menggemanya dari meja makan. Gadis itu terpaksa menghentikan sarapannya yang belum selesai, lalu bergegas menghampiri Delfia.
Husna mengitari kendaraan roda empat itu, lalu masuk menempati kursi kemudi. Sepotong roti panggang dengan selai Nutella masih mengatung lezat di kedua bibirnya.
Kedua tangan dan kakinya sangat lihai melajukan kendaraan pribadinya itu dengan kecepatan medium menuju kampus kesayangan.
"Gue kaga ikut makul pagi yee, males gue ketemu Mr. Berry." Delfia melempar pandangannya keluar jendela mobil.
"Kalo lagi makan tuh, kaga usah ngemeng kali ah." Protes Delfia.
Husna lantas mengunyah sisa potongan roti panggang tadi lalu menenggak air mineral yang ada disampingnya.
"Elu tu kaga boleh nyampurin masalah pribadi ama kuliah. Bijak dikit dong Fi, please deh ah. Kite ke sini buat lanjutin pendidikan, bukan buat cinta-cintaan." Cerca Husna sambil menginjak lebih dalam pedal mobilnya menambah kecepatan. Pandangannya masih fokus ke depan.
Husna paling tidak setuju jika Delfia melibatkan masalah hati dalam urusan yang menyangkut pendidikannya. Ini juga yang menjadi salah satu alasan kenapa Husna tidak ingin ambil pusing perihal love story. Ia tidak ingin konsentrasi menggapai cita-cita masa depannya terpecah hanya karena masalah percintaan.
"Lagian, Mr. Berry pan belum bilang ape-ape ama elu soal perasaannye. Jadi elu kaga bisa nyalahain die lah, mungkin elunye aje nyang terlalu baper." Husna menutup mulut dengan sebelah tangannya sambil terkekeh kecil. Ia sudah bisa memprediksi seperti apa respon Delfia setelah mendengar celetukannya barusan.
Namun hingga menit kelima tidak ada juga tanda-tanda respon baper dari sahabatnya itu. Lantas Husna melirik ke arah Delfia, dan mendapatinya sedang tertunduk sambil meremasi jari jemarinya.
Sepertinya Delfia merasa apa yang dikatakan oleh Husna itu ada benarnya. Selama ini tidak ada pernyataan langsung dari dosen idolanya itu mengenai isi hatinya. Delfia terlalu cepat menyimpulkan dan terlanjur menaruh harapan lebih.
Salah dia juga telah menyandarkan harapannya kepada makhluk yang bernama manusia. Sementara harapan itu seharusnya disandarkan kepada Tuhan, agar tak akan adanya kekecewaan ketika harapan itu tidak selaras dengan kenyataan.
Setitik demi setitik, buliran mutiara bening jatuh membasahi telapak tangan gadis berlesung pipi dalam itu. Bibirnya terlihat gemetar menahan kalimat yang ingin ia ungkapkan. Satu per satu cairan bening itu juga membuat jejak pilu di kedua pipinya.
"Maafin gue, Na. Gue terlalu egois. Seharusnya gue lebih mempercayai elu dibanding orang laen. Kalo aja waktu itu gue ngedengerin nasehat lu, pasti gue kaga bakalan sesakit ini." Kalimat penyesalan lolos tanpa hambatan dari bibir tipis Delfia.
Husna yang mendengar hal itu, hanya tersenyum simpul tanpa mengalihkan pandangannya.
"Udeee Fi, nyang penting sekarang elu ude tau letak kesalahan elu dimane. Gue sebagai sahabat cuma bisa ngedukung apapun keputusan elu. Tapi lu harus ingat! Setelah ini gue kaga bakalan ngebiarin elu ngelakuin kesalahan lagi."
Delfia tersenyum haru mendengar kalimat romantis dari sahabatnya itu. "Tomboi-tomboi puitis juga lu," Ujar Delfia yang diikuti gelak tawa oleh keduanya.
Ketika Husna akan memarkirkan mobilnya, ada salah satu mobil yang menyalip kilat dan mengambil area parkir yang akan ditempatinya. Husna bergidik geram dan membuka jendela mobilnya.
"Woooi, maen tikung aje lu..kaga sopan banget sih." Husna menyatakannya dengan menggebu-gebu sambil memukul body mobilnya sendiri.
Tak ada jawaban dari si pengemudi. Namun tak lama kemudian, keluarlah seorang lelaki bertubuh tinggi, memakai kacamata hitam dan masker dari dalam mobil yang mengambil area parkir tadi.
Melihat sosok yang tidak asing baginya, Husna semakin geram dan keluar dari mobil, lalu menghampiri lelaki itu.
"Elu nyari gara-gara ye? Gue pan nyang duluan nyampe sini." Wajah memberengut sambil berkacak pinggang.
"Emangnya ini parkiran nenek moyang lu, hah? Bukan kan? Siapa cepat dia dapat dong." Respon Jimmy tak kalah sinisnya. Ia melepas kacamatanya, lalu memutar-mutar barang itu di jari telunjuknya tepat di depan wajah Husna.
"Dasar penyihir lu." Husna berbalik arah, masuk ke dalam mobilnya dan mencari tempat kosong agar bisa memarkirkan kendaraan roda empatnya. Jimmy tersenyum remeh, lalu berjalan meninggalkan halaman parkir kampus itu.
"Tadi itu siape sih, Na? Kok keknya gue kaga asing deh ama tampangnye." Tanya Delfia ketika mereka sudah keluar dari mobil.
"Au ah gelap..!" Husna bersungut kesal ketika Delfia menanyakan soal Jimmy. Sosok laki-laki yang berhasil membuat Husna emosi akut.
Husna juga tidak mengerti, pertemuannya dengan Jimmy baru satu kali ketika acara resepsi pernikahan Alia di Surabaya. Tetapi lelaki yang menurutnya angkuh dan menyebalkan itu, berhasil menaikkan suhu emosinya pagi ini dan membuatnya semakin tidak suka.
Bersambung..