I Love You Till Jannah

I Love You Till Jannah
S2 Bersabarlah



Jimmy mengakhiri panggilan suaranya, lalu beranjak dari kursi kantin kampus itu. Kemudian ia bergegas melewati lorong kelas menuju Aula kampus yang terletak di halaman tengah namun agak ke belakang.


Ketika sedang berjalan ria sambil menunduk merapikan jas yang ia kenakan, tak sengaja tubuh Jimmy menabrak seseorang.


"Aaawwww," terdengar suara mengaduh dari bibir orang yang telah ia tabrak.


"Maaf, maaf, saya sedang buru-bu..." Jimmy memotong kalimatnya setelah menyadari dan mengenal sosok yang ia tabrak.


"Berry..." Jimmy berkali-kali mengucek kelopak matanya setengah tak percaya.


"Jimmy, elu.." Mr. Berry sontak merangkul tubuh Jimmy ke dalam pelukan macho-nya. Ia benar-benar tidak menyangka bisa bertemu dengan teman semasa SMA-nya di kampus ini.


Setelah sekian lama, inilah pertemuan pertama mereka. Jimmy berkali-kali menghadiahkan tonjokan persahabatan di pundak Mr. Berry. Sungguh pertemuan tak terduga ini, membuat mereka ingin mengenang memori daun pisang yang pernah mereka tapaki bersama.


"Elu ngapain di sini? Jangan bilang kalo elu masih mahasiswa?" Ledek Mr. Berry di sela-sela seringai ejekannya.


"Enak aja lu, gue diundang buat ngisi seminar bisnis di aula. Elu sendiri ngapain di sini? Jangan-jangan elu yang masih mahasiswa? Nah, itu buku-buku buat apaan? Dari SMA ampe sekarang keknya elu tetep aja tu jadi kutu buku." Jimmy mengejek Mr. Berry tak kalah sarkasnya.


"Iya kali gue mahasiswa. Secara gue masih muda begini. Tapi jangan salah kaprah lu. Muda-muda gini gue dosen di sini." Mr. Berry menaik-naikkan kedua alisnya.


"Keren..dosen muda kutu buku." Jimmy terpingkal sambil menjauh dari Mr. Berry.


"Gue harus ke aula udah hampir mulai ini, ntar kita mabar, okay. Lu temui gue di Aula." Jimmy mengacungkan jempolnya dan berbalik arah menuju gedung putih yang telah nampak di pelupuk mata.


Mr. Berry masih mematung di tempatnya. Sempat termenung sejenak mengagumi perubahan hidup sahabat masa SMA-nya itu.


Bagaimana tidak? Seorang Jimmy yang berjuang sendirian merawat Ibunya yang sedang sakit tanpa sosok seorang ayah. Tak pernah putus asa walaupun harus membanting tulang siang dan malam sebagai penjual koran di persimpangan jalan, tempat dimana semua kendaraan berhenti ketika lampu merah menyala.


Jimmy remaja yang selalu terlihat baik-baik saja di mata dunia, walaupun sebenarnya banyak beban yang terpikul di pundaknya. Jimmy remaja yang rela menukar masa bermainnya dengan berbakti dan menghidupi seorang Ibu yang telah melahirkannya. Oh, Jimmy..


Mr. Berry dan Jimmy adalah sahabat tempel ketika mereka duduk di bangku SMA. Sering kali Berry remaja berkunjung ke rumah renta Jimmy hanya untuk membantu sahabatnya itu, menenangkan Ibunya ketika beliau sedang histeris.


Berry remaja yang lahir dari keluarga atheis, berhasil mendapat hidayah dan menjadi seorang muallaf melalui perantara seorang Jimmy. Jimmy adalah sosok yang berhasil menginspirasinya dalam hal apapun.


Kilas Balik


Kala itu, semua siswa/siswi diminta membawa kitab suci masing-masing ke sekolah mereka. Berry remaja merasa bingung. Dia beragama apa? Kitab suci apa yang dia punya? Bahkan kedua orang tuanya membebaskan ia memilih agama apapun yang ia percayai. Tetapi bagaimana caranya meyakini sesuatu yang tidak pernah ia ketahui sebelumnya?


Jimmy remaja yang mengerti kegamangan di wajah sahabatnya itu, lantas mengajak dan menuntunnya mengucapkan dua kalimat syahadat dan berdo'a bersama. Awalnya Berry remaja hanya diejek-ejek oleh teman-temannya bahwa ia telah memeluk agama Islam. Namun siapa sangka? Hal itu merupakan tonggak hidayah yang menyapu lembut sanubarinya. Sejak saat itulah Berry remaja memutuskan untuk menjadi seorang muslim.


Oleh karena harus melanjutkan pendidikan, Berry remaja terpaksa berpisah jarak dari Jimmy yang ia sendiri pun tidak mengetahui seperti apa kelanjutan hidup sahabatnya tersebut. Maka dari itu, pertemuannya dengan Jimmy hari ini adalah hadiah paling terindah bagi Mr. Berry.


Kilas balik selesai


***


Mr. Berry menyibak daun pintu kelas yang sedikit tertutup. Menapaki jalur menuju kursi kebanggaannya di hadapan semua mahasiswa/mahasiswinya sambil mengekori setiap sudut ruangan.


Satu persatu dari mereka mulai sibuk menempati kursinya masing-masing. Ada yang terkejut di saat tertangkap basah sedang berdandan. Ada juga yang masih sibuk bermain gitar dan bernyanyi bersama. Ada juga yang sedang asyik membaca novel favoritnya dan ada juga yang sedang tertawa terbahak-bahak seolah tak ada beban sedikitpun dalam hidupnya.


Hal yang paling berkesan baginya ketika memasuki kelas ini adalah senyuman merekah dari bibir Delfia yang selalu terlihat antusias menyambut kedatangannya. Senyuman penuh damba dan terasa sangat memabukkan ketika di pandang mata. Namun senyuman itu tak ia dapatkan hari ini.


Husna yang mengekori arah pandang sang dosen, sontak menyikut lengan Delfia yang berada tepat di sampingnya. Delfia sedikit mengaduh dan menoleh ke arah Husna dengan mata sedikit melotot.


"Apaan sih, Na? Sakit tau." Cebik Delfia dengan wajah masamnya.


"Noh, Mr. Berry lagi ngeliatin elu, napa lu kacangin?" Mendengar penuturan Husna, Delfia lantas memutar pandangannya menuju si dosen tampan.


Untuk sejenak pandangan mereka bertemu. Terkunci rapat bak digembok dengan lekat. Delfia yang merasakan aura panas hinggap di sekujur wajahnya, lantas mengakhiri pandangan mereka terlebih dahulu dan kembali merunduk. Husna yang mengerti adanya kecanggungan di antara keduanya lantas memberanikan diri untuk berdeham, menggemakan seluruh ruangan.


Mr. Berry yang merasa tertangkap basah oleh Husna, lantas mengalihkan pandangannya kepada makhluk-makhluk bernyawa lainnya yang terlihat sudah siap memulai pertemuan mereka.


"Morning everyone.." Sapa Mr. Berry dengan senyuman khasnya yang selalu memabukkan semua mahasiswi.


"Morning, Sir..." Sapa balik dari mereka serentak. Semua wajah mahasiswi terlihat berbunga-bunga setelah beberapa hari tidak menatap wajah sempurna sang dosen.


Karena Mr. Berry mengajar di kelas reguler beruntung lah ia tidak bertemu dengan mahasiswi dengan pangkat emak-emak. Semuan mahasiswi di kelas pagi terdiri dari daun bening yang menyilaukan mata. Hal itu membuat dirinya kadang kowalahan meladeni tingkah absurb dari mereka yang memuja pesonanya.


Setelah dua jam berlalu, Mr. Berry menutup pertemuan hari itu dengan pemberian tugas observasi yang harus dilakukan oleh setiap kelompok dengan mengunjungi beberapa sekolah yang telah tertera di lembar observasi atau yang di kenal dengan sebutan observation sheet yang telah ia sebarkan kepada ketua kelompok.


"Alia belum kembali ya?" Sontak Delfia dan Husna menoleh ke arah sosok yang tiba-tiba muncul di samping mereka ketika mereka sedang berada di parkiran.


"Eh, Sir.." Sapa Husna dengan ekspresi kikuk. Sementara Delfia, wajah gadis itu terlihat biasa saja tanpa ekspresi. Agaknya Delfia sedang mogok bicara.


"Iya, Sir. Alia masih dalam part honey-honey, hehe.." Husna menjawab sambil terkekeh kecil. Wajah cengengesan khas gadis tomboi itu selalu berhasil membuat Mr. Berry tergelak.


"Oh, of course. Nah, Delfia kamu kenapa? Apa kamu sedang sakit?" Delfia yang sejak tadi menahan dentuman detak jantung yang kian menggebu, tiba-tiba berlari menjauh dari Mr. Berry dan Husna tanpa mengatakan apapun.


Tentu saja keduanya terlihat saling melempar pandangan, bingung. Ada apakah gerangan?


Pertanyaan itu menari-nari dibenak Mr. Berry. Ada yang berbeda dengan Delfia. Gadis yang selalu terlihat ceria itu, hari ini tampak hemat bicara dan misterius.


"What happened to her?" Tanya Mr. Berry kepada Husna tanpa mengalihkan pandangannya, menatap punggung Delfia yang semakin menjauh dari mereka.


"No idea, Sir." Husna menggeleng, pura-pura tidak tahu. Padahal ia sangat mengerti apa yang sedang dirasakan oleh sahabatnya itu.


Setelah mengetahui bahwa Mr. Berry telah memiliki pasangan hidup, pastinya Delfia sangat terluka. Apalagi mendengar kalimat sok perhatian yang selalu dilontarkan oleh Mr. Berry kepadanya.


Sesak pasti..


Sakit juga iya..


Bersabarlah Delfia..


Bersambung..