I Love You Till Jannah

I Love You Till Jannah
(POV) Urai Abdillah Part 2



Aku sudah menelponnya dan berjanji untuk bertemu di salah satu cafe ternama di kota ini. Salah satu cafe favoritku. Aku suka design cafenya, suasananya sangat mendukung untuk melakukan pertemuan antar sepasang kekasih atau hanya untuk menenangkan diri dari hiruk pikuk perjalanan hidup. Aku harap Alia juga menyukainya.


Aku memilih meja yang berada di pojokan agar lebih leluasa berbicara dengannya. Aku tahu dia agak pemalu.


Tidak perlu waktu lama, aku melihat seorang gadis yang tidak asing bagiku berdiri di depan pintu masuk. Ya, aku melihat gadis yang aku tunggu-tunggu. Aku melambaikan tanganku saat mata kami bertemu.


Semakin dekat langkahnya menuju ke arahku, maka semakin cepat pula detak jantungku. Gadis impianku, kekasih hatiku, hanya ia yang mampu membuat hatiku segila ini.


Kalian penasaran kenapa bisa begitu? Padahal masih banyak gadis di luaran sana yang notaben fisiknya melebihi Alia? Mau tahu ya? Karena kalian memaksa, baiklah akan aku ceritakan. hehe


Tidak sedikit wanita yang menginginkanku. Hanya sekedar untuk menjadi pacar atau bahkan mengajak ke jenjang pernikahan. Bukannya aku munafik. Mereka memang menggiurkan secara fisik. Namun tujuan mereka sebenarnya bukan itu. Mereka hanya menginginkan tampang, harta, dan jabatan ku.


Berbeda dengan Alia. Gadis itu sudah mengenalku cukup lama. Ia juga sudah mengetahui status keluargaku. Bahkan ia sangat dekat dengan adikku, Selvia.


Selama ini ia memang cenderung cuek bahkan tidak menampakkan ketertarikan apapun padaku. Namun ia tetap sopan dan ramah. Bahkan ia masih mau berteman denganku. Buktinya beberapa kali aku sekedar mengajaknya jalan-jalan dia tidak pernah menolaknya.


Bahkan pernah suatu ketika, saat aku merindukannya aku mencari-cari alasan seolah-olah aku sedang dalam masalah dan memerlukan bantuannya, ia dengan senang hati membantuku. Dengan sikap dan sifatnya yang seperti itu membuat aku jadi semakin tertarik dan menginginkannya.


Perasaan awal kekagumanku perlahan berubah menjadi ketertarikan, kemudian menjadi cinta, lalu berubah menjadi sayang. Aku lemah setiap berhadapan dengannya. Aku benar benar menjadi budak cintanya. Apapun yang ia inginkan aku selalu ingin mengabulkannya. Ya, Alia adalah dewi cintaku. Tapi perlu ku tegaskan bahwa hubungan kami hanya sebatas teman tidak lebih.


Aku terlalu pengecut untuk mengungkapkan perasaanku padanya. Sampai akhirnya setelah menyampaikan tujuan pertemuan kami, aku mengajaknya untuk makan malam. Awalnya aku ragu, khawatir ia akan menolaknya. Namun sejurus stok energiku bertambah secara otomatis setelah mendengar jawabannya. Ya, ia menerima ajakanku.


Aku sangat bahagia, ku perintahkan asisten ku untuk menyiapkan dan mengatur makan malam kami. Aku tidak ingin kekurang sesuatu apapun dalam momen ini. Aku ingin semuanya perfect. Karena aku berniat akan mengutarakan perasaanku kepadanya malam itu juga.


Tetapi, setelah melihat ekspresinya aku menjadi ciut. Sepertinya ia tidak menyambut hatiku. Bahkan ia sangat terkejut ketika aku memberitahunya bahwa aku pernah melamarnya kepada sang Ayah. Timbul rasa penasaranku, apakah ia sudah memiliki pacar selama dalam perantauan ini? Ataukah sekedar gebetan? Apa mungkin hatinya dari dulu memang milik orang lain?


Pertanyaan-pertanyaan itu menari-nari di benakku. Aku sangat bodoh dalam memaknai sikap Alia kepadaku selama ini. Sungguh tidak bisa ku tebak.


Selama dalam perjalanan pulang dari restoran kami hanya berdiam diri, sibuk dengan pikiran masing-masing. Mungkin Alia akan menjauhiku setelah ini, gumam ku saat itu. Ternyata pikiranku salah. Lagi-lagi aku salah memaknai sikapnya.


Saat aku tahu betapa adikku melewati masa sulit dalam perjalanan mereka menuju kota Palembang, aku memutuskan untuk menyusul mereka melewati jalur udara.


Itu alasan pertama. Sedangkan aku mempunyai alasan lain mengapa aku harus menyusul dan membawa mereka pulang bersamaku, ketimbang mereka harus pulang bersama rombongan.


Ketika Selvia memberitahuku tentang seorang laki-laki yang baru dikenal Alia di kapal itu, aku menjadi sedikit khawatir. Tepatnya bukan khawatir tapi cemburu. Aku takut laki-laki itu akan mengambil Aliaku.


Aku marah membayangkan bagaimana mereka tertawa bersama. Aku resah saat tahu Alia sering senyum-senyum sendiri di depan layar ponselnya. Aku curiga. Namun lagi-lagi aku tak berdaya. Statusku dan Alia hanya sebatas teman. Walaupun aku sudah melamarnya dan tidak ada penolakan langsung dari ayahnya, tetap saja tidak ada jawaban pasti dari Alia.


Sebenarnya aku jadi canggung untuk menemuinya siang itu di food court. Namun saat aku mengajak mereka mengunjungi beberapa tempat disana ia selalu menunjukkan sikap manis dan ramah. Seperti biasa. Tidak ada yang berubah. Hanya saja ia berbicara sedikit terbata-bata. Aku memaklumi mungkin ia menjadi canggung. Sama sepertiku hanya saja aku masih bisa mengendalikannya.


Aku memberitahu mereka bahwa kedatanganku kesini untuk membawa mereka pulang bersamaku. Aku tidak ingin mereka kelelahan dan kesusahan lagi dalam perjalanan. Dari awal pun aku sudah melarang Selvia untuk ikut perjalanan dengan rombongan. Namun ia memaksa dengan dalih ingin menikmati perjalanan laut. Lagi-lagi aku tidak bisa mendebat adik kesayanganku itu. Aku mengalah. Tapi kali ini tidak akan ku biarkan. Mereka harus ikut denganku.


Aku tidak boleh seperti ini. Aku harus bisa menghargai perasaan Alia. Aku tidak ingin egois. Aku harus menahan diri. Aku menyadari, jika aku bersikap posesif maka Alia tidak akan segan-segan menjauhiku. Aku harus memenangkan hatinya dengan perlahan. Ini bukan akhir dari kisah cintaku namun aku baru saja memulainya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Siapa aja yang dukung Kak Urai sama Alia nih? tetap tap favorit dan votenya ya man temaaan😍


Terima kasih banyak🙏🙏🙏