
Suara tabuan di dalam dada tak lagi bisa diajak berkompromi. Disaat dirimu bertemu dengan seseorang yang sangat tidak engkau sukai, perasaan muak dan benci pasti akan hinggap di kepalamu tanpa harus dibubuhi simulasi.
Santai! Cobalah untuk menarik nafas sejenak, lalu hembuskan dengan penuh keikhlasan. Keluarkan saja uap panas akibat didihan darahmu itu. Maka pikiranmu akan berputar lebih bijak dibanding emosimu.
-
"Hai, Beb..tidak ku sangka kita bisa bertemu di sini. Kamu kenapa sih enggak angkat telepon aku? Bukannya kita udah janji buat nonton bareng dan menghabiskan waktu bersama? Dan wanita ini siapa? Kenapa kamu bisa sama dia sih?"
Ucap Fana dengan wajah temboknya. Kedua tangan mulusnya bergelayut manja di lengan kekar Aufar bak tanaman parasit. Benalu!
"Beb? Nonton bareng? menghabiskan waktu bersama? huh!" Gumam Alia di dalam hati, ia sedikit mengangkat sebelah alisnya. Merasa tidak percaya dengan apa yang telah ia dengar dari mulut wanita ular itu. Aufar yang menyadari perubahan raut wajah sang istri, lantas menghempaskan tangan Fana yang membebani lengannya.
Tatapan Alia kembali menajam di saat Fana tak kalah ngototnya, meraih kembali lengan Aufar dan memeluknya dengan sangat erat, sehingga menyebabkan dada wanita yang penampilannya lumayan seksi itu menempel sempurna pada tubuh samping suaminya.
Alia mencoba mengontrol emosinya sesabar mungkin, namun menyaksikan pemandangan tak enak ini, membuat hatinya terluka seperti diiris oleh sebilah bambu tajam, tergores panjang dan menimbulkan rasa perih di dalam sana. Perih! Perih sekali! "Benarkah wanita ini kekasih Aufar?" Tanyanya kembali pada dirinya sendiri. Siapa yang akan menjawabnya? Entahlah.
"Sepertinya kalian butuh waktu berdua," tutur Alia. Ia menatap sekilas mata Aufar, membuat tatapan keduanya bertemu. Sorot api kemarahan berkobar-kobar pada pupil mata bulat wanita berkerudung morif warna biru dan peach itu. Membuat Aufar menelan salivanya dengan susah payah, tenggorokannya mendadak terasa kering. Ia butuh Aqua!
Kemudian Alia berlalu meninggalkan dua pasang insan yang dianggapnya mempunyai hubungan spesial itu. Melangkahkan kakinya dengan cepat mengikuti irama jantungnya yang saat ini berdegup kencang tak beraturan.
Cairan bening yang membingkai kedua bola matanya, sudah tak tahan lagi ia bendung. Kedua saluran air berharga itu, mencelos begitu saja menggenangi kedua pipi chubby-nya. Sebelah telapak tangan membungkam mulutnya. Ia tidak ingin suara tangisannya mengundang perhatian orang-orang yang berlalu lalang di halaman parkir swalayan itu.
Tungkai kaki wanita yang merasa terkhianati ini, melangkah semakin cepat dan cepat diringi isak tangis yang sengaja ia tahan. Menimbulkan suara isakan yang memilukan. Nafasnya mulai pendek-pendek. Wajah ayunya mulai banjir akan air mata. Hingga akhirnya tanpa ia sadari tubuh mungilnya menabrak salah satu pejalan kaki yang melintas di trotoar itu.
"Uuuuh..." Tubuh Alia terpental. Untung saja pertahanannya kuat, sehingga ia masih bisa bertahan pada posisi berdirinya.
"Maaf Nona...Eh, Zalia.." Pejalan kaki itu memiringkan kepalanya, menatap intens wajah yang bersimbah air mata itu.
"Kenapa kamu menangis, hah? Apa yang kamu lakukan sendirian di sini? Apa ada yang menyakitimu? Zalia, jawab!" Pejalan kaki yang berjenis kelamin laki-laki itu memegang kedua pundak Alia, sedikit menggucangnya dan membombardirnya dengan pertanyaan beruntun.
Alia yang masih terisak dengan telapak tangan di mulutnya, tak mampu menjawab semua pertanyaan itu. Ia merasakan kepiluan yang amat sangat mendalam. Memorinya memutar kembali tayangan beberapa momen pertemuannya dengan Fana. Mulai dari pertemuannya di lobby hotel, hingga hari ini di depan pintu keluar swalayan. Omong kosong yang diciptakan oleh Fana sepertinya berhasil memprovokasi bagian terapuh di dalam dirinya.
"Sepertinya kamu butuh tempat untuk menenangkan diri, ayo ikut aku." Ucap lelaki itu dengan perasaan prihatin.
Karena Alia merasa mengenal baik sosok yang berada di hadapannya, ia mengangguk patuh dan menuruti perkataan lelaki itu.
Pejalan kaki itu, memapah tubuh Alia dari samping dan masih merangkul pundaknya yang ia rasa memang perlu untuk dirangkul.
Setelah beberapa saat berjalan, mereka berdua masuk ke sebuah cafe yang terletak tidak jauh dari tempat pertemuan mereka tadi.
Alia terlihat sudah lebih tenang dari sebelumnya. Linangan air mata sudah tak lagi membasahi kedua pipinya. Namun kedua mata bulat itu, masih terlihat sangat sembab.
"Makasih ya, Jim..kamu selalu ada di saat keadaan tidak berpihak padaku." Ucap Alia tulus. Pandangannya tertunduk malu. Mengingat Jimmy yang selalu menemuinya di saat ia berada dalam kondisi yang terlihat rapuh.
Jimmy tersenyum tipis menanggapi kalimat wanita idamannya itu. Tanpa memberi respon pada perkataan Alia, ia memberi kode dengan tangannya memanggil seorang pelayan dalam cafe tersebut.
"Tidak ada kata terima kasih dalam persahabatan, Zalia.."
Kalimat Jimmy berhasil membuat Alia mengangkat wajahnya dan menatap intens mata tajam laki-laki yang ia tahu bekerja sebagai asisten pribadi suaminya itu.
"Aku melihat sosok malaikat di dalam dirimu, Jim. Dengan apakah aku bisa membalas semua kebaikanmu? Walau bagaimana pun aku tetap harus mengucapkan terima kasih. Kamu adalah sahabat pertamaku di kota ini. Bahkan sebelum aku bertemu dengan Aufar."
Alia tersenyum kecut ketika mengingat suaminya yang sekarang bersama wanita lain. "Sedang apakah mereka sekarang?" Batinnya lagi di sela-sela percakapannya dengan Jimmy.
"Cukup dengan mencintaiku, maka semuanya akan terbalaskan, Al.." Gumam Jimmy di dalam Hati.
Lelaki tampan yang berada di hadapan Alia itu, hanya bisa pasrah dengan kalimat yang keluar dari bibir manis Alia. Ia malah sangat bersyukur jika Tuhan selalu mempertemukannya dengan tambatan hatinya itu dalam kondisi yang sama. Dengan begitu, ia akan merasa berguna bagi Alia.
Hatinya juga merasa sakit jika melihat wanita yang ia cintai itu menangis dan terluka. Walaupun wanita itu sudah menikah dengan orang lain, namun pandangannya terhadap wanita itu tetap sama seperti pertama kali melihatnya di bandara dengan kalung papan nama yang bertuliskan nama Alia.

"Hey.." Jimmy menggoyang-goyangkan sebelah telapak tangannya di depan wajah Alia yang terlihat asik dalam dimensi lainnya.
"Eh..kamu bilang apa, Jim?" Alia yang baru tersadar dari lamunannya tentang Aufar dan Fana, terlihat gelagapan merespon Jimmy.
"Aku belum bilang apa-apa juga," Jimmy terkekeh kecil. "Jika ada yang ingin kamu ceritakan, aku siap menjadi pendengar yang baik." Jimmy melipat kedua lengannya di atas meja dan memiringkan wajahnya sehingga sebelah telinganya menghadap sempurna kepada Alia. Hal tersebut disambut gelak tawa lepas dari wanita berdarah melayu itu.
***
"Fana, lepas!!!" Aufar kembali menepis kasar kedua tangan Fana.
"How dare you! Aku sudah berkali-kali memperingatkan mu, jangan pernah mengganggu kehidupan rumah tanggaku!" Tatapan singa tersorot di kedua pupil mata suami Zalia Aliyanti itu.
"Dan aku juga sudah mengatakan padamu Dokter Aufar, bahwa aku akan selalu berusaha untuk membuatku kembali ke dalam pelukanku." Fana memotong kalimatnya untuk sejenak menghirup oksigen.
"Sebaiknya, jika kamu ingin istrimu itu baik-baik saja, maka ikutilah kemauanku! Maka kehidupannya akan aman. Jangan paksa aku untuk melakukan hal yang lebih nekat lagi dari ini, cintaku..!
Fana menyeringai penuh makna dan pergi meninggalkan Aufar yang masih mematung di depan pintu keluar swalayan. Diraupnya wajahnya dengan kasar dan ia berdecak kesal. Namun seketika itu juga pikirannya tersadar dan gelagapan saat menyadari Alia sudah tak lagi bersamanya di sana.
Aufar berlari meninggalkan belanjaan yang ia beli bersama sang istri tadi. Ia berhenti sejenak menyapu lingkungan di sekitar, mencoba mencari jejak Alia. Namun tidak ia temukan. Hanya terlihat beberapa pejalan kaki yang berlalu lalang di sana.
Sesaat kemudian, Aufar menyusuri trotoar itu sambil berlari kecil. Raut kekhawatiran membingkai wajahnya yang terlihat frustasi. Baru saja ia ingin mempersembahkan masakan terbaiknya untuk sang istri, tetapi Author ini berkata lain. Aufar malah harus kehilangan Alia karena kelakuan wanita ular itu. Dasar Author kejam!!!!!!!!
"Kemana kamu Al?" Aufar menghentikan langkahnya. Ia berkacak pinggang memutar pandangan mencari-cari keberadaan sang istri. Dan pada akhirnya, kedua lensa matanya membidik dua sosok yang ia kenali sedang tertawa bersama di sebuah cafe yang terletak di pinggiran jalan.
Tanpa AIUEO, Aufar menghampiri keduanya dengan tatapan tidak senang. Ia menarik pergelangan tangan Alia dan membawanya pergi meninggalkan Jimmy tanpa menghiraukan keberadaannya.
Bersambung..