I Love You Till Jannah

I Love You Till Jannah
Pertemuan Kedua



Pagi-pagi sekali Alia sudah berangkat ke kampus. Mata kuliah hari ini hanya satu saja. Jadi Alia bisa pulang lebih awal. Kembalinya prestasi dalam bidang akademik tidak membuat Alia menjadi betah di kampus seperti mahasiswa/mahasiswi lainnya.


Tak jarang ia pulang setelah dosen memberitahu bahwa tidak adanya pertemuan. Alia lebih suka menghabiskan hari-harinya di rumah bersama Isni daripada harus menjadi penjaga kampus,,hehe.


Belum adanya rasa ketertarikan dengan organisasi-organisasi mahasiswa di kampus membuat dia lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah. Baik dengan mengerjakan tugas dan belajar maupun sekedar quality time bersama roomate.


Begitu juga dengan hari ini. Ketika Alia sedang bersiap-siap untuk pulang, ponselnya bergetar.


Drrrrt...


Ia mengambil ponsel yang berada di saku celananya itu. Pesan singkat dari Aufar. Ternyata mereka masih keep in touch ya. Jangan-jangaaaan. Eaaaak.


Penasaran deh apakah benar Aufar yang akan menjadi pemilik hati Alia? Waaah kasian Kak Urai doooooongs, xixixixixix.


Namun masalah hati memang tidak bisa dipaksakan kepada siapa ia akan berlabuh. Bukan masalah tampang, harta, maupun jabatan tetapi masalah feeling, kebahagiaan, dan kenyamanan.


Alia dengan sigap membuka pesan itu. Ia terlihat selalu antusias jika berhubungan dengan Aufar. Daaaaan kejutaaaaan.


"Assalamu'alaik Al, kapal baru sandar nih. Jika ada waktu luang apa kamu mau menemui ku di sekitar Pelabuhan?" - Aufar


Oh my God, oh my God baru membaca pesannya aja sudah membuat jantung Alia seperti ingin keluar dari sarangnya. Bahagia sekali dia. Senyum lebar terukir di wajahnya membuat Friska ingin mengusili.


"Hei..senyum-senyum sendiri aja kan. Ini anak sejak menghilang satu minggu sikapnya aneh gini ya. Aku jadi curiga deh." Friska memasang wajah seperti detektif yang siap memecahkan masalah.


Alia memang sengaja tidak memberitahu Friska tentang kepergiannya mengikuti kongres tempo hari. Ia hanya takut pihak Beasiswa mengetahui hal tersebut. Karena jika mereka tahu Alia bakal di sidang karena melanggar peraturan.


Ya, salah satu aturannya mereka yang menjadi penerima beasiswa penuh bidikmisi tidak boleh bolos kuliah kecuali sakit parah yang tidak memungkinkan mereka untuk masuk. Jadi wajar kenapa Alia menyembunyikan fakta bersejarah tersebut.


"Haha..kepo ah Fris," Alia jawab asal-asalan dengan pandangan yang masih fokus pada layar ponsel. Sepertinya ia sedang membalas pesan Aufar.


"Wa'alaiksalam, iya mas bisa." Wah to the point banget sih Al, tanpa basa basi sedikit pun, wkwkwk.


***


Sore itu setelah melaksanakan shalat ashar Alia bersiap-siap untuk menemui Aufar. Mereka janjian bertemu di alun-alun kota karena tempat itu cukup dekat dengan Pelabuhan.


Alia berdiri di tepi sungai menatap genangan air sungai selalu membuat pikirannya tenang. Dari dulu hal ini sering ia lakukan jika merasa sumpek dan tertekan.


Saat sedang asik dengan pikirannya sendiri, Alia dikejutkan oleh sosok Pria yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya. Ya, itu Aufar.


"Iiiiih...kirain siapa? mas ini bikin kaget aja," Alia memegang dadanya pertanda betapa terkejutnya ia.


"Kamu mikirin apa sih? Hobi banget ngelamun." Aufar berkata sambil menatap Alia penasaran.


"Aku bukan hobi ngelamun mas, tapi aku hobi lihat air," jawab Alia dengan mengalihkan pandangannya kembali ke sungai.


"Eh, aku baru tahu kalau ada yang namanya hobi lihat air, coba hobinya diganti mikirin aku." Dengan narsisnya Aufar nyerocos begitu. Alia tampak malu. wajahnya memerah seperti udang rebus.


"Aku baru tahu kalau mas itu orangnya narsis juga ya." Mencari pembelaan sambil menutup mulut dengan tangan kanannya.


"Itu bukan narsis Al, tapi harapan." Alia menatap Aufar lekat-lekat pandangan mereka bertemu. Tidak ada kata-kata yang terucap. Hanya rasa, ya rasa. Mereka seperti berkomunikasi dengan bahasa mata. Menyampaikan perasaan satu sama lain dengan tatapan kerinduan.


Begitu pikirannya kembali, Alia menyudahi tatapan mereka. Ia malu, sangat malu. "Kenapa bisa begitu? Apa yang salah dengan diriku? Ingat malu Al." ia memaki dirinya sendiri.


Aufar tersenyum usil. Melihat Alia diam seperti itu sungguh menggemaskan. Nampak sekali gadis itu sedang dikuasai rasa malu. Ia merasa berhasil membuat Alia salah tingkah.


"Eh..ehm..boleh mas."


Mereka asik berbagi cerita. Bersenda gurau. Menghabiskan waktu bersama membuat mereka lebih mengenal satu sama lain. Dari sini Alia yakin bahwa Aufar memang Pria baik-baik.


Tanpa ragu Alia menceritakan bagaimana pengalaman pertama kalinya ia menginjakkan kaki di kota ini. Bagaimana perasaannya di awal-awal perkuliahan. Jatuh bangunnya, sampai pekerjaan sampingannya saat ini.


Sebelum Alia ikut serta dalam Kongres tempo hari, Bosnya sudah tidak lagi membuka stan di mall. Alia dipindahkan menjadi karyawan tetap di butiknya. Hal tersebut membuat jam kerja Alia berubah yang awalnya jam 3 sore menjadi jam 5 sore.


Aufar mendengarkan dengan setia. Ia juga bercerita bagaimana pekerjaannya di kapal. Ya, sekedar berbagi informasi yang sama-sama ingin mereka ketahui. Namun anehnya Alia tidak sedikitpun bercerita tentang keluarganya.


Jam 16.30 WIB mereka berpisah. Alia tidak ingin terlambat ke butik. Aufar meminta maaf karena tidak bisa mengantar Alia berhubung ada pekerjaan menunggunya di kapal. Alia memakluminya.


Mereka berpisah di gerbang taman menuju tempat kerja mereka masing-masing. Dari pertemuan hari ini Aufar bisa menyimpulkan bahwa Alia tidak sedang terikat hubungan asmara dengan siapapun. Walaupun ia tidak menyatakannya secara langsung.


Semangat juangnya mulai membara. Apalagi melihat respon Alia sangatlah baik dan ramah. Tidak ada pendiskriminasian antara mereka. Alia tidak gengsi bertemu dengannya dan mau menjadikan ia sebagai teman. Bahkan Alia menawarkan agar Aufar berkunjung ke kontrakannya jika mempunyai waktu luang. Ia ingin mengenalkan Aufar kepada teman serumahnya. Sungguh kesempatan yang tidak akan ia sia-siakan.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Babang Aufar minta dukungan nih man temanaan🤭 siapa aja ni yang jadi pendukungnya babang ganteng?😁