
(POV Sosok Misterius - Lamaran)
Hari ini sudah satu minggu sejak kepulangan ku dari Kota kelahiran terkasih. Mengantongi restu dan ridho dari keluarganya yang masih aku bungkus rapi di dalam saku hatiku. Semua yang tersembunyi dan teka-teki yang mengitari otakku telah terungkap sudah.
Walaupun dengan mengetahui semua itu, perasaanku akan kerdil jika berhadapan langsung dengan sosok yang begitu menganggap ku sangat berharga dengan kedok status ABK yang aku sandang. Sungguh luar biasa dirimu Alia, kamu mampu menolak lamaran seorang Pengusaha Sukses demi seorang laki-laki yang kamu temui di negeri antah berantah di tengah samudra yang terbentang luas.
Bahkan mungkin saat itu, kamu belum mengetahui siapa aku sebenarnya. Inilah yang aku banggakan dari sosok mungilmu, dibalik kepolosan mu itu, ada banyak ketulusan yang membingkai hati kecil nan suci.
Kata-kata indah yang mengandung unsur romantis sekalipun tidak akan mampu melukiskan keindahan dan keanggunan mu, wahai calon kekasih halal ku.
Zalia Aliyanti, engkau bak pelita harapan yang selalu berhasil menjadi pelipur lara di setiap keterpurukan seorang Aufar Dwi Anggara. Bagaikan air yang membasahi kerongkongan ku dari kekeringan. Bagaikan cahaya yang menerangi kegelapan di setiap sisi kehidupanku. Bagaikan empedu yang selalu setia menyaring setiap racun yang masuk ke dalam tubuh ini. Bagaikan angin yang berhembus membelai mesra kegundahan hati dan pikiranku. Bagaikan darah yang mengalir dalam setiap pembuluh darahku dan memberikan kehidupan yang lebih berharga. Zaliaku, dirimu adalah kado terindah yang dikirim Tuhan untuk melengkapi kekurangan yang ada di dalam diriku.
"Lebihnya aku akan menutupi kekuranganmu Mas, begitu juga sebaliknya."
Itu kalimat terindah yang pernah aku dengar dari bibir manismu dan tidak akan pernah aku lupakan sampai detik ini dan kapanpun.
Apapun yang terjadi kepada kita di kehidupan yang sebelumnya, semoga tidak akan pernah terjadi pada kehidupan yang akan datang. Karena aku sudah tak mampu untuk berada jauh dari sisimu. Yang aku ingin hanyalah menghabiskan sisa hidupku bersamamu. Membangun rumah tangga impian penuh harapan. Memiliki keturunan terimut dan menggemaskan sebagai miniatur kecil yang akan menghiasi hari-hari kita berdua, hingga maut memisahkan.
Disaat nanti takdir memintaku untuk mendahului mu, maka jagalah dirimu baik-baik dan hiduplah sebagai pribadi yang tetap seperti dirimu saat ini.
Namun aku tidak pernah membayangkan jika takdir memintamu untuk mendahuluiku. Apa yang bisa aku lakukan jika aku hidup tanpa kehadiranmu? Bagaimana caranya aku menghabiskan sisa umurku? Apakah dengan dengan menanggung duka seumur hidupku? Entahlah...membayangkannya saja aku sudah tidak sanggup.
Jika aku bisa meminta kepada Tuhan, maka aku memilih untuk menutup usiaku lebih cepat darimu agar aku tidak akan pernah merasakan lagi menjalani kehidupan berselubung rindu yang tidak akan pernah ada obat penawarnya.
Wanita bermata bulat idolaku, tetaplah seperti ini. Jangan pernah berubah demi apapun. Aku mencintaimu apa adanya engkau. Walaupun di luaran sana masih banyak wanita yang lebih cantik dan menarik fisiknya, hatiku sudah terpaut dan tidak akan pernah berpaling darimu.
***
Hari ini bertepatan dengan tanggal 21 Desember 2014, aku membawa kedua orang tuaku beserta keluarga kecil Kak Fira untuk datang kembali ke kota kecil itu dalam rangka melamar pujaan hatiku.
Tidak ada lagi perasaan ragu dan khawatir. Yang ada hanyalah kebahagiaan tiada tara karena tidak lama lagi aku akan menghalalkan sosok yang memang aku dambakan sebagai pendamping hidup ini.
"Anak Mama kayaknya seneng banget, is she the one who gets you like no one else that you told me before?"
Mama mulai kepo gengs, dan aku hanya bisa meresponnya dengan anggukan pelan serta senyuman yang semakin melebar selebar tanah kavlingan๐คญ.
Di sisi lain ada Papaku, yang aku rasa merupakan sosok yang paling bahagia di antara yang lain. Inilah keinginan terbesarnya yang sudah ia tunggu-tunggu sejak dua tahun silam.
Thank God, setelah aku menceritakan latar belakang keluarga Alia yang berbanding terbalik dengan keluarga kami, Papa dan Mama tidak mempermasalahkan hal itu. Malah mereka sangat menerima dengan hati gembira karena mereka yakin bahwa pilihanku tidak mungkin sosok yang kaleng-kaleng.
Aku sangat bersyukur dengan pengertian dan sifat open minded yang dimiliki oleh kedua orang tuaku. Semua yang berhubungan dengan Alia bisa mereka terima dengan ikhlas dan lapang dada. Terlebih Kakak kandungku. Dia adalah sosok yang paling mengerti keinginan dan impian adik bungsunya selama ini. Dia berjanji akan menyayangi Alia sebagaimana ia menyayangiku, adik kandungnya sendiri.
Tepat pada pukul 15.00 WIB, rombonganku tiba di halaman rumah Pak Harry. Mama, Papa, Kak Fira, Kak Farun serta Bulan dan Bintang sangat antusias keluar dari dalam mobil menghampiri calon keluarga baru mereka yang sudah berjejer di depan rumah untuk menyambut kedatangan kami.
Seperti yang terjadi sebelumnya, rombongan Ibu-ibu netizen berdaster mulai memenuhi teras warung yang menjadi base camp mereka. Bisik-bisik tetangganya kini mulai terdengar di indera pendengaran ku. Aku yakin, hari ini tingkat kekepoan mereka akan naik beberapa persen bahkan bisa melebihi batasan maksimal.
Aku perlahan turun dari mobil menyusul rombongan dan bersalaman seraya mencium punggung tangan kedua calon mertuaku itu.
Terdapat beberapa wajah baru yang aku yakini sebagai keluarga inti Alia yang mungkin sengaja dipanggil oleh Pak Harry sebagai saksi dari keabsahan momen bersejarah ini.
Ada beberapa dari mereka yang membantu Pak Sopir menurunkan seserahan yang Mama bawa special langsung dari Surabaya yang jumlahnya melebihi jumlah barang dalam satu butik. Sehingga Papa harus memakai jasa satu mobil dam untuk membawanya ke tempat ini. Mama terkadang berlebihan, tapi tetap saja Mama yang terbaik. Ia ingin Alia mendapatkan lamaran terbaik sepanjang hidupnya.
Sekarang, di sinilah kami. Dua keluarga yang berbeda suku dan budaya, menyatukan niat suci untuk mengikat tali persatuan dalam hubungan keluarga.
Keputusan dari pertemuan itu adalah pernikahan akan dilaksanakan tiga hari ke depan bertempat di salah satu masjid terbesar di kota metropolitan. Dengan konsep pernikahan sederhana sebagai bentuk ijab qobul saja. Untuk resepsi, akan digelar di kemudian hari jika kami menginginkannya. Hal itu tentu diputuskan dengan alasan tertentu, terutama aku dan Alia. Kami sama-sama memiliki rutinitas penting yang tidak bisa kami tinggalkan di kota besar itu.
Silaturrahmi keluarga terikat sudah. Acara lamaran singkat itupun berjalan dengan lancar dan khidmat. Papa yang menjadi pembicara langsung, mengucapkan ribuan terima kasih atas penyambutan dan penerimaan lamaran dari Putra bungsu keluarga Anggara untuk putri sulung keluarga Pak Harry. Alhamdulillah..
Selamat Go Green yang ke-8, cinta sejati ๐๐๐๐โ๏ธโ๏ธ