I Love You Till Jannah

I Love You Till Jannah
Menjemputmu



Alia terperenjat. Terkejut dengan posisi Kak Urai yang tiba-tiba berada dihadapannya. Ia memberanikan diri untuk menatap manik mata Kak Urai.


Tatapannya sangat hangat dan melambungkan, tetapi hati Alia tidak bergetar sedikitpun. Hanya saja sedikit gugup dan canggung. Masih belum yakin bahwa laki-laki yang berada dihadapannya itu pernah melamarnya.


"E-eh Kak Urai..sudah lama disini?" Alia memalingkan pandangannya ke sembarang arah menguasai kecanggungannya.


"Barusan, kamu belum menjawab pertanyaanku," tegas Kak Urai menanti jawaban.


"Emmmm anu Kak, eh apa ya.." Alia gelagapan tidak tahu harus jujur atau tetap menyembunyikan kebenarannya dari Kak Urai.


"Ti-tidak apa-apa Kak. Aku hanya teringat Ayah dan Ibu, seandainya mereka ada disini pasti akan lebih menyenangkan," jawab Alia asal-asalan. Sepertinya Kak Urai mempercayainya.


"Ya sudah, ayo kita kembali ke penginapan kalian," ajak Kak Urai hampir membalikkan badannya. Sejurus kemudian Alia menarik tangan Kak Urai.


"Tunggu Kak.." sanggah Alia.


"Iya, kenapa Al?"


"Kakak juga belum menjawab pertanyaan ku waktu kita di food court tadi."


Kak Urai mencoba mengingat-ingat pertanyaan yang dimaksud Alia, akhirnya ia mengingatnya.


"Kamu serius ingin tahu jawabannya?" - Kak Urai


"Hemmm...aku mendengarkan." - Alia


"Aku kesini untuk menjemputmu, sekalian memonitor kegiatan kalian" - Kak Urai


"Apa? yang benar saja? Bukannya rencana kepulangan kami sudah diatur oleh PW ya Kak?" - Alia


"Iya memang benar. Tapi Al..ketika kalian di cibubur Selvia menghubungiku dan menceritakan bagaimana kondisinya dalam kapal. Jadi setelah itu, aku langsung memesan tiket pesawat kesini dan aku memutuskan akan membawa kalian pulang lewat udara," jelas Kak Urai panjang lebar.


"Aku tidak ingin Selvia merepotkanmu lagi," tambahnya.


"Aku tidak masalah dengan hal itu Kak, Kak Selvia sudah aku anggap saudariku sendiri. Aku malah akan sangat merepotkan Kakak jika harus pulang bersama Kakak dan Kak Selvia." Alia menundukkan kepalanya sambil memainkan jarinya.


Kak Urai seketika memegang kedua bahu Alia. Menatap wajah manis dan menggemaskan itu. Wajah yang selalu membuatnya ingin melindungi. Jiwa pahlawannya bangkit jika selalu menatap gadis itu.


"Al..kamu tidak pernah merepotkanku. Aku senang melakukannya untukmu. Anggap saja ini ungkapan rasa terima kasihmu karena kamu sudah mau merawat dan mengurus adikku disaat aku tidak di sampingnya." Sebenarnya Kak Urai ingin mengatakan betapa sayang dan khawatirnya ia jika membiarkan Alia pulang ke Pontianak dengan rute perjalanan sebelumnya. Tempo hari ia mengizinkan mereka ikut rute tersebut karena desakan Selvia adik kandungnya.


Alia mendongakkan kepalanya karena memang tubuh Kak Urai jauh lebih tinggi darinya. Ini memudahkan Kak Urai menatap gadisnya itu dengan leluasa.


"Baiklah Kak, jika Kakak memaksa. Kapan kita berangkat?" -Alia


"Besok pagi," - Kak Urai


"Loh bukannya besok acara penutupan Kongres ya Kak?"- Alia


"Iya, tidak masalah, aku sudah bicara kepada Ketua wilayah." - Kak Urai


"Baiklah Kak," - Alia


***


Mereka bertiga sedang dalam perjalanan pulang ke asrama haji sekarang. Mengingat besok ia akan kembali ke Pontianak lewat udara mengingatkan Alia kepada Aufar.


Pupuslah harapannya untuk bertemu Aufar kembali. Padahal ia sudah membayangkan akan seperti apa pertemuan kedua mereka. Akankah seberkesan pertemuan pertamanya?


Memikirkan Aufar selalu sukses membuat Alia senyum-senyum sendiri. Bunga-bunga dihatinya seakan bermekaran dan mengeluarkan aroma semerbak mewangi.


Tanpa ia sadari ada sepasang mata yang sedang mengawasinya dari kaca spion. Kak Urai merasa seperti ada yang berbeda dengan Alia. Benar kata Selvia, Alia suka senyum-senyum sendiri. Dia harus mencari tahu. Harus.


Kak Urai menghentikan mobilnya tepat di parkiran asrama haji. Setalah mematikan mesin mobil dan melepas sabuk pengaman. Mereka keluar bersamaan dari dalam mobil.


Kedatangan mereka tentu menimbulkan tanda tanya dibenak teman-temannya. Darimana mereka? Tentu saja perhatian mereka otomatis terfokuskan pada sosok laki-laki tampan yang sedang bersama Kak Selvia dan Alia.


Siapa sih yang tidak tergoda dengan pesonanya Kak Urai? Apalagi saat ini Kak Urai mengenakan baju kaos lengan panjang celana jeans dan sepatu sporty sangat mendukung wajah rupawannya.


"Ehm..ada yang habis jalan-jalan sama cowok ganteng nih," goda salah satu teman.


Kak Urai hanya senyum tipis hampir tak terlihat. Inilah salah satu sifat yang disukai Alia dari Kak Urai. Kak Urai tidak barbar tapi juga tidak acuh, ia menjaga wibawanya. Kharismanya membuat semua wanita penasaran dan kelepek kelepek.


Beberapa dari mereka mulai berbisik-bisik sepertinya sedang membicarakan Kak Urai dan apa hubungannya dengan kami.


Ah, aku tidak terlalu memikirkan hal itu. Yang aku pikirkan saat ini adalah bagaimana caranya bisa bertemu kembali dengan Aufar. Mengapa Pria itu mulai memenuhi pikirannya? Tidak biasanya ia seperti itu.


Haaaah, mau memaksakan pulang dengan rombongan juga tidak akan mungkin. Kak Urai pasti tidak akan mengizinkannya apalagi Kak Selvia tidak bersamaku.


Kami melewati kerumunan teman-teman yang masih kepo akan kehadiran Kak Urai. Beliau mengantar kami sampai pintu masuk hall gedung utama asrama haji.


"Kalian langsung kemasi barang-barang bawaan kalian karena besok Kakak memesan penerbangan yang paling pagi. Kita tidak boleh terlambat ke bandara." pesan Kak Urai sebelum akhirnya pergi dan kembali ke hotel tempat ia menginap selama disana. Hotel itu tidak jauh jaraknya dari asrama haji palembang.


***


Selepas kepergian Kak Urai Alia dan Kak Selvia kembali ke kamar untuk mempacking barang-barang mereka, mandi dan beristirahat.


Setelah shalat isya' Alia keluar kamar mencari tempat bersantai di lorong sekitar kamarnya. Sekarang ia duduk di salah satu sofa, didepannya terdapat sebuah televisi LED yang cukup besar kemungkinan berukuran 40 inci.


Alia duduk sambil menonton karena memang malam itu sudah tidak ada jadwal kegiatan lagi. Panitia memberikan kesempatan kepada semua peserta kongres untuk beristirahat atau sekedar mengeksplore tempat di sekitar.


"Eh, makasih mbak..tapi tadi siang saya sudah pergi kesana. Saya disini aja mbak nonton tv," Alia menolak dengan halus dan senyuman hangat.


"Oh, baiklah kalau begitu kaki pergi dulu ya,"


"Iya mbak, hati-hati ya" Alia melanjutkan menontonnya yang tadi sempat perpotong percakapan.


Drrrt..


Ponsel Alia bergetar, pesan singkat dari Aufar. Pesan singkat dari orang yang selalu dinantinya.


"Assalamu'alaik, Al lagi ngapain? sudah makan?" - Aufar


"Wa'alaiksalam, lagi nonton tv mas. Mas lagi ngapain? sudah makan tadi mas." - Alia


"Aku sedang jaga ni, giliran piket. Jadi pulang naik Marissa lagi? Aku sekarang masih di Jakarta." - Aufar


"Rombongan sih kemungkinan ikut Marissa mas. Tapi aku besok pulang ke Pontianak lewat udara." - Alia


"Loh, kok bisa beda? bukannya kalian satu rombongan? - Aufar


"Iya nih mas, ada sedikit perubahan rencana untuk cabang kami" - Alia


Sepertinya ia tidak perlu memberitahu Aufar alasan yang sebenarnya. Mereka masih bertukar pesan singkat hingga Alia kembali ke kamar untuk beristirahat.


"Selamat tidur ya Al..mimpi indah," - Aufar


"Kamu juga selamat bertugas ya mas," - Alia


***


Keesokannya Kak Urai sudah menunggu di depan gedung untuk menjemput adik dan gadis pujaannya itu. Kali ini ia menaiki taxi bandara yang sudah ia pesan sebelumnya. Orang kaya mah bebas ya🤭


Setelah memastikan semua penumpangnya memasuki mobil, Pak sopir pun melajukan mobilnya menuju Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II. Sepertinya waktu itu Bandar Udara yang terletak di Talang Betutu Kecamatan Sukarami Kota Palembang Provinsi Sumatra Selatan tersebut, belum menjadi Bandara Internasional.


Namun pada tahun 2012 saja, bangunan Bandara sudah cukup bagus dan tertata rapi. Bandaranya sangat luas. Fasilitasnya lengkap mulai dari food court, tempat istirahat dan tempat ibadah. Lokasinya sangat cocok untuk mereka yang hobi hunting (futu-futu ria).


***


Setelah check in dan menunggu boarding pass mereka masuk ke ruang tunggu menunggu panggilan untuk memasuki pesawat. Untung saja tidak ada penundaan jadwal penerbangan jadi pesawat berangkat sesuai jadwal yang telah ditentukan.


Perjalanan kali ini adalah Palembang-Jakarta-Pontianak. Keterbatasan jalur penerbangan membuat mereka tidak punya pilihan lain. Akhirnya mereka sampai di tempat tujuan pukul 22.00 WIB karena adanya delay saat di Jakarta.


Sesampainya di Bandara Supadio Pontianak, mereka sudah ditunggu oleh orang kepercayaan Kak Urai yang sudah standby untuk menjemput mereka.


Mereka langsung menuju kamar hotel yang sudah dipesan Kak Urai sebelumnya. Ia memesan dua kamar. Satu untuknya dan satu lagi untuk Alia dan Selvia.


Sopir memarkirkan mobil di halaman hotel. Kak Urai membangunkan Alia dan Selvia yang sedang tertidur selama perjalanan dari Bandara menuju hotel.


"Hei..para gadis cantik. Bangun dong kita udah sampai nih."


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Tetep dukung aku dengan vote dan favorit ya man temaaan 💞 Terima kasih🙏