
Alia dan Aufar sedang berada di sebuah cafe bernuansa bambu. Dindingnya berwarna cokelat gelap dan dihiasi dengan berbagai bunga segar tak lupa pula ada sentuhan lampu hias warna-warni berkelap-kelip.
Di setiap sudutnya terdapat pohon bambu kecil yang tersusun rapi. Segar dipandang mata. Suasananya sangat mendukung sepasang insan yang sedang diselimuti kabut rindu itu.
Ya, mereka saling merindukan tapi rasa malu untuk mengungkapkan perasaan itu masih sangat jelas. Untuk mengakhiri atmosfer kecanggungan itu, Aufar melambaikan tangan kepada salah seorang pelayan cafe.
"Selamat Malam Mas, Mbak..silakan ini menunya." Pelayan cafe itu menyodorkan buku menu di meja mereka sambil tersenyum manis kepada Aufar.
Alia yang melihat sikap pelayan itu lantas memicingkan matanya. "Genit banget sih ni cewek," gumamnya dalam hati.
"Baik, terima kasih, sebentar ya. Mmmmm saya pesan menu terbaiknya ya mbak. Minumnya lemon tea aja. Kamu mau makan apa Al?" Tanya Aufar sambil mengalihkan pandangannya kepada Alia.
Namun Alia tak bergeming. Ia masih memandangi pelayan cafe yang menurutnya kegenitan itu.
"Al..." Aufar melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Alia. Hal itu membuat Alia terperanjat.
"Eh...emmm iya kenapa mas?" Alia jadi salah tingkah.
"Kamu ngelamunin apa sih? Sampe kaget segitunya.
"Eh, anu mas..itu nggak papa. Mas ngomong apa tadi?"
"Kamu mau pesan apa?"
"Mmmm bingung mas, banyak banget pilihannya." Alia melihat puluhan susunan menu yang tertera di buku itu. Membolak-baliknya hingga akhirnya ia menemukan pilihan terbaiknya.
"Hemmmm, dapet nih. Aku mau beef steak aja mas sama lemon tea ya." Alia tersenyum hangat memandang Aufar. Tatapan mereka bertemu. Terkunci, terpaut satu sama lain seperti tidak ingin berpaling. Akhirnya, si pelayan cafe menginterupsi tatapan mereka.
"Permisi Mas, Mbak..saya undur diri dulu. Mohon ditunggu sebentar." Pelayan itu pamit dengan masih menunjukkan senyum menawannya kepada Aufar. Demi menjaga norma kesopanan Aufar membalas senyuman pelayan itu.
Alia sudah tidak lagi terganggu dengan hal itu. Ketika Aufar menyadarkannya dari lamunan tadi ia sempat berpikir. Kenapa ia harus cemburu? Toh, antara Aufar dan dirinya tidak ada hubungan apa-apa. Jadi, ia tidak memiliki hak untuk cemburu.
Sambil menunggu pesanan mereka datang, Aufar kembali melanjutkan niatnya. Ia melirik Alia yang masih tertunduk malu di hadapannya.
"Zalia Aliyanti..." ketika mendengar nama panjangnya disebut Alia spontan mengangkat wajahnya dan menatap Aufar lekat-lekat. Ia sangat terkejut bagaimana Aufar bisa mengetahui nama panjangnya.
"Ba-bagaimana mas bisa tau nama panjangku?" Tanya Alia penuh selidik.
"Rahasia," Aufar tersenyum licik. Alia semakin penasaran dan penasaran. Tetapi tetap saja, walaupun ia berusaha bertanya berkali-kali Aufar tidak mau memberitahunya.
"Ya sudah, kalau nggak mau ngasi tau aku pulang nih." Alia yang sudah beranjak dari kursinya, memancing Aufar untuk berkata jujur. Jurus yang satu ini sepertinya berhasil membuat Aufar buka mulut.
"Eeeh...jangan gitu dong Al, duduk lagi ya aku kan belum selesai bicara. Makanan kita juga belum datang." Membujuk level satu.
"Aku akan duduk lagi kalau mas mau jujur." Alia tersenyum licik, sepertinya jurus politiknya akan berhasil.
"Al..duduk dulu ya," Alia menuruti kemauan Aufar. Ia kembali duduk di kursinya. Masih menatap Aufar dengan tatapan penuh selidik.
"Apa itu penting untuk diketahui?" Aufar meredam ketegangan yang terjadi sebelumnya.
"Hmmmmm," Alia hanya berdehem dengan wajah sedikit manyun. Ia hanya ingin Aufar jujur kepadanya menyangkut data pribadinya itu. Karena ia merasa tidak pernah memberitahu langsung nama lengkapnya kepada Aufar.
"Kamu tambah manis lho kalo manyun gitu." Aufar terkekeh melihat wajah Alia. "Kok segitunya banget sih Al..kan aku cuma tau nama panjang mu saja," lanjut Aufar merayu.
Merasa tidak mendapat jawaban Aufar kembali berusaha meluluhkan hati Alia.
"Al..kamu marah ya? I'm so sorry." Kali ini bukan lagi rayuan, Aufar benar-benar menyesal. Hal itu terlihat jelas di wajah tampannya.
Melihat wajah Aufar semanis itu membuat hati Alia meleleh seperti ice cream. Sebenarnya Alia tidak marah karena Aufar mengetahui nama panjangnya, tetapi ia hanya kesal karena setelah dirayu-rayu pun Aufar tidak mau memberitahunya.
Sifat Alia memang tidak bisa ditebak. Kadang ia bersikap manis, dewasa, manja, bahkan bisa juga kekanak-kanakan. Paket komplit. Namun hal itu, tidak membuat Aufar mengubah perasaanya terhadap Alia. Bahkan hal itu membuat Alia semakin menggemaskan dimatanya.
"Aku nggak marah mas. Ya sudah lupakan. Sudah tidak penting sekarang kamu tau nama panjang ku dari mana. Sekarang kita balik ke topik awal. kamu mau ngomong apa mas?" Alia menatap Aufar sambil menyeruput lemon tea yang sudah diantar pelayan cafe tadi. Sepertinya suasana hatinya sudah kembali tenang.
Aufar membalas tatapan Alia dengan hangat. Ia merasa ragu. Sejurus logikanya mulai berdebat. Haruskah dia menyatakan perasaannya sekarang? Bagaimana jika Alia tidak merasakan hal yang sama? Apakah mereka akan tetap menjadi teman?
"Al...aku..." suara Aufar tercekat ketika ponsel Alia tiba-tiba berdering.
Alia yang tadinya fokus menatap Aufar mendesah kecil karena suara ponselnya itu. Alia mengambil ponsel dalam tasnya. Ia melihat satu panggilan masuk dari Ayahnya. Alia pamit kepada Aufar untuk menerima panggilan tersebut. Aufar mempersilakannya.
"Assalamu'alaik, Ayah..Alhamdulillah aku baik-baik saja Ayah, Ayah, Ibu dan Alan gimana kabarnya?...Iya ayah tidak lama lagi libur semester..pasti, pasti Ayah aku akan pulang...Baiklah Ayah, wa'alaiksalam." Seperti itulah percakapan Alia dan ayahnya yang bisa Aufar tangkap karena jarak Alia tidak terlalu jauh darinya.
Setelah menutup telepon, Alia kembali ke tempat duduknya. Menghampiri Pria tampan yang sudah tidak sabar mengutarakan isi hatinya itu.
"Maaf ya mas, intermezo." Alia tertawa kecil.
"Iya gak papa Al." Jawab Aufar sambil melemparkan senyum penuh pengertian.
"Jadi tadi mas mau ngomong apa?" Alia kembali ke topik awal. Ia masih penasaran. Akankah Aufar mengatakan sesuatu yang ia harapkan? "Semoga saja," batinnya.
"Al..aku sudah tidak mau basa-basi lagi. Hatiku sudah terpaut padamu Al sejak pertama kali aku melihatmu di kapal. Sejak saat itu bayanganmu selalu menari-nari di benakku. Sebenarnya aku ingin mengatakan hal itu kapan hari ketika kita bertemu di tepi sungai. Tetapi..." Suara Aufar tercekat sejenak, kemudian ia melanjutkan kalimatnya.
"Tetapi aku takut kamu akan merespon tidak baik dan tidak ingin berteman lagi denganku. Awalnya aku ragu untuk mengatakan ini kepadamu logikaku selalu mendebatiku. Namun aku ingin mengikuti kata hatiku Al. Aku benar-benar jatuh hati padamu. Aku ingin kamu tau perasaanku."
DEG
"Mas Aufaaaaar...."
❤️❤️❤️❤️❤️
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Akankah Alia jujur kepada Aufar? atau malah menyembunyikan perasaannya? stay tune ya guys😍 yuk tetep dukung tulisanku dengan vote, like, dan komentar kalian ya? jangan lupa tap favorit agar tidak ketinggalan info updatenya, terima kasih🙏