I Love You Till Jannah

I Love You Till Jannah
Beasiswa Master



Sudah satu minggu sejak hari dimana Aufar sangat mengkhawatirkan kondisi Papanya. Kini Pak Fahri sudah kembali ke kediaman keluarga Anggara sambil mendapat perawatan intensif dari rumah. Aufar pun dengan rutin menanyakan kabar sang Papa walaupun hanya lewat telepon.


Kesibukan dan tanggung jawabnya sebagai seorang hero bagi setiap pasiennya, membuat ia harus meninggalkan Papanya dengan kondisi yang sudah sedikit membaik namun belum bisa dikatakan sembuh total. Karena dalam hal ini, Pak Fahri harus terus melakukan check-up secara berkala. Sementara menunggu kondisinya normal, tanggung jawab perusahaan sepenuhnya dipegang oleh Kak Farun.


"Ma, gimana kondisi Papa saat ini?" Tanya Aufar sambil menyandarkan tubuhnya pada kursi kerjanya. Ini waktunya ia beristirahat setelah menerima beberapa pasien tadi.


"Alhamdulillah sudah membaik dari sebelumnya sayang, hanya saja Papa masih sangat lemah." Jawab Mamanya dari balik telepon.


"Syukurlah, terus berikan vitamin yang aku resepkan waktu itu, dan minta agar Papa lebih banyak istirahat. Dan satu lagi, menu makanan yang Papa konsumsi harus sesuai dengan arahanku kemarin ya, Ma." Instruksi dokter muda itu.


"Ah, kamu ini ya karena kelamaan ngejomblo jadinya begini nih...itu Papamu, sayang. Bukan pacarmu. Pastinya sebagai istri Mama selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk Papa, kamu tenang saja.."


DEG


Aufar tiba-tiba menutup teleponnya. Jantungnya seakan berhenti berdetak mendengar kalimat sarkas dari bibir sang Mama. Pasalnya sampai saat ini ia memang belum mempunyai seorang kekasih dan tidak berniat untuk mencarinya. Entah seperti apa kelanjutan kisah cintanya yang sempat kandas itu. Walaupun hatinya sudah mulai yakin bahwa Alia masih mencintainya, namun perasaan takut dan ragu masih saja terus menghampiri.


"Halo, ndri...lu udah lakuin permintaan gua waktu itu? Oh, okay thank you, by the way. You're the best person that I've ever met."


Aufar menutup teleponnya dengan wajah sumringah bak sedang memenangkan lotre. Ada sejuta harapan yang ia sandarkan pada sosok Andri. Kali ini ia ingin menyambung kembali benang cintanya yang sempat terputus. Membawa Alia kembali dalam pelukannya dan menghiasi hari-harinya dengan menatap wajah teduh sang kekasih hati tanpa adanya tirai pemisah.


Aufar keluar dari ruangannya dengan semangat menggebu-gebu. Aura kebahagiaan terpampang nyata pada wajah tampannya menimbulkan pancaran sinar yang menarik perhatian siapapun yang melihatnya. Syifa yang kebetulan masih setia di meja kerjanya berdiri membungkukkan badannya ketika melihat Aufar keluar dari ruangan.


"Dokter..." Sapa gadis manis berdarah Minang itu.


"Hai..Syifa, kenapa masih disini? Kamu enggak turun untuk makan siang?"


Tanya Aufar sambil membuka pengait lengan kemejanya lalu melinting ujungnya sedikit ke atas menampakkan otot lengannya yang kekar. Hal itu membuat wajah Syifa merona melihat pemandangan yang gratis ia dapatkan.


"Eeeh...anu dokter. Itu..apa..aku..." Syifa jadi salah tingkah membuat bahasa yang keluar dari mulutnya terdengar seperti benang kusut dan amburadul tidak sesuai kamus.


"Kamu kenapa, Syifa?" Aufar mengernyit keheranan melihat sikap Syifa yang menurutnya sedikit aneh.


"Ti-tidak kenapa-napa dokter. Dokter mau kemana?" Jawab Syifa mengalihkan topik pembicaraan.


"Aku akan ke kantin, mau bareng?"


Tentu saja Syifa tidak akan menolak ajakan Aufar. Hatinya melayang-layang ketika mendengar kalimat ajaib dari dokter muda idolanya itu. Bahkan kalimat sederhana itu bisa-bisa membuatnya tidak tidur selama satu minggu ke depan.


"Mau dok, mau..." Syifa segera mengambil dompet dan ponselnya, lalu mengekori Aufar yang sudah berjalan mendahuluinya.


***


Pontianak


"Kamu mau kemana, Al?" Tanya Isni ketika melihat Alia sudah rapi dengan kostum kampus khas mahasiswi fakultas keguruan.


"Ke kampus, Is..mengambil ijazahku." Jawab Alia sambil mengaitkan jarum pentul ke bagian bawah dagunya untuk menyatukan kedua sisi kerudung paris yang ia pakai.


"Kamu sendiri mau kemana udah cantik begitu?" Alia menatap penampilan Isni dari atas sampai bawah. Sudah lama ia tidak melihat Isni berdandan seoptimal ini, seperti ingin pergi ke prom saja.


"Bertemu pujaan hati..wkwkwk." Jawab Isni enteng.


"Emangnya Kak Urai ada disini?" Alia menaikkan salah satu alisnya.


"Iya, Aliaku sayang...palingan bentar lagi juga datang buat jemput aku." Isni kembali merapikan gaunnya yang memang tidak berantakan.


"Haaa? Kak Urai jemput kesini?" Yang benar saja? Apakah tujuannya untuk membuatnya cemburu dan iri? Ah, Alia cepat-cepat mengusir pikiran buruknya.


"Iya Al..kenapa kamu jadi sekaget itu? Kamu enggak lagi cemburu kan?" Ejek Isni sambil terkekeh melihat wajah kaget Alia.


"Apa? Cemburu? Yang benar saja, Is?" Alia meraih ransel kecilnya dan keluar dari kamar. Ia menuju dapur sebentar untuk mengambil air putih. Isni semakin tergelak karena merasa berhasil menggoda sahabatnya itu.


"Aku duluan ya, Is..sampaikan salamku pada Kak Urai." Alia berlalu keluar dengan membawa tumbler berisi air putih ditangannya dan menyelipkan tumbler itu di saku motor.


Ketika baru saja memacu sepeda motor kesayangannya, Alia berpapasan dengan mobil Kak Urai yang mungkin hendak menjemput Isni. Alia tersenyum dari kejauhan, membuat Kak Urai menghentikan mobilnya sejenak dan membuka kaca jendela di sampingnya.


"Mau jemput Isni ya, Kak?" Alia mendahului sebelum Kak Urai menyapanya.


"Eh, iya Al..kamu mau kemana?" Tanya Kak Urai yang terlihat malu-malu kucing karena sadar bahwa Alia sudah mengetahui apa yang terjadi diantara dirinya dan Isni.


"Ke kampus Kak, ngambil ijazah. Ya sudah, aku duluan ya, Kak. Btw, I'm happy for both of you. Long last, yah.." Alia berlalu meninggalkan Kak Urai yang melemparkan senyuman getir.


Setibanya di kampus, Alia langsung menuju loket akademik. Semangatnya membara karena sebentar lagi akan menerima selembar kertas berharga bukti dari jerih payahnya selama empat tahun ini. Siapapun yang pernah menjalani asam manisnya dunia perkuliahan pasti merasakan betapa tidak mudahnya untuk sampai ditahap ini.


Alia tiba di loket akademik ketika antrian disana sudah mengular. Tidak sedikit dari mereka yang mengantri untuk mengambil kertas yang bernilai lebih berharga dari emas dua puluh empat karat itu bahkan berlian sekalipun.


Alia duduk di kursi tunggu yang tersedia disana sambil menunggu giliran. Sesekali ia memperhatikan mahasiswa dan mahasiswi yang berlalu lalang sambil membaca novel kesukaannya.


"Zalia Aliyanti, Prodi Pendidikan Bahasa Inggris.." Teriak seorang petugas loket. Mendengar namanya dipanggil, Alia segera bangkit dan menghampirinya.


"Saya, Bu..."


"Ini ijazah dan transkrip nilai asli berikut beberapa lembar fotokopian yang sudah dilegalisir. Kamu bisa menggunakannya untuk kepentingan tertentu." Jelas seorang Ibu paruh baya petugas loket sambil tersenyum hangat kepada Alia.


"Oh, Iya. Terima kasih banyak ya, Bu.." Alia meraih satu map kuning berisi ijazah dan transkrip nilai miliknya.


Ketika akan meninggalkan loket, petugas itu kembali memanggil nama Alia. Hal itu sontak membuat Alia membalikkan badannya menghadap sang petugas.


"Iya, Bu..ada apa?"


"Ibu hampir lupa, ada satu map lagi yang dititipkan untukmu." Alia mengernyit keheranan mendengar penuturan si petugas loket yang sedang menyerahkan sebuah map idola berwarna merah manggis kepadanya.


"Titipan? Titipan apa ya, Bu?" Alia meraih map itu dan membukanya. Kedua mata Alia terbuka dengan sempurna tidak percaya dengan apa yang telah ia baca.


"Beasiswa Master di Universitas Indonesia? Ibu...ini beneran beasiswa untuk saya?" Alia kembali bertanya kepada si petugas untuk meyakinkan dirinya.


"Benar, Nona Zalia, sudah tertera jelas identitasmu disana." Jawab si petugas sambil tersenyum.


"Tapi saya tidak pernah mengajukan beasiswa ini, Bu.." Protes Alia.


"Anggap saja ini rezeki dari Tuhan untuk gadis yang sangat berpotensi sepertimu." Ujar petugas loket berusaha menyembunyikan kebenarannya.


"Tapi aku harus mengetahui siapa orang baik dan luar biasa yang mau menjadi donatur beasiswa ini, Bu?"


Alia merayu petugas itu untuk mengatakan siapa yang sudah berbaik hati kepadanya. Namun sayang, uang tutup mulut yang diterima si petugas membuat ia tidak berani untuk mengungkap kebenaran.


"Saya tidak tahu, karena saya hanya menjalankan tugas untuk menyampaikan amanah ini kepadamu, Nona Zalia. Sekali lagi saya ucapkan selamat. Segeralah melengkapi seluruh dokumen yang dibutuhkan. Tiket kebersngkatan dan semua dana yang kamu butuhkan sudah ada di dalam map itu."


Alia terkesiap melihat sebuah kartu atm di tangannya. Mimpi apa ia tadi malam sehingga mendapatkan durian runtuh hari ini? Andaikan saja ia bisa menemui donatur yang berhati malaikat itu, ia akan sangat berterima kasih. Tak terasa cairan bening yang membingkai bola matanya kini bergulir membasahi kedua pipi chubby nya. Air mata bahagia, air mata haru, dan air mata rasa syukur.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Kira-kira siapa ya donatur yang baik hati itu?


Ayo komen dong☺️