
(POV Sosok Misterius)
Pastinya kalian semua sudah mengetahui siapa aku sebenarnya. Serapi apapun aku menyembunyikan identitas asliku, Author ku yang baik hati dan tidak sombong ini pasti akan membocorkannya kepada kalian dengan senang hati tanpa merasa berdosa sama sekali padaku. "Awas lu, Thor..!" Yah, pake ngancam.
Maafkan aku yang suka menutupi jati diri ini. Kali itu menjadi sosok misterius adalah fardhu 'ain hukumnya bagiku. Demi kebaikan bersama. Sebenarnya, rencana ini sudah lama menari dibenak ku, sejak aku mengenal Alia dan melihat semangat belajar yang membara pada sosok gadis polos ku itu.
Ya, Alia memang berhak menerima beasiswa untuk menggapai Master Degree nya. Sesuai dengan keinginan dan cita-citanya di masa yang akan datang. Jika pun itu bukan aku, maka orang lain juga akan melakukan hal yang sama.
Di saat Alia mulai tidak bisa menerimaku di sisinya, tentu hal itu sangat membuatku frustasi dan putus asa.
Namun itu tidak mengurungkan niat awalku untuk memberikannya beasiswa itu.
Dalam hal ini, tentunya aku tidak bisa melakukannya sendirian. Aku membutuhkan campur tangan Andri. Sahabatku yang satu itu, memang the best bahkan top markotop. Aku tidak akan bisa melupakan kebaikannya seumur hidupku. Walaupun aku menghabiskan semua harta yang aku punya untuk mengapreasi kerja kerasnya, tidak akan sebanding dengan jasa yang telah ia berikan dalam menggapai cinta sejatiku. Semoga Tuhan lekas mempertemukannya dengan si Pujaan Hati. Aamiin.
Singkat cerita, ketika Papa menghubungiku dan menginginkan aku agar segera menikah, tentu saja aku merasa gusar bahkan kebingungan. Namun karena tidak adanya another option, bibir kelu ku ini spontan mengucapkan kalimat ajaib yang ternyata sangat berpengaruh besar terhadap kebahagiaan orang yang paling berjasa bagiku itu.
Ya, aku menyetujui untuk menikah. Apa kalian tahu dengan siapa? Kenapa aku begitu yakin? Alia tak lagi bersamaku, haruskah aku menggantikan sosok terkasih itu dengan wanita lain? Tidak, sepertinya hatiku menolak keras. Aku yakin bagian terapuh dalam diriku itu akan tersiksa seumur hidupku, jika aku mengakhiri perjalanan ini dengan menikahi wanita lain. Inilah caraku menjunjung tinggi perasaan suci itu, aku tidak ingin berkhianat, walaupun hanya didalam benakku. Tetapi bagaimana dengan janjiku kepada Papa?
Thank God, sepertinya puluhan malaikat di langit ikut bersorak dan mendo'akan kalimat ajaib itu. Lalu mereka mencatat perkataan ku itu dan mengirimkan surat cintanya kepada Sang Big Boss. Aku terharu, sungguh.
Tetesan air bening di kedua pipi ini adalah saksi bahagia di saat asisten pribadiku (Jimmy), ia menyampaikan kalimat yang aku sendiri juga belum sepenuhnya percaya bahwa kalimat manis itu diucapkan oleh gadis polos ku. Sebesar itu kah ia menghargai sosok misterius baginya selama ini? Aku merasa beruntung, sangat beruntung. Ralat! Bukan beruntung, tapi ini takdir. Takdir cinta yang Tuhan skenario kan untuk kami berdua.
Selama ini, aku yakin "Hasil tidak akan mengkhianati Usaha". Walaupun terbilang aku tidak berusaha sendirian untuk menggapai impianku ini. Paling tidak, Tuhan mengirimkan bala tentaranya yang selalu siaga berdiri pada garda terdepan untuk membantuku yang pengecut ini.
Tuhan sangat rapih mengatur alur kisah cinta kami. Ia ingin melindungi kami dari segala bentuk kemaksiatan, sehingga harus memisahkan kami untuk sementara waktu. Walaupun memang selama bersama Alia, aku selalu menciptakan jarak agar tidak menyentuhnya, namun tetap saja itu maksiat. Hubungan yang tidak halal, itulah kesimpulannya.
Walaupun sejujurnya berpisah dari Alia bukanlah sesuatu yang mudah bagiku. Aku bahkan harus tertatih-tatih untuk sampai pada titik ini. Melewati hari-hari penuh penyesalan dan kerinduan. Tetapi itu dulu, sekarang tidak lagi. Tidak akan ada lagi tirai pemisah di antara kami berdua.
Terima kasih Tuhan, sujud syukurku tak tertunda lagi ketika Jimmy mengatakan bahwa Alia bersedia menjadi istriku, tanpa harus aku yang memintanya. Bahkan ia sendiri yang menginginkan agar aku segera mempersuntingnya. Ya, semua itu hanyalah pesan suara dari gadis polos ku itu yang dikirim melalui Jimmy. Walaupun pesan itu terucap dari bibir Jimmy, tetap saja tidak mengurangi keromantisannya bagiku.
Sepertinya kadar kebucinan ku akan meningkat setelah hari ini. Jadi, wahai para jomblo, maafkan aku. Dan juga untuk para penggemarku, maaf jika kabar ini membuat hati kalian terpotek bak tangkai bunga mawar yang dipetik secara paksa oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab. Tapi yang pasti itu bukan kehendakku. Melainkan kehendak si Author yang saat ini mulai kejam terhadap kalian.🤭
Setelah mendengar kabar menggembirakan itu, keesokan harinya aku bertolak menuju kediaman keluarga Alia di Tanah Borneo nun jauh di sana. Aku memang tidak asing lagi dengan kota Pontianak, namun kota kelahiran Alia adalah tempat yang baru bagiku. Aku memutuskan untuk mengajak Andri untuk menemaniku.
Lagi-lagi Tuhan menunjukkan kebaikannya, Andri dengan senang hati ikut bersamaku, bela-belain meninggalkan kewajibannya di rumah sakit. Pastinya, aku sangat berterima kasih kepadanya. Mungkin ia merasa masih bertanggung jawab atas kandasnya hubungan antara aku dan Alia.
Kami bertolak bersama ke kota kelahiran Alia melalui jalur udara. Perjalanan itu hanya ditempuh dalam waktu singkat, sama halnya dengan perjalananku dari Jakarta menuju bumi khatulistiwa.
Akhirnya dalam waktu tiga puluh menit, kami tiba di Bandara Daerah itu. Bandaranya tidak terlalu luas. Bisa aku tebak, hanya ada sedikit penerbangan setiap harinya yang hilir mudik di lapangan terbang ini.
Kami tiba di Kota itu pukul 11.00 WIB, karena tidak ada perbedaan waktu antara Pontianak dan kota itu. Maaf ya, nama kotanya harus aku sensor demi kenyamanan si empunya cerita🤭. Puas Thor? Author pecicilan ini bela-belain memberiku check kosong, tidak ada nominalnya sama sekali untuk menyuapku agar merahasiakan nama kota kelahiran Alia. Sepertinya akhir bulan, membuat kantong si Author kering sekering musim kemarau. Miris..!
Lanjut gengs! Aku memutuskan untuk mengajak Andri makan siang terlebih dahulu, lalu melaksanakan kewajiban harian kami.
Next, setelah makan siang dan menunaikan kewajiban. Aku dan Andri tidak ingin membuang waktu lagi, karena ada banyak sosok yang menanti kami di tempat kerja masing-masing. Siapakah mereka? Pasien dan para fans dokter muda tampan dan jomblo pastinya. Untungnya bukan jomblo akut.
Dengan perasaan gelisah alias gerogi, aku meyakinkan diriku bahwa kedua orang tua Alia pasti akan memberikan sambutan hangat mereka kepada kami. Aku yakin sifat mulia yang tertanam di dalam diri Alia, adalah transformasi dari hasil didikan kedua orang tuanya.
Kedua orang tua yang sangat hebat dan luar biasa menurutku, walaupun sebenarnya aku belum pernah bertemu dengan mereka. Semoga Tuhan mempermudah niat baikku ini. Niat suci ingin mendapatkan restu kedua orang tua Alia untuk menyambung benang cinta yang ingin kami simpulkan kembali dalam sebuah ikatan halal.
Lima belas menit kemudian, mobil yang dikendarai oleh Pak Sopir ramah itu berhenti di halaman sebuah rumah sederhana yang menurutku jauh dari kata mewah. Atap daun dan dinding kayu yang bolong-bolong itu membuatku berpikir dua kali untuk mempercayai kenyataan hidup keluarga gadis polos ku itu. Berbanding terbalik dengan kehidupan keluargaku.
Kalau boleh ku tebak, rumah panggung ini berusia lebih dari tiga puluh tahun. Karena warna dinding yang terbuat dari papan itu sudah tak lagi menampakkan warna kayu yang terkesan berwarna kuning atau cokelat, melainkan abu-abu. Namun berbanding terbalik dengan kondisi rentanya, halaman rumah itu terlihat sangat bersih dan rapi. Sangat apik di pandang mata.
"Kita sudah sampai, Tuan." Ucap si Pak Sopir sambil membalikkan badan menunjukkan senyuman hangatnya kepada kami berdua.
"Beneran ini rumahnya, Pak?" Tanyaku yang merasa kurang yakin.
"Menurut alamat yang Tuan tulis di kertas itu, inilah rumahnya, Tuan." Jawabnya tegas meyakinkanku yang mulai amnesia bahwa aku sendiri yang memberinya alamat itu.
"Baik, Pak. Terima kasih." Aku memberikan tiga lembar uang berwarna merah kepadanya dan segera mengajak Andri keluar dari taxi-nya.
Namun saat kami membuka pintu mobil, si Sopir kembali menanyakan pertanyaan yang mungkin sudah sejak tadi menari di benaknya.
"Maaf, Tuan. Sebenarnya Tuan ini siapanya Pak Harry?" Tanya si Sopir yang mulai kepo.
"Pak Harry? Bukankah itu nama Ayahnya Alia?" Batinku, aku semakin yakin bahwa alamat yang dituju si Sopir ini memang benar adanya. Sepertinya ia mengenal sosok Pak Harry.
"Ehm, saya..." Belum selesai aku melanjutkan kalimatku Andri dengan santai memotongnya bak kain perca.
"Dia ini calon menantunya Pak Harry, Pak." Jawab Andri dengan wajah tanpa berdosa dan senyuman usilnya.
"Waaah...beruntung ya si Alia bisa dapat jodoh setampan Tuan ini." Pujinya yang mulai membuatku menelan berat salivaku.
"Bapak kenal Pak Harry?" Tanyaku yang mengalihkan perhatiannya dari perkataan Andri.
"Beliau teman saya waktu SMA dulu, ya sudah selamat bertemu calon mertua ya Tuan, jangan lupa undangannya."
Nah, si sopir mulai. Perkataan polos itu bukannya menambah semangatku, tapi malah membuatku semakin gerogi. Semoga lisanku tidak kelu jika berhadapan dengan sosok laki-laki paruh baya yang akan aku temui nanti. Semoga saja.
Bersambung...
Aku sengaja kasi bonus chapter ini sebagai jawaban dari pertanyaan-pertanyaan readers **yang enggak bisa aku jawab satu persatu di kolom komentar. Semoga terjawabkan yah.
Terima kasih untuk dukungannya, gengs😘🙏**