
"Terima kasih, Mas. Wishing you always be happy too."
Alia berulang kali memandangi tulisan yang ia kirimkan untuk menanggapi kalimat Aufar di liminasi fesbuknya.
"Kenapa aku jadi menanggapinya sekarang?" Alia berdecak kesal ketika mengingat kebodohan yang sudah ia lakukan.
Ia menyadari bahwa hal itu bertolak belakang dengan logikanya. Namun bagian terapuh di dalam dirinya berkata lain seolah membisikkan rasa empati yang mendalam. Gelombang kepedulian dari hatinya secara reflek mentransfer gerakan langsung menuju jemari indahnya mengajak ia untuk sedikit berkompromi.
"Ah, sudahlah anggap saja ucapan terima kasih kepada teman biasa." Lagi-lagi logikanya menepis perasaan itu. Kemudian menyelipkan benda pipih itu di saku tasnya.
Ini sudah dua minggu setelah kepulangan keluarganya ke kampung halaman. Alia memutuskan untuk tinggal beberapa waktu di kota ini untuk menunggu ijazahnya yang belum juga keluar. Ada beberapa administrasi lagi yang harus ia selesaikan.
"Hi girl...what's up?" Suara cempreng Friska mengejutkan Alia yang sedang duduk di kantin sambil membaca Novel best seller berjudul Musuh Terbesar favoritnya🤭.
"Apaan sih, Fris. Ngagetin aja. Kalo baru dateng tu ucapin salam tau!" Cebik Alia sambil mengambil novel yang sempat terjatuh ke lantai.
"Kamu mau aku pake salam? Enggak salah denger nih?" Friska mengernyit keheranan.
"Eeeh iya lupa Fris,,hehe, sorry. Gimana kabar skripsi mu, udah ACC?" Tanya Alia sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal itu.
"Emmmmm, mentang-mentang udah wisuda, nanyainnya ACC mulu'. Mending kita jalan-jalan ke mall. Aku sumpek nih. Kamu udah kelar urus administrasi kan?" Friska meraih minuman Alia yang berada di atas meja dan menyeruputnya hingga gelasnya kosong melompong.
"Iiiiiish...itu kan minumanku Fris, kamu ini ya kebiasaan." Menepuk dahi Friska.
"Aw..aw..sakit Al...aku kan cuma ngambil minuman kamu bukan ngambil belahan jiwamu, iiiih." Friska meringis kesakitan mengusap dahinya.
Mendengar kata-kata Friska spontan membuat Alia mengingat seseorang. Seseorang yang memang menjadi belahan jiwanya. Hanya saja gengsinya terlalu besar untuk mengakui bahwa perasaan itu masih kokoh bertahta di hatinya.
"Fris...kamu masih ingat Aufar?" Alia menekuk wajahnya di atas meja.
"Aufar..." Ucap Friska lirih sambil memegangi dahinya seolah sedang memikirkan sesuatu.
"Oooh iya...aku ingat Al...kenapa dengan dokter ganteng simpanan mu itu?" Friska berkata sambil menaik-naikkan alisnya keatas.
"Iiiih suka ngawur deh kalo ngomong. Siapa juga yang mau punya simpanan tukang boong." Cebik Alia masih menekuk wajahnya.
"Kamu tu kenapa sih Al? Masih belum memaafkan kesalahannya? Come on Alia..mature dong, ah. Lagian dia boong kan cuma pengen ngeliat kamu mencintainya dengan tulus." Friska mencoba menasihati temannya itu.
"Wow...sekarang jomblo bisa juga ya berbicara soal hati." Alia mengangkat kepalanya meraih ponsel yang berada di dalam tasnya.
"Terserah deh, mau sampai kapan kamu membohongi perasaanmu sendiri seperti ini? Buktinya kamu nolak lamaran Kak Urai kan. Kenapa coba kalau bukan karena Aufar." Lanjut Friska.
"Kenapa kamu jadi khutbah sih Fris...?" Alia menutup mulut Friska dengan tangannya.
"Nih, coba kamu lihat deh." Alia menunjukkan ponselnya kepada Friska.
"OMG...Ia masih ingat hari ulang tahunmu, Al? Waaah salut deh. Berarti dia masih menaruh hati sama kamu Al." Friska mengeluarkan hepotesisnya.
"Apaan sih? Jangan cepat menarik kesimpulan gitu deh. Lagian fesbuk tu ngasi notifikasi otomatis kan masalah ulang tahun penggunanya." Alia mematahkan hepotesis Friska.
"Itukan kalo dipikir secara logika jubaedah...sejak kapan hatimu jadi beku, hem?" Friska mencubit manja pipi Alia.
"Sudahlah Fris, enggak usah dibahas ah." Alia beranjak dari duduknya dan berlalu meninggalkan Friska.
"Eh..eh...mau kemana Al? Tunggu aku..." Friska berlari mengekori Alia menuju parkiran.
***
Alia telah tiba di rumah kontrakannya. Seperti biasa ia mengunci ganda sepeda motornya terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam rumah. Alia mencuci tangannya di wastafel yang berada di dapur lalu masuk ke kamar dan mengganti pakaiannya.
"Tumben cepet, Al? Udah beres semua?" Tanya Isni yang sedang berbaring di atas kasur lantai kebanggaan mereka sambil mendengarkan musik kesukaannya.
"Alhamdulillah udah kelar, Is. Mungkin minggu depan ijazahku sudah bisa diambil." Jawab Alia sambil merebahkan tubuhnya di samping Isni.
"Eh, Al..I have a good news. Dijamin kamu pasti suka." Isni meletakkan ponselnya dan memiringkan badannya sehingga menghadap Alia.
"Apa tuh?" Alia melirik ke arah Isni. Ia melanjutkan kembali bacaan Novelnya yang sempat terputus tadi.
"Aku dilamar oleh seseorang."
"Oh ya, siapa?" Masih tak mengalihkan pandangannya.
"Orang yang enggak asing lagi buat kamu." Seketika itu juga Alia menutup Novelnya dan memiringkan tubuhnya menghadap Isni. Sehingga membuat posisi tubuh mereka berhadapan.
"Siapa, Is?" Tanya Alia penasaran.
"Kak Urai.." Kedua mata Alia terbuka sempurna, kedua bibirnya juga ikut terbuka membentuk huruf O. Sedikit terkejut dengan berita yang baru saja ia dengar.
"Kok bisa? Maksudku bagaimana ceritanya?" Sambil tersenyum Alia bertanya semakin antusias.
"Ceritanya panjang, kalau aku ceritakan umurmu ntar enggak cukup." Isni terkekeh melihat bibir Alia yang sudah mengerucut.
"Huuuush kalau bicara suka ngawur deh. Tapi tadi yang kamu bilang beneran kan, Is?" Lagi-lagi Alia ingin memastikan.
"Trus kamu terima?"
"Iya dong...aku kan udah lama naksir Kak Urai. Enggak nyangka aja pangeran ku itu benar-benar melamar aku. Tapi ada yang mengganjal deh di pikiranku, Al. Kenapa tiba-tiba gitu ya? Padahal selama ini sikapnya biasa aja deh sama aku." Gadis cantik berwajah tirus itu terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Sudahlah Is...Jangan berpikiran yang tidak-tidak. Sudah jelas Kak Urai berniat baik ingin membangun rumah tangga bersamamu. Itu lebih berarti dari pada mendapat penghargaan apapun di dunia ini. Aku turut bahagia untuk kalian. Selamat ya, Is.." Alia memeluk Isni dengan hangat.
Ia sangat bahagia mendengar kabar gembira itu. Walaupun masih ada beberapa pertanyaan dibenaknya tentang Kak Urai, namun ia menepis kemungkinan buruk yang ada di pikirannya.
Yang jelas saat ini, kebahagiaan Isni adalah yang paling utama. Karena ia tahu bahwa sahabatnya itu memang sudah lama menaruh hati kepada Kak Urai. Beruntung selama ini ia tidak pernah menceritakan apapun yang terjadi antara mereka berdua kepada Isni. Sehingga Isni tidak perlu merasa tidak enak hati kepadanya.
***
Jakarta
Aufar terlihat sangat serius membaca dokumen yang telah ia terima dari orang suruhannya. Hari ini ia libur dari dinas. Ia hanya ingin menghabiskan waktunya di apartemen. Sesekali dahinya berkerut. Wajahnya terlihat tegang dan kesal.
Bagaimana tidak? Ia sedang membaca informasi lengkap tentang Fana. Gadis yang saat ini ia anggap sangat berbahaya layaknya seekor ular yang sangat berbisa. Aufar benar-benar sangat terancam dengan keberadaan Fana yang sekarang bekerja dalam instansi yang sama dengannya.
"Aaaaaarrrrggggh...Bagaimana ini bisa terjadi? Hidupku tidak akan aman jika wanita itu berkeliaran di sekitarku. Aku harus melakukan sesuatu!"
Aufar meraih ponselnya hendak menghubungi seseorang. Namun ketika ia sedang mencari kontak seseorang, ponselnya berdering menampilan sebuah panggilan masuk dari Mamanya.
"Assalamu'alaik, Ma..." Jawab Aufar dengan suara lembut.
"Halo, Far...Papamu Far, Papamu...hiks..hiks."
"Papa kenapa, Ma?" Tanya Aufar yang sudah mulai khawatir karena mendengar tangisan sang Mama.
"Papa masuk rumah sakit, Far. Segeralah pulang, nak..karena sejak tadi Papa selalu memanggil-manggil namamu,,hiks,,hiks. Mama takut, Far..."
"Mama tenang ya, Ma. Aku akan pulang sekarang juga. Di rumah sakit mana Papa di rawat, Ma?"
"Di rumah sakit Dr. Soetomo sayang, kamu hati-hati ya.."
"Iya, Ma..."
Aufar menutup telepon dan segera mengganti pakaian. Sebelum berangkat, ia sempat menghubungi asistennya.
"Syifa, tolong cancel semua janjiku bersama pasien untuk tiga hari ke depan atau pindahkan saja kepada Dr. Ilham karena aku harus kembali ke Surabaya sekarang juga."
Aufar meraih kontak mobilnya dan bergegas meninggalkan apartemennya menuju Soekarno-Hatta International Airport.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sekali lagi happy birthday Alia💞 Ada lagi yang mau ngucapin?
Bintang lima tolong di sentuh ya sayang, pake hidung juga boleh🤭 Terima kasih🙏