I Love You Till Jannah

I Love You Till Jannah
S2 POV Jimmy Part 1



Sepulang dari Surabaya, taxi yang aku tumpangi dari Bandara Soekarno-Hatta mendadak disalip oleh sebuah mini bus yang berisi sekitar delapan orang preman bertubuh besar. Kala itu aku sempat melawan di saat dua orang dari mereka menarik paksa tubuhku keluar dari dalam taxi. Aku sempat mencetak bogeman mentah pada wajah dua orang tersebut. Namun naas, aku tidak bisa melawan lagi karena jumlah mereka yang ternyata lumayan banyak.


Tadinya aku sempat berpikir ini adalah ulah dari si gila, Fana. Tetapi, aku dibuat terkejut, setelah para preman itu membawaku ke sebuah lokasi di pertengahan hutan. Di sana hanya ada satu rumah besar yang aku sendiri sangat tahu siapa si empunya rumah tersebut.


Aku terus berontak ketika mini bus itu berhenti di pekarangan rumah besar tiga lantai tadi. Aku masih berusaha melawan, namun tetap saja mereka berhasil menyeretku masuk ke dalam dan berhadapan dengan makhluk Tuhan yang pernah berada sangat dekat denganku, namun misi kami sangat bertolak belakang.


Seorang pria yang seumuran denganku, lahir dari rahim yang sama dan dengan karunia wajah yang sangat identik. Sangat susah untuk dibedakan secara fisik. Ya, dia adalah saudara kembarku, Jammy.


Aku dan Jammy memang sudah lama terpisah. Karena setelah kepergian Ayah, Mama merasa tidak yakin bisa membesarkan kami secara bersamaan dengan kondisi ekonomi yang sangat memprihatinkan. Hingga akhirnya Ibu merelakan Jammy diadopsi oleh salah satu keluarga konglomerat. Sejak saat itu aku tidak pernah lagi bertemu dengannya. Aku berjuang sendiri ketika Mama menderita. Ketika Mama menunjukkan gejala-gejala aneh, seperti ada yang tidak beres dengan psikologinya. Ya, setelah aku berusaha mati-matian membawa Mama bertemu dengan seorang psikolog, Mama dinyatakan mengalami trauma psikis karena kepergian Ayah waktu itu. Mama tidak bisa menerima kenyataan pahit yang menimpanya. Lebih-lebih Mama mengetahui bahwa ayah telah mengkhianatinya. Memilih pergi dan hidup bersama wanita lain.


Sejak saat itu, aku bertekad untuk menjadi orang sukses agar bisa menghidupi dan memberikan fasilitas kesehatan yang mumpuni untuk Mama. Berkat usaha dan ridho dari Tuhan, berbekal beasiswa yang aku terima, aku bisa menyelesaikan kuliahku di bidang bisnis. Setelah itu aku berhasil bergabung dengan sebuah perusahaan besar yang bergerak di bidang konstruksi.


Dari situlah aku mulai menabung, dan mampu membelikan hunian yang lebih untuk Mama. Aku bahagia, sangat bahagia.


Setelah menginjak usia dua puluh delapan tahun, Jammy datang mengunjungi kami kembali. Ia menemukan alamat baru kami dari salah satu situs di internet. Ya, aku sangat aktif di internet. Oleh karena itu Jammy bisa menemukan akun fesbukku. Tentu saja ketika aku tahu bahwa dia adalah saudara kembarku, aku meresponnya dengan sangat baik.


Jammy meminta maaf atas ketidakberadaannya selama ini karena keluarga angkatnya telah memboyong dia tinggal di luar negeri dua bulan setelah dia diadopsi. Wajar saja, selama ini tidak pernah ada kabar darinya.


Ia sangat sedih dan terpukul melihat kondisi Mama yang belum juga mengalami perkembangan baik, hingga akhirnya untuk menebus waktu yang hilang selama ini, Jammy membeli sebuah rumah megah untuk Mama dan memboyong kami agar tinggal bersamanya.


Tidak hanya itu, dia juga mengajakku membantunya mengolah perusahaan yang telah ia bangun sendiri berbekal modal dari orang tua angkatnya.


Berhubung aku sudah terikat dengan perusahaan lain, akhirnya Jammy secara sepihak memutuskan hubungan kerja samaku dengan perusahaan itu. Lalu menarikku masuk ke perusahaannya. Ia memposisikanku sebagai wakilnya, tetapi aku lebih banyak bekerja di lapangan.


Pada suatu hari aku bertemu dengan seorang lelaki muda. Sepertinya seumuran denganku, kalaupun berbeda, sepertinya hanya satu atau dua tahun di bawahku. Kebetulan saat itu aku sedang berhenti di sebuah minimarket untuk membeli minuman. Tanpa sengaja tubuhku menabrak tubuhnya yang hendak keluar dari minimarket.


"Woa..sorry, Bro." Tuturku tulus.


Ia tersenyum dan memaklumi ketidakfokusanku. "It's okay, Dude." Responnya ramah sembari menepuk bahuku.


Namun ketika aku melihat wajahnya, dia mengingatkanku pada satu sosok yang telah lama tidak terpandang oleh mataku.


Ya, sosok ayah yang telah lama menghilang tanpa kabar. Karena rasa penasaran, akhirnya aku mengekori lelaki itu. Dan ternyata dia adalah seorang dokter di sebuah rumah sakit yang tidak jauh dari kantor Jammy.


Lama aku menguntitnya. Setiap hari aku mulai kepo dengan hidup lelaki itu. Sampai-sampai aku mengikutinya hingga ke sebuah apartemen yang merupakan tempat tinggalnya.


Tetapi aku merasa ada yang aneh dalam hidupnya. Hari-hari lelaki itu hanya itu-itu saja aktivitasnya, dari apartemen ke rumah sakit. Dari rumah sakit ke apartemen. "Monoton banget kehidupan makhluk ini," batinku.


Tidak ada teman, tidak ada keluarga. Ia bagaikan sebatang kara yang eksklusif. Bagaimana tidak? Profesinya seorang dokter, tapi tidak ada sanak saudara. Awalnya aku berpikiran makhluk ini yatim piatu. Tetapi tidak mungkin. Aku merasa semakin tertantang untuk menginteli hidupnya. Aku ingin membuktikan bahwa lelaki itu memang benar keturunan dari seorang laki-laki yang pernah ku sebut Ayah.


Pada akhirnya, aku memberanikan diri untuk menemuinya dengan berpura-pura terluka. Aku sengaja menggores telapak tanganku sendiri menggunakan pecahan kaca di parkiran rumah sakit tempatnya bekerja.


"Aw..."


Aku mengeraskan suaraku agar ia mendengar teriakan yang memang sengaja aku buat-buat.


"Hei..." Ia yang baru saja keluar dari kendaraannya, berlari mendekatiku dan meraih telapak tanganku yang telah mengeluarkan cairan merah kental.


"Ikut gua..!" Tanpa menunggu persetujuanku, ia menyeret tubuhku. Mungkin ia tidak menyadari selama mengekorinya, aku hanya fokus pada wajahnya yang terlihat panik tanpa menggubris rasa nyeri yang menjalari telapak tanganku.


"Sorry, gua udah ngerepotin lu. Pasti elu udah terlambat untuk bertugas." Tuturku benar-benar merasa bersalah.


"Elu bukannya yang nabrak gua di minimarket tempo hari?" Ia melirik wajahku sejenak, lalu melanjutkan gawainya.


"Yup.." Aku ku dengan wajah cengengesan, menyadari kesalahanku waktu itu.


"Ternyata Tuhan menakdirkan kita untuk bertemu lagi." Ia menggunting ujung perban itu sehingga terbelah dua, lalu melingkarkan dan menyimpulnya sedikit erat.


"Kenalin gua Aufar.." Ia mengulurkan tangannya.


Tanpa basa dan basipun aku menyambut uluran tangannya. "Gua Jimmy.."


***


Sejak hari itu, kami lebih sering bertemu di luar jam kantorku dan di luar jam dinas Aufar pastinya.


Saking inginnya menjadi lebih dekat, aku menawarkan diri untuk menjadi asistennya. Kala itu ia tergelak mendengar tawaranku itu. Ia menganggap bahwa itu hanya sebuah lelucon yang sengaja aku buat-buat. Sehingga untuk meyakinkannya, aku mengakui bahwa hal itu aku lakukan untuk mencari tambahan penghasilan.


Setelah mendengar penuturanku yang tampak serius, sepertinya dia merasa tersentuh atau apalah. Yang jelas setelah hari itu ia benar-benar menempatkanku sebagai asisten pribadinya. Aku sangat tahu bahwa gaji dokter itu tidak seberapa. Namun yang jelas, Aufar membayarku dengan nominal yang sangat fantastis.


Karena hubungan di antara kami cenderung lebih santai, tidak seperti hubungan antara atasan dan bawahan, akhirnya aku memberanikan diri untuk mengorek beberapa informasi yang memang sangat ingin aku ketahui.


"Boss, elu bayar gua sebanyak itu dapet duit dari mana? Bukannya gaji dokter itu enggak gede ya?" Celetukku seenaknya.


"Frontal banget lu ya, dasar." Kekeh Aufar sambil menyesap manisnya sari pati kopi luwak dari gelas yang ia cubit. "Gua dapat gaji tambahan dari bokap gua tiap bulan." Ia tergelak ketika mengatakan hal itu.


Aku memicingkan sebelah mataku, lalu melanjutkan misi penginterogasianku. "Bokap? Selama ini di apartemen lu kaga ada siapa-siapa juga." Tuturku dengan nada pancingan agar dia mau lebih terbuka.


"Keluarga gua di Surabaya, Jim. Gua dan Kakak gua selalu dapat royalti dari usaha pariwisata dan kuliner milik Papa. Dan itu udah keputusan final, walaupun gua udah berulang kali menolak."


DEG


Nafasku terasa sangat sesak. Betapa terjaminnya kehidupan lelaki ini. Tidak seperti aku yang selama ini mati-matian merawat dan menghidupi Mama. Walaupun aku belum bisa memastikan, jika lelaki yang disebut Papa oleh Aufar itu, adalah lelaki yang tadi aku sebutkan.


Dengan suara bergetar, aku memberanikan diri bertanya pada Aufar siapa nama lelaki yang disebutnya Papa itu.


"Boleh gua tahu nama Papa lu?" Kalimat itu terasa berat aku lontarkan. Namun yang lebih parah lagi, aku merasa tidak siap mendengar jawaban Aufar.


"Fahri.."


DEG


Lagi-lagi aku merasa tersengat aliran listrik. Fahri? Bukankah itu nama laki-laki yang telah meninggalkan aku, Mama, dan Jammy.


Firasatku selama ini memang tidak meleset. Aufar ada kaitannya dengan lelaki yang pernah ku sebut Ayah itu.


Ada rasa iri dan sejenisnya di dalam hatiku. Namun hal itu wajar 'kan? Aku juga memiliki hak atas apa yang Aufar dapatkan dari lelaki itu. Bukan tentang nominal, tetapi tentang.....PERHATIAN DAN KASIH SAYANG.


Bersambung...