
Selepas memberitahu orang tuanya tentang beasiswa master yang ia terima, Alia segera melengkapi dokumen-dokumen penting yang diperlukan untuk memenuhi persyaratan administrasi yang tertera pada buku panduan. Mulai dari surat kesehatan bebas narkoba, sertifikat telah lulus test TOEFL/IELTS terbaru, sampai LoA (Letter of Acceptance) yang sudah ia dapatkan dari perguruan tinggi tujuan.
Walaupun saat ini Alia masih buta akan identitas donatur beasiswanya, namun ia berniat akan segera mencari informasi tentang siapa sebenarnya pemilik hati yang dermawan itu. Sungguh pribadi yang mengagumkan. Akan lebih afdol baginya jika ia bisa mengucapkan terima kasih secara langsung. Bahkan Alia telah berjanji kepada dirinya sendiri.
"Jika suatu saat aku bertemu dengan donatur itu, aku akan membalas semua jasanya. Jika ia seorang laki-laki yang masih single maka aku rela menjadi istrinya. Namun jika ia perempuan, maka aku ingin membuatnya menjadi saudaraku."
Nadzar Alia sudah terucap, disaksikan oleh hujan dan dentuman petir di langit khatulistiwa. Hanya ini yang mampu ia lakukan untuk membalas perbuatan yang amat terpuji itu.
"Kamu yakin, Al?" Tanya Isni yang sedang mendorong koper milik Alia. Mereka sedang berada di halaman Bandara Supadio Pontianak. Pakaian mereka sedikit basah karena jas hujan yang mereka gunakan selama di perjalanan menuju bandara menari-nari sesuai irama angin.
"Yakin, Is...aku tidak punya harta untuk mengganti semua dana yang akan ia keluarkan untuk membiayai pendidikan ku nanti."
"Kalo nyatanya donatur mu itu kakek-kakek duda bagaimana?" Isni memiringkan kepalanya agar bisa dengan jelas memandang wajah Alia. Ia nampak serius dengan pertanyaannya.
"Husssh...kamu itu ya ada-ada aja."
"Aku serius, Al...kamu berani banget nadzar begituan. Kalo beneran tu orang kakek-kakek aku enggak kebayang deh, Al." Isni terus nyerocos sambil terkekeh.
"Kalau nyatanya ia adalah seorang pangeran tampan dari negeri antah berantah bagaimana?" Balas Alia santai.
"Waaah aku bakal nyusul kamu deh rela jadi dayang setia mu..hahaha." Mereka tertawa lepas bersama. Saking gembiranya tawa itu berubah menjadi isak tangis.
Hari ini adalah hari yang Alia tunggu-tunggu. Ia akan berangkat ke kota rantauan sesi kedua. Kota terbesar dan sangat populer di negara ini. Alia tidak pernah menyangka bahwa Tuhan menjawab do'a-do'anya secepat ini.
Padahal sebelum melanjutkan pendidikan ke jenjang S2, Alia berniat untuk bekerja terlebih dahulu demi membantu perekonomian keluarga. Namun takdir berkata lain dan Alia dengan senang hati menjalani skenario yang telah Tuhan tuliskan untuknya. Tentu saja dengan berbekal restu dan ridho dari kedua orang tuanya.
"Al...kabari aku jika kamu sudah tiba disana ya. Ingat, jangan terlalu dekat dengan orang-orang asing! I'll miss you..hiks..hiks.." Isni melepaskan pelukannya dari tubuh mini Alia.
"Siap, Nyonya Abdillah. Kamu juga jangan malas-malasan. Segera selesaikan KTI mu yang sudah berlumut di bawah lipatan laptop itu. I'll miss you too, Is..." Alia mangacak-ngacak puncak rambut Isni setelah mengusap pipinya yang basah.
Dengan berat hati kedua sahabat itu harus berpisah di depan pintu masuk keberangkatan. Alia menarik kopernya sambil melambaikan tangan perpisahan dengan sahabatnya yang dengan sabar menemani hari-hari pahit dan manisnya itu. Isni membalas lambaian tangan Alia hingga bayangan Alia pun tak tampak lagi di mata indahnya.
***
Jakarta
"Jim, lu udah di bandara?" Tanya seorang laki-laki di seberang sana.
"Yo'i, gua udah standby ini, broh. Lu tenang aja. Begitu ia tiba disini gua bakal bawa gadis itu ke apartemen yang lu maksud."
Jawab Jimmy yang sudah siap dengan papan nama bertuliskan nama Zalia Aliyanti yang dikalungkan pada lehernya. Ia berdiri tepat di depan pintu kedatangan bandara Internasional Sukarno-Hatta, agar Alia mudah melihatnya ketika keluar dari ruang kedatangan. Hubungan Jimmy dan boss nya memang terlihat seperti sahabat sehingga bahasa komunikasi yang mereka gunakan terkesan santai namun Jimmy tetap segan terhadap atasannya itu.
"Seharusnya pesawatnya sudah mendarat sejak lima belas menit yang lalu." Jimmy melihat jam ditangannya.
"Kenapa gadis itu belum nongol juga ya?" Jimmy mulai meraup wajahnya dengan kasar. Jika ia gagal membawa Alia ke apartemen dengan selamat maka bisa-bisa boss nya akan memecatnya.
"Nona Zalia...dimana kamu?" Jimmy berjalan ke kanan dan ke kiri seperti seterikaan, mencoba meredam kekhawatirannya. Sampai akhirnya pandangannya terkunci pada seorang gadis yang tubuhnya tidak terlalu tinggi. Gadis itu berdiri tepat di depan pintu. Ia memakai pasmina berwarna cokelat susu senada dengan kemeja yang ia gunakan. Wajahnya terlihat teduh dan menenangkan. Jimmy sempat tertegun memandang ciptaan terindah dari Sang Maha Pencipta itu.
"Permisi, Tuan..." Alia menyapa Jimmy, namun Jimmy tak bergeming.
"Tuan..." Alia melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Jimmy sehingga membuat ia tersadar dari lamunan.
"Astaghfirullahal adzim.." Ucap Jimmy seperti sedang melihat sosok ghaib yang tak terlihat mata selain mata seorang indigo.
"Tuan kesini untuk menjemput saya?" Alia mulai bertanya setelah Jimmy sudah mendapatkan kembali kesadarannya.
"Maaf, bukan Nona..saya..." Belum selesai Jimmy menjawabnya, Alia sudah memutus kalimatnya terlebih dahulu.
"Tapi itu, papan nama itu tertulis namaku, Tuan." Alia menunjuk papan nama yang talinya melingkar di leher Jimmy.
"Oh, jadi gadis ini..ya ampuun Jimmy ngarep banget sih lu. Gadis yang mencuri cinta pertama lu itu milik boss lu." Jimmy mengutuki dirinya sendiri dalam hati.
"Tuan..." Lagi-lagi Alia harus menyadarkan Jimmy dari pergelutan pikirannya sendiri.
"I-iya, Nona..mari.." Jimmy mengambil alih koper Alia dan memasukkannya ke dalam bagasi. Kemudian ia membukakan pintu mobil bagian belakang untuk Alia.
"Terima kasih, Tuan." Ucap Alia sembari tersenyum.
"Ya Tuhaaan..senyumannya saja seperti malaikat tanpa sayap di dalam film-film yang aku tonton," batin Jimmy.
"Sama-sama, Nona," jawabnya.
Setelah beberapa lama berpacu, mobil yang di kendarai Jimmy sampai di halaman parkir sebuah gedung pencakar langit yang membuat Alia tertegun.
"Tuan...maaf, apa kita tidak salah alamat?" Alia celingukan menatap keluar kaca mobil.
"Tentu saja tidak, Nona Zalia." Jimmy keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Alia. Hal itu membuat Alia sedikit risih karena diperlakukan layaknya seorang putri.
"Terima kasih, Tuan. Sebenarnya saya bisa sendiri." Alia keluar dari mobil dan ekor matanya menyapu keadaan di sekitar.
"Mari ikuti saya, Nona." Alia mengekori Jimmy yang sejak tadi setia membawa kopernya.
Jimmy mengajak Alia masuk ke dalam sebuah lift dan menekan nomor lantai yang akan mereka tuju. Di dalam lift Jimmy mencuri-curi pandang menatap Alia. Untung saja Alia tidak menyadari hal itu karena Jimmy memakai kaca mata hitam yang bersandar kokoh pada hidung mancungnya.
Ting..(pintu lift terbuka)
Jimmy mengajak Alia keluar dari lift dan menuju unit apartemen yang sudah disiapkan untuk Alia.
"Silakan masuk, Nona..ini apartemen yang sudah disiapkan untuk Anda. Selama menempuh pendidikan Master, Anda akan tinggal disini." Jelas Jimmy setelah membuka pintu apartemen itu.
Alia melangkah masuk melewati batas pintu, ia sungguh terkejut dengan apa yang ia lihat. Tidak mungkin apartemen semewah ini di siapkan untuknya. Ia hanya seorang gadis yang beruntung karena telah mendapatkan beasiswa. Namun untuk menerima fasilitas yang begitu mewah seperti ini, Alia merasa berat hati. Ini sungguh berlebihan menurutnya.
"Tuan maaf..." Alia memundurkan langkahnya.
"Kenapa, Nona? Apa Nona tidak menyukai design apartemen ini? Jika demikian, saya akan mencarikan unit lain untuk Nona." Ucap Jimmy sambil tersenyum hangat mencoba menerka ekspresi wajah Alia.
"Bukan, bukan itu maksudku. Aku hanya tidak bisa tinggal di tempat semewah ini. Sepertinya kamu salah orang deh. Ini enggak mungkin untuk aku." Alia membalikkan badannya dan hendak melangkah pergi. Namun Jimmy dengan sigap menahan pergelangan tangan Alia.
"Nona, tunggu. Aku mohon tetaplah disini. Jika tidak, aku bisa dipecat. Ini amanah yang harus aku sampaikan kepada Nona Zalia, dan aku tidak salah orang." Jimmy menunjukkan foto Alia di layar ponselnya. Hal itu membuat Alia yakin bahwa Jimmy benar-benar tidak salah orang.
"Nona please, masuklah. Ini memang unit apartemen yang disediakan untuk Nona." Jimmy kembali memohon kepada Alia.
Oleh karena kota ini merupakan kota baru untuknya, Alia tidak memiliki pilihan lain selain menerima tawaran Jimmy. Hal itu membuat Jimmy lega dan berterima kasih karena secara tidak langsung Alia sudah memberikan perhatian lebih dengan tidak membuatnya dipecat dari pekerjaan. Kemudian Jimmy pamit undur diri setelah memastikan Alia masuk ke dalam apartemen.
Sepeninggalan Jimmy, Alia kembali menyapu setiap sudut ruangan itu dan masih tidak percaya bahwa Tuhan begitu baik kepadanya. Namun rasa penasaran tentang identitas donatur beasiswanya itu semakin berkobar.
"Sebenarnya, siapa kamu wahai malaikatku?" Alia bergumam dalam hati.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Terima kasih atas dukungannya gengs🙏😍
Happy reading, MT Lovers💞