I Love You Till Jannah

I Love You Till Jannah
Penolakan Alia



Acara ceremonial gelar sarjana Alia berjalan dengan lancar dan haru biru. Orang tua mana yang tidak bangga jika melihat anak mereka mengenakan toga kemerdekaan alias kemenangan dari jerih payah dengan rasa nano nano yang dialami hampir semua mahasiswa semester akhir.


Alia, Pak Harry, Ibu Nana dan Alan berjalan memasuki salah satu studio foto yang bersusun di sepanjang halaman Auditorium Universitas Tanjungpura. Banyak sekali keluarga yang menggunakan jasa para fotografer untuk mengabadikan momen berharga mereka, termasuk keluarga Alia.


"Yah, disini aja ya.." Pinta Alia.


"Boleh..." Jawab Pak Harry singkat sambil mengekori Alia diikuti oleh Alan dan Ibunya.


Mereka sudah memasang berbagai pose di depan background yang berlatar seperti rak buku yang tersusun rapi. Seorang fotografer dengan sigap dan lihai mengabadikan momen bahagia keluarga kecil ini.


"Ok, mau tambah lagi?" Tanya fotografer yang mulai jenuh dengan banyaknya pose yang lakukan Alia saat memintanya untuk mengambil gambarnya seorang diri.


"Hehehe...udah cukup bang." Alia terkekeh yang sudah mengerti kekesalan fotografer itu.


"Tolong tulis nama dan nomor hp mu! Semua hasil dari jepretan hari ini bisa diambil di tempat ini besok pagi." Instruksi fotografer itu sambil menyodorkan kertas dan pulpen kepada Alia.


"Siap bang.." Alia meraih kertas dan pulpen itu kemudian menuliskan identitasnya.


Ketika sedang menulis, Alia dikejutkan oleh kehadiran seseorang yang tiba-tiba berlutut di sampingnya. Alia melirik ke samping dan melihat sosok yang familiar di matanya.


"Ka-kak Urai..." Sapa Alia sambil mangap tidak percaya bahwa Kak Urai juga hadir disana.


"Will you marry me, Zalia Aliyanti...?" Menatap hangat manik mata Alia sambil menyodorkan kotak beludru berwarna merah hati berisi sebuah cincin berlian entah berapa karat.


Alia yang baru saja selesai menulis identitasnya di kertas tadi spontan memposisikan tubuhnya menghadap Kak Urai.


"Kak...bangun...jangan seperti ini." Alia meraih pundak Kak Urai dan mengajaknya bangkit.


Kak Urai tersenyum lembut ketika merasakan sentuhan Alia di kedua pundaknya. Ada binar kebahagiaan di wajahnya karena mendapat perhatian kecil dari Alia. Disentuh seperti ini saja sudah membuatnya bahagia bukan kepalang, apalagi sampai Alia menerima lamarannya.


Pak Harry, Ibu Nana, dan Alan hanya menjadi penonton setia seperti sedang menyaksikan adegan lamaran yang kurang romantis karena dilakukan di halaman terbuka sebuah gedung serba guna.


"Kakak...kapan datang? Kenapa tidak memberitahuku sebelumnya? Jika Kakak memberitahuku, pasti tadi ditungguin pas mau foto." Alia mengalihkan topik pembicaraan. Ia melirik ke arah Ayah dan Ibunya seakan merasa malu dengan scene yang barusan mereka saksikan.


"Pesawatku baru saja mendarat dan aku langsung meluncur kesini." Jawabnya sambil memaksakan diri untuk tersenyum karena lagi-lagi Alia tidak merespon lamarannya.


"Tunggu..tunggu..Kenapa adegannya di-cut? Scene yang tadi lanjutin dong." Sela Pak Harry ketika kedua anak muda di hadapannya mulai melupakan topik awal pembicaraan mereka.


"Ayah..." Cebik Alia yang mulai malu ketika banyak mata yang tertuju kepada mereka berdua.


"Benar kata Ayahmu Al..tidak seharusnya kamu melewatkan momen tadi." Sambung Kak Urai dengan percaya diri.


Alia gelagapan dan merasa sangat gelisah. Pasalnya sampai saat ini hatinya masih terpaut pada satu nama. Nama yang mungkin tidak akan tergantikan oleh nama pangeran manapun dari seluruh penjuru dunia. Namun saat ini, ia di hadapkan dengan situasi yang sangat membingungkan.


"Sepertinya Kak Urai sengaja merancang semua ini agar aku tidak bisa menolaknya," Alia membatin kesal.


Sedangkan semua mata masih menilik dan mengintimidasi ke arahnya seakan mengharuskan Alia menerima lamaran Kak Urai.


Alia melirik ke arah sang Ibu seolah meminta beliau untuk menyelamatkannya dari situasi sulit ini. Kelemahan Alia adalah ia paling tidak bisa mempermalukan orang lain apalagi di depan umum.


Pasalnya sepanjang sejarah ceremonial tetap yang dilaksanakan empat kali dalam setahun ini, tidak pernah ada momen lamaran yang terjadi di lingkungan kampus seperti saat ini. Karena ini terjadi untuk yang pertama kalinya, sudah dijamin pasti setelah ini mereka akan viral.


"Zalia Aliyanti, maukah kamu menjadi pendamping hidupku?" Kembali menyodorkan kotak beludru itu ke hadapan Alia.


Sumpah demi apapun, rasanya Alia ingin membenamkan wajahnya ke dasar lautan yang paling dalam atau bisa juga dengan menghilang sekejap mata dari tempat itu menggunakan ilmu kanuragan level tinggi seperti dalam film-film laga di stasiun televisi nasional.


Mungkin momen inilah yang sempat dijepret oleh Andri ketika menjalankan misi sebagai telik sandinya pangeran Kerajaan Cinta dari Jawa Timur.


Alia berusaha mengontrol dirinya agar bisa setenang mungkin menghadapi situasi ini agar tidak salah dalam mengambil keputusan. Ditariknya nafas berat dan menghembuskannya kembali seolah sedang memberi ruang untuk dadanya yang mulai sempit.


"Kak...aku tidak bermaksud mempermalukanmu di sini. Tapi aku tidak bisa menerima lamaran ini." Alia tertunduk yang sebelumnya sempat melirik ke arah Sang Ayah.


Pak Harry, Ibu Nana, Alan, dan seluruh netizen yang mengelilingi mereka sontak hening, tidak percaya akan penolakan yang diberikan Alia kepada pria malang di hadapannya.


"Kenapa..?" Tanya Kak Urai yang sudah beranjak dari posisinya dan menggenggam kotak beludru berwarna merah itu.


"Aku punya alasan tersendiri kak dan aku tidak ingin menyakitimu lebih dalam lagi setelah mendengar alasanku nanti." Alia semakin ingin membenamkan wajahnya ke dasar sungai kapuas, karena tidak tega melihat wajah kecewanya seorang Urai Abdillah.


"Oh, aku mengerti." Dengan langkah gontai seorang pejuang cinta yang sedang patah hati itu berbalik arah mendekati Pak Harry.


"Maafkan aku Pak, selama ini aku sudah berusaha semampuku. Namun sepertinya takdirku sudah tertulis dan aku tidak tercipta untuk menjadi menantu Bapak." Ucapnya lirih dan berlalu sebelum mendengarkan tanggapan dari Pak Harry.


***


Usai makan siang di sebuah cafe di sekitar kampus, Alia sekeluarga kembali ke rumah kontrakannya untuk beristirahat.


Alia dan Ibu Nana sudah mengganti pakaian mereka dengan pakaian kemerdekaan emak-emak di rumah, yaitu daster. Siapa sih yang tidak suka mengenakan pakaian yang satu ini? Selain nyaman dipakai, jenis baju yang satu ini jugs bisa dikantongi dengan harga yang sangat terjangkau.


"Al..Ayah mau bicara." Ujar Pak Harry saat melihat Alia keluar dari kamar.


"Mau bicara soal apa, yah?" Alia masih berdiri di depan pintu kamarnya.


"Ayo sini, duduk di samping Ayah." Pinta Pak Harry sambil menepuk-nepuk lantai di sebelahnya. Alia pun mengindahkan permintaan Ayahnya.


"Hari ini Ayah sangat bangga padamu. Kamu sudah menepati janjimu pada Ayah untuk menyelesaikan pendidikanmu tepat waktu. Bahkan kamu melakukannya lebih cepat dari target yang diberikan oleh pihak beasiswa. Maka dari itu..." Suara Pak Harry tercekat sebelum melanjutkan kalimatnya.


"Kamu sekarang bebas, nak. Lampu hijaumu dari Ayah sudah menyala. Kamu boleh menentukan pasangan hidupmu dan menikah. Tapi kenapa kamu menolak lamaran dari Urai?" Lanjut Pak Harry.


Alia merasa baru saja Pak Harry menerbangkannya ke langit dengan kalimat kebanggaannya, namun seketika menghempaskannya kembali ke bumi karena seolah-olah menolak lamaran Kak Urai tadi adalah sebuah kesalahan besar. Alia terdiam sejenak kemudian meloloskan kalimat pusakanya yang selama ini ia pendam sendiri.


"A-aku tidak mencintainya, Ayah..." Cairan bening itu lolos begitu saja dari kelopak mata indah Alia.


Bersambung...


Tolong jangan lupa kasi jejak ya, my love😍 Terima kasih🙏💞