I Love You Till Jannah

I Love You Till Jannah
Pertemuan Tak Terduga



Setelah lima belas menit perjalanan, mobil Kak Urai berhenti di halaman parkir salah satu bangunan pencakar langit. Bangunan itu terlihat sangat mewah dengan hiasan lampu berwarna kuning di setiap penjuru halaman. Ditambah lagi adanya lampu-lampu kecil yang menghiasi setiap pilarnya.


Kak Urai mematikan mesin mobil dan melepas sabuk pengamannya. Kemudian ia membuka pintu dan keluar mengitari mobilnya. Ia membukakan pintu mobil untuk Alia.


"Terima kasih, sebenarnya aku bisa sendiri, Kak." Ucap Alia yang hanya dibalas senyuman oleh Kak Urai.


Setelah pintu mobil ditutup kembali, Alia terlihat mematung, terpesona. Ia menyapu setiap sudut halaman hotel bintang lima itu. Ini kali pertamanya bagi Alia menghadiri resepsi pernikahan seseorang yang diadakan di dalam hotel mewah.


"Ayo, Al..." Ajak Kak Urai sambil menarik lembut tangan Alia. Namun Alia masih tak bergeming.


"Kenapa Al...?" Kak Urai menaikkan salah satu alisnya melihat ekspresi wajah Alia yang nampak canggung dan takut.


"Kak...aku..."


"Is this your first time?"


"Hemmmm..."


"Don't be worry, aku ada bersamamu."


Kak Urai semakin mengeratkan genggaman tangannya seolah mentransfer kekuatan kepada Alia. Alia mengangguk pelan tanda mengerti.


Ketika mereka hendak beranjak dari tempatnya, terdengar suara seorang wanita yang memanggil Kak Urai.


"Pak...Pak Urai.."


Sontak Kak Urai menoleh ke arah sumber suara. Terlihat seorang wanita dewasa yang sedang melambaikan tangannya. Jika diperhatikan wanita itu kira-kira berusia sekitar tiga sampai empat tahun diatas Alia.


Wanita berpostur tubuh tinggi dan berparas cantik itu memakai gaun berwarna toska yang panjangnya selutut. Gaun itu benar-benar pas body sehingga menunjukkan lekuk tubuhnya dengan jelas. Ia berjalan mendekati Alia dan Kak Urai.


"Saya kira, saya sudah terlambat Pak. Ternyata Bapak juga baru sampai ya?" Yuna beralih menatap Alia. "Bukannya ini gadis yang ada di foto waktu itu?" Batinnya.


"Iya..Oh iya Yuna perkenalkan ini Alia. Alia ini Yuna, sekretarisku."


"Senang bertemu denganmu Mbak Alia." Yuna tersenyum hangat dan menyodorkan tangannya untuk menjabat Alia. "Ternyata ini gadis yang membuat Pak Urai tergila-gila," gumam Yuna dalam hati.


"Senang juga bisa bertemu dengan Mbak Yuna." Alia menyambut tangan Yuna dan menjabatnya. "Waaah cantik banget ya sekretaris Kak Urai, kenapa Kak Urai tidak menikahi dia saja ya?" Batin Alia.


"Baiklah, jika sudah selesai perkenalannya ayo kita masuk." Ajakan Kak Urai membuyarkan lamunan keduanya.


Kak Urai berjalan mendahului Yuna dengan masih menggenggam erat tangan Alia. Alia yang merasa tidak enak dengan Yuna membuat ia menggoyang-goyangkan tangannya agar terlepas dari genggaman Kak Urai.


"Kenapa Al..?" Tanya Kak Urai menghentikan langkahnya sejenak.


"I-ini Kak, bisa minta tolong lepaskan saja tanganku, Kak? Nggak enak sama Mbak Yuna." Alia berbisik pelan di telinga Kak Urai karena khawatir Yuna akan mendengar percakapan mereka.


"Biarkan saja Al, tidak masalah untuk Yuna, benar kan Yun?" Dijawab dengan suara lantang oleh Kak Urai.


"Iya Pak tidak masalah." Jawab Yuna sambil tersenyum.


"Ta-tapi Kak..." Protes Alia.


"Ssssst...tidak usah berdebat ya, ayo.." Kak Urai tidak ingin dibantah lagi. Ia melanjutkan langkah tegapnya menuju ball room.


Alia memandang wajah Yuna yang sudah terlihat cemberut. "Dasar boss tampan! Aku kesini cuma disuruh jadi obat nyamuk," cebik Yuna.


Alia sungguh tidak enak hati. Jika ia tahu sekretaris Kak Urai akan ikut bersama mereka ia tidak akan mau menerima ajakan ini. Alia menundukkan kepalanya sambil bergumam di dalam hati, "Kalau bukan karena Ayah aku juga nggak akan ada disini."


Setelah sampai di depan ball room hotel itu, Kak Urai menunjukkan kartu undangan dan mengisi daftar hadir yang sudah disediakan oleh pihak hotel. Kemudian dua orang penjaga itu mempersilakan Kak Urai, Alia, dan Yuna untuk masuk.


Alia terpesona dengan kemegahan dan keindahan ball room yang sudah didekorasi sedemikian rupa itu. Ia menyapu seluruh sudut ruangan tanpa melepaskan pandangannya sedikitpun.


Kak Urai sejenak menatap manik mata gadis pujaannya yang sedang kagum akan keindahan tempat itu. Senyum usil tersemat di bibirnya.


"Suka banget, Kak. So beautiful." Jawab Alia yang masih belum berpaling dari pandangannya.


"Aku akan membuatnya lebih indah lagi di hari pernikahan kita." Alia membulatkan matanya sempurna mendengar kata-kata Kak Urai dan memandang wajah Kak Urai yang terlihat sangat serius dengan ucapannya.


"Kak..aku..." Suara Alia tercekat.


"Jika kamu sudah siap.." Kak Urai berbisik dengan lembut di telinga Alia sambil tersenyum menggoda.


Alia dengan berat menelan salivanya. Bulu kuduknya merinding. Badannya terasa panas dingin. Ia tidak bisa membayangkan. Hari dimana ia harus bersanding dengan Kak Urai. Laki-laki yang tidak ia cintai. Lalu ketika itu juga ia melepaskan genggaman tangannya dari Kak Urai.


"Alia...kenapa? Apa kata-kataku tadi menyakiti hatimu?" Kak Urai menatap manik mata Alia yang sudah berkaca-kaca.


"Ti-tidak..tidak apa-apa, Kak." Alia menundukkan pandangannya. Kak Urai yang mengerti dengan sikap Alia itu, lantas mengajak Alia dan Yuna duduk di meja yang sudah disediakan untuk mereka.


Kak Urai menarik salah satu kursi dan mempersilakan Alia duduk. Kemudian ia mendudukkan tubuhnya tepat disamping kanan Alia. Sedangkan Yuna duduk di samping kiri Alia, membuat posisinya berhadapan dengan Kak Urai.


Yuna sedikit bingung dengan perubahan sikap Alia. Pasalnya ia tidak mendengar percakapan antar Kak Urai dan Alia sebelumnya. Ia memandang Alia yang masih saja tertunduk, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Kak Urai.


"Yuna, kamu temani Alia sebentar ya. Aku akan menemui Pak Fahri." Yuna mengangguk tanda mengerti.


"Al..aku tinggal sebentar ya. Jika mau makan atau minum minta tolong Yuna untuk mengambilkannya ya." Ucap Kak Urai sambil memegang bahu Alia. Sontak Alia mengangkat wajahnya.


"Iya Kak.." Jawab Alia singkat berusaha untuk tetap tersenyum.


Sepeninggalan Kak Urai, tidak ada percakapan antara mereka. Alia yang tidak menyukai situasi ini, lantas memecah keheningan.


"Mbak Yuna sudah lama ya kerja sama Kak Urai?"


"Sudah lima tahun." Jawab Yuna singkat.


"Berarti udah lama dong. Mbak asli orang sini?"


"Iya.."


Lagi-lagi Yuna menjawab pertanyaan Alia dengan malas. Membuat Alia menarik nafas pelan. "Perasaan tadi pas lagi sama Kak Urai, dia baik-baik aja. Bersikap manis malahan. Kenapa sekarang jadi dingin gitu?" Gumam Alia.


Beberapa saat setelah itu, Alia merasa pandangannya gelap karena tertutup oleh dua telapak tangan yang sangat lembut. Alia kenal aroma parfum itu. Sangat familiar di indera penciumannya.


"Siapa...?" Alia mencoba bertanya.


"Ayo tebak!" Bahkan suara itu juga tidak asing lagi di indera pendengarannya.


"Kak Selvia.." Alia menurunkan kedua telapak tangan itu dan membalikkan badannya.


"Kok kamu bisa tahu sih, Al?" Cebik Kak Selvia.


"Iya dong, siapa dulu? Alia.." Mereka berdua tergelak membuat Yuna semakin tidak suka dan muak dengan tingkat kedua sahabat itu.


"Kakak sama siapa kesini?" Tanya Alia yang menggoyangkan kepalanya kesana kemari mencari partner adik perempuannya Kak Urai itu.


"Aku sama Mama Al, cuman Mama lagi sibuk tuh sama temen-temennya. Makanya pas liat kamu, aku samperin aja." Kak Selvia mengarahkan bibirnya ke arah sang Mama. Alia mengekori arah bibir Kak Selvia.


Ia melihat seorang wanita paruh baya yang cantik dengan penampilan modis namun tetap menutupi seluruh auratnya. Ia tertawa lepas bersama teman-teman sosialitanya. Alia tersenyum tidak percaya diri.


"I-itu Mamanya Kakak?" Tanya Alia meyakinkan.


"Iya Al, ayo aku kenalkan sama Mama.." Kak Selvia menarik tangan Alia, tanpa menunggu jawaban darinya.


Bersambung


Maaf baru update🙏 Tetap dukung karyaku kalau kalian suka ya💞 Terima kasih🙏