
Alia kembali membaca dua carik kertas berbentuk persegi panjang yang tidak lain adalah tiket keberangkatan dan paket bulan madu satu bulan di Turkey.
Namun tiba-tiba pikirannya terganggu oleh sesuatu. Apa mungkin mereka bisa menghabiskan waktu selama satu bulan di sana? Sedangkan profesi Aufar sangat menuntut kehadirannya setiap saat. Apalagi ia juga sudah memiliki kewajiban baru di sekolah.
Tidak, tidak. Tidak mungkin ia membuang kado special itu begitu saja kan? Tiket gratis ini akan mubadzir jika tidak dipakai. Tapi bagaimana caranya? Sejenak Alia bergelut dengan pikirannya sendiri, tanpa melibatkan Aufar di dalamnya.
Perlahan Alia bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati lemari pakaian yang tersedia di dalam kamar hotel tersebut.
"Kenapa disimpan, Sayang?" Tanya Aufar ketika melihat Alia menyelipkan amplop cokelat itu ke dalam koper kecil miliknya yang disimpan di dalam lemari.
"Simpan aja dulu, Mas. Sewaktu-waktu kalau kita bisa pergi, tinggal tulis aja tanggal keberangkatannya." Jawab Alia tanpa mengalihkan pandangannya dari sang koper.
"What? Kamu pikir itu check kosong, Sayang? Mana bisa diisi tanggal keberangkatan semaunya." Alia terpingkal mendengar kalimat sang suami.
"Kamu juga serius amat sih, Mas. Aku kan cuma guyon (bercanda)." Alia menutup pintu lemari, lalu kembali bergabung dengan Aufar di atas ranjang. "Disitu tanggalnya masih lama juga Mas, Kak Fafa emang cerdas deh. Dia kasi jarak satu bulan dari sekarang." Jelas Alia kemudian.
"Kamu tuh ya.." Aufar mencubit manja ujung hidung sang istri yang terlihat semakin menggemaskan dengan kostum piyama motif buah pisangnya.
Di sela-sela canda tawa sepasang kekasih halal itu, tiba-tiba terdengar sebuah panggilan masuk dari ponsel Aufar. Ia melihat layar ponselnya yang tertera nama sang mama. Lalu menekan tombol hijaunya menjawab panggilan.
"Assalamu'alaik, Sayang...maafin Mama ya kalo gangguin waktu kalian." Terdengar suara Mama Yani terkekeh kecil di seberang sambungan.
"Wa'alaiksalam, enggak papa kok Ma, ada apa Mama telepon malam-malam begini?" Tanya Aufar sambil sedikit melirik ke arah Alia yang sedang melanjutkan ritual pembukaan kadonya.
"Besok pagi kalian sarapan di rumah aja ya, ada sesuatu yang ingin Mama dan Papa bicarakan. " Jawab Mama Yani to the point.
"Baiklah, kami akan ke rumah utama pagi-pagi sekali." Respon Aufar tanpa basa basi.
Setelah menutup teleponnya, Aufar meletakkan ponsel itu sembarangan. Lalu ikut melakukan hal yang sama dengan sang istri hingga larut malam.
***
Keesokan harinya, sesuai yang telah ia katakan tadi malam, Aufar dan Alia sudah berada di rumah utama setelah mereka melaksanakan kewajiban subuhnya.
Mama Yani sangat antusias menyambut kedatangan mereka walaupun ini bukan untuk yang pertama kalinya. Seorang ibu memang sering berlebihan. Berlebih kasih sayang.
Terlihat semua anggota keluarga telah duduk berjejer rapi mengelilingi meja makan akbar yang berbentuk silinder. Terdapat Papa Fahri, Mama Yani, Pak Harry, Ibu Nana, Alan, Aufar dan juga Alia. Sedangkan Kak Fira dan keluarga kecilnya memilih untuk menginap di rumah mereka setelah acara resepsi pernikahan digelar tadi malam.
Di atas meja, tertata beberapa menu sarapan pagi yang menggugah selera. Mulai dari roti panggang dengan berbagai selai yang tersedia, sandwich keju kesukaan Aufar, omelet sayur kesukaan Alia dan nasi goreng seafood special kesukaan bersama.
Alan terlihat antusias mengisi lambungnya yang telah berteriak memekik menuntut asupan. Namun ia terlihat bingung, menu mana yang akan ia lahap terlebih dahulu. Sepintas akal cerdasnya muncul, ia mengambil semua jenis makanan yang ditata bercampur baur dalam satu piring jumbo. "Oh Alan.." Batin Alia.
Semua anggota keluarga yang menyaksikan tingkah konyol remaja SMA itu sontak tertawa dan merasa terhibur.
Ditengah-tengah ritual pengisian energi pagi itu, Mama Yani mengulurkan sebuah amplop berwarna putih dan meletakkannya di atas meja tepat di hadapan Alia.
"A..apa ini, Ma?" Alia terlihat gerogi namun masih mengunyah omeletnya dengan perlahan.
"Kado dari Mama dan Papa." Jawab Mama Yani sambil tersenyum hangat kepada menantunya.
Tanpa menunggu lama, Alia meletakkan sendok dan garpunya di atas piring lalu meraih amplop itu dan membukanya. Ketika ia melihat isi dari amplop itu, Alia bergumam sambil tersenyum malu. "Lagi?" Gumamnya di dalam hati.
"Sepertinya memang banyak orang yang menginginkan tubuh kita untuk bersatu, Sayang." Bisiknya lirih di telinga Alia, sehingga membuat wanita itu mencubit pinggangnya sekuat tenaga.
"Dasar dokter mesum," pekik Alia dengan suara tertahan. Aufar meringis kesakitan namun tetap bisa tersenyum usil. Tingkah mesra suami istri itu menyita perhatian semua anggota keluarga.
"Gimana? Kalian mau kan pergi honeymoon?" Tanya Mama Yani yang sudah tidak sabar lagi untuk menimang cucu.
" Honeymoon??? Apa enggak terlalu cepat, Ma?" Respon Alia.
"Mau dong, Ma." Jawab Aufar serentak dengan pertanyaan sang istri yang membuat Ibu Nana angkat bicara.
"Kok kalian enggak kompak gitu sih?" Sela Ibu Nana di saat Alia mulai melototi Aufar.
Papa Fahri dan Pak Harry hanya melirik satu sama lain sambil menikmati sarapan mereka tanpa ikut campur percakapan ibu-ibu rempong yang sepertinya agak ngotot agar kedua anak menantunya pergi berbulan madu. Sedangkan Alan, Aaaaah sudahlah dia tidak ambil pusing dengan urusan orang-orang dewasa itu.
Alia melirik ke arah Aufar sambil memicingkan kedua matanya. Sedangkan Aufar hanya tersenyum menggoda sambil menaik-naikkan kedua alisnya. Dokter tampan yang sudah mendapatkan kedudukan tertinggi dihatinya itu terlihat sangat antusias dengan hal tersebut. Sementara Alia, ia agak risih jika membahas bab masalah honeymoon.
"Namun mau bagaimana lagi Alia? Ini adalah tuntutan alur cerita yang sudah ditunggu-tunggu oleh para pembaca kisahmu. Jika tidak kita bahas, maka readersku akan mengamuk dan menerorku." Sayup-sayup terdengar bisikan di telinga Alia. Suaranya khas dan tidak asing lagi di indera pendengarannya.
Wanita bermata bulat itu tampak mengedar pandangannya, mencoba menemukan sumber suara, namun hasilnya nihil. Tidak ada satu sosok pun yang ia temukan. Lalu ia menundukkan pandangannya dengan wajah geram.
"Itu deritamu, Bu Author." Pekik Alia di dalam hati.
Akhirnya, dengan kengototan kedua ibu pertiwi, Alia tak bisa lagi berkelit ataupun beralasan. Ia menganggukkan kepalanya pasrah tanda patuh akan keinginan kedua wanita yang sangat berharga baginya itu.
***
Keesokan harinya Aufar dan Alia terbang ke pulau dewata untuk menjalankan moment berdua yang hukumnya wajib dari sang Mama.
Ketika tiba di bandara, tampak seorang sopir pribadi Papa Fahri sudah standby menunggu kehadiran sepasang kekasih halal, putra dan menantu dari Boss Besarnya itu.
Sang sopir membukakan pintu mobil untuk Nyonya Muda dan Tuan Mudanya sambil membungkukkan sedikit tubuhnya tanda hormat.
Ketika sudah memastikan kedua majikan mudanya duduk sempurna, sang sopir melajukan kendaraannya menuju resort pribadi milik keluarga Anggara yang terletak tidak jauh dari Bandara International Ngurah Rai.
Resort yang sengaja dibangun di sebuah pulau kecil yang terpisah dari daratan di wilayah pantai Kuta Bali, khusus dibangun untuk kepentingan pribadi keluarga Anggara saja.
Sedangkan Resort induk yang bernama ANGGARA LUXURY BEACHFRONT RESORT yang terletak di daratan dan lokasinya berhadapan tepat dengan pantai, sengaja dibangun untuk keperluan bisnis.
Setibanya di pinggir pantai, Alia nampak terpesona dengan keindahan alam yang dipoles dengan beberapa sentuhan karya, hasil buah tangan manusia berbakat di pulau ini. Sungguh, ini pertama kalinya bagi Alia menginjakkan kakinya di pulau yang dikenal sebagai pulau pariwisata di Indonesia.
Setelah menurunkan barang bawaan mereka, sopir tadi mengarahkan Aufar untuk mengikutinya menuju dermaga kecil yang terdapat di sisi kiri pantai.
Di sana sudah tersedia speed boat yang akan mengangkut mereka menuju pulau kecil yang berada tidak jauh dari daratan. Alia terlihat sedikit bingung. "Kenapa harus naik speed boat?" Batinnya, namun ia memilih bungkam dan mengekori sang suami tanpa mengeluarkan jurus cerewetnya.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih sepuluh menit, tibalah mereka di sebuah pulau yang dikenal dengan sebutan Pulau Cinta. Pulau ini sudah menjadi kepemilikan pribadi atas nama Papa Fahri.
Presiden Direktur dari PT. Anggara Export itu telah lama menginvestasikan sebagian hartanya hanya untuk membeli pulau kecil ini. Hingga akhirnya beliau memutuskan untuk membangun sebuah resort pribadi untuk kepentingan keluarga Anggara.
Bersambung..