I Love You Till Jannah

I Love You Till Jannah
S2 Seberkas Luka



Harapan tinggal lah harapan. Menusuk kejam tanpa belas kasihan. Bagaimana dengan hasrat? Hasrat yang sudah menjulang tinggi, tak akan bisa semudah itu pergi menjauh. Cengkeraman gejolak ingin bercinta tak lagi bisa diajak berkompromi. Di saat hal itu terjadi, hanya sentuhan pemuas yang bisa menenangkan emosi diri.


Aufar sontak menghempaskan tubuhnya di sebelah Alia. Sebelah telapak tangannya menempel di pelipis mata. Agaknya dia sedikit merasa pusing. Apa? Sedikit? Salah besar. Nyut-nyutan di kepalanya sangat menyiksa. Bahkan keinginan yang sudah memuncak dalam durasi singkat permainan simulasi tadi, malah semakin membuatnya larut dan terbuai. Sekujur tubuhnya masih terasa panas, seolah diterpa badai pasir di tengah padang tandus.


Alia yang mengerti dengan kondisi memprihatinkan sang suami, lantas mengambil alih arena permainan. Ia tersenyum penuh makna, seolah telah menemukan ide cemerlang sebagai solusi untuk menyelesaikan masalah besar ini. Ya, Alia menganggap sepertinya ini merupakan masalah terbesar dalam hidup Aufar. Bagaimana ia akan membiarkannya begitu saja?


Wanita itu berpindah haluan, memposisikan dirinya tepat di atas Aufar. Menyadari hal itu, sontak Aufar terperanjat dan membuka matanya. Ada kilatan sendu yang tidak bisa Alia artikan di balik manik mata yang masih berkabut gairah itu. Sontak Alia tersenyum dan berbisik.


"Let me help you.."


Kali ini, Alia ingin mempraktikkan teknik jitu yang telah ia baca di salah satu situs di gugel. Ia memang sudah mempersiapkan hal itu, kalau-kalau mereka berada pada posisi urgent seperti sekarang ini. Wanita itu tidak menyangka, bahwa keputusannya yang hanya ingin menggoda Aufar berakhir kekecewaan yang mendalam. Ia juga tidak menyangka bahwa akan melakukan hal ini, sebagai permulaan keintiman di antara mereka. Hari ini, baru lah ia menyadari betapa mesumnya suami tampannya itu.


Tak ada penolakan dari Aufar, ia hanya tersenyum getir karena mendengar inisiatif mesra dari sang istri. Awalnya Aufar sedikit terkejut dengan respon Alia, namun karena mengingat mereka bukan lagi hidup pada zaman dimana mesin tik masih sangat populer, Aufar tersenyum bangga. Ia mengangkat sedikit kepalanya mendekati telinga Alia.


"Smart girl.." Bisiknya parau dengan nafas yang sedikit memberat. Agaknya posisi Alia saat ini, membuat gejolak kelaki-lakian Aufar kembali menghantam dirinya.


***


"Cepat sembuh, Ma..." Ia semakin terisak sambil membelai lembut puncak kepala Sang Mama.


"Aku berjanji akan membalas semua penderitaan yang telah menimpa Mama selama ini. Membalas penderitaan seorang istri yang ditinggal pergi suaminya dan penderitaan seorang anak yang tidak diakui oleh Ayahnya." Jimmy berkata lirih namun rahangnya sudah mengerat menahan kegeraman yang menjalar setiap saat menatap Mamanya.


"Aku sudah bertemu laki-laki keparat itu, Ma. Tidak lama lagi, penderitaan Mama akan berakhir. Izinkan aku melakukan apapun yang seharusnya aku lakukan sejak dulu. Bisa-bisanya ia hidup nyaman tanpa beban dengan anak dan istrinya, sedangkan ia meninggalkan Mama dengan luka yang terus membekas." Jimmy menggertakkan giginya dan mengepal erat sebelah tangannya.


"Tunggu pembalasanku, laki-laki bia***!"


Wanita setengah baya itu menggeliat dan mengerjapkan matanya perlahan. Lensanya menangkap sosok yang sudah lama ia rindukan. Benarkah ini bukan mimpi baginya? Ia mengucek kedua kelopak matanya, memastikan bahwa penglihatannya tidaklah salah. Jimmy yang melihat hal itu, sontak tersenyum hangat dan mengecup kening Sang Mama.


"Iya ini aku, Ma. Maaf aku baru sempat mengunjungimu. Tadi aku ada sedikit urusan di kantor." Ucap Jimmy dengan nada lembut.


Bersambung...