I Love You Till Jannah

I Love You Till Jannah
S2 Tak Ada Kompromi



Tanpa berlama-lama lagi, Aufar hengkang dari hotel tersebut. Ia mempercepat langkahnya, menemui Awan di parkiran, lalu masuk ke dalam mobil dengan wajah yang masih menahan sejuta kekesalan terhadap mantan kekasihnya itu. Aufar tak henti-hentinya berdecak kesal ketika mengingat sosok Fana yang selalu muncul tiba-tiba seperti penguntit. Wanita itu benar-benar tidak pernah putus asa untuk mengusik kehidupannya.


Awan yang menyadari perubahan mimik dari Tuan Mudanya, lantas segera memacu kijang putih itu membelah jalanan yang belum terlalu padat.


Namun di tengah perjalanan mobil yang Awan kendarai diinterupsi oleh laju mobil lain yang melintang tepat di hadapannya.


Awan tersentak, begitu juga Aufar. Sopir pribadi Papa Fahri itu menginjak pedal remnya mendadak membuat keduanya terpental ke depan. Beruntung mereka berdua baik-baik saja.


Beberapa saat kemudian keluarlah sepuluh orang lelaki berbadan kekar, berwajah menyeramkan dan berpenampilan awut-awutan seperti orang yang tidak pernah mandi. Preman Bali..!


"Wah, kalah nomor," batin Awan sambil menggenggam erat lingkaran setir yang berada di hadapannya.


Lelaki yang berperawakan kurang lebih dengan preman-preman tersebut, lantas membuka pintu mobil dan menyembulkan tubuhnya keluar.


"Mau apa kalian?" Tatapan mata singa dan mengikis senyuman di wajahnya dihadiahkan Awan pada pandangan pertama mereka. Kacamata hitam yang masih bertengger di hidungnya, ia tarik perlahan dengan pongahnya.


"Serahkan lelaki itu kepada kami!" Seru salah satu di antara mereka yang Awan yakini adalah ketua genk-nya.


"Kalau aku tidak mau?" Awan memicingkan sebelah matanya.


Aufar yang masih duduk anteng, lantas tak ingin berdiam diri saja. Ia keluar dari kereta roda empat itu dengan percaya diri. Ditatapnya satu persatu preman tengik itu, namun tak ada satu wajah pun yang terkonfirmasi dan cocok di memori terbesarnya.


"Siapa yang menyuruh kalian?" Aufar berdiri tepat di samping Awan. Kedua tangannya menelusup sempurna ke dalam saku celana yang ia kenakan.


"Kami ke sini bukan untuk diinterogasi, Tuan. Jika Anda bisa bekerja sama dengan baik, maka kami tidak perlu menggunakan kekerasan." Jelas si kepala genk dengan seringai yang tak ada manis-manisnya.


Aufar dan Awan saling bertukar pandangan, sehingga Awan terlihat menggeleng berat menanggapi anggukan kepala dari Aufar.


"Tuan.." Awan menarik pergelangan tangan Aufar di saat laki-laki itu melangkah maju.


"Pergilah dan cari bantuan. Kamu bisa melacak keberadaanku, ponselku akan terus on." Awan yang mengerti dengan perkataan Sang Tuan Muda, sontak melepaskan lingkaran tangannya.


"Hati-hati, Tuan." Tutur Awan dengan nada lirih. Tak ada satupun dari preman itu yang bisa mendengar percakapan mereka.


"Satu lagi! Jangan sampai Alia mengetahui hal ini. Kamu kirimkan dulu kebab turki itu padanya sebelum mencari bantuan! Bilang saja kalau aku masih ada urusan." Instruksi Aufar sebelum ia menjauh dan masuk ke dalam mobil yang berada di hadapannya.


Awan hanya bisa pasrah dan melepas kepergian Aufar dan preman-preman itu dengan berat hati. Apalagi yang bisa ia lakukan? Melawan juga tidak mungkin. Keputusan Aufar memang yang terbaik. Melindungi keselamatan Awan, dan memintanya untuk membawa bala bantuan. Kemudian laki-laki itu segera masuk ke dalam mobil dan melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi.


***


Di sisi lain, Made tampak sedang membangunkan Nyonya Mudanya. Ia terpaksa melakukan hal itu, berhubung kebab turki yang dikirim oleh Awan telah mendarat sempurna di atas meja yang terdapat di samping tempat tidur Alia.


Wanita bermata bulat itu, mengerjapkan kedua matanya berkali-kali sebelum akhirnya terbuka sempurna. Ia tersenyum ramah ke arah Made dan mengucek-ngucek kelopak mata yang masih terasa berat. Meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku, dan perlahan memaksakan tubuhnya bangkit dari posisi semula, bersandar pada muka ranjang.


"Maaf Nyonya, saya terpaksa membangunkan Nyonya Muda." Tutur Made dengan suara agak kikuk.


Alia yang merasa risih dengan panggilan itu, lantas melajukan protesnya.


"Alia, panggil Alia saja. Usia kita sepertinya tidak terpaut jauh." Berkata sembari tersenyum lemas.


"Tapi Nyonya.." Belum selesai Made meneruskan kalimatnya, tangan Alia sudah mendarat di pundak gadis yang duduk di tepian ranjang itu.


"It's okay, Made. Aku tidak suka panggilan itu. Membuatku merasa lebih tua." Alia terkekeh kecil.


"Well, it sounds good. Apa Aufar sudah kembali?" Lanjutnya sambil mengekori seluruh ruangan, namun tidak menemukan sosok kesayangannya.


"Katanya Tuan Muda masih ada urusan yang harus beliau selesaikan dan beliau mengirimkan ini untuk Mbak Alia." Made meraih piring yang sebelumnya sempat ia letakkan di atas meja.


Di dalam piring itu, terdapat sepuluh potong beef kebab dengan topping mozarella yang sangat menggoda di mata Alia. Wanita itu sontak menelan salivanya sambil tersenyum.


Made menyodorkan piring tersebut dan disambut hangat oleh Alia.


"Kalau begitu, saya permisi dulu ya, Mbak. Ini jus jeruknya sudah saya siapkan. Pesan Tuan Muda, setelah ini Mbak harus banyak istirahat. Beliau ingin Mbak sudah sehat ketika ia datang nanti." Tutur Made dengan panjang lebar menyampaikan instruksi dari Tuan Mudanya itu.


"Baiklah, tapi apa kamu enggak pingin makan kebab ini?" Alia coba menawarkan. Walaupun sebenarnya ia enggan membagi makanan yang benar-benar membuatnya sangat lapar itu.


Made tersenyum menanggapi kemurahan hati Nyonya Muda yang tidak ingin dipanggil Nyonya itu.


"Tuan Muda juga mengirimkan makanan yang sama untuk saya dan Bapa, Mbak." Tolaknya dengan ramah.


Alia tersenyum lega karena bisa melahap porsi besar kebab turki yang ia inginkan dengan puas. Melihat seringai aneh dari wajah istri Tuan Mudanya itu, Made sontak bangkit dari duduknya dan pamit undur diri dari kamar tersebut. Ia ingin memberikan waktu kepada Alia untuk menikmati makanannya sendiri.


***


"Na, elu kenapa sih? Dari tadi cemberut aja." Delfia menyikut lengan Husna yang tersangga di atas meja, menopang wajah kecutnya. Saat ini mereka berdua sedang berada di kantin kampus.


"Gue masih bete ama tu cowok." Jawab Husna dengan nada malas. Ia sedikit memutar singkat bola matanya.


"Cowok?" Delfia bergumam sendiri, tampak sedang berpikir keras.


Husna yang melihat tingkah sahabatnya itu, lantas mendengus kesal dan memutar arah tubuhnya. Ketika posisinya sudah membelakangi Delfia, pandangannya tertuju pada sosok yang menjadi biang kerok kekesalan sesungguhnya.


Jimmy yang menyadari keberadaan Husna, lantas membalas pandangan gadis yang juga selalu membuatnya berubah mood itu. Ia tersenyum kecut dengan tatapan dingin sedingin salju.


Menanggapi hal tersebut, lantas si pipi tembem bangkit dari duduknya, menyampir tas selempang di bahunya, lalu melenggang meninggalkan Delfia sendirian.


"Una, elu mau kemane? Tunggu.." Delfia dengan tergopoh-gopoh mengekori sahabat kocaknya itu seraya berlari-lari kecil.


Entah mengapa, sejak bertemu dengan Jimmy Husna merasakan deru kebencian menghantam jiwanya. Sosok Jimmy yang selalu membuatnya naik darah, semakin menambah rasa ketidaktertarikan pada kaum sejenisnya.


"Laki-laki memang menyebalkan." Umpat Husna ketika tubuhnya sudah mendarat di sebuah kursi di dalam kelas. "Ngapain juga penyihir itu ada di sini?" Sungutnya sambil menghempaskan topinya di atas meja.


Delfia yang baru saja tiba, lantas mendaratkan tubuhnya di kursi yang bersebelahan dengan si tomboi.


"Gue yang patah hati, elu yang uring-uringan, pegimane sih lu?" Celetuk Delfia sambil merangkum wajah imutnya dalam genggamannya sendiri. Kedua sikunya menopang wajah manis itu di atas meja.


"Jangan terlalu benci loh, Na. Ntar bucin lu ama tu cowok." Delfia menaik-naikkan kedua alisnya sambil menatap Husna dengan senyuman mengejek.


"Jangan nambahin kekesalan gue deh, Fi.." Husna melirik sinis ke arah sahabatnya.


Delfia yang merasa adanya keseriusan dibalik wajah tomboi itu, lantas membungkam bibir dengan kedua telapak tangannya. Ia tidak ingin kejadian pada masa SMA-nya terulang kembali.


Bersambung..