I Love You Till Jannah

I Love You Till Jannah
Kecewa



Kak Urai baru saja keluar dari mobilnya. Kali ini ia berada di parkiran cafe miliknya. Seorang pelayan yang bertugas menjaga pintu masuk membungkukkan badannya memberi hormat kepada si empunya tempat itu.


"Yuna..siapkan tiket penerbangan ke pontianak sekarang juga!" Perintah Kak Urai.


"Tapi Pak, ini sudah pukul 15.30 WIB, sedangkan penerbangan terakhir ke kota itu pukul 16.30 WIB." Jelas Yuna yang mulai panik dan ragu akan bisa memenuhi keinginan boss tampannya atau tidak.


Bandara di kota mereka terbilang masih terhitung kecil. Hanya terdapat empat kali penerbangan dalam sehari. Apalagi penerbangan di sana hanya beroperasi pada siang hari. Jadi sangat tidak memungkinkan bagi Kak Urai untuk melakukan perjalanan pada malam hari.


"Aku tidak suka mengulang kalimatku Yun." Yuna yang mendengar suara beku Kak Urai segera bergegas memesan tiket pesawat sesuai perintah boss nya.


10 menit kemudian ia kembali ke ruang kerja Kak Urai. Ia membawa selembar kertas berharga yang nilainya melebihi apapun bagi Kak Urai saat itu.


"Ini tiketnya, Pak." Yuna menyerahkan selembar tiket pesawat pada Kak Urai.


"Hemm, terima kasih. Oh iya, kamu ikut aku ke bandara setelah itu bawa mobilku kembali ke rumah Mama, mengerti?" Sambil menerima tiket itu dari tangan Yuna.


"Baik, siap, Pak." Yuna mengangguk.


Kak Urai meraih map biru yang terletak di atas mejanya, kemudian ia keluar dari ruangan dan diekori oleh Yuna.


Mobil Kak Urai berpacu dengan kecepatan diatas rata-rata. Pasalnya ia tidak ingin ketinggalan pesawat.


Setelah sampai di sana, ia memberikan kontak mobilnya kepada Yuna dan berjalan bergegas memasuki ruang check in. Sedangkan Yuna memacu mobil Kak Urai kembali menuju rumah Ibu Rana.


"Pasti ngurusin cewek itu lagi. Awas kau Alia, aku nggak akan biarin kamu terus-terusan nyakitin Pak Urai." Yuna semakin mengeratkan genggaman tangannya pada kemudi mobil.


Kak Urai sudah berada di ruang tunggu. Terlihat ada dua gate di sana. Namun, hanya satu gate saja yang dijaga oleh seorang petugas. "Sepertinya benar kata Yuna, ini memang penerbangan terakhir," gumam Kak Urai.


Tidak perlu menunggu lama, panggilan untuk memasuki pesawat sudah terdengar jelas di indera pendengaran Kak Urai. Ia meraih kembali map biru yang sempat ia letakkan diatas kursi besi tadi dan masuk ke dalam pesawat.


***


"Sayang..."


"Iya, Mas...ada yang ingin kamu katakan?"


Pandangan mereka terkunci. Aufar mulai gelisah menatap manik mata polos nan tulus itu. Lagi-lagi nyalinya menciut untuk mengatakan kebenaran tentang dirinya kepada Alia malam ini. Ia takut membayangkan seperti apa jadinya manik mata bulat itu jika sedang murka.


Aufar mengajak Alia dinner di sebuah restoran mewah. Awalnya Alia menolak. Namun rayuan Aufar melemahkan Alia dan akhirnya ia mengalah.


Dari awal juga Alia sudah menyimpan beberapa pertanyaan dibenaknya. Mulai dari mobil yang Aufar pakai untuk menjemputnya dan sekarang mereka berada di tempat yang menurut Alia di atas jangkauan seorang ABK.


"Mas, apa ada yang kamu sembunyikan dari aku?" Tanya Alia kembali yang tadi sempat tidak direspon oleh Aufar.


"Kenapa kamu bertanya begitu, sayang?" Aufar mengernyitkan dahinya.


Seorang waiter datang mengantarkan hidangan yang sudah mereka pesan sehingga menginterupsi Alia yang hendak menjawab pertanyaan Aufar.


"Selamat menikmati, Mas, Mbak." Setelah meletakkan pesanan mereka di atas meja, waiter itu pamit undur diri.


Alia masih menatap tajam wajah Aufar yang menurutnya sedang menyembunyikan sesuatu.


"Sayang...apa ada yang mengganggu pikiranmu? Tanyakanlah siapa tahu aku punya jawabannya." Tutur Aufar tersenyum mencoba menenangkan jantungnya yang hampir beranjak dari tempatnya.


"Mobil itu milik siapa?" Aufar tersenyum mendengar pertanyaan polos sang kekasih. Pasalnya pertanyaan Alia itu sudah terbaca oleh otak cerdasnya.


"Itu milik temanku sayang, aku hanya menyewanya." Alia terdiam. Terdapat guratan kekecewaan di wajahnya.


"Lalu mengapa kita harus makan di tempat semewah ini? Bukannya disini semuanya serba mahal ya?" Alia menyapu sekitar menyelidik interior bangunan yang sangat megah dengan dekorasi restoran khas Eropa itu.


"Ini semua aku persembahkan untukmu sayang, kamu pantas menerimanya." Jawab Aufar yang sedari tadi tidak melepaskan pandangannya sedikitpun dari wanitanya itu.


Mendengar jawaban Aufar, Alia kembali tertunduk. Bertambah sudah kekecewaannya. Pasalnya ia tidak suka jika Aufar memaksakan diri hanya untuk dirinya. Ia merasa tidak sebegitu pantasnya mendapatkan pengorbanan di luar kemampuan Aufar.


Alia merasa tidak enak hati. Ia merasa dirinya seolah menjadi wanita yang menuntut lebih kepada laki-lakinya. Alia sudah terbiasa hidup sederhana. Tidak ada yang dapat dibanggakan dari diri dan kisah hidupnya. Hanya saja, ia memiliki mimpi untuk memiliki kehidupan yang lebih baik di masa depan.


Aufar yang melihat perubahan sikap Alia sontak merasa bersalah. "Apa ada yang salah dengan ucapanku? Atau mungkin ucapanku sudah menyinggung perasaannya? Astaghfirullah Aufar..bodoh sekali kamu kenapa aku tidak memikirkan hal itu sebelumnya?" Aufar mengutuk dirinya sendiri.


Ia terlena dengan kebahagian yang menjalar ke relung hatinya. Sampai-sampai ia melupakan kenyataan bahwa dirinya hanyalah seorang ABK dimata Alia. "Bagaimana bisa seorang ABK mampu membayar bill tagihan dari restoran mewah bintang lima ini?" Aufar berdecak pelan. "Kenapa aku seceroboh ini?" gumamnya dalam hati.


"Sayang.." Aufar mencoba memulai pembicaraan kembali. Alia mendongakkan wajahnya dengan tatapan sendu.


"Alia..." Sapa seorang laki-laki yang baru saja melintasi meja mereka.


Alia dan Aufar menoleh ke arah pemilik suara. Mata Alia membulat sempurna. Sedangkan Aufar mencoba mengingat wajah yang ia rasa masih terekam jelas dalam mesin pengingatnya.


"Ka-kak Urai...." Nama itu keluar begitu saja dari bibir manis Alia. Aufar sontak mengalihkan pandangannya pada Alia.


"Sayang...kamu mengenalnya?"


"Sayang?" Tanya Kak Urai sambil menaikan salah satu alisnya.


"Kak Urai...kakak sama siapa? dan mau kemana?" Alia mencoba mengalihkan perhatian Kak Urai.


"Sendirian Al, ini mau kembali ke hotel. Tadi abis ketemu rekan bisnis buat tanda tangan kontrak. Kamu..." Kalimat Kak Urai terputus karena diinterupsi oleh Alia.


"Aku ikut pulang bareng Kakak boleh?" Alia bergelayut di lengan Kak Urai, membuat darah Aufar mendidih sampai ke ubun-ubun.


Kak Urai yang sudah bisa membaca situasi tegang yang sudah terjadi antar dua sejoli ini lantas tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emasnya.


"Kamu yakin?" Alia mengangguk pelan tanpa menatap Aufar. Ia tahu Prianya pasti sedang marah dengan sikapnya saat ini. Namun ia tidak peduli. Menurutnya ini cukup untuk membayar kekecewaannya.


Alia meraih tas kecil yang ia kalungkan pada sandaran kursi, lalu mengekori Kak Urai pergi meninggalkan Aufar tanpa sepatah katapun.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.



Babang Aufar lagi galau nih ditinggalin Alia, ada yang mau ngibur?


udah lebih dari 1000 kata bebs...jempolin terus yah🤭 itu bintang lima jangan lupa disentuh 😁 thank you🙏